#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Cara Tenang Menghadapi Perkataan Buruk – Ketika Rajawali Terbang Tinggi saat Gagak Mematuk – Aku dan Tokoh #23

Cara tenang menghadapi perkataan buruk sebagai tema series Senin, Aku dan Tokoh Rajawali. Temukan rahasia bagaimana simbol kekuatan ini mengatasi serangan dengan ketenangan.

Aku memilih Rajawali sebagai tokoh, salah satu burung yang paling kusukai selain merpati. Pada Senin sebelumnya, aku memilih Bumi sebagai tokoh. Series Senin ini menjadi bagian pembelajaran penting, bagaimana perjalanan hidup tanpa sadar selaras dengan tokoh kehidupan—bukan hanya dari orang-orang yang sukses, tetapi juga dari alam semesta.

Baca Juga: Krisis Iklim atau Krisis Kesadaran? Ketika Bumi Berkata Cukup – Aku danTokoh (Bumi) #22

Senin ini aku menyelaraskan, bagaimana Rajawali memberi contoh tepat tentang cara tenang menghadapi perkataan buruk atau memperlakukan hal tidak baik.

Sebelum membahas lebih jauh tentang cara tenang menghadapi perkataan buruk, penting untuk memahami dulu bagaimana kata dapat tumbuh menjadi benih yang bisa mempengaruhi hidup.

Cara Tenang Menghadapi Perkataan Buruk
Cara Tenang Menghadapi Perkataan Buruk Seperti Rajawali.

Perkataan adalah Benih Paling Berbahaya – Mengapa Kata Bisa Mempengaruhi Hidup

Kata membuka kisah, menuntun kehidupan, dan menyambungkan manusia pada peradaban*

Aku memandang jendela dan pohon-pohon diluar menari kencang, sepertinya angin sedang riang memberi ritme pada waktu, dan ketika memandang teringat akan perjalanan hidup, saat meninggalkan Bali menuju Jakarta. Menyadarkanku pada kata yang menjadi alasan kuat, mengapa aku berani melangkah di usia 18 tahun. Sendiri dan hanya berbekal ijazah SMEA.

Sebuah KATA membuka kisah menjadi nyata dalam kehidupanku,

“Tidak Sah”

Kata buruk yang aku terima berulang kali, melahirkan sebuah tujuan sehingga membawaku hidup di Jakarta.

Selain ijazah, pakaian di badan, satu tas dan tujuan kuat (mengubah tidak sah menjadi sah) Juga pesan Ibu atau warisan beliau pada anak-anaknya. Menjadi bekalku melangkah ke dunia yang serba baru. Hidup di ibu kota Indonesia. Jakarta.

“Jika kamu melakukan hal yang tidak baik, yang kena tidak hanya kamu seorang tetapi dampaknya juga pada keluarga besar”

Dua kata atau kalimat itu yang menjadi benih kuat. Berakar dan tumbuh melahirkan kisah yang aku sendiri sungguh tidak menyangka, hidup begitu ajaib membentuknya jadi berkehidupan. Sehingga memiliki pemikiran bahwa kata membuka kisah lalu menuntut kehidupan.

Baca Juga: Langkah Besarku Kedua – 1995

Sebuah perkataan mempengaruhi arah hidup, benih paling berbahaya. Bisa jadi racun (buruk) yang membinasakan atau bisa juga menjadi madu (baik) yang menghidupkan. Karena itu penting untuk mengetahui bagaimana cara menghadapi perkataan buruk.

Lalu dimana letak madu atau racun sebuah perkataan, mengapa berbahaya?

Perkataan buruk seperti racun, ia menjadi bibit luka yang jika tidak disembuhkan akan membawa dampak buruk, tidak hanya bagi penerima perkataan, juga bagi orang sekitarnya. Orang terluka seringkali cenderung melukai, jika tidak lekas disembuhkan.

Sangat berbahaya.

Baca juga: Tergores Terluka Boleh – Bernanah jangan – Terbaik – Hidupberkehidupan 2024

Kemudian perkataan baik seperti madu, menyehatkan dan membawa kehidupan. Bara baik sebagai energi langkah. Aku mengambil contoh pesan Ibu.

Dalam tulisan ini, aku tidak menceritakan detail kedua hal tersebut, terutama tentang tujuan karena cukup personal. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa sebelum melihat bagaimana cara tenang menghadapi perkataan buruk, perlu diingatkan kembali bahwa kata salah satu kunci dari kehidupan. Membentuk kisah, sejarah dan peradaban.

Ketika Hotel Raffles Menjadi Madu Hidup - Cara Tenang Menghadapi perkataan buruk
Cara Tenang Menghadapi perkataan buruk – Terbang wujudkan mimpi

Terbang Tinggi – Cara Tenang Menghadapi Perkataan Buruk

Setelah mengetahui mengapa begitu kuat sebuah kata mempengaruhi kehidupan. Dan kita tidak bisa menghindari kata atau kalimat dari orang-orang yang menurutku, hidupnya sedang terluka atau hanya ingin memuaskan egonya.

Orang yang berkata buruk di belakang kita, atau berkata tidak baik dan tidak menyampaikan langsung, sejatinya tidak ada hubungan dengan kita, orang itu hanya ingin memuaskan egonya yang sedang retak atau terluka.

Kalimat itu sering aku sampaikan pada siapapun yang merasa sedih atas perkataan dibelakang mereka. Aku sampaikan tidak perlu sedih, karena jika orang itu memang perduli, dia akan datang secara langsung, duduk dan berdialog hati ke hati. Menyampaikan apa yang membuatnya tidak nyaman atas laku atau perkataan kita. Sehingga ketemu cara terbaik untuk saling tumbuh bagi kedua belah pihak.

Lalu bagaimana terbaik cara tenang menghadapi perkataan buruk kalau disampaikan secara langsung atau terus menerus menyampaikannya secara “nyiyir”?

Seperti apa yang aku sampaikan sebelumnya diatas, betapa kuat dan berbahayanya sebuah kata, jadi tidak perlu ikut membalas dengan kata juga. Karena jika itu dilakukan, apa bedanya? Terlebih jauh lebih baik untuk langkah selanjutnya, berjuanglah selalu membalas hal buruk dengan hal yang membangun.

Seperti tokoh yang aku ambil Senin ini. Rajawali. Burung yang melambangkan kekuatan, keberanian, visi tajam, dan ketangguhan. Bagaimana saat menghadapi satu-satunya burung yang berani mematuknya, yaitu gagak. Ia tidak berkoar-koar, cukup tenang dengan terbang tinggi dan membawa gagak pada titik yang pada akhirnya terjatuh sendiri.

Mengutip tulisan binus.ac.id/character-building, tentang Gagak versus Elang, bahwa seperti halnya Elang yang menjatuhkan gakak dengan terbang tinggi, kita-pun perlu terbang lebih tinggi mewujudkan mimpi sehingga orang-orang yang berkata buruk akan diam, terjatuh pada kesadaran, bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang sia-sia.

Aku selalu melihat Rajawali sebagai cara terbaik dalam menghadapi ketidaknyamanan, termasuk bagaimana orang memperlakukan diri tidak baik. Burung ini mengajarkan lebih baik banyak bertindak dari pada kata.

Selain ia memberi pelajaran cara tenang menghadapi perkataan buruk dengan ‘terbang tinggi’ aku juga belajar ketika badai sebagai kendaraan kuat untuk ia bisa terbang lebih tinggi.

Aku dan Tokoh (Rajawali)

Jika aku memakai perkataan buruk menjadi tujuan dan membawaku mewujudkan mimpi-mimpi. Perkataan ‘Tidak Sah’ menyedihkan menghantarkanku terbang tinggi. Wujudkan mimpi, bisa berkelana dari Aceh ke Papua dan banyak hal indah lainnya.

Baca Juga: Terbaik Bumi Pertiwi – Langkahku Indonesia – Part 2

Dan Tokoh (Rajawali) membuat gagak yang mematuknya terjatuh dengan terbang tinggi. Maka cara tenang menghadapi perkataan buruk adalah tidak membalas dengan kata, tetapi dengan tindakan yang membuat orang yang berkata buruk terdiam.

Cara Tenang Menghadapi Perkataan Buruk
Wujudkan mimpir cara Cara Tenang Menghadapi Perkataan Buruk

Aku percaya setiap orang punya caranya sendiri. Setiap kata bisa jadi racun atau madu, tergantung bagaimana kita meresponsnya. Jika kamu punya pengalaman atau refleksi tentang cara tenang menghadapi perkataan buruk, bagikan di kolom komentar yuk.

Jakarta, Pertengahan November 2025
Ditulis dalam masa penantian keajaiban.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

9 Responses

  1. Soal penguasaan dan pengendalian aku takin Kak Nik jagonya. Aku perlu banyak belajar soal itu. Memang benar Mbak, banyak dari kita mungkin bahkan aku sendiri lebih sering memberi makan ego. Perkataan bisa jadi lebih tajam dari sebilah pedang, bahkan bisa membunuh seseorang, tidak semua orang pagam tentang bahayanya. Terima kasih Kak Nik sudah mengingatkan tentang itu 👍

  2. Krn aku pernah ngerasain perkataan buruk itu sangat nyakitin, dan berbekas lama, jadi itu juga yg bikin aku ga mau ngeluarin kata2 sama ke orang lain.

    Dulu aku ngatasinnya dengan mencoba berubah. Jd pernah ada yg ngatain aku hitam, krn dulu kulitku memang bledus banget 🤣🤣. Sisi positif nya, krn dikatain gitu, aku lgs coba merawat badan. Pakai lulur, hand body, supaya kukit cerahan. Tapi seandainya aku mengatasi hal itu dengan menarik diri, jujur yg rugi aku juga.

    Tapi kan ga semua orang bisa mengambil sisi positif dari setiap makian yg dia dapat. Makanya sebisa mungkin jgn deh ngeluarin kata2 kasar ke orang2. Takutnya mereka malah semakin down, dan itu berarti ada kontribusi kita membuat mereka begitu

  3. Saya pernah di posisi di bully secara verbal waktu masih anak-anak, baik yang berkenaan dengan fisik maupun karakter. Lumayan lama terasa sakitnya dan butuh waktu juga untuk bangkit dan move on dari perkataan buruk orang lain ini. Sebegitu membekasnya memang tajamnya omongan.
    Mudah-mudahan bisa belajar dari filosofi Rajawali yang terus bisa terbang tinggi dengan segenap potensinya.
    Terima kasih Kak untuk reminder-nya

  4. Aku tipe orang yang cuek jadi kyk membantu sekali buat aku untuk nggak terlalu menggubris omongan orang mbak.
    Ada sebagian orang yang kalau kita tanggapin kadang malah seneng dan makin menjadi gangguinnya. Maka kalau dicuekin artinya kitalah pemenangnya #imho.
    Aku pun juga nggak melakukan tindakan (dalam artian membalas) apapun sih mbak, lebih ke diam dan menjauh dari toxic people dan menikmati hidupku sendiri bersama orang2 yang lebih mengasihiku.
    Tapi kalau tindakannya lebih menunjukkan prestasi sih yaa ok sih, asalkan niatnya bukan ke nunjukin ke itu orang tapi emang buat mengembangkan diri sendiri menjadi pribadi yang lebih ok.

  5. Kalau ada omongan orang yang gak positif memang kita kayak dikasih dua pilihan, mau menanggapinya dengan positif sehingga menjadikan kita malah tambah keren, atau malah tanggapinya dengan negatif juga jadi sama-sama keras..
    Maka berpikir untuk tenang lebih dulu, bisa sih jadi obatnya

  6. Sepakat, kita buktikan dengan tindakan apa yang netizen tuduhkan ya mbak, abaikan perkataan yang membuat kita semakin terpuruk karena sama saja dengan mengiyakan nyinyiran mereka, hempaskan saja
    Jika kritikan itu membangun justru akan disampaikan dnegan baik, dan kuanggap saja cibiran itu bahan bakarku untuk tetap hidup dan bertahan, melaju menjadi lebih baik

  7. Sepertinya semua orang akan memiliki pengalaman dengan perkataan buruk dalam setiap situasi walaupun memang ada beberapa orang memiliki kemungkinan mendapatkan yang lebih banyak oleh karena itu harus punya mindset yang sangat positif dan bisa punya pendirian sabodo teuing alias nggak peduli karena itu yang menyelamatkan pada akhirnya

  8. Iyh terkadang kita sudah berusaha untuk jgan ada bicara eh orng lain seenak nya berkata tidak baik kepada kita . Jujur dulu sebelm nikah aku suka ke trigger sama kata2 yg ga enak dan tidak sesuai , langsung bereaksi dan akhirnya sngt ga bagus sama yg namanya relationship , semnjak nikah haha apa2 teh skrng mah lebih mikirin suami anak , lebih ke tarik nafas dulu yu

  9. bener sie mba kalo kita mendengar perkataan buruk tentang diri kita mau gak mau pasti kebawa kepikiran gt kalo aku yaaa..dan cara sembuhnya juga hanya kita sendiri yang bisa…
    aku auto inget2 kira2 apakah aku pernah mendapatkan perkataan buruk??sepertinya pernah tapi entah aku sudah melupakannya mungkin lupa juga salah satu cara untuk menyembuhkan luka tersebut ya mba…
    kalo aku mendapatkan luka dari seseorang aku memilih untuk menjaga jarak daru orang tersebut daripada nantinya aku terluka kembali,,bukankah lebih baik kita berteman dengan orang yg membuat kita nyaman demi kewarasan jiwa kita juga ya hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink