#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Apa Coaching Selalu Berhasil? Inilah Jawaban Jujur dari Pengalaman Belasan Tahun – Aku dan Tokoh #7

Bagikan

Apa coaching selalu berhasil? Itu pertanyaan yang lebih dari sekadar teori. Belasan tahun jadi pendengar, aku melihat sendiri kisah-kisah yang tumbuh dan yang berhenti.

Dalam seri ini, aku tak menampilkan tokoh besar, melainkan dua jiwa yang mempercayakan prosesnya kepadaku, meski tak pernah bertatap muka. Coaching bukan sulap, tapi ruang bertumbuh. Maka, mari kita lihat bersama: apakah coaching selalu membawa hasil?

Baca juga: Kisah lainnya tentang Aku dan Tokoh sebagai materi hidup.

Temukan juga mengapa coaching bisa jadi hal penting, seperti yang ditulis dalam artikel ini, coaching membantu kita menata kembali pola pikir, agar kita menyadari hal-hal yang sebenarnya mampu dilakukan sendiri.

Lalu jika sadar bahwa itu penting, apa coaching selalu berhasil?

Apa Coaching Selalu Berhasil?

Dua Kisah Belasan Tahun – Apa Coaching Selalu Berhasil?

Pagi ini, aku meneguk kopi hitam itu dengan tersenyum manis, melihat waktu sungguh selucu itu. Belasan tahun menjadi pendengar dan dua orang ini aku ambil sebagai tokoh yang tidak pernah bertemu secara langsung, bahkan video call-pun tidak. Hanya melalui chat dan sekali waktu bertelpon.

Dua orang, beda pulau dan mereka memiliki respon berbeda dalam proses pertumbuhannya. Sehingga bila ditanya apa coaching selalu berhasil? maka kisah dua orang ini jadi gambaran bagaimana keberhasilan pertumbuhan itu dilakukan oleh dua pihak.

Seperti benih, tanpa ada yang menyiram atau merawatnya tidak akan pernah tumbuh. Begitu juga sebaliknya, sehebat apapun merawatnya jika benih itu sendiri tidak mau bertumbuh, tidak akan ada pohon yang baik.

Bertumbuh - Apa Coaching Selalu Berhasil?

Bertumbuh Bersama Waktu, Tanpa Pernah Bertatap Muka

Sebelum memutuskan mengambil profesi Life Coach, masih menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan, aku sudah menjadi pendengar. Banyak orang datang kepadaku menceritakan persoalannya, tidak selalu memberi solusi tetapi kadang hanya memberikan ruang pada mereka untuk mengosongkan hal yang rumit dalam pikiran atau rasa yang tergores.

Kisah mereka aku rajut dalam sebuah tulisan di blog ataupun Instagram, sosial media yang paling aktif. Aku memilih merangkai kata tidak terlalu lugas, dengan harapan yang membaca punya ruang yang sungguh. Tidak hanya membaca secara lewat saja, tapi sungguh hadir.

Ternyata tulisan-tulisan itu banyak yang relate atau apa yang aku tulis sesuai dengan apa yang mereka hadapi juga. Aku mengetahui itu karena mereka menaruh pesan terima kasih pada komen, ataupun secara langsung melalui direct messenge.

Diantara sekian banyak, aku memilih dua orang untuk jadi landasan tulisanku saat ini tentang apa coaching selalu berhasil?

Iris Yang Berproses dan Bertumbuh

Sebut saja dia bernama Iris, seseorang yang datang padaku menceritakan semua persoalannya. Mempercayakan dengan tulus dan proses bimbingan atau coaching melalui online. Hanya chat dan sesekali telpon. Iris berada di Jawa tengah dan aku di Jakarta.

Aku bersyukur atas dia yang tumbuh, aku melihat perubahan baiknya karena dia memiliki pribadi yang teguh, mau mendengar dan melakukan apa yang jadi arahanku. Setiap sesi bercerita, dia jujur dan utuh. Hal yang paling membuatku merasa berhasil dalam membimbingnya, kisah yang disampaikan tidak satu titik, terus bertumbuh.

Hingga pada akhirnya dia mampu melangkah dengan kuat dan mengerti bagaimana mengatasi keadaaan yang kadang menyulitkan langkahnya. Tanpa bertemu atau tatap muka bertahun-tahun, Iris berproses dan tumbuh.

Mengulang Cerita yang Sama, Anggrek Menolak Bertumbuh

Sebut saja Anggrek, dia berada di Sumatera, awal dia meminta saranku tentang sebuah kisah pelik hidupnya dengan menyapa aku di pesan Instagram. Sebenarnya ada cukup banyak orang-orang seperti dia. Aku layani dengan baik, namun tidak seperti Anggrek yang akhirnya menjadi coachee.

Bertahun juga setia hadir dengan segala ceritanya. Namun tidak selalu aku menjawab atau mengarahkan apa yang perlu dia lakukan. Karena ceritanya berulang. Aku sering mengingatkan kalau dia butuh mendengar dengan baik, jalan keluar setiap persoalan bukan hanya tentang “aku” tapi belajar melihat dari banyak sisi.

Aku selalu memberi kesempatan pada orang yang mau bertumbuh, tetapi untuk Anggrek dengan melihat waktu yang sudah cukup lama dan kisah yang sama, tetapi tidak ada perubahan, aku memutuskan tidak lanjut dalam proses coachingnya.

Maka jika ditanya, apa coaching selalu berhasil? jawabannya TIDAK SELALU.

Contoh dari kisah Anggrek, kalau menurutku tidak berhasil karena dia tidak mau bertumbuh karena setiap diarahkan selalu saja kembali dengan kisah berbeda tapi kasus yang sama. Tetapi mungkin jika ditanya langsung ke Anggrek, bisa jadi ketidakberhasilan prosesnya karena dia tidak cocok denganku, atau caraku membimbing kurang sesuai.

Buatku, itu sah saja karena setiap kita punya energi berbeda, karena itulah tidak semua kasus aku terima. Karena tujuan utamaku menjadi pelatih adalah bagaimana orang bisa bertumbuh. Soal rejeki semua sudah diatur yang punya hidup.

Rejeki memang jadi harapan yang wajar dalam sebuah proses bimbingan. Namun, apa arti seorang pelatih jika yang dibimbing tak menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan?

Apa Coaching selalu berhasil?

Coach Tidak Menyulap, Ia Menyiram: Akarmu yang Menentukan

Apa coaching selalu berhasil? maka sudah jelas jawabannya tidak selalu.

Banyak yang datang ke sesi coaching berharap keajaiban. Ingin langsung tercerahkan, terurai, dan berubah dalam sekejap. Sedangkan coaching bukan soal sulap. Ia adalah ruang tumbuh, tempat menyiram benih, bukan menggantikan akarnya.

Bagaimana perubahan bisa terjadi, ditentukan oleh kesediaan diri sendiri untuk mengakar. Karena dalam proses, bukan coach yang membuat keputusan, tapi sama-sama mau mendengar, saling percaya dan sadar bahwa pertumbuhan terjadi ada ruang “saling” antara pelatih dan yang diarahkan.

Lalu, Apa Coaching Selalu berhasil?

Coaching bukan jalan pintas, melainkan proses yang hidup dan dinamis. Maka, pertanyaan “apa coaching selalu berhasil?” tidak selalu, Ia berhasil ketika ada keselarasan antara coach dan coachee, ketika seseorang bersedia melihat dirinya jujur. Tapi jika yang dicari adalah penyelamat atau solusi cepat tanpa perubahan internal, maka coaching bukan jawabannya.

Kemudian,

Mungkin pertanyaan ini bisa jadi penutup tentang apa coaching selalu berhasil?

  • Jika kamu pernah merasa coaching tidak berdampak, bagian mana dalam dirimu yang belum benar-benar hadir dalam proses itu?

Terima kasih untuk tetap hadir sampai akhir dalam tulisan ini, semoga dua kisah diatas bisa menjadikan langkahmu semakin kuat dan bertumbuh. Selamat berproses.

Semarang, Juli 2025, 22.05 WIB.
Ditulis setelah jalan sore bertemu curug.

Bagikan

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

22 Responses

  1. Betul mba, proses coaching itu beneran proses yang penuh kesabaran serta harus memahami langkah-langkah dan mengikuti arahan. Beneran siap bertumbuh dan terlepas dari segala keterlukaan. Sehingga lebih bisa menatap segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.

    Soalnya namanya hidup pasti ujian dan cobaannya bakalan beragam. Jika cermat, bisa menarik benang merah dan mengatasinya.

    Pun dengan proses coaching, kalau mau berhasil dan kasih impact bagus tentunya harus mau bercerita secara jujur dan utuh. Terima kasih ya sudah mengingatkan bahwa setiap proses harus ada upaya yang sesuai agar lebih maksimal hasilnya. Jika mau bertumbuh pasti bisa dan berhasil lalui masa coaching.

    1. Terima kasih Lala untuk responnya.

      Jujur dan mau sadar bahwa segala sesuatu butuh proses untuk melangkah, tidak terus berputar di satu titik.
      Kejujuran bukan soal hanya terbuka apa yang perlu disampaikan, tetapi juga bagaimana sadar bahwa diri mau berjuang untuk melangkah dan berproses.

      Semua bisa jika memang ada kesadaran dan kemauan. Sekali lagi terima kasih ya La untuk keselarasan pandangnya.

  2. Maafkan, awalnya saya gak mudeng dengan pembahasan tentang coaching ini, karena dalam pikiran saya yang terlintas adalah coach dalam bidang olahraga (sepakbola, badminton) dan bidang kepenulisan (editor coaching clinic) hehe🙏

    Tapi berusaha untuk meresapi, semoga gak salah ya. Kalau salah ya, mungkin ilmu saya belum nyampe hehe😄.

    Menurut saya soal refleksi diri (alias ketika seseorang merasa ada tekanan hidup sehingga perlu dapat arahan) bisa membutuhkan seorang coach bisa pula tidak.

    Mungkin ada yang cocok, karena daya pikirnya coachee yang masuk saat coach-nya memberikan arahan, dan momennya pas.
    Namun, bisa pula tidak cocok, karena bukan hanya dari segi faktor keselarasan keduanya, tapi juga faktor momennya yang gak pas, alias belum waktunya arahan itu dilaksanakan atau mungkin sudah terlewat. Faktor waktu bisa jadi pertimbangannya juga.

    1. Dimaafkan mba hehehe.
      Soal membutuhkan coach itu semua berawal dari kehadirannya. Artinya coach akan hadir jika diminta dan setiap insan punya pilihan sesuai keinginan.

      Terkait keberhasilan coaching murni soal keselarasan karena jika sudah mau datang dan bercerita tentu butuh kesadaran mau berubah atau tidak.
      Biasanya jika ada yang membutuhkan jasaku, aku selalu memberi ruang awal untuk bercerita dan mau bagaimana langkahnya. Namun seiring waktu jika persoalan yang sama dan wajah berbeda datang, buat aku sendiri artinya insan itu tidak mau berproses. Tetapi kembali pada pilihan.

      Ini pandangan dan langkahku, jika berputar-putar di satu titik aku persilahkan untuk mencari cara lain (tanpa aku), kecuali memang hanya butuh ditemani tanpa meminta jalan keluar. Pada akhirnya kembali pada konteksnya sendiri.

      Anw Terima kasih ya untuk pandangan dan responnya, maafkan juga jika jawabanku ini juga kurang berkenan.

  3. ada benarnya juga, mungkin masalah jodoh2an /cocok2an pun berlaku. Tapi bisa jadi dari orangnya sendiri yang lebih sekedar curcol, tanpa berusaha mencari solusi dari permasalahannya. Apalagi kalau keluh kesahnya itu dari hal yang sama berulang lagi. Kalau dikasih saran atau bimbingan, jawabannya ya adaaa aja. Atau terlalu keras hati juga bisa, sulit menerima saran orang lain.Bisa jadi bahan renungan buat diri sendiri juga mengenai hal ini. Terima kasih ya sudah berbagi kisahnya.

    1. Terima kasih juga sudah membaca dan meninggalkan jejak dalam komen.

      Mungkin bisa keras hati, tapi lebih bahaya ketika orang itu datang minta bimbingan tetapi setelah berulang diarahkan tetap saja kembali pada jalan yang sama. Melihat diri sebagai korban dan segala sesuatu berpusat pada diri.

  4. Berarti Memang benar ya Mbak nik, segala sesuatu berhasil atau tidak, semua tergantung pada diri. Termasuk proses coaching ini. Berhasil atau tidak, bertumbuh dan proses atau tidak, semua kembali pada orang yang dicoaching. Seperti kalimat bagus di atas, seorang coach bukan pesulap tanaman akan tumbuh. Coach hanya menyiram akar agar akar menjadi kuat dan berproses membuat pohon tumbuh besar dan kuat

    1. Setiap pribadi pada dasarnya sudah mempunya apa yang dibutuhkan. Hanya kadang persoalan hidup yang tidak bisa diatur sehingga disanalah letak peran coach.

      Melihat dari sisi luar, mengarahkan untuk menemukan apa yang diperlukan.

  5. Mantaaap dan sangat salut deh Mbaaa…

    Menurutku ya Mbaaa untuk menyelami cerita dan situasi nyata dari si coachee, juga mengambil peran sebagai coach untuk membantu si coachee menggali lebih dalam, menemukan makna, melihat pilihan-pilihan, dan membuat rencana yang sesuai dengan tujuan pribadinya, itu bukan sesuatu hal yang mudah di lakukan…

    Karena yang kebayang sama daku sih nanti kita harus juga menetralisir after effect dari mendengar cerita si coachee ini..

    Ya, dan tentu untuk keberhasilan semua itu balik lagi ke coachee ini, takdir Yang Maha Kuasa jelas jalannya. Tapi aku selalu percaya ga akan ada yang sia sia. Mungkin yang dimaksud belum berhasil sekalipun, itu kan bisa jadi progres yang dijalani juga..

    🥰Sukses dan semangat terus berbaginya ya Mbaaakuuhh

    1. aaaah terima kasih sekali untuk komen hangatnya.

      Betul sekali, kadang yang menjadi cukup berat ketika efect affter-nya itu. Energi habis apalagi bertemu persoalan yang berlatar masa lalu.

      Tetapi inilah indahnya peran yang dipanggil waktu, terasa seberat apapun ada saja cara waktu mengatur menjadi nyaman.

  6. Ternyata menjadi life coaching ini bukan sebuah beban buat ka Nik yaa..
    Melainkan panggilan hati.

    Aku kadang memikirkan seseorang dengan profesi tertentu adalah sebuah beban. Pun ketika menjadi seorang blogger yang tugasnya menulis dan menginfluence pembaca.
    Kalau gak sesuai dengan keinginan klien, pastinya klien gak suka dan bisa jadi gak datang kembali.

    Ka Nik memaknai life coaching dengan pandangan yang berbeda, sehingga semua teman yang datang selalu disambut dan diberi pemahaman bahwa proses ini butuh waktu yang gak sebentar. Karena akan ada benih yang baru ditabur, disemai dan dirawat.

    Semua dikembalikan ke masing-masing personal.
    Mau berubah, atau tetap jalan di tempat?

    1. Betul sekali Lendy, butuh proses waktu karena perlu lebih dilihat dengan lebih luas.

      Profesi life coach bertujuan lebih mengarahkan bagaimana langkah selanjutnya untuk bisa menghadapi hidup lebih tepat, bukan hanya menemani dan diam ditempat bersama luka-luka.

      Karena aku sendiri bisa melihat, jika memang berada diranah itu, aku arahkan ke yang lebih tepat seperti psikolog atau konselor.

  7. Memang gak semua coaching berhasil ya mbak. Ada kalanya mungkin juga bukan gak berhasil tapi belum berhasil karena ada orang2 yang butuh waktu lama buat acceptance sampai dia mau melakukan sesuatu buat perubahan hidupnya sendiri.
    Kadang juga ada yang sudah terlihat berhasil tetapi di suatu masa dia mungkin kek ketrigger lagi, eh, yawda dia balik ke kebiasaan lamanya.
    Kyknya emang tergantung individunya.
    Beruntung kalau orangnya didukung semesta bisa menerima dengan baik dirinya dan akhirnya bener2 membuat coaching seperti life changing hidupnya.
    keknya butuh support baik dari lingkungannya maupun orang2 sekelilingnya juga, yang membawa pengaruh positif juga. Salah satunya dari coach-nya.
    Selain juga karena emang akarnya atau tekadnya juga mesti kuat biar gak gampang goyah ya.

    1. Semua proses menjadi berhasil ada banyak aspek penduduk, tetapi yang utama pribadi itu sendiri yang utama.

      Karena sudah terlatih melihat bagaimana insan berproses, tentu bisa melihat bagaimana orang yang sejatinya terlalu “center” pada diri sendiri. Jika sudah seperti itu, perlu untuk memberi ketegasan bahwa orang itu bisa mencari pilihan lain yang sesuai.

      Bagaimanapun penting mengingat bahwa ketidakberhasilan satu ruang akan selalu jadi ruang berhasil ditempat lain.

  8. Saya pernah meng coaching orang dan saya juga pernah mengalami di coaching oleh orang lain. Tidak ada yang bisa memastikan apakah coaching yang kita terima atau kita berikan kepad aorang lain akan berhasil. sebagus apapun materi coacing dan motivasi yang diberikan jika dari dalam dirinya atau diri saya sendiri tidak ada keinginan untuk berubah maka selamanya coaching itu hanya akan sekedar menjadi sebuah materi saja. Jadi betul apa kata ka Nik bahwa ketika seseorang bersedia melihat dirinya jujur maka ia akan bias merasakan dampak coaching yang sudah dilakukan.

    1. Pada akhirnya kembali pada kejujuran diri sejauh mana sebenarnya membutuhkan atau mau sadar akan itu.

      Terima kasih ya mba Heni untuk komen yang selaras.

  9. Setuju mbak Nik. Salah satu pengalaman yang pernah kudapatkan tahun 2017 lalu, aku sempat beberapa kali ke psikolog. Datang dari satu psikolog ke psikolog lain, karena ngerasa nggak cocok. Dan pada kali ke-4 aku bertemu sama seorang psikolog. Aku cocok dan apa yang ia katakan padaku justru berdampak pada penyembuhanku.

    Pada sesi terakhir konsultasi, psikologku bilang “psikolog itu cuma membantu apa yang sudah kamu miliki, tapi yang memutuskan untuk sembuh ya tetep anda sendiri.” kurang lebih konsepnya seperti coaching ini kalau kupikir-pikir.

    Mau mendengar keluh kesah orang tanpa membuat kita ketriger itu sesuatu sekali. Salut sama mereka yang bisa melakukan itu, Mbak Nik. 😉

    1. Hihihi kalau sudah tugas dari yang punya hidup tuh semuanya akan dilengkapi.
      Karena kembali lagi, kalau mengerti peran akan segala sesuatu akan dilakukan sesuai ketentuan.

      Iyap, kami ini hanya sarana untuk menjadi arti bagi lainnya. Karena bagaimanapun butuh peran orang untuk memaksimalkan diri. Karena itu semuanya saling terkait.

  10. Aku tuh zaman kerja dulu tiap tahun pasti ada coaching time mbak. Antara atasan bawahan.. pastinya ttg kerjaan

    Tp jujur yaaa, aku paliiiiing ga semangat kalo udah waktunya ini. Mungkin bisa jadi yg salah aku. Krn bos ku rata2 baiiik2 semua.

    Gimana yaaa, aku tuh tipe yg susah utk terbuka. jadi di saat hrs menceritakan ttg kesusahan kerja dll, langsung kayak blank. Ga tau mau cerita apa.

    Trus makin lama aku pun akhirnya dapat team sendiri . Kalo tadinya tugasku cuma menjadi coachee, saat ada team, aku juga hrs jadi coacher 🤣

    Bayangin aja, aku yg memang pada dasarnya ga suka ngomong, ini malah hrs nasehatin orang lain. 🤣. Yg ada, tiap coaching time, mungkin team ku yg paling cepat selsai , Krn aku sendiri males lama2 😅😅. Ok , aku akuin aku bukan atasan yg baik soal begini.

    Ntahlaah, kalo kata suami, aku nih tipe pekerja yg jangan dikasih anak buah. Krn aku LBH suka kerja sendiri . Ikut perintah. Udah itu aja. Kalo harus handle orang, sepertinya aku blm bagus di situ, apalagi pake acara coaching mereka 😁

    1. Hahaha diirmu Fan,
      Jadinya lebih jelas aja kalau dirimu itu lebih maksimal kerja tanpa team.
      Lebih senang sebagaii pelaksana yak daripada mengatur.

      Emang tidak mudah dan aku sendiri aja yang terbiasa nge-Lead, tetap aja ada sisi “lelah”nya kadang wkwkwkw #ngaturOrang itu memang sesuatu sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink