#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Apa Itu Kebijaksanaan dalam Hidup? Saat Logika Tidak Kehilangan Nurani

Kebijaksanaan dalam hidup menjadi kebutuhan utama saat ini, di mana kehidupan yang semakin mulai memudar warnanya. Bertuankan logika karena terpesona dengan moleknya teknologi.

Melupakan hidup berjalan tidak hanya soal logika, ada nurani yang perlu di rawat juga.

Dalam tulisan-tulisanku sebelumnya, selalu dan sering aku mengutarakan bagaimana pudarnya warna hidup soal riuhnya pengakuan, berlarinya waktu diiringi lelahnya insan tetapi kurang paham arti jeda.

Perubahan kehidupan yang begitu dinamis dengan keinginan. Bahkan alam-pun ikut dengan perubahan yang tak pasti. Pagi terik, siang mendung, sore hujan dengan ditutupnya indahnya senja. Atau sebaliknya. Tak bisa diprediksi.

Dan aku melihat semuanya seakan memberi tanda, bahwa hidup sendiri sedang tidak nyaman. ‘Sakit’ karena ulah insan-insan yang tidak mampu mengendalikan ego. Serakah.

Lalu dalam heningnya waktu, rasaku mengajak untuk bercerita bagaimana kebijaksanaan dalam hidup, perlu dibagikan dengan kesadaran bahwa memperjuangkan logika dan nurani dengan setara hal yang sangat penting.

Baca juga: Hidup Terasa Hampa? Temukan Cara Menyalakan Nurani dan Kembali Menemukan Makna

Hidup terasa hampa dan kebijaksanaan dalam hidup
Tetap bertahan walau Hidup terasa hampa dalam kebijaksanaan dalam hidup

Mengapa Dunia Modern Terlalu Memuja Logika?

Cepat dan tepat. Begitu hal utama yang dituntut oleh dunia saat ini. Fakta berbicara dan berlaksa informasi bertarung menghadirkan bukti-bukti seakan itu sebuah kebenaran.

Membentuk peta arah pada logika, bermesraan dengan teknologi menjadi sebuah wajah manusia modern yang begitu berkilau. Logika menjadi tuan besar, menghadirkan kekuasaan dan keserakahan mengintip, tersenyum sinis, siap hadir menjadi kawan baik.

Konon katanya semua karena KEBUTUHAN, tanpa sadar kenyamanan terlalu berkuasa sehingga saat waktu menempatkan perputaran, ketakutan atas kurang makin menjadi.

Lalu kata CUKUP yang semestinya dirawat-pun lama-lama semakin kering dan tidak sengaja menjadi mati.

Kebutuhan merubah menjadi KEINGINAN dan terus dihidupi karena logika berkuasa. Maka kemudian sebuah tanya hadir,

Apakah ketika logika begitu cerdasnya menghadirkan fakta akan kemajuan, akankah mampu mengatur kehidupan yang sudah punya ATURAN TETAP, yaitu keseimbangan?

Baca juga: 5 Kembar Kehidupan yang Tak Terpisahkan: Rahasia Menyatu dari Lao Tzu – Aku dan Tokoh #5

Kebijaksanaan dalam hidup
Kebijaksanaan dalam hidup

Romantisme Nurani yang Sering Melupakan Kejernihan Logika

Sementara logika menjadi tuan, kecanggihan teknologi semakin bersinar menghadirkan gedung dan lahan-lahan penghijauan-pun juga diperkosa. Hilang dan kembali hadir tanya,

Kemanakah nurani? Apakah ketika lahan itu hilang akan mampu menghadirkan kebutuhan utama?
Terkoneksi dengan alam, tidak hanya soal pangan untuk raga tapi sentuhan energi untuk jika.

Baca juga: 5 Rahasia Ketajaman Intuisi yang Bisa Dipelajari dari Alam

Juga dalam halaman lain aku menulis tentang menyalakan nurani dalam dunia yang semakin bertuankan logika.

Baca di Hidup Terasa Hampa? Temukan Cara Menyalakan Nurani dan Kembali Menemukan Makna

Tetapi jika nurani saja yang tajam, rasa ketulusan tanpa logika juga tidak akan jernih. Mengabaikan logika dan meromantiskan nurani seperti cahaya tanpa peta.

Maka di sinilah keseimbangan dibutuhkan dan penting untuk dihadirkan. Logika memberi peta dan nurani sebuah cahaya, jika keduanya dirawat dengan seimbang dan lahirlah kebijaksanaan, ilmu tertinggi dalam kehidupan.

Mengapa Kebijaksanaan Menjadi Ilmu Tertinggi dalam Kehidupan

Kebijaksanaan dalam hidup
Kebijaksanaan dalam hidup

Mari kita melihat beberapa hal tentang kebijaksanaan tentang marah, diam, dan tetap melangkah walau kadang keadaan berat. Kebijaksanaan dalam hidup penting dihidupi supaya langkah semakin terasa ringan.

  • Marah bukan marah-marah

Tidak ada yang salah tentang marah, itu logika memberi fakta bahwa ada hal yang kadang perlu disampaikan dengan ketegasan, karena ada manusia yang digolongkan bebal. Terlalu meromantiskan kebaikan, seakan semuanya hal bisa selesai dengan kata maaf.

Hanya memang butuh menyampaikan dengan jelas, tanpa dirasuki dengan ego yang disebut dengan marah-marah. Kadang di sulut dengan api ketidaksukaan akan berkobar menjadi. Lupa dengan tujuan bahwa sesuatu terjadi tidak sesuai dengan tujuan, perlu diluruskan dan diarahkan dengan tepat.

Di sanalah letaknya kebijaksanaan bermain, logika memberi fakta itu perlu diperbaiki dan nurani memberi arah untuk menyampaikan dengan tegas, tenang dan tidak perlu memberi ruang pada ego.

Baca juga: Luka, Amarah dan Kalah – 2016

  • Diam dan biarkan waktu menjelaskan

Konon katanya diam itu emas. Iya kadang ada benarnya. Karena tidak semua hal perlu direspon dan tidak semua hal perlu disampaikan. Aku sendiri sering memperlakukan hal tersebut. Walau orang melihat aku termasuk banyak bicara, tetapi banyak yang tidak tahu kalau aku kadang sengaja bicara hanya untuk melihat respon dari perkataanku.

Dan seringnya aku menjawab sesuatu dengan pertanyaaan. Cara paling bijaksana untuk merespon sesuatu yang sejati itu wajah dari diam.

Khususnya saat melihat pongahnya pribadi yang merasa memiliki semuanya. Sombong. Biasanya aku sering memberikan ruang besar pada pribadi-pribadi yang seperti itu. Walau logika ingin membuktikan bahwa kesombongan adalah cerminan akan ketidakmampuan, saat itulah nuraniku berbisik dan menyelaraskan dengan belas kasih.

Jika kesombongan dilawan dengan keras, maka bukan hidup yang diberi nafas tapi justru akan menghasilkan kekeringan.

  • Tetap melangkah walau terlihat ikut arus

contoh terakhir kebijaksanaan dalam hidup keseharian, kadang kita ingin menjauh dari lingkungan yang membuat kita kering. Tetapi disinilah butuh logika memberi fakta, apakah kemampuan untuk lepas sudah mumpuni, kekuatan untuk lepas bisa tetap hidup?

Maka setelah logika memberi fakta bahwa belum mampu keluar dari tempat yang tidak sesuai, saat itulah penting menajamkan nurani untuk mengingat hidup punya cara untuk mengatur kebaikan.

Melangkah dan tetap menjadi diri ditengah arus hidup yang keras dan tidak bersahabat.

Akhirnya

Jika kbbi mengatakan kalau bijaksana selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), kalau aku kebijaksanaan dalam hidup terletak padakeseimbangan dengan menyelaraskan logika dan nurani.

Ilmu tertinggi yang dalam kehidupan, karena segalanya bermuara dan berakhir pada dua hal, termasuk jika ada logika maka penting hadirkan nurani. Semuanya menghadirkan kebijaksanaan dalam hidup yang kelak bisa dipertanggungjawabkan saat kembali pada pencipta.

Bukankah pada akhirnya semuanya berujung pada kembali pada pencipta? dan hal terbaik sebuah pengetahuan atau ilmu ada pada kemampuan menghadirkan sikap kebijaksanaan dalam hidup.

Terima kasih sudah sampai di sini, yuk bagi pendapatmu setelah membaca buah pikiranku ini. Ceritakan di kolom komentar ya.

Jakarta Selatan, Mei 2026
Ditulis setelah menikmati kopi enak dan teduhnya hari.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink