The Odyssey

Film The Odyssey: Mengapa Kisah Ribuan Tahun Lalu Masih Relevan dengan Kehidupan Modern

Kisah ribuan tahun lalu dalam film The Odyssey mengajak untuk sejenak melihat kembali tentang godaan, makan, waktu, kesetiaan, pulang. Lima hal yang sudah ribuan tahun ada dan tetap relevan di kehidupan modern saat ini.

Setiap perjalanan panjang selalu menuju satu tujuan, pulang.

Iya begitu konon katanya dan aku memandang langit diluar sendu dan melihat wajah-wajah insan sedang memandang ponselnya. Mereka kumpul dengan kerabat, kawan tetap saja ponsel jadi pusat perhatian. Aku sendiri seperti biasa duduk dengan laptop kesayangan menuangkan buah pikiranku.

Kali ini tentang film The Odyssey, sebuah kisah beribu tahun lalu yang tidak pernah berhenti untuk mengajak bercermin tentang perjalanan pulang.

Bercerita tentang pulang, aku sendiri sejujurnya termasuk salah satu orang yang tidak terlalu tertarik tentang kata pulang. Ada banyak hal alasan, namun seiring waktu akhirnya takdir memperlihatkan bahwa pulang sebuah takdir.

Dan ketika nonton film The Odyssey rasaku tersentuh dan logikaku mengajak untuk menulis makna dari lima hal yang tercermin dalam film tersebut.

Baca juga: Langkah Besarku Kedua – 1995

The Odyssey
Makna kehidupan dalam Film The Odyssey

Makna Godaan dalam Kehidupan Manusia

Sejujurnya alur film Odyssey awalnya terasa membosankan buatku. Agak lambat dan kejutan ceritanya sedikit ketebak. Namun bertahan untuk setia fokus melihat akhirnya membuahkan hal yang sangat manis.

Ada banyak makna yang aku tangkap dalam kisah ini. Pertama tentang godaan dalam perjalanan Odysseus pulang bersama pasukannya. Ada beberapa godaan dan aku mengambilnya tiga hal dan ini sangat relevan dalam kehidupan modern saat ini.

  1. Kisah Siren – Pengalihan Arah

Dalam perjalanan pulang, Odysseus harus melewati wilayah para Siren. Mereka memiliki suara yang begitu indah sehingga para pelaut yang mendengarnya akan terpikat, kehilangan kendali, lalu mendekati mereka dan akhirnya binasa.

Odysseus ingin mendengar suara itu, tetapi ia tahu dirinya bisa kehilangan kendali. Maka ia memerintahkan awak kapalnya untuk menyumbat telinga mereka dengan lilin, sementara dirinya diikat kuat pada tiang kapal.

Terasa kembali nyata dalam kehidupan modern saat ini, begitu banyak godaan sehingga teralih dengan tujuan awal. Scrol sosial media yang awalnya hanya ingin sebentar hanya ingin tahu keadaan dunia, ketika sudah dalamnya begitu banyak keindahan dan segala tawarannya.

Mengerti Batas

Inilah yang perlu dipertajam, seperti Odysseus semestinya kita mengerti batas dan tetap teguh untuk berjalan menuju tujuan.

2. Makan – Melanggar Larangan

Ketika sampai di pulau Thrinacia, Odysseus dan awaknya menemukan ternak milik Helios, dewa matahari. Sebelumnya sudah ada larangan keras agar mereka tidak menyentuh atau memakan ternak tersebut.

Odysseus sebenarnya sudah mengingatkan awaknya.

Tetapi mereka terjebak di pulau itu cukup lama. Persediaan makanan habis. Kelaparan mulai menguasai mereka.

Ketika Odysseus pergi berdoa, awaknya akhirnya menyembelih ternak tersebut untuk dimakan.

Bagaimana dengan kita dalam kehidupan modern saat ini. Aku sendiri jujur hati terasa tertusuk ketika nonton film The Odyssey bagian ini.

Waktu-waktu terakhir terasa sekali kehidupan memang sedang begitu menekan. Entah memang kami sebagai manusia sudah terlanjur manja dengan keadaan atau memang ini proses perubahan besar sehingga terasa berat sekali.

Dengan tekanan begitu besar rasanya larangan untuk tidak melakukan hal-hal merugikan orang lain terasa seperti sebuah kidung tanpa suara. Buktinya begitu banyak insan melupakan hak orang lain. Konon katanya sebuah alasan, kebutuhan makan.

Tidakkah sama dengan pasukan Odysseus, hanya demi makan jelas-jelas sudah dilarang tetap saja dilakukan. Aku sebagai manusia biasa berpikir mereka tidak salah, karena sungguh menempatkan diri pada mereka terbayang laparnya.

Namun larangan tetaplah larangan, ketaatan tetap diuji. Tidak mudah tetapi nyatanya dengan segala sulitnya Odysseus tetap mampu melakukannya.

3. Kenyamanan – Melupakan Tujuan

Odysseus terdampar di pulau Ogygia dan tinggal bersama Calypso selama bertahun-tahun.

Calypso memberinya kehidupan yang nyaman. Bahkan ia menawarkan sesuatu yang luar biasa: kehidupan tanpa usia tua dan kematian jika Odysseus bersedia tinggal bersamanya.

Bagaimana dengan kehidupan modern saat ini, bukankah kita sering terjerat dengan godaan kenyamanan? Katakanlah pekerjaan nyaman seringkali melupakan tujuan bekerja selain mendapatkan rejeki untuk kebutuhan hidup sejatinya melihat potensi diri, sudahkah itu maksimal?

Atau bisa jadi kadang dengan kenyamanan yang ada seperti bersama yang bukan hak melupakan ada keluarga yang menunggu. Juga saat hidup sudah nyaman melupakan ada bagian orang lain yang membutuhkan. Bukannya berbagi tetapi malah cenderung mencari kesenangan diri yang kadang itu terjerat sehingga menjauh dari tujuan.

Dan ada beberapa godaan lainnya dalam film Odyssey yang menurutku sangat relevan dalam era masa kini.

Baca juga tulisan CNN Indonesia dalam Review Film The Odyssey.

Makna godaan dalam Film The Odyssey
Makna godaan dalam Film The Odyssey

Makan sebagai Kebutuhan Utama Manusia

Kisah ribuan tahun tetap relevan dalam film The Odyssey tetap relevan saat ini, menyadarkan kembali bagaimana pondasi hidup berkehidupan salah satunya adalah makan menjadi hal yang tidak akan pernah hilang.

Kebutuhan utama yang belakangan aku melihat tidak dirawat dengan baik. Khususnya generasi penerus. Aku sering mendapati makan seperti sesuatu bukan hal penting. Buktinya mengabaikankan dengan makan tidak tepat waktu.

Mungkin dalam era modern ini terlihat kalau makanan sudah cukup berlimpah sehingga kurang menghargai. Tetapi sejatinya itu yang utama yang perlu diperhatikan. Dengan terus menyadari bahwa apakah tanpa makan kehidupan ini benar terus berlanjut?

Seperti film Odyssey untuk kelanjutan hidup mereka dan perjalanan pulang, mereka berjuang mendapatkan makan sampai bertemu dengan godaan dan rintangan.

Baca juga: 2 Pondasi Hidup Berkehidupan – Saat Kita Lupa Hal Paling Dasar – Tentang Menikmati Hidup

Waktu, Taat, dan Takdir dalam Perjalanan Hidup

Selain godaan dan makan hal yang menjadi perhatianku dalam film The Odyssey ini adalah tentang waktu, ketaatan dan takdir.

Bicara soal tiga hal tersebut memang butuh perhatian khusus. Katakanlah waktu, tidak ada yang mampu bernegosiasi. Satu-satunya hal yang menurutku yang tidak bisa dilawan. Ia bertugas dengan terasa kejam.

Tidak ada kompromi, jangannya untuk berhentik sejenak, menolehpun tidak. Dan dalam film The Odyssey aku melihat waktu sangat berperan besar.

Seperti Odysseus, Ia membuat sepuluh tahun menjadi harga yang harus dibayar untuk perjalanan pulang. Menempatkan perjalanan pulang setelah Perang Troya sebagai perjalanan yang seharusnya singkat tetapi berubah menjadi pengembaraan panjang selama sepuluh tahun.

Kemudian tentang ketaatan juga terasa kuat dalam kisah lawas ini, bagaimana pasukan Odysseus menerima upahnya ketika tidak taat.

Entah kenapa aku melihat sesuatu yang khusus dalam alur ini. Di sini aku melihat takdir-pun seakan terbentuk dari proses perjalanan termasuk tentang ketaatan.

Bahkan sempat berpikir saat nonton keseluruhan film The Odyssey,

mungkinkankah takdir akan berkata lain jika perintah ditaati?

Baca juga: Peliknya Cinta dan Takdir Gadis Kretek – Review Film 2023

Kesetiaan Bertahan karena Percaya

Lalu, jika takdir mengajak ketaatan dalam langkahnya, maka kesetiaan merangkul percaya untuk tetap bertahan. Hal keempat menjadi perhatian khususku untuk ditulis dalam review film The Odyssey: melihat sikap seorang istri yang tetap teguh pada nuraninya, percaya bahwa suaminya akan kembali.

Penelope tidak hanya menunggu kepulangan Odysseus, tetapi mempertahankan kepercayaannya di tengah tekanan yang terus datang. Banyak pelamar mendesaknya untuk memilih suami baru, sementara ia juga harus menghadapi keadaan dan menjaga keteguhan hatinya di hadapan anaknya, Telemachus.

Dalam The Odyssey, kesetiaan Penelope terasa bukan sebagai sikap pasif, melainkan keputusan untuk tetap percaya pada sesuatu yang belum dapat ia lihat: bahwa suaminya masih hidup dan suatu hari akan kembali.

Bagaimana dengan kehidupan modern, terutama situasi saat ini. Kehidupan sedang seru-serunya memberi ujian bertahan dalam kebenaran, apakah tetap setia dan percaya bahwa hidup adil dan akan selalu baik?

Mungkin inilah yang membuat kisah Penelope terasa begitu dekat dengan kehidupan hari ini. Sebab percaya bukan berarti tahu bagaimana akhirnya, melainkan tetap memilih untuk bertahan pada apa yang diyakini benar meski keadaan belum menunjukkan jawabannya.

Dan seperti perjalanan Odysseus, setiap kesetiaan dan kepercayaan pada akhirnya sedang membawa kita menuju satu tempat yang selalu ingin dituju manusia: pulang.

Baca juga: Tetap Yakin dan Percaya: Kekuatan Iman yang Perlu Dirawat dalam Kehidupan

The Odyssey
The Odyssey – Tentang Pulang

Film The Odyssey – Pada Akhirnya Tentang Pulang

Pulang dengan murni dan penuh penerimaan

Begitu yang mungkin aku bisa katakan untuk akhir dari buah pikiran tentang film The Odyssey. Semuanya berujung tentang pulang, namun barangkali perlu untuk merenung sejenak sebelum mengakhiri membaca tulisanku ini.

Pulang kemana? Bagaimana perjalanannya? apakah kemenangan yang diraih sungguh membawa kembali pulang? Sudahkah taat, setia, percaya dan mengerti tujuannya?

Akhirnya,

Pemikiranku tentang film The Odyssey mengajak untuk melihat lima hal yang sangat relevan dalam kehidupan saat ini.

Menjadi PerhatianArah PerjalananMakna yang Ditinggalkan
GodaanMengenali apa yang dapat mengalihkan langkahTidak semua yang menarik harus diikuti.
MakanMenyadari kebutuhan dasar untuk bertahanSesuatu yang sering dikesampingkan ternyata dapat menentukan pilihan dan arah hidup.
Waktu, Taat & TakdirMenjalani ketentuan tanpa memaksakan kehendakKita tidak dapat mengatur waktu, tetapi dapat memilih untuk taat dalam menjalaninya.
Kesetiaan & PercayaTetap bertahan ketika jawaban belum terlihatKesetiaan menemukan kekuatannya ketika percaya masih dijaga.
PulangMenemukan kembali tujuan perjalananPada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi ke mana dan kepada siapa kita kembali.

Bagaimana menurutmu tentang The Odyssey, sudah nonton filmnya? Kalau belum nonton deh dan yang sudah yuk berbagi pemikirannya di kolom komentar.

Jakarta, Awal Agustus 2026
Ditulis sambil makan Cake Brownies dengan riuhnya pengunjung kedai.

Baca Juga Tulisan Lainnya :

satu Respon

  1. Kebetulan aku belum kesampaian nonton film nya. Baca beberapa review kurang lebih menyatakan kalau makna film nya bagus.

    Setelah membaca artikel mbak Nik terkait film The Odyssey. Ternyata di kupas lebih tuntas dan mendalam. Tentang bagaimana lima elemen yang mestinya dijaga dengan baik supaya tetap fokus ke tujuan utama, rupanya manusia seringkali goyah apalagi mengenai makan. Seringkali melupakan peringatan dan melanggar karena rasa lapar yang tak tertahankan. Padahal, kalau mau bersabar sebentar mungkin jalan cerita akan lain.

    Kesetiaan adalah harga yang amat mahal apalagi di era sekarang. Banyak yang akhirnya berkhianat karena merasa setia itu menjemukan. Sebuah penyakit yang sangat bikin hati teriris. Semoga saja para pembaca artikel ini mendapatkan banyak asupan energi positif.

    Semangat berkarya mbak Nik. Sehat selalu ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses