Ketulusan hati mungkin terdengar sederhana, dalam dunia yang semakin pandai meniru segalanya, senyum, kebaikan, bahkan cinta.Menjaganya menjadi sebuah perjuangan. Kini, hampir semua bisa dipalsukan: wajah, suara, bahkan bukti. Tapi hati yang murni, ia tak pernah bisa berpura-pura.
Di tengah kepalsuan yang rapi, ketulusan menjadi cahaya yang menuntun kita kembali pada keaslian. Akar kehidupan sesungguhnya: hati yang murni, yang tak bisa dipalsukan oleh apa pun.
Aku terdiam, mengingat semua peristiwa tahun ini. Begitu banyak hal-hal yang kurang nyaman terjadi, tidak hanya pada diri tapi hampir semua pihak mengalaminya. Bulan ini pikiranku banyak tanya dan membawaku pada diam dan berpikir.
Mengapa begitu penuh informasi, tetapi banyak peristiwa yang terjadi seperti hasil keputusan yang tak berpikir. Hanya melihat tanpa sungguh mengerti. Seperti mendengar tapi tidak mendengarkan.
Alih-alih soal ketulusan hati, berlogika dengan tepat saja masih perlu di pertanyakan.
Baca juga: Menangkan Hari dengan Tajamkan Logika & Hati yang Teguh – Cara Menghadapi Dunia yang Rapuh
Aku menarik nafas sangat dalam, saat menulis ini hatiku sungguh pedih. Sudah sejauh itukah nurani manusia dari tujuan kehidupan. Sebutuh itukah penumpukan kemauan, hanya ingin hidup lebih baik katanya.
Berjuang menumpuk harta kekayaan, mengejar kekuasaan yang konon katanya untuk kebaikan masa nanti. Iyakah?
Lalu, kalau boleh bertanya, apakah “nanti” itu masih ada?
Melupakan kalau ketulusan hati berbuah kebaikan untuk banyak pihak. Lalu nurani berbisik, Dunia memang bisa penuh kepalsuan, tetapi diri masih bisa untuk melangkah dalam kebaikan dengan kemurnian rasa.

Bagaimana Murnikan Rasa dan Menjaga Ketulusan Hati di Dunia yang Semakin Penuh Kepalsuan
Dentingan piano pada plafom musik yang aku nyalakan, menemani hujan rintik diluar jendela, memberi ruang padaku untuk menilik sebuah pertanyaan tentang ketulusan hati dan murninya rasa. Melanjutkan kesadaran bahwa masih ada kebaikan di tengah dunia makin palsu.
Lalu, tanya ini hadir.
Saat berbuat baik, niat apa yang sebenarnya menuntun? Ingin dihargai, atau sungguh ingin memberi?
Entah apa yang membentukku di masa kecil, aku ingat betul orang tuaku tidak banyak waktu untuk mendidik, yang aku ingat seringkali aku melakukan sesuatu sendiri. Semua anggota keluarga memiliki kesibukan.
Hanya satu hal yang tak pernah lupa, kalau orang tuaku selalu menyediakan makanan lebih di dapur. Siapa tahu ada yang datang katanya. Kami terbiasa mengajak tamu untuk makan.
Tidak alasan lebih melakukan itu, hanya ingin yang datang senang. Konon perut pusat dari semua prilaku manusia. Jika perut penuh rasa senang akan hadir, jika sudah itu semua hal berjalan dengan baik.
Kemudian tersadar, mungkin karena itu aku terbiasa untuk membuat orang lain senang. Tanpa berpikir di balas ataupun tidak. Soal di hargai, aku sendiri sudah terbiasa dengan kesendirian, jika orang tidak menghargai apapun yang aku lakukan, aku hanya berpikir, mungkin aku perlu untuk lebih baik atau memang orang itu sedang mengalami hal berat jadi belum mampu mengungkapkan sesuatu yang sebaiknya.

Kepintaran Dunia dengan kepalsuannya
Lalu, kemurnian hati terus tergerus dengan kecepatan dunia, menjadikan insan semakin pintar dalam berpikir tetapi tumpul dalam nurani. Berdalih pada kebutuhan.
Ekosystem hidup semakin menjauh dari tujuan, bagaimana manusia tercipta untuk saling terhubung, membuat kehidupan lebih baik. Tetapi nyatanya, karena tumpulnya hati alih-alih membawa kebaikan, justru yang ada penuh kepalsuan.
Apa yang tidak bisa di palsukan saat ini? Uang, wajah, suara, aturan atau system?
Semua itu bisa dilakukan karena logika terlalu berkompromi dengan kebutuhan. Sementara kemurnian semakin diabaikan dan melupakan itu kunci dari kehidupan.
Jika ingin terus berkehidupan, tajamkan kemurnian rasamu dan berjuanglah terus melangkah dengan ketulusan hati.
Memang penuh tantangan melakukan hal itu, dalam era yang serba menuntut dan dinamis. Tetapi jika tidak di perjuangkan, kehidupan yang seperti apa yang akan kita hadapi nanti?
Berangkat dari keresahanku itu, dalam tulisan ini, ingin mengajak semua pihak untuk terus memperjuangkan ketulusan hati dalam setiap tindakan. Walau memang ketulusan hati tidak bisa dijelaskan secara logika, ia hanya bisa dirasakan.
Cara Mengasah Murninya Rasa dan Ketulusan hati
Berdasarkan pengalamanku, tiga hal ini yang membawaku mampu melakukan sesuatu dengan murni.
- Hubungan baik dengan Pencipta Kehidupan dalam DOA
Hal ini mungkin terlihat klise, tapi percayalah, jika kita memiliki iman, segalanya terasa tenang. Percaya kalau kehidupan ada yang mengatur. Sehingga diri menjadi utuh. Dalam keutuhan itulah akan melahirkan ketulusan hati.
- Bersahabatlah dengan Alam Semesta.
Alam adalah kakak dari semua ciptaan, manusia adalah si bungsu. Artinya suka tidak suka saling membutuhkan. Alam memberi kekuatan yang kadang tak disadari. Memberi kepenuhan, melihat lebih dekat bagaimana matahari rela digantikan malam supaya bintang bersinar.
Semuanya punya waktu dan tempatnya. Tidak perlu menuntut, apalagi ingin lebih. Semua punya kapasitasnya. Kehidupan itu adil, yang tidak adil karena manusia sendiri mematahkan aturannya, sehingga terlihat tidak adil.
- Berjuanglah terus untuk sadar, kalau diri diciptakan karena Cinta.
Hal ketiga ini memang tidak mudah. Apalagi bagi insan yang terlahir tanpa penerimaan. Tetapi aku sendiri mengalami bagaimana dalam ketidakpenerimaan, pada akhirnya sadar kalau ada dalam kehidupan ini, punya tujuan dan cinta-lah yang menjadikan itu.
Waktu akan memproses semuanya itu dan ketulusan hati menjadi bagian terpentingnya. Hati yang murni tidak perlu kata, dia hanya membawa kebaikan dan kehidupan. Itu yang aku rasakan dalam prosesnya.
Kesadaran akan tercipta karena cinta, akan membawa diri berlaku tanpa perlu pengakuan atau ingin dibalas. Hanya ingin melihat buahnya. Kebaikan dan berkehidupan.
Murninya Rasa Berbuah Kebaikan – World Kindness Day
Walau rasa tidak bisa dijelaskan dengan mudah. Hanya terkoneksi satu sama lainnya. Namun kemunian akan berdampak. Melahirkan kebaikan, penghidupan.
Bertepatan di 13 Novernber diperingati World Kindness Day, aku diingatkan kembali oleh tulisan mba Dewi Rieka. Bersyukur atas itu. Karena belakangan kebaikan seperti merajuk. Tak terlihat.
Kemudian bersama tulisan ini, harapanku semoga dengan adanya World Kindness Day Semakin banyak orang berbuat baik dengan rasa yang murni. Penuh ketulusan hati.

Baca juga: Kebaikan yang Dianggap Bodoh – Tentang Keteguhan – Aku dan Toyohiko Kagawa #9
Kembali ke Akar Kehidupan
Bersama hari World Kindness Day dalam Asah Ketulusan Hati dan Murnikan Rasamu di Tengah Dunia yang Penuh Kepalsuan mengajak untuk mengingat kembali ke akar kehidupan. Series Tulisan Jumat.
Baca Juga: Kembali ke Akar
Dunia boleh penuh kepalsuan, tapi ketulusan hati selalu berawal dari niat yang murni. Lalu marilah sebelum memberi, sebelum berkata, bahkan sebelum berpikir, sadari dulu niatnya. Happy World Kindness Day 2025.
Pasar Minggu, November 2025


3 Responses
Terima kasih banyak mbak Nik, kembali daku diingatkan untuk tetap menjadi diri sendiri, di tengah riuh ramai eranya manusia berpura-pura dan menutupi diri hanya demi mendapat segenggam validasi. Aku kadang memang jatuh, rapuh, bahkan tenggellam.. tapi sebisa mungkin, daku selalu berusaha jadi diriku sendiri yang murni dan setulus hati.
Btw, jadi kapan ini kita mau hiking dan menikmati alam? hahahahaha
ya Allah emba aku seperti diksih siraman hati yang membuat energi yang ada di tubuh inni pada posisinya , kata2 tulus , ikhlas, semesta akhir2 ini bersemayam di pikiran ku , tidak ada yang kebetulan ya ka ( big hug )
Memang karakter seseorang berpengaruh banyak hal. Namun yang namanya ketulusan pasti datangnya dari hati.
Aku punya sahabat.
Beliau kalau sama aku uda ngomongnya kek rem blong.. huhuhu, kadang sakit hati, tapi aku yakin, maksud dia baik. Karena sayangnya sama aku, jadi diingatkan dengan cara ekstrem.
Itulah makna tulus yaa, ka Nik.
Sepahit apapun, itulah obat. Yang membuat sang manusia menjadi lebih baik lagi.
Bukan hanya (teman yang seperti) madu – yang manis rasanya.