#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Affan Kurniawan: Luka Indonesia dalam Usia 80 Tahun, Sampai Kapan?

Bagikan

Affan Kurniawan

Aku termenung sejenak sebelum melanjutkan menulis tentang sosok tiang bangsa, anak muda usia 21 tahun ini. Dua hari lalu tanggal 28 Agustus 2025 dia berpulang dalam keadaan tragis. Tersiar usianya hanya lebih sebulan karena dia berulang tahun di bulan Juli.

Patah, pilu dan rasaku saat ini tidak bisa diungkapkan.

Sejujurnya, ada tulisan yang sudah aku buat untuk publis di Jumat sebagai series kembali ke akar, tetapi kamis malam saat bersama kawan sedang bermain disuatu tempat, mendapat kabar ada yang meninggal karena demo, tak mampu lagi menulis dan akhirnya tulisan itu aku simpan,

Energiku terasa tersedot, Jumat kemarin seharian dirumah, hanya tidur dan melihat berita. Sekian waktu menghadapi carut marut kehidupan, dunia seakan bercanda dengan segala getirnya, dan peristiwa berpulangnya Affan Kurniawan membuatku berasa lelahnya sampai dipuncak.

Memilih untuk memberi ruang pada diri, sedih kecewa pada system yang ada. Namun sebagai orang yang sudah memutuskan menjadi pelatih kehidupan, bangkit seperti sebuah tugas tambahan yang tidak bisa ditolak.

Sebagai catatan penting dalam langkahku, aku menulis tentang masa ini, mungkin kelak bisa jadi pengingat bahwa bumi pertiwi yang sangat aku cintai ini terluka di usia delapan puluh dengan korban seorang anak muda usia dua puluh satu tahun.

Affan Kurniawan – Piluku untuk Pemuda 21 Tahun

Dear Affan Kurniawan,


Aku tidak tahu mengapa begitu pendek waktu memberimu tugas dalam kehidupan ini.
Rasaku miris, pilu mengetahui berpulangmu kembali pada pencipta dengan cara begitu tragis.
Lebih mendalam duka ini menyelimuti, ketika tahu kamu bagian penting dikeluarga untuk melanjutkan hidup.

Hatiku pedih membayangkan bagaimana kamu berjuang dalam suasana riuh demo. Mungkin banyak pihak berpikir, mengapa kamu ada diantara kacau keadaan saat itu, tidak bisakah mencari jalan lain untuk tugas yang kamu jalani.

Tapi Affan, aku sangat mengerti bagaimana dilapangan, kadang kita tidak bisa memilih untuk melangkah dijalan yang aman, keadaan seperti sengaja memberi ruang untuk berjalan dalam bara. Aku merasakan semua itu nak.

Aku tidak mengerti, mengapa usiamu yang begitu dini dipilih sebagai benih murka kami atas ketidakadilan system hidup yang dibuat para pemangku kepentingan. Kenapa kamu Affan Kurniawan?

Kamu tiang negeri, harapan bangsa ini untuk meneruskan. Ada banyak kesempatan akan hadir padamu, ada banyak harapan dari orang tuamu, keluarga atau pun pihak-pihak lain yang mengandalkanmu. Mengapa kamu?

Pertanyaan yang mungkin tidak perlu aku pikirkan, karena kehidupan kadang memang sebengis itu mengatur.Walau setelah itu lihatlah Affan Kurniawan, begitu banyak orang mengantarmu ketempat terakhirmu di bumi.

Saat ini izinkan aku menyampaikan duka terdalam, maafkan hidup memilihmu dan bolehkah aku berterima kasih padmu telah menjadi orang yang bertanggung jawab sampai akhir hidupmu. Karena sudah bertugas sebaik-baiknya. Walau maut menjemputmu.

Semoga orang-orang terkasihmu kuat menerima alur kehidupan ini, dan iklas mengembalikanmu pada pencipta. Doa baik dan kiranya pencipta memberikan tempat terbaik untukmu.

Affan Kurniawan

Luka Indonesia dalam Usia 80 Tahun

Rasaku semakin pedih menyadari, bendera kebangsaan belum juga turun dari perayaaan negeri atas usia delapan puluh tahun, usia yang semestinya dewasa dalam berpikir dan bertindak. Tetapi nyatanya dalam usia ini semakin banyak terlihat, bagaimana anak-anaknya rakus akan kemolekan bundanya.

Melupakan kalau Ibu Pertiwi dalam usianya butuh dijaga, dirawat dengan sebaik-baiknya. Menjaga sikap sebagai anak-anak yang memiliki Ibu cantik dan segala pesonanya.

Siapa yang tidak tergiur memilikinya?

Kemolekannya disetiap sudut, hartanya tak terhingga tentu banyak bangsa sebagai cerminan lelaki ingin menjadikannya milik. Aku selalu menganalogikan bangsa-bangsa lain sebagai lelaki karena Indonesia itu buatku Ibu. Tempat bernaung, hidup dan kembali.

Kini, dalam usia genapnya tergores luka atas kematian satu benih, anak muda yang sedang berjuang menjalani hidupnya sendiri dan keluarga.

Gemuruh ketidaknyamanan atas prilaku yang konon katanya wakil kami, tetapi sangat tidak mewakili sehingga timbul rasa amarah, kecewa dan membentuk satu gerakan demo. Harapannya berjalan dengan damai, tetapi sepertinya hidup sedang bermain dengan itu.

Mengambil satu jiwa dan itu sebagai pemicu murka para insan yang sedang berjuang.

Siapa yang salah? Mereka yang berjuang tidak menahan diri dalam emosi? Affan Kurniawan tidak berhati-hati dalam tugasnya? Atau petugas tidak becus dalam menjalankan amanah? atau pemuka negeri yang tidak berlogika dan nurani bersikap acuh seakan itu hanya sebuah candaan dan berlaku santai?

Sebagai rakyat biasa yang berjuang menjadikan hidup berkehidupan ini, sungguh tidak mengerti siapa yang tidak tepat berlaku atas kejadian ini. Yang aku pahami bahwa setiap peristiwa, hidup sedang mengatur sepatutnya. Perkara caraNya sungguh aku tak paham.

Namun dalam kesempatan ini, izinkanlah diri ini menyampaikan sebuah pemikiran.

Untukmu Petugas keamanaan

Sebagai petugas keamanan, aku yakin kalian sudah dilatih untuk menghadapi situasi sepelik apapun untuk tenang Apalagi kalian diberi perlengkapan yang begitu kokoh, kendaraan besi.Dan khususnya dalam menjaga masyarakat. Mereka tidak sepenuhnya mengerti apa aturan, yang mereka tahu bagaimana hidup harus berlanjut.

Aku sadar, kalian sendiri juga memiliki ruang emosi, tetapi berani mengambil profesi tentu perlu bertanggung jawab untuk berjuang sebaik-baiknya, melakukan tanpa membuat orang dirugikan.

Terlebih nyawa orang seperti satu yang saat ini jadi korban, Affan Kurniawan. Bagaimanapun hal terutama dalam kehidupan, nyawa hal terpenting. Tanpanya apakah masih tetap berjalan?

Kita semua dalam masa tidak baik-baik saja, setiap orang punya perannya, kiranya marilah tetap berjuang dalam laku menyelamatkan, bukan mencari selamat.

Maafkan jika apa yang kutulis ini mungkin tidak sesuai yang terjadi dilapangan, paham betul dilapangan ada banyak hal membuat tidak berlogika, tetapi jika terus merawat kesadaran bahwa nyawa manusia adalah kunci kehidupan, rasanya mungkin bisa lebih terjaga keadaan.

Buat Pemangku Kepentingan

Bagaimana? apakah seorang Affan Kurniawan membuat kalian lebih jernih berpikir? Atau jangan-jangan itu hanya dilihat sebagai hal yang biasa? Setiap perjuangan akan ada resiko pengorbanan.

Sebagai rakyat jelata yang cukup setia kontribusi dalam pajak, baik itu saat makan, beli kebutuhan hidup ataupun bekerja, izinkan mengungkapkan logika rasaku.

Mau sampai kapan terus berlaku seperti tidak melihat jati diri sendiri?

Rasa welas kasih tinggi, saling menolong dengan gotong royong dan selalu ramah adalah jiwa Indonesia, bumi pertiwi.
Tolong jangan lupakan jatimu sebagai negeri yang punya budi pekerti.

Baca juga: Kemerdekaan adalah Pilihan, Kekuatan Tak Tergoyahkan di Tengah Tekanan – Menuju Hidup Sejati #10

Mengerti kalau kehidupan banyak kemauan tapi tidakkah nurani hidup sejenak saja. Ada jiwa serorang anak muda usia dua puluh satu tahun jadi korban, Affan Kurniawan. Terlepas apapun kisah dibalik itu semua. Bagaimanapun kepergiannya membuat luka dalam usia delapan puluh tahun Indonesia.

Bagaimana kelak penerus bangsa ini melihat, mencintai negeri ini jika sebagai wakil atau orang diberi kepercayaan untuk mengatur Ibu pertiwi yang molek ini? Jangan lupakan saudaraku, kalian dipilih bukan sesuka hati ada disana.

Jiwaku bergetar ketika membaca tulisan Andien, satu kalimat Indonesia yang seperti apa yang akan mereka cintai?

Kita semua akan meninggalkan mereka sebagai penerus, sisakan keluhuran nenek moyang negeri ini. Bertindaklah untuk kebaikan bersama, tidak hanya pentingan beberapa pihak saja. Paham betul mengurus ratusan jiwa memang tidak mudah, tetapi bukankan kalian mau mengambil beban itu? Menerima jabatan itu. Jika rasanya sudah tidak mampu, bukankah sudah dibekali logika dan nurani oleh hidup untuk mengambil keputusan. Taruh, lepaskan jika tidak?

Bukankah Setiap pilihan punya resiko bukan?

Affan Kurniawan
Luka dalam 80 Tahun Indonesia – Affan Kurniawan (foto diambil dari status WA kawan dan sumber awal tidak diketahui)

Berbelas kasih – lah Hidup

Dear Hidup,
Mungkin kau muak dengan apa yang telah kami lakukan, tidak menjagamu dengan baik. Kata tanggung jawab seperti kiasan. Berlomba menyamankan diri dan lupa kalau tidak ada nyaman tanpa perjuangan.

Aku percaya ketika kau memilih Affan Kurniawan sebagai korban dalam demo dua hari lalu, itu punya tujuan dalam alurmu, tetapi bolehkah sebagai insan yang sedang tertatih melangkah mencari sinar, cukupkan dulu sejenak. Berilah kami ruang untuk sedikit bernafas, melihat harapan untuk sadar bahwa semuanya akan berlalu.

Berbelas kasihlah lebih lagi pada kami wahai kehidupan, jika memang kami perlu di didik dengan lebih, kiranya berilah hikmat dan kekuatan lebih juga, terlebih memahami mengapa seorang pemuda usia muda Affan Kurniawan jadi korban, mengapa yang duduk dipemangku kepentingan terlihat tak mengerti penderitaan kami kaum akar rumput?

Affan Kurniawan

Lalu,

Apakah senja indah itu akan kami nikmati kelak bersama anak cucu?

Ada banyak tanya dalam diri. Mungkin hidup berbaik hati menjawabnya kelak. Melunasi segala harapan dan mimpi yang terus dirajut.

Ini caraku melunasi pilu, menulis korban demo seorang Affan Kurniawan. Kalau kamu? Mari tulis di kolom komentar.

Jakarta, 30 Agustus 2025
Ditulis saat hati terkoyak, pedih, pilu baru saja bertemu sicuil sinar kembali terkaburkan dengan korban demo.

Bagikan

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

15 Responses

  1. Aku ingin menangisi Affan Kurniawan. Semakin sesak pas tahu dia di sana bukan untuk ikutan demo. Tapi sedang melakukan tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah keluarganya.

    Selamat jalan Affan Kurniawan. Syahid dan husnul khotimah dirimu.

  2. Sedih dan miris bacanya mbak. Affan Kurniawan membuat Indonesia berduka. Belum lagi disusul nama-nama lain yang turut menjadi korban. Rasanya lelah sekali melihat kondisi ini. Dalam diam cuma bisa berdoa, semoga negeri ini segera pulih dan berbenah ke arah yang lebih baik. Semoga siapa pun yang mengemban amanah bisa bijaksana dan berfikir untuk kemajuan negara. Aamiin…

  3. Ibu pertiwi sedang bersedih bersusah hati. Banyak jiwa yang harus pergi, Termasuk Affan Kurniawan yang masih snagat muda dan menjadi tulang punggung keluarga. Sayahanya bisa menarik napas lalu menghembuskan dengan napas di dada yang sejak. Saya hanya bisa terus berdoa, semoga keadaan bisa segera pulih, Indonesia bisa ada perubahan, semua amna, lancar dan terkendali lagi. Aamin.

  4. Jujur pas tau beritanya, aku ikut pilu dan limbung. Beneran berasa sedang berkabung, walau aku tidak kenal secara personal dengan Affan namun aku dalam keseharian sangat familiar menggunakan jasa ojol untuk menembus kemacetan Jakarta.

    Sedih sekali serta perih rasanya. Melihat ada ibu yang harus kehilangan anak tertua dengan cara tragis dan anak semudah itu penuh tanggung jawab menjalani tugasnya.

    Sayang harus terengut oleh ketidak hati-hatian petugas dan kepanikan yang tak terkendali. Semoga tidak ada korban. affan-affan lain dan semoga Affan mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.

    Serta wakil rakyat yang tak mampu mengemban amanah, semoga bisa mengundurkan diri dengan penuh rasa malu dan sadar diri supaya Indonesia kembali pulih dan bisa kembali bangkit dari krisis.

    1. Baca berita seminggu kemarin sangat mengiris hati ini. Mulai dari kebijakan yg tidak pro rakyat, adab para wakil rakyat yg sangat tidak mewakili rakyat, sampai gongnya adalah tragisnya kepergian Alm. Affan di tangan aparat yg seharusnya melindungi rakyat. Ini semua terjadi setelah kita semua bersuka cita merayakan 80 thn Indonesia merdeka. Jadi apa yg sesungguhnya kita rayakan??? 😭😭

  5. Dari berita yang hadir, khususnya tentang Affan rahimahullah memang bikin hati tersayat, kok bisa di negeri sendiri, tempat kelahirannya bisa ada yang katanya pelindung negara tapi justru malah berperilaku sebaliknya.
    Selalu do’akan yang baik-baik, agar banyak hal baik yang datang

  6. Baca berita seminggu kemarin sangat mengiris hati ini. Mulai dari kebijakan yg tidak pro rakyat, adab para wakil rakyat yg sangat tidak mewakili rakyat, sampai gongnya adalah tragisnya kepergian Alm. Affan di tangan aparat yg seharusnya melindungi rakyat. Ini semua terjadi setelah kita semua bersuka cita merayakan 80 thn Indonesia merdeka. Jadi apa yg sesungguhnya kita rayakan??? 😭😭

  7. Sedih dan luka yang mendalam atas kepergian Affan Kurniawan.
    Inna lillahi wa inna lillahi raji’un.

    Aku gak bisa berkata-kata, ka Nik.
    Rasanya lelah dengan semua ini.. urusan politik, memperkaya diri dan aku sadar betul, mungkin bisa jadi, kalau aku ada di posisi petinggi-petinggi itu juga gakkan jauh beda.

    Sistem dan kontrol diri yang seharusnya dikaji kembali.
    Sudahkah kita sehat dengan mentalitas yang kita miliki?

    Semua orang punya luka.
    Semua orang punya ketamakan.
    Semua orang punya segala ambisi.

    Tapi semua orang juga diberi hati nurani.

    Semoga jadi apapun kita, peran yang kita ambil dalam hidup tidak menyalahi aturan ilahi.
    Terus berbuat baik dan menyebarkan kebaikan seperti ini ya, ka Nik.

    Tulisan yang membuat pembaca kembali merenung “makna” hidup dan berkehidupan.

  8. Paling sedih kalau ada anak muda yang kek gugur karena kondisi2 kek sekarang, kyk kehilangan satu lagi pemuda harapan bangsa 🙁
    Tapi sayangnya kita punya pemerintah tone deaf, ditambah influencer2 yang suka manfaatin buat konten.
    Semua orang selalu berpikir gimana bisa membantu/ mengganti dalam bentuk materiil tapi jarang banget yang bicara mengenai keadilan buat almarhum.

  9. Ahh sesak dada ini memikirkan Affan dan korban demonstrasi lainnya.. kenapa polisi yang harusnya jadi pengayom malah menjadi musuh masyarakat.. harus dipelajari lagi bagaimana sistem pendidikan mereka mengapa polisi begitu beringas menghadapi pendemo seolah mereka musuh? mereka itu rakyat..

  10. Ahh sesak dada ini memikirkan Affan dan korban demonstrasi lainnya.. kenapa polisi yang harusnya jadi pengayom malah menjadi musuh masyarakat.. harus dipelajari lagi bagaimana sistem pendidikan mereka mengapa polisi begitu beringas menghadapi pendemo seolah mereka musuh? mereka itu rakyat

  11. Sampai saat ini kurang lebih 10 orang yang terkonfirmasi kehilangan nya dalam aksi unjuk rasa 5 hari, dan lebih dari 200 orang belum diketahui keberadaannya serta seribu lebih yang ditangkap polisi.

    Kehilangan satu nyawa itu sudah terlalu banyak, apalagi sampai puluhan. Sayang nya mereka dibunuh oleh bangsa sendiri.

  12. Kak Nik, aku pun menangis baca tulisan ini. Sungguh pilu negeriku, usia 80 tahun seharusnya sudah mapan, bijaksana dan bersahaja. Di bulan ulang tahunnya, Bumi Pertiwi masih saja rempong dengan menggendong para badut berkepentingan busuk.

    Semoga nyawa tidak dianggap cuma angka, semoga masih ada asa supaya tidak ada affan-affan selanjutnya. Doaku paling tulus untuk negeri, hiduplah mandiri, jiwa raganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink