Tanpa disadari, masa lalu kerap menentukan cara berjalan hari ini, dan cara berdamai dengan luka masa kecil hadir sebagai pintu untuk melihat kembali apa yang selama ini membentuk arah dan beban langkah kita.
Kirana menatapku dengan pandangan kosong sambil bercerita, hubungannya sering kandas karena prilaku dirinya tidak mampu merespon kehangatan pasangan. Setiap di peluk tidak merasa hangatnya, sebelumnya ketika di pegang tangan, selalu di tempis secara tegas.
Berulang begitu, bukan dia tidak suka pasangannya tetapi ada yang membuat dia tidak mampu merespon kehangatan pasanganya. Aku mendengarkan kisahnya sambil sesekali terpejam. Sekedar mengalihkan rasaku atas peliknya lukanya.
Di lain waktu Kirana datang padaku, bercerita sungguh rapuh dirinya menghadapi orang tuanya semakin senja. Walau masa kecilnya tidak mendapatkan yang sepantasnya sebagai anak, dia tetap berusaha mencintai orang tuanya dengan tulus.
Tahun-tahun berlalu, orang tuanya semakin senja dan prilaku orang tua semakin membuatnya hilang kesabaran. Benturan kehidupan, orang tua dan kebutuhan diri yang menuntut seperti kombinasi ketidaknyamanan yang lengkap.
Kirana memang di pilih waktu untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Kehadiran dalam kehidupan seperti sebuah maha karya pencipta yang unik. Kisah hidupnya memberi pelajaran besar, dan aku membentuknya dalam tulisan cara berdamai dengan luka masa kecil.
Kisah Kirana sebuah gambaran, bahwa masa lalu sangat berperan penting bagaimana masa sekarang. Lalu seperti apa ceritanya dan bagaimana cara berdamai dengan luka masa kecil, selain itu bagaimana cara menghadapi orang tua yang tanpa sadar menoreh luka?
Mari lanjutkan membaca ya. Siapkan logika dan nurani yang jernih ya. Barangkali apa yang dirimu baca dalam tulisanku ini, ada yang kurang mengerti atau bisa saja tidak sesuai dengan pandanganmu.
Lalu, mari lanjut melihat lebih jauh bagaimana cara berdamai dengan luka masa kecil dan orang tua, sebelumnya kita perlu dulu mengingat kembali apa itu luka masa kecil dan orang tua.
Baca juga: Pelukan Cinta Seruni – Bukan Mencintai – 2020

Apa Itu Luka Masa Kecil dan Luka Orang Tua dalam Psikologi?
Luka masa kecil adalah bagian dari ingatan batin yang terus berjalan di balik setiap pilihan hidup kita. Ia tidak selalu terlihat, tidak selalu disadari, tetapi tanpa sadar ikut menentukan bagaimana kita merasa, mencintai, dan memaknai diri.
Dalam psikologi, ada istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan bagian ini: inner child – sisi kecil dalam diri kita yang terbentuk dari pengalaman masa kanak-kanak, baik yang hangat maupun yang penuh lubang.
(Sumber penjelasan inner child diadaptasi dari HelloSehat – https://hellosehat.com/mental/inner-child/)
Ketika masa kecil dipenuhi rasa aman, perhatian, dan pelukan yang cukup, energi itu tetap hidup dalam diri dewasa kita sebagai keyakinan bahwa kita pantas dicintai. Kita tumbuh dengan rasa cukup. Dengan rasa aman.
Namun ketika masa kecil menyimpan pengabaian, kekerasan, kehilangan, atau kehadiran yang setengah-setengah, kenangan itu tidak hilang begitu saja. Ia membekas, menetap, menjadi cara kita merespon kehidupan di masa depan.
Cara kita menerima cinta, menolak kedekatan, menyentuh atau menghindari sentuhan.
Seperti Kirana.
Kehidupan masa kecilnya terlihat baik-baik saja. Saudara-saudaranya memberi perhatian penuh. Tetapi peran ayah yang tidak utuh membuat remaja dan dewasanya penuh perjuangan dalam hubungan. Ayahnya hadir, tetapi tidak sepenuhnya. Sepanjang hidupnya Kirana hanya sekali dipeluk.
Dan tubuhnya mengingat itu. awalnya Ia tidak terlalu memperhatikan. Tetapi karena berulang dan mulai sadar bahwa peran Ayahnya di masa kecil sangat mempengaruhinya dalam merespon dengan terlalu berhati-hati.
Luka yang tidak dikenali seperti racun, sering bekerja dalam diam. Awalnya baik-baik saja tetapi tanpa sadar membuat benteng tinggi. Dan ketika luka tidak dipulihkan, ia membentuk menjadi kenangan, berubah menjadi pola.
Baca juga: Tergores Terluka Boleh – Bernanah jangan – Terbaik – Hidupberkehidupan 2024

Akibat Luka Jika Tidak Dipulihkan
Cara berdamai dengan luka masa kecil tidak akan bisa dilakukan, jika belum menyadari kalau luka yang dibiarkan tidak selalu menghancurkan secara dramatis. Kadang ia hanya menggeser sedikit demi sedikit arah hidup kita.
Kirana tidak merasa dirinya terluka. Ia hanya merasa dirinya memang dingin. Ia merasakan itu sebagai kepribadian. Padahal itu adalah caranya dia menutup dirinya.
Dalam kisah Kirana, luka yang tidak dipulihkan bisa berubah menjadi:
- Ketakutan akan kedekatan
- Sulit percaya pada pasangan
- Perfeksionisme berlebihan
Dan yang lebih halus lagi, luka bisa diwariskan.
Orang tua yang masa kecilnya sering di tuntut, ia juga tanpa sadar mewariskan hal itu pada anaknya. Luka yang tidak selesai sering kali tidak berhenti pada satu generasi. Ia berpindah tangan. Bukan karena niat melukai.Tetapi karena ketidaksadaran.
Seperti pernah aku tulis dalam kisah Piccolo Latte. Bagaimana Jaka berjuang menerima perlakukan orang tua yang terus menuntut.
Baca kisahnya di tulisan: Piccolo Latte dan 3 Kisah Persoalan Kehidupan yang Kehilangan Arah
Kemudian ketika sudah mengetahui apa itu luka masa kecil dan akibatnya, saatnya lanjut ke bagaimana cara berdamai dengan luka masa kecil dan orang tua, agar tidak mengendalikan hidup kita.
Cara Berdamai dengan Luka Masa Kecil dan Orang tua
Sebelum masuk ke lima langkah ini, izinkan aku informasikan bahwa apa yang akan yang aku bagi. Lima cara berdamai dengan luka masa kecil lahir dari pertemuan panjang dengan banyak cerita, dari dialog-dialog penuh warna bersama orang-orang yang sedang mencari arah hidupnya. Dan tentu saja, juga dari perjalananku sendiri berdamai dengan luka.
Sebagai pengarah kehidupan, aku menyaksikan satu pola yang berulang: luka yang tidak disadari cenderung mengatur hidup, dari sanalah aku mulai merangkai pemahaman, memadukan pengalaman nyata dengan pendekatan yang kupelajari dalam Neuro-Semantics.
Pendekatan ini membantuku melihat bahwa luka bukan hanya soal peristiwa, tetapi soal makna yang kita bangun terhadap peristiwa itu. Dan ketika makna bisa diubah, respons hidup pun ikut berubah.
Karena itu, lima cara berdamai dengan luka masa kecil adalah pola kesadaran yang berulang kali kutemukan bekerja pada orang lain, dan pada aku sendiri.
1.Menyadari dan beri nama lukanya (Awareness of Frame)
“Memang aku orangnya begini.”
Sering mendengar kalimat ini dan jika aku dengar dalam sesi coaching, ini yang paling menarik buatku. Karena ini letak insan yang sedang membentengi diri. Seperti sebuah perlindungan tetapi tanpa di sadari itu menutup diri.
Sedangkan sesuatu yang di sebut bertumbuh adalah bergerak, menyesuaikan. Apalagi ada dalam pusaran persoalan. Perlu ada keterbukaan dan kesadaran. Kemudian dari sinilah aku mulai mengulik lebih dalam.
Setiap pemulihan selalu dimulai dari kesadaran.
Merasa hidupnya “baik-baik saja”, padahal di dalamnya ada bagian kecil yang belum pernah disapa. Luka sering bersembunyi di balik kalimat, memang aku orangnya begini. Padahal mungkin itu bukan kepribadian, tetapi benteng persembunyian.
Seperti Kirana, awalnya sikap dinginnya sebagai sikap berhati-hati, tetapi ada beberapa kali di titik ia sebenarnya menginginkan penerimaan hangat sentuhan, tetapi alih-alih menikmatinya, ia malah menangis dan pasangannya bingung.
Hati-hati berubah menjadi ketakutan dan berdampak ketidaknyaman pada pihak lain. Jika terus menerus berulang akan berujung pada pertengkaran. Satu pihak merasa melakukan hal biasa, lain pihak merasa itu memicu ketakutan.
Setelah aku arahkan lebih jauh akhirnya Kirana melihat letak lukanya dan ia memberinya sebuah pengakuan dan kesadaran bahwa ada bagian masa kecil yang belum di sapa dengan baik.
Memberi nama pada luka bukan berarti memperbesar rasa sakit. Justru sebaliknya. Saat kita berani berkata,
“Aku terluka karena merasa tidak pernah dipeluk,”
atau
“Aku takut ditinggalkan karena dulu sering diabaikan,”
di situlah luka berhenti menjadi bayangan. Ia menjadi sesuatu yang bisa dipeluk, dipahami. Menyadari dia ada dan ketika sudah sadar maka mulai bisa di pulihkan.
2. Menerima bahwa itu bagian dari sejarah, bukan identitas
Masa lalu adalah bagian dari cerita, tetapi ia bukan keseluruhan diri kita.
Apa yang terjadi dulu mungkin membentuk respons kita hari ini, tetapi itu tidak menentukan nilai diri kita. Luka karena kurang kasih sayang bukan berarti kita tidak layak dicintai. Luka karena pengabaian bukan berarti kita memang tidak penting.
Ketika kita menerima bahwa itu adalah bagian dari sejarah hidup, bukan label permanen, mulai memisahkan antara
“apa yang terjadi”
dan
“siapa aku sebenarnya.”
Dan di situ ada ruang kesadaran yang membawa kebebasan.
3. Ubah makna: apa informasi yang bisa diambil?
Cara berdamai dengan luka masa kecil selanjutnya, soal bagaimana diri melihat peristiwa terjadi. Semua kejadian memberi informasi dan sebagai pengalaman. Bahkan yang paling menyakitkan sekalipun.
Pertanyaannya bukan lagi,
“Kenapa ini terjadi padaku?”
Tetapi,
“Apa yang bisa kupelajari dari ini?”
Mungkin luka itu mengajarkan bahwa kita sangat menghargai kehadiran. Mungkin juga membuat kita peka terhadap rasa ditinggalkan. Atau ia membentuk empati yang dalam pada orang lain yang juga terluka.
Mengubah makna bukan membenarkan kejadian yang menyakitkan. Tetapi memilih untuk tidak membiarkannya tidak membawa dampak baik.
4. Bangun state atau keadaan baru yang lebih kuat (support system & tujuan)
Kemudian cara berdamai dengan luka masa kecil keempat ini hal paling penting untuk di perhatikan, bukan berarti yang lain tidak terlalu penting, tetapi bagian ini lebih lagi.
Pemulihan tidak selalu bisa dilakukan sendirian. Kita membutuhkan ruang aman, entah itu sahabat, pasangan, mentor, komunitas, atau bantuan profesional. Tempat yang bisa menjadi diri sendiri tanpa dihakimi.
Di sinilah kembali kehidupan menjelaskan, bahwa manusia perlu terhubung dengan orang lain. Sehebat-hebatnya insan akan butuh orang untuk mendukungnya bertumbuh.
Terlebih soal luka masa kecil. Seperti Kirana saat itu, ia datang padaku dan dengan bercerita banyak, setelah itu aku arahkan pada banyak kesadaran, akhirnya mengerti bahwa akar dari rapuh dan retan hubungannya pada pasangan karena masa kecilnya mendapatkan perlakukan yang tidak baik.
Tidak hanya bagaimana Ayahnya tidak memberi sosok yang utuh. Figur laki-laki yang dia perlu mengerti. Selain itu Kirana juga mendapatkan perlakuan pelecehan di masa kecilnya.
Cara berdamai dengan luka masa kecil, mau jujur dan berani mau datang ke orang yang tepat, selain menyadari akan luka, juga bisa memberi arahan untuk menemukan tujuan hidup yang jelas. Membantu berhenti berputar di masa lalu. Ketika ada arah yang ingin dituju, energi kita perlahan berpindah dari
“mengulang luka”
menjadi
“membangun masa depan.”
Support system seperti sahabat, pasangan, mentor, komunitas, atau bantuan profesional memberi kekuatan untuk berani jujur. Dengan keberanian bercerita apa yang tidak pernah terpikirkan akan keluar. Dari sanalah melahirkan kesadaran dan arah sebuah tujuan.
5. Hidup sadar hari ini, bukan dari reaksi masa lalu
Luka sering membuat kita bereaksi otomatis. Sedikit diabaikan, langsung merasa tidak berharga. Sedikit ditegur, langsung merasa ditolak. Maka cara berdamai dengan luka masa kecil bagian terakhir, perlu hidup dalam kesadaran.
Artinya, berhenti sejenak sebelum bereaksi. Bertanya pada diri sendiri,
“Apakah ini tentang hari ini,
atau
tentang masa lalu yang tersentuh kembali?”
Setiap kali memilih merespon dengan kesadaran, bukan dengan luka lama, di situlah proses pemulihan benar-benar terjadi. Memberikan ruang pada waktu untuk memulihkan dengan baik.
Waktu demi waktu, langkah demi langkah dan semuanya akan membangun versi diri yang lebih damai.
Kelima Cara berdamai dengan luka masa kecil sebuah pola untuk memberi kesadaran. Tidak hanya untuk luka masa kecil saja, bisa juga di pakai untuk luka yang lain, seperti luka dari orang tua.
Baca juga: 3 Langkah mengolah Luka – Tentang Esok Berkehidupan

Kisah Luka Orang Tua
Lima cara berdamai dengan luka masa kecil yang sudah aku bagikan sebelumnya, bukan hanya relevan untuk luka masa kecil. Ia juga bekerja pada luka yang terjadi hari ini, bahkan di dalam rumah sendiri.
Seperti kisah Kirana yang lain.
Bukan lagi tentang ayah yang tidak memeluknya. Tetapi tentang orang tua yang tanpa sadar melukai lewat niat baiknya. Orang tuanya sudah memasuki usia senja. Tubuhnya tidak lagi sekuat dulu, tetapi kebiasaannya tidak berubah.
Ia tidak nyaman jika hanya diam sementara anaknya sibuk. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Harus membantu.dan berguna. Masalahnya, bantuan itu sering berujung repot.
Pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai, dikerjakan ulang. Barang yang sudah rapi, dipindahkan. Hal kecil yang ingin ditolong, justru membuat Kirana harus turun tangan kembali.
Dan itu terjadi setiap hari. Setiap saat. Berulang.
“Aku tuh keselnya,” kata Kirana suatu hari, “kenapa saat tidak melakukan apa-apa dia diam saja. Tapi ketika melakukan sesuatu, ujungnya aku juga yang harus membereskan.”
Di situlah luka kecil mulai terbentuk. Bukan karena benci. Bukan karena tidak sayang. Tetapi karena rasa kesal yang terus menumpuk tanpa ruang untuk dipahami.
Tindakan yang terasa tidak nyaman, jika diterima berulang, perlahan berubah menjadi kepahitan. Apalagi jika itu terjadi dalam relasi yang tidak bisa dihindari – tinggal serumah, setiap hari bertemu.
Di sinilah aku melihat bahwa cara berdamai dengan luka masa kecil dan luka orang tua bukan hanya tentang memaafkan masa lalu. Tetapi juga tentang mengelola makna dari peristiwa hari ini.
Kirana sebenarnya memahami orang tuanya. Ia tahu beliu tidak bisa diam karena sejak muda terbiasa aktif. Diam membuatnya merasa tidak berguna. Tidak dibutuhkan.
Tetapi memahami saja tidak cukup jika tidak disertai kesadaran mengubah makna.
Ketika Kirana akhirnya berani bercerita, jujur tentang rasa kesalnya tanpa menyalahkan, sesuatu berubah. Bukan situasinya yang langsung hilang. Tetapi bebannya.
Hal pertama yang ia rasakan adalah lega.
Setelah itu, ia mulai mengerti: rasa kesalnya bukan hanya tentang orang tuanya yang merepotkan. Tetapi tentang dirinya yang merasa tidak didengar, tidak dihargai ritmenya.
Dalam proses mendampingi Kirana, aku memakai pola yang sama seperti dalam lima cara berdamai dengan luka masa kecil tadi – terutama pada bagian mengubah makna dengan memberi kesadaran mengapa orang tuanya berlaku demikian.
Dalam pendekatan Neuro-Semantics, yang kita ubah bukan peristiwanya, tetapi makna yang kita berikan pada peristiwa itu.
Dari:
“orang tua selalu merepotkanku.”
Menjadi:
“orang tua ingin merasa berguna, aku perlu menerima dan belajar menyampaikan batas dengan cara yang lebih dewasa.”
Makna baru tidak membuat masalah hilang. Tetapi membuat respons berubah. Dan ketika respons berubah, luka tidak lagi mengendalikan.
Karena pada akhirnya, berdamai dengan luka, entah itu luka masa kecil atau luka dari orang tua yang masih hidup bersama adalah tentang memilih untuk tidak bereaksi dari kepahitan, melainkan dari kesadaran.
Akhirnya
Berdamai dengan luka bukan tentang menyalahkan masa lalu, tetapi tentang memilih tidak lagi dikendalikan olehnya. Luka masa kecil dan luka dari orang tua bisa dipulihkan ketika kita berani sadar, memberi makna baru, dan membangun respons yang lebih dewasa.
Jika tulisan ini terasa dekat, mungkin ada bagian kecil dalam dirimu yang sedang ingin didengar, mencari cara berdamai dengan luka masa kecil, ingin di dampingi , mungkin perlu sesi coaching bersamaku. Mari sapa aku di kolom komentar.
Lalu, aku ingin tahu juga bagaimana rasamu setelah membaca ini? Berbagi di kolom komentar yuk.
Jakarta Selatan, 2 Maret 2026
Ditulis saat seharian di rumah dan melihat cuaca yang labil. Sebentar hujan angin, tidak lama teduh dan berulang.


18 Responses
Dulu pas kuliah aku sering banget sampe nanya ‘siapa sih aku, kok begini ya’, gara²nya sepele, kayak misal melakukan sesuatu dan dipuji. Padahal sesuatu itu kulakukan karena bukan karena aku mau, tapi karena tuntutan. Jadilah pertanyaan itu bikin hole. Entah apakah itu karena ada inner child atau karena apa yang kulakukan tidak terpanggil ke inti diri.
Gara² sering tanya seperti itu, aku sampe search info² dan bisa jadi tuntutan yang sering kudapat pas kecil bikin aku kehilangan diri sendiri pas masa dewasa.
Tapi ketika jadi orang tua, lama² pikiran itu pudar pelan². Jadi mulai meyakini bahwa mungkin saja aku dulu terlalu berburuk sangka pada orang tua, padahal mereka juga sudah berupaya sebaik²nya yang bisa mereka lakukan. 🥲
Permasalahan perjalanan hidup memang tidak akan pernah ada ujungnya ya
Disana kita harus ambil pelajaran sehingga sebisa mungkin hal yang tidak diinginkan tidak menghampiri lagi
Dari kecil sudah dewasa sampai jadi orang tua memang perjalanan hidup penuh dengan trik tatik dan ulur. Saya sendiri sih menginginkan jangan sampai anak saya mengalami seperti kepiluan yang sempat saya rasakan dulu
Jadi bercermin ke diriku sendiri nih. Sejak kecil, aku emg deket ama ibu dan nenek. Sampe kuliah, kain jarik beliau pun masih aku pake. Bahkan masih ada sampe skrg. Kalo kata org Jawa, di situ letak kedamaian diri seseorang dan pengingat bahwa dia selalu ada di samping kita, dlm suka dan duka. Btw, nenek meninggal saat aku SD sih. Walau begitu, kasih sayangnya masih aku ingat sampe skrg.
Untungnya, ga ada masalah serius dlm mendidik aku dan adikku di waktu kecil. Sempat terjadi beda pendapat antara ortu dan anak, itu wajar. Tp yg bingung, mereka tuh malah ngebebasin anaknya berkreasi, bahkan pilih jurusan kuliah. Walau mereka ga ingin anaknya kuliah krn keterbatasan biaya.
Ya aku memberanikan diri utk kuliah dgn biaya sendiri, meski saat masuk dan daftar ulang, aku tahu ternyata ortuku menjual sawahnya. Dan sedihnya sampe skrg, aku blm bs membahagiakan mereka serta ngembaliin sawah yg terjual itu.
Tp senengnya, skrg aku bs di samping mereka, entah suka maupun duka. Berkali2 aku ktmu tmn yg bilang, “Enak ya kamu msh pny ortu. Ortuku udh ga ada.”
Dari situ aku selalu ngejaga mereka, mumpung masih ada. Meski aku blm bs ngasih berlimpah harta, setidaknya aku bs hadir di sisinya. Memberikan kedamaian dan kecukupan hidup buat mereka.
Aku ga pernah punya masalah sama orang tua mbak Nik. Tapi semasa kecil, orangtua ku tuh kan LDR ya. Jadi ibuku di kampung, ayahku di Jakarta. Pulang sebulan sekali. Percaya atau nggak, ternyata itu juga berpengaruh ya. Karena sampai sekarang, aku gak pernah bener-bener deket atau takut sama ayahku. Tapi kalo ibuku udah murka, beuh.. langsung meringkuk lah aku. Ndak berani.
Aku dengan orangtua ga bisa dekat mba, sampai sekarang. Trtama dengan papa. Papa itu orangnya keras. Kami dididik sistem pingit dan sedikit militer. Aku pahaaaaam, maksudnya supaya kami disiplin.
Tp terkadang buatku yg ga suka ditekan, malah yg ada jadi bahan pertengkaran. Ga bisa bertengkar, berubah jadi pemberontakan. Papa melarang A, aku lakuin diem2 di belakang. Papa nyuruh B, aku ga bakal serius ngelakuinnya. Semua aku berontakin. Ujung2nya, kami berantem lagi dan lagi.
Puncaknya pas aku dipaksa ambil IPA, sementara aku LBH suka IPS pas kls 3 smu. Aku udh dapat tuh jaminan IPS, papa LGS DTG ke ke skolah, paksa guruku utk pindahin aku ke IPA. Aku nangis2 , kecewa banget, dan kls 3 itu aku malas belajar. Asal2an aja.
Tp pas kuliah, aku akhirnya sadar, papa itu sayang, cuma caranya ya khas boomer. Cuma aku udh terlanjur ga bisa Deket lagi dengan papa. Utk manja2 aja ga bisa. Kaku langsung. Pada akhirnya aku milih jauuuuuh dr orangtua. Makanya merantau ke JKT. Dan aku jrg pulang ke Medan. Mungkin 2 tahun sekali aja. Bukan ga ada biaya, tp kalau kami dekat, kami ribut. Dan aku capeeeek.
Sementara kalau jauh, kami bisa komunikasi normal. Tanpa ribut. Makanya buatku, gapapa jauh, asal saling kangen. Drpd dekat tapi malah JD benci. Aku udh maafin semua yg dulu2. Tp utk bisa dekat dan akrab, apalagi manja2an dengan ortu, udh ga bisa.
Dan mungkiiiiin ya mba, itu juga yg bikin aku ga suka dengan anak kecil. Kan aku sempet ga mau punya anak. Tp Krn aku LBH cinta Ama suami aja, aku ngalah. Itu juga suami sediain babysitter dan asisten supaya aku ga hrs mengasuh anak2 pas mereka bayi. Aku ga mau pegang mereka sampai usia 4 bulanan. Semua babysitter.
Untung nya mereka paham mami mereka ‘beda’. Dan pas mereka makin besar, aku pelan2 bisa Deket akhirnya… Mungkin ga kayak ibu anak, tapi lebih ke sesama teman. Tapi GPP, Krn aku toh memang susah utk membangkitkan rasa keibuan.
Aku rasa itu akibat luka lama pas kecil dengan orangtua. Mungkin dlm hati, Krn aku tahu mereka pengen cucu, pemberontakan itu muncul lagi, makanya aku g pengen punya anak.
Tp ya udhlaaah. Toh udh masa lalu. Fokus ke sekarang sih akunya. Ga mau berantem lagi sebisa mungkin dengan papa.
Ternyata trauma dgn ortu tuh riil bangett ya mba.
ada beberapa temanku yg kayak gini juga.
aku, well…seingatku ga ada trauma pengasuhan.
cumaaa…ayahku kan udah meninggal pas aku umur 10 thn
dan ini terus terang berdampak juga ama diriku
Saya merasa tulisan yang kamu bagikan tentang berdamai dengan luka masa kecil—khususnya yang berkaitan dengan orang tua—sangat penting dan relevan untuk banyak orang. Cara kamu menjelaskan prosesnya, dari pengakuan emosi sampai pada pemahaman diri, membuat topik yang berat ini jadi bisa diterima dengan lebih bijak dan reflektif.
Harapan saya bagi kita semua, setelah membaca tulisan ini, kita mendapatkab keberanian untuk melihat kembali masa lalu tanpa menyalahkan diri sendiri, tetapi dengan tujuan menyembuhkan dan memperbaiki hubungan—baik dengan orang tua maupun dengan diri kita sendiri. Tentu saja gak mudah, dab bisa jadi perjalanan yang panjang. Semoga mereka dan kita semua bisa terinspirasi dari artikel ini. Terutama bagi yang tengah melalui perjalanan serupa.
ngomongin luka pengasuhan dari orang tua tuh memang nyata dan sungguh ingin terbebas darinya tidak mudah
makanya saya terus berharap luka ini sembuh meski tidak yakin mampu menjadi seperti anak yang tanpa luka pengasuhan
ingin sekali rasanya terbebas sehingga anak anakku tidak ikut merasakannya
Aaah rasanya tuh sesuatu banget kalau kita tidak dekat dengan ortu (ibu) karena luka pengasuhan
Saya baca tulisan ini perlahan, bahkan beberapa kali menarik napas dengan sama perlahannya. Inginnya membuncahkan segala hal rasanya di kolom komentar ini. Tapi membaca beberapa komentar teman-teman lain, sepertinya saya harus lebih banyak bersyukur dengan apa-apa yang terjadi di masa lalu, sembari tetap berikhtiar untuk menyembuhkan diri di sisi lainnya
Alhamdulillah daku sama orangtua terbilang kalem. Paling kalau ada luka, luka di tempat kerja huhu, tapi sudah daku hempaskan karena udah resign juga wkwkwk
Luka masa kecil ini yang tadinya tertutup bisa kembali menganga ketika ada yang menyulutnya ya. Pastinya berdamai dengan itu bukan hal yang mudah, apalagi bila inner childnya terkait dengan orang tua.
Apa yang terjadi dalam karakter Kirana, tentunya banyak terjadi oleh siapa saja.
Saat anak-anak sudah besar seperti sekarang, aku jadi orang yang khawatiran :))
Khawatir kalau marah-marah, anak-anak jadi trauma, ntar dianggap orang tua toxic.
Udah nyerahin keputusan sepenuhnya ke dua anak yang sudah umur 20-tahunan, karena khawatir kalau dikekang, malah berontak.
Sebisa mungkin jadi orang tua yang menyenangkan untuk ketiga anakku, agar mereka enggak ada trauma.
Saya sepakat bahwa berdamai dengan inner child bukan berarti melupakan, tapi memberikan “kursi” bagi luka itu agar ia tidak lagi berebut kemudi dalam hidup kita. Pendekatan Neuro-Semantics yang Kakak bagikan sangat membantu untuk membingkai ulang makna trauma menjadi pelajaran berharga.
Semoga semua luka batin kita bisa dilepaslan dengan lega dan akan memberikan ketenangan sepanjang hidup
mbak insightnya daging banget, kadang kita gk sadar kalau masih punya trauma sekalipun sudah mencoba untuk berdamai sesekali merasa baikan ketika ada suport system tapi ketika teman dan orang yang selalu suport tak ada rasanya jadi kewalahan, ternyata saya belum seutuhnya pulih. memang solusi dari pulih bukan melupakan yang bikin muncul ketika obat hilang tapi lebih memberi ruang untuk sadar kalau itu masa lalu bukan identitas mu.
Menyembuhkan luka masa lalu emang nggak mudah ya. Hubunganku dengan orang tua baik-baik saja. Tapi karena dulu ayahku sempat lama kerja di luar kota, kayanya itu juga ngaruh ke bagaimana aku bersikap sama lawan jenis. Apalagi setelah kedua orang tuaku berpisah, walaupun waktu itu aku udah masuk usia dewasa, tapi tetap saja ada yang membekas. Kadang merasa ada yang salah dalam diriku, tapi nggak tahu apa 😅
Saya mengerti apa yang dirasakan Kirana. Dan ini memnag. Pengaruh dari Ayahnya. Kirana kehilangan sosok Ayah waktu kecil. Mirisnya sosok ayahnya nyata di dekatnya. Padahal cinta pertama anak perempuan itu adalah pada ayahnya. Dan langkah terbaik adalah segera mencari jalan penyembuhannya.
Hoenstly berdamai dengan masalalu memang aku akui sulit ka ,trauma pun cukup menghantui
Perlu support sistem yg membantu, aku sblm menikah memiliki trauma tentang life marriage karena kedua orng tua , sehingga ketika memutuskan got married aku membutuhkan waktu yg enggak sbntar karena aku harus memutus luka itu berhenti di Ibuku
Kehidupan rumah tangga ku jgn sperti kedua orng tua ku yang maaf ya gagal
Sampai akhirnya aku dan suami sharing akan hal ini agar supaya jdi cermin
Luka bathin mungkin enggak akan sepenuhnya sembuh , namun akan lebih parah jika dalam diri kita tidak ada niat atau usha untuk menyembuhkan nya
Tidak mudah dan tidak semua dapat menyadari dan mengakui bahwa dirinya terluka, tetapi dengan mengakui dan menyadari akan memudahkan untuk treatment dan menyembuhkan
Apalagi jika luka itu terkait dengan orang tua akan lebih sulit lagi untuk mengakuinya dan tanpa disadari akan terus terbawa dan mewariskannya ke anak cucu. Tentu saja ini berbahaya jika tidak segera disembuhkan
kadang tanpa disadari masing-masing dari kita menyimpan luka masa kecilnya masing-masing. hanya saja mungkin ada yang lukanya terlihat jelas dan ada juga yang nggak tahu kalau dia menyimpan luka. Aku sendiri baru pas dewasa ini mbak sadar ada hal-hal yang kayaknya belum selesai dari diriku dan sekarang juga lagi belajar buat lebih menerima luka tersebut