#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

30 Tahun di Jakarta: Bertumbuh dan Bertunas Tanpa Kepemilikan – Menjalani Hidup dengan Sukacita

30 tahun di Jakarta mengajarkanku banyak hal. Tentang bertahan, berlari, dan tentang lelah yang tidak selalu terlihat. Di kota yang menilai hidup dari apa yang tampak, aku sejenak terdiam dan bertanya:

Apakah setiap pencapaian sungguh memampukan
seseorang menjalani hidup dengan baik?

Malam-pun hening tak mampu menjawab tanya dan aku berpesan untukmu yang sudi lanjut membaca tulisan ini, tulisan ini butuh kesadaran penuh bahwa cerita ini ber-aroma pengalaman hidup atas kesadaran asyik menikmati hidup, tiba-tiba sudah 30 tahun di Jakarta. Menjadikan semua perjalanan ini mengarah pada profesi yang konon tanggung jawabnya pada banyak pihak, terutama pemilik kehidupan.

Tanganku mengulik terus galeri foto di HP, mencari gambar tepat untuk tulisan tentang perjalanan lima kota dalam sebulan, bersamanya aku tersadar, diri sudah begitu lama hidup di ibu kota, yang akhirnya ingin berbagi perjalanan hidup 30 tahun di Jakarta.

Baca juga: Kisah Perjalanan 5 Kota dalam Sebulan: Bertumbuh dengan Bergerak di Tengah Ketidakpastian

Seperti kisah seorang yang berada dalam got menjelma sebagai pribadi yang menikmati hidup. Layaknya putri kerajaan, segala sesuatu berjalan sesuai yang diiginkan tanpa meminta. Kemudian roda kehidupan terus berputar, saat seperti itulah sadar, betapa hidup begitu menyamankan, datang ujian dan lahirlah kesadaran, betapa hidup sungguh memproses alur begitu teliti dan membawa pada arah tujuan.

5 Rooftop terbaik di Jakarta - 30 Tahun di Jakarta
30 Tahun di Jakarta

Berproses Bertumbuh dan Bertunas: 30 Tahun Menjalani Hidup di Jakarta

Alur yang sama sekali di luar logikaku. Datang ke Jakarta saat itu, di usia 18 tahun dengan beraninya melangkah sendiri dari Bali, hanya memiliki tujuan untuk menuntaskan sebuah proses iman.

Baca juga: Langkah Besarku Kedua – 1995

15 Tahun pertama di Jakarta seakan membenarkan apa yang di khawatirkan oleh keluarga. Keras. Segalanya penuh tuntutan. Aku sendiri seorang yang berjiwa kuat dan bebas, tuntutan yang ada seperti membakar, memurnikan.

Jika dikatakan berat, ya sangat berat. Pendapatan yang di peroleh lebih kecil dari biaya hidup. Karena itu ada fase sempat tidak makan seminggu, hanya mengandalkan teh manis. Bangun jam 5 pagi dan kembali sampai tempat tinggal jam 11 malam. Sabtu minggu penuh berkegiatan di gereja.

Anehnya, proses berat itu saat itu aku rasakan tidak mengurangi sedikitpun sukacita hidup, menjalaninya dengan tenang. Belakangan setelah melaluinya, sudah berada dalam kenyamanan hidup, menoleh kebelakang tersadar, betapa diri seperti tikus got yang berjuang mencari penghidupan.

Walau pelik kehidupan tetap memiliki sukacita penuh, sampai pernah di sangka tidak punya kesulitan oleh orang dalam perjalanan ke kantor dalam kereta api.

Baca juga: Kereta Serpong dalam kenangan – Cerita Jejak Sukacita – 2019

Kesadaran Membentuk Keberanian

Mungkin dengan penuhnya waktu di isi hal-hal yang baik, tekanan hidup seperti tidak terlalu terasa. Hingga tiba-tiba sadar usia tidak muda lagi.

Keadilan Hidup Memperlihatkan Wajahnya

2010 awal sinar itu mulai terasa hangat dan keinginan untuk menyenangkan diri mulai hidup. Hal yang paling aku suka adalah kebebasan dan perjalanan.

Waktu terus memberi hadiah pada diri, kota demi kota di lalui, Sabang sampai Raja Ampat dan juga ke negeri orang.
Berjalan begitu saja tanpa rencana-rencana besar. Sampai akhirnya aku sadar, asyik traveling tiba-tiba menua.

Baca juga: Terbaik Bumi Pertiwi – Langkahku Indonesia – Part 2

Wayag Raja Ampat - 5 catatan anniversary
30 Tahun di Jakarta dengan warna kenikmatan hidup – Traveling

Baca juga: Asyik Traveling dan Tiba-tiba menua – 2019

Kesadaran itu hadir ketika mimpi masa kecil mengingatkan. Ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Istri yang melayani suami dan ibu yang mencintai anak-anak.

Ego Memperlihatkan Mautnya

Ketika ego mulai serakah, kenikmatan hidup yang sudah begitu setia melayani tiba-tiba terasa kurang.

30 tahun di Jakarta tepat di tahun ke 28, puncak kehidupan yang nyaman aku cicipi. Semua makanan yang di sebut mewah dan sudah aku cicipi. Semua hotel bintang lima di area Jakarta pernah kunikmati.

Hingga ada satu titik, keserakahan akan hal baru mulai hidup. Semua fase hidup sudah di lalui kecuali buah terlarang yang sudah di pesan oleh ibuku tidak boleh tercicipi jika belum waktunya. Aku merasa sudah lelah menunggu dan pesan itupun diabaikan.

Tepat di puncak sinar di tahun 2023, aku memutuskan mengikuti ego dan akhirnyaa apa yang menjadi batas-pun di lewati dengan angkuhnya menyakinkan diri bahwa semua resiko akan bisa di terima.

Upah terlarang adalah maut.

Dua tahun di ujung 30 tahun di Jakarta, maut sedang senang-senangnya menemani langkahku. Dan aku terus bertahan pada langkah, kembali pada alur kehidupan.

30 tahun di Jakarta punya apa?

Materi Kehidupan yang Lengkap untuk Mewariskan Nilai dalam Hidup

Setahun ini aku semakin sadar, jiwa bebasku membawaku pada laku yang kurang suka dengan kepemilikan. Barang-barang yang aku miliki hampir semua pemberian. Semua kebutuhan hidup sering di fasilitasi oleh orang-orang sekelilingku.

Ada saat di mana hampir setiap minggu aku traveling, seorang terdekatku bilang. “Nik, belilah rumah, mobil jangan habiskan uangmu dengan traveling” dan aku menjawabnya dengan senyum.

Sebenarnya, bukan tidak ingin membeli tetapi aku hanya ingin memilikinya nanti di masa-masa senja. Saat itu pikiranku yang penting punya tabungan. Karena itu hampir semua intrumen investasi aku miliki.

Tetapi hidup memang sepertinya memilihku mendapatkan banyak materi. Kesulitan dan perjuangan di 10 tahun pertama, 13 tahun masa gemilang dan 2 tahun belakangan kembali di beri materi perjuangan tetapi dengan wajah berbeda.

30 tahun di Jakarta dengan kekayaan pengalaman. Tikut got mencari penghidupan menjelma sebagai putri raja dan ujung waktunya saat ini kembali diarahkan hidup berkelana mencari jiwa-jiwa kehilangan arah dengan melepaskan status putri raja.

Hidup tetap adil, dalam masa-masa mempelajari materi untuk tugas besar di fase selanjutnya, semua kebutuhan yang di sebut kenikmatan hidup tetap di berikan. Hanya kali ini kembali soal kepemilikan bukan sesuatu yang boleh aku pegang.

Baca juga: Kesadaran Akan Materi Hidup – Perjalanan Menemukan Diri lewat Seri Aku dan Tokoh #20

30 tahun di Jakarta
Perjuangan dan kenikmatan hidup sebagai materi dalam 30 tahun di Jakarta

Tugas Hidup Memanggil dalam Masa 30 Tahun di Jakarta

Magic coffee di siang itu, AEON Mall Tanjung Barat menjadi saksi, rasaku memanggil semua perjalanan hidup 30 tahun di Jakarta. Tidak langsung aku cicipi satu varian coffee yang jarang aku pesan. dan wajah langit yang awalnya sendu berubah menjadi terang, menemaniku menikmati semua kenangan masa-masa hidup memberi materi dalam perjuangan dan kenyamanannya.

Coffee beserta buku hadiah ulang tahun dari seorang kawan, menambah bagian hadirnya kisah hadirnya 30 tahun di Jakarta.

Aku memutuskan, aku yang menanggung resikonya

– Obrolan Sederhana, hal 29

Cerpen Puthut EA dalam buku Retakan Kisah satu pemicu hadirnya kisah 30 tahun di Jakarta. Bersama cerita-cerita yang ada aku sadar betapa hidup mendidikku dengan begitu sempurna, menjadi seseorang yang mampu mengarahkan pribadi yang kehilangan kemampuan untuk memakai perlengkapan hidup dengan baik.

Tidak hanya buku dan magic coffee membuatku ingin bercerita tentang perjalanan hidupku di Jakarta. Tulisan salah satu blogger yang memberi informasi tentang jenis-jenis pisau, seperti memberi sinyal pisau saja butuh di pakai sesuai jenisnya, apalagi perlengkapan hidup yang di berikan pencipta.

Seperti sesuatu yang di sebut perjuangan, banyak pihak melihat sebagai kesulitan, hal yang tidak disukai. Nyatanya semua hal yang manis bisa terasa nikmat jika merasakan hal pahit.

Suka duka, manis pahit, gelap terang dan semua hal selalu berdua, kembar tetapi memiliki karakter yang dibutuhkan dalam hidup. Hanya memang butuh kemampuan untuk memakai dengan tepat.

Baca juga: 5 Kembar Kehidupan yang Tak Terpisahkan: Rahasia Menyatu dari Lao Tzu – Aku dan Tokoh #5

Nik, Kamu tidak selalu melihat hal positif ya. Pernah merasa sedih ga sih?

Kalimat ini sering aku dapatkan dan sebagian orang melihatku sebagai seseorang yang yang naif. Karena sering mengabaikan hal-hal negatif. Nyatanya tidak demikian, hal negatif sering aku pakai untuk menajamkan sesuatu, aku olah menjadi positif.

Prasangka baik saja dulu, biarkan waktu mengaturnya dengan tenang alur kehidupan. Karena dalam prasangka baik hati akan tenang, dalam ketenangan ada damai hadir dengan sukacita.

Semua hal di peruntukkan kebaikan, hanya memang butuh kemampuan untuk mengaturnya dan aku diarahkan hidup untuk menjadi satu pribadi yang membantu insan-insan belum mampu mengarahkannya dengan tepat.

Akhirnya

Bukan kekayaan materi atau pemilikan yang aku punya untuk berani mengemban tugas dari hidup. Menjadi pelatih kehidupan. Bukan juga soal pencapaian yang membuat kuat dalam menjalani hidup. Tetapi bagaimana mengenal persoalan, peristiwa yang ada menjadi materi hidup.

Kelak akan membawa arah atau peta untuk mengerti peran dan mampu melakukannya tugas itu dengan sebaik-baiknya. Bertunas dalam membawa arah pada yang membutuhkan.

Semuanya berawal bersahabat dengan waktu sebagai tokoh utama hidup, yang tidak bisa sedikitpun di atur. Ia berperan kadang kejam dan sekaligus juga manis.

Waktu adalah tokoh yang aku pilih sebagai catatan series Aku dan Tokoh

Lalu, jika aku, 30 tahun di Jakarta memperkaya nilai hidupku, bagaimana denganmu, kota mana yang membawamu menemukan peran atau kisah lain yang membawamu pada saat ini, yuk saling bercerita di kolom komentar.

Pasar Minggu Jakarta Selatan, Awal Februari 2026
Ditulis sambil menunggu hujan badai sebelum berangkat menjenguk mama sahabatku di rumah sakit.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

14 Responses

  1. Wah, mbak nik udah 30 tahun.. Aku yang baru 10 tahunan aja udah merasa mumet ini, hahahaha. Begitulah mbak nik, kadang hidup membawa kita ke arah yang tak terduga, kadang tak sesuai harapan, tapi pasti sesuai yang kita butuhkan dan sanggup jalankan.
    Akupun kalo nginget2 masa2 dulu, ya perih juga. Pernah makan tuh 3x selalu menu yang sama. Dan harganya pun sama, selalu 3 ribu. 9 ribu jadinya bisa makan 3x. Gak peduli gizi, yang penting kenyang dan bisa sisihin untuk kuliah.

    Duh mbak nik, moga jalan rezeki akan terbuka untuk kita semua kelak yaaa…

  2. tak terasa genap 3 dasawarsa di ibukota ya mbak, menaklukan kejamnya ibukota hingga meraih bahagia, selamat ya mbak Nik. Semoga apa yang diangankan dan diinginkan tercapai. Tidak mudah tetapi buktinya dengan menjalaninya dengan sukacita akhirnya terlampaui juga ya mbak

    Aku belum pernah berusaha menaklukan ibukota, perjalananku ke sana terhenti dan tetap terdampar di sini, apalagi ada ibu yang harus kujaga, suamikupun memilih untuk tetap ada di sini saja, enggan berkutat dengan hiruk pikuknya kota metropolitan

  3. Wah saya 30 tahun Mbak Nik di Jakarta. Pasti sudah panjang perjalanan dengan lika liku suka dan duka. Kalau sayaa tahun ini 28 tahun Mbak di Jakarta. Dan sejujurnya saya suka Kota Jakarta. Walau macet, Tapi penuh semangat orang-orang beraktivitas dengan semangat. Banyak yang sudah. Saya pelajari, termasuk mengenal karakter orang. Namun Sampai 28 tahun ini, matari memang yang saya dapatkan belum sesuai yang saya inginkan, tapi sudah sesuai apa yang saya butuhkan.

  4. Mbaaaakk, 30 tahun hidup di JKT tuh lama bangeeettt. Time flies so fassst nggak sih. 🥹

    Tapi memang ya, namanya hidup waktu kita melihat positif seringkali dibilang terlalu positif. Kalau lihat ya negatif, dikira nggak bisa lihat hal positif. Kiranya kita memang nggak bisa menyamakan semua persepsi orang. Cukup kita bisa menjalani hidup dengan baik dan tak merugikan orang. Malah itu lebih dari sekedar cukup, alih² punya materi namun sengsaranya ke orang lain. 😍😍

  5. Salut banget mbak Nik, angkat topi buatmu dengan segala perjuangan yang tidak mudah. Bertahan di Jakarta selama 30 tahun, tentu sebuah pencapaian yang luar biasa keren. Jakarta keras, bener adanya. Tantangannya lebih luar biasa ketimbang di Kota Bogor, kurang lebih itu yang pernah aku rasakan.

    Lain hal, mbak Nik bisa melihat semua proses dari sisi positifnya. Ini keren banget, anugerah termahal dalam hidup dan gapapa juga mbak sering travelling memperkaya wawasan dan kisah. Semoga saja segala pembelajaran selama 30 tahun ini menjadi bekal mumpuni untuk menyongsong hidup yang lebih baik, bermakna dan bermanfaat buat orang lain yang kiranya membutuhkan tempat didengar dan di pahami. Semangat terus mbak. Syukurlah bukunya bisa menjadi teman ngupi hehehehe. Ketajaman intuisi seringkali dibutuhkan dalam hidup buat melihat banyak peluang baik.

  6. 30 tahun di Jakarta dan begitu banyak cerita dan juga pengalaman yang didapatkan di ibukota yang serba-serbi ini. Tautan kisah kehidupan yang menjalin begitu banyak rasa pastinya membuat kota ini menjadi sangat spesial dalam kehidupanmu. Ku doakan selalu sehat berbahagia dan tetap semangat berkarya dimanapun berada

  7. Wah kalau sudah 30 tahun di jakarta itu berarti dari tahun 96 ya, mbak sudah berjuang di jakarta. Tentunya ada banyak kisah pahit dan manis selama DI Jakarta. Dan seperti kata orang Jakarta itu kota impian orang Indonesia untuk mencapai kesuksesan

  8. perjalanan hidup setiap orang penuh pesona walau berliku. Ciamik kak Nik melalui masa 30 tahun di Jakarta, yang kurang lebih seusia denganku, tapi Mbak Nik sudah berjuang dan menjejakkan sejarah panjang dengan apik. Segala rasa telah dijalani ya, dari manisnya gula, hingga gurihnya rasa kopi dengan krimer yang pas. Ah, hanya dapat daku katakan 3 hal yaitu: Semangat Selalu ya Kak ☺

  9. Bukan waktu yg sebentar untuk hidup di kota itu. Ritme yg aku lihat kehidupan disana itu ya terhitung berbeda dengan aku yg tinggal di Bandung kalau sampai 30 tahun luar biasa ka

    Tentang hidup memang apa ya ka nik , mungkin tentang kita mengikuti alur yg sudah di tulis oleh Pemilik Nya

    Sebagai manusia sulit memaksa yang harusnya kita menerima dan menjalaninya

  10. Jakarta menurut saya pribadi adalah kota yang sangat dinamis Mba. Hampir dua tahun kerja di sini, sempet ngekos, sempet pulang pergi juga dari Serpong, Jakarta menurut saya bukan untuk yang daya adaptasi kurang. Karena semua terasa begitu cepat, begitu luas. Dan ternyata 30 tahun Mba Nik di Jakarta, jejak rasa yang divalidasi tentu sudah sangat mendetail ya Mba.

  11. 30 tahun di Jakarta pasti sudah banyak pengalaman suda duka di Jakarta ya kak Niek,,,,hapal tempat-tempat di Jakarta. Kereen kak Niek sudah kuat menaklukkan kehidupan di jakarta yang terkenal keras. Semoga sehat selalu.

  12. Wooowww 30 tahun di Jakarta, sungkem suhu, aku masih separuh perjalananmu mbaaak 😀
    Selama waktu itu warna-warni yaa, ada suka, ada juga duka. keinget awal2 di Jakarta adaptasinya juga nggak mudah, tapi justru sekarang aku betah di sini, walau tinggalnya di Jakarta coret hehe.
    Yeah kebutuhan manusia beda2 ada yang mau menetap di satu tempat ada yang lebih memilih bepergian. Apapun pilihannya ada plus minusnya, yang penting hati bahagia dengan hidup yang dijalani ya mbak.

  13. Uwaaah mba jauh lebih lama dari aku di JKT… Ga berasa udah 30 tahun ya mbaaa, survive di belantara ibukota. Eh msh ibukota ga sih , atau udah resmi IKN 🤣🤣.

    Akupun dulu ga bakal nyangka bakal memilih JKT utk kerja dan tinggal. Krn sempet ga mau ke kota ini, ga kebayang macetnya.

    Tp namanya rezeki dan jodoh memang dj sini, jadi ya lama2 terbiasa. Dan pada akhirnya bisa jatuh cinta 😄😄. Skr kalau ditanya, mau ga pindah ke kota lain, di luar JKT, aku bakal bilang ga.

    JKT, sekeras apapun, tetap jadi kota yg menarik. Apalagi semua ada di sini. Trtama Krn passionku yg hobi traveling. Rute international kebanyakan bermula di JKT. JD kuatirnya kalau tinggal kota lain, tetap aja hrs ke JKT dulu, yg bikin travel cost makin tinggi.

    Aku perlu belajar dari mba nik, utk selalu berprasangka baik. Krn memang kok, itu mempengaruhi kedepannya. Kalau kita terbiasa berpikir positif, segala hal akan berakhir baik. Krn di awal kita sudah yakin jalan ini yg benar.

    Pernah ngerasain, jika pagi dimulai dengan Omelan, ngedumel, pasti sepanjang hari itu adaaaa aja masalah muncul.

  14. Salut banget mbok gek udh 30 tahun di Jakarta. Aku mah baru 12 tahun udh disuruh balik lagi ke kampung halaman. Ya krn pandemi sih. Dan lbh pgn urus keluarga. Selagi masih ada.

    Jakarta emg keras bgt mbok gek Nik. Tp di situlah mental dan fisik kita ditempa. Ga hanya soal materi tapi psikologis dan tentu saja beragam penyakit yg bs menyerang mulai dari pikiran ke penyakit dalam.

    Btw, selamat menempuh indah dan kerasnya ibu kota. Kota ketiga yang berkenan dlm hidupku, selain Bali yg baru kucicipi 5 tahun di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink