#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Aku dan Wajah Jakarta: Membaca Makna Hidup Bersama Sang Ibu Kota #44

Aku dan Wajah Jakarta menjadi catatan penting dalam setiap langkah yang kujalani. Di tiap sisinya, kota ini memberi warna menghadirkan makna, hingga melahirkan kesadaran tentang hidup.

Utuh. Setiap sisi kucumbu dengan mesra. Sepertinya kau memang menginginkanku merengkuhmu tanpa ada titik yang terlewatkan.

Kalimat ini lalu lalang dalam benaknya, tidak pernah mau diam. Awal April ini pikiranku terus bertarung atas kenyataan apa yang tak disukai harus diterima.

Tidak pernah terbayangkan akan hadir setiap hari di area timur ke utara Jakarta. Tepatnya di Kelapa Gading, tempat yang dipikiran saja sudah terasa jauh. Kini harus merengkuhnya dengan mesra.

Begitulah hidup, apa yang tidak dipikirkan biasanya akan diberikan untuk bisa merasakan dan akhirnya menjadi ilmu bernyawa. Pengalaman.

Baca Juga: Cara Mengenali Diri Lewat Cerita Kehidupan: Tentang Materi Hidup dalam Aku dan Tokoh

harapan resiko tanggung jawab - Aku dan wajah Jakarta
Harapan resiko tanggung jawab bersama aku dan wajah Jakarta

Jakarta Barat: Menjadi Awal Denyut Ambisi dan Realitas Hidup

Bertemu dengan ibu kota pertama kali di tahun 1995. Kembangan – Jakarta barat menyambutku pertama kali dan senyumnya dingin. Ia seperti mencibir sinis akan diriku yang masih berusia 18 tahun saat itu.

Kala itu denyut ambisi diri akan hadir di ibukota begitu keras. Ternyata realitas hidup menjelaskan, aku dan wajah Jakarta sungguh tidak selaras. Aku yang penyuka dengan alam dan wajah Jakarta yang keras dengan gedung tinggi seperti berbenturan.

Tetapi hidup memang sedang melatih diri kala itu. Belum genap tiga bulan di Kembangan, aku bergeser ke arah Serpong dan mendapatkan kerjaan di area tanah abang dan pluit. Tetapi entah kenapa walau kerja di area pusat dan utara, yang aku rasakan kala itu kedekatan hariku terasa di area barat.

Apa mungkin karena saat bekerja hariku terasa tidak utuh, karena hanya datang kerja dan melakukan tugas. Tidak suka bergaul dan cenderung judes, merasa tidak perlu bersosial di lingkungan pekerjaan.

Langkah awal inilah mendidikku bahwa bekerja tujuannya mencari rejeki bukan bersosial. Sehingga aku tidak pernah merasa terusik dengan polah para karyawan lainnya. Membentuk diriku menjadi pribadi yang realitis.

Bukankah drama kantor sering terjadi karena kurang tepat menempatkan rasa. Alih-alih bekerja dengan tulus seringnya peristiwa yang ada dirasakan dengan terlalu dalam. Sedangkan ini hanya soal kerja bukan soal menyenangkan diri.

Baca juga:

Aku dan wajah Jakarta
Aku dan wajah Jakarta Selatan

Jakarta Selatan: Di Antara Gemerlap Persona dan Pelunasan Hidup

Tahun berganti dan sepertinya memang hidup sedang membentukku begitu rupa. Ada saja kejadian yang membuat diri bergeser tempat tinggal.

Aku termasuk orang yang kurang suka berpindah-pindah. Jangankan tempat tinggal, dalam kamar saja urusan barang kalau sudah letaknya di awal, akan tetap disana seterusnya.

Tetapi hidup rumusnya tidak ada yang tetap. Selalu ada perubahan dan begitu juga diri kala itu. Tidak pernah berpikir untuk tinggal di area pusat dan selatan. Nyatanya hidup mengarahkan seperti itu.

Perpisahan dengan orang yang terkasih menjadi titik awal aku hidup di area yang konon katanya jantung gemerlapnya ibu kota.

Baca juga: Langkah Besarku Ketiga – 2016

Dan setelah hampir 10 tahun tingal di Setiabudi, benar saja gaya hidupnya seakan mengikuti nafas area ini. Hampir setiap minggu, bahkan setiap hari pulang kerja dengan seorang kawan aku dan wajah Jakarta seperti kawin. Apa yang tidak pernah tercicipi, akhirnya dirasakan begitu nikmat.

Seperti pelunasan hidup begitu utuh. Hingga aku menjadikan kalimat ini benar-benar hidup dalam langkahku bersama wajah Jakarta Selatan.

Hidup selalu punya cara melunasi rasa nikmat. Ia selalu adil mengaturnya.

Jakarta Timur dan Utara: Melihat Keutuhan Wajah Jakarta

Jika bicara Jakarta Timur aku selalu berharap untuk tidak terlalu sering berjumpa dengannya. Tata kota yang begitu padat di sini ini kadang membuatku nafasku terasa sesak.

Tetapi lagi dan lagi, apa yang tidak disukai itu yang kadang dihadapkan hidup. Sepertinya tiga tahun belakangan, sejak tinggal di Pasar Minggu, ada saja urusan kembali dan kembali ke area Timur dan Bekasi.

Mengenal seorang Fajar, blogger yang tinggal di area Timur dan banyaknya para sahabat tinggal di area timur menjadikan aku semakin sering bertemu wajah Jakarta yang selama ini aku hindari.

Kemudian, puncak kesadaran itu datang, bahwa hidup memiliki caranya sendiri dalam mengatur langkahku. Pada 6 April lalu, sebuah kabar yang telah lama kutunggu akhirnya hadir. Dan sejak 8 April, hari-hariku kembali terisi dengan langkah menuju Kelapa Gading, menjalani ritme kerja kantoran sekali lagi.

Di sanalah aku memahami sesuatu yang sederhana namun dalam: hidup tidak selalu berjalan sesuai harap, tetapi justru di situlah ia bekerja menyelamatkan. Suka atau tidak, ada jalan yang memang perlu dilalui dan direngkuh.

Menjadikan aku dan wajah Jakarta terasa utuh. Semua sisi akhirnya terpeluk

Aku dan Wajah Jakarta
Aku dan Wajah Jakarta, terpeluk utuh

Aku dan Wajah Jakarta Terpeluk Utuh

Akhirnya sebagai penutup catatan langkah aku dan wajah Jakarta, merangkainya dalam satu untaian kata, boleh disebut apapun itu, prosa, puisi atau sebuah kalimat yang memberikan makna tersendiri buatmu.

Wajah pilu seorang Ibu melepaskan bertemu ibu kota yang konon katanya kejam.
Sekali lagi paras setengah baya saat itu memastikan lagi, apakah aku yakin meninggalkan pulau yang begitu banyak orang ingin hidup disana.

Tujuan itu mendorongku dan keyakinanlah yang membawa keteguhan.

Hadir di sisi barat sebagai awal yang begitu mendidik, menajamkan. Pusat dan selatan memberi penghiburan yang begitu gemerlap hingga akhirnya timur dan utara menjadikan setiap sisi kurengkuh wajahmu dengan utuh.

Aku dan wajah Jakarta setiap sisi seperti takdir yang tidak bisa dilewatkan. Seluruh wajah sampai tubuh ibu kota ini terpeluk utuh, terengkuh dengan ciuman yang boleh dibilang tak ingin tetapi hadir.

Apalagi yang bisa dikata, selain terima kasih. Bagaimanapun semuanya akan menjadi baik bukan?

Kemudian, terima kasih juga sudah membaca catatan aku dan wajah Jakarta sampai selesai. Ini ceritaku, kalau kamu adakah cerita khusus tentang wajah Jakarta? Boleh dong cerita di kolom komentar.

Baca juga: 30 Tahun di Jakarta: Bertumbuh dan Bertunas Tanpa Kepemilikan – Menjalani Hidup dengan Sukacita

Jakarta Selatan, April 2026
Ditulis setelah pertemuan sebagai upaya untuk mengejar target penjualan product kantor baru.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink