Ingin bahagia? Barangkali kerap mencarinya dalam kesenangan, perjalanan, atau pencapaian. Sementara itu, tanpa sadar, bahagia justru tumbuh perlahan saat merawat kehidupan yang hadir setiap hari.
Begitu molek dan mempesonanya “bahagia” ini. Insan berlomba-lomba menghadirkan dalam kehidupannya. Sedangkan aku seringkali berkata, bahagia itu sudah ada dalam setiap pribadi. Satu perlengkapan dari pencipta untuk melangkah. Emosi yang sama besar perannya dengan kesedihan.
Seperti pernah aku menulis, bahwa segalanya punya dua sisi dan mereka kembar yang tidak bisa dipisahkan. Bahagia, sedih dan emosi-emosi lainnya.
Baca tulisannya di: 5 Kembar Kehidupan yang Tak Terpisahkan: Rahasia Menyatu dari Lao Tzu – Aku dan Tokoh #5
Tulisan yang aku rangkai untuk Senin sebagai series Aku dan Tokoh
Dan kali ini, tentang ingin bahagia? pun juga sebagai series Senin. Berawal dari melihat bagitu banyak insan memperjuangkan kebahagian. Dan ketika melihat diriku sendiri, dalam didikan hidup terutama 2025, rasa sukacita tidak pernah menjauh.
Saat-saat pelik dan tidak nyaman dan ingin bersedih, selalu saja waktu punya cara menghiburku. Seperti tidak diberi kesempatan menjauh dari sukacita. Lalu aku merenung, bagaimana hidup memberi itu semua.
Mungkin terletak bagaimana aku memperlakukan hidup itu sendiri. Seperti tokoh, aku menempatkan kehidupan sebagai sosok yang aku cintai dan merawatnya dengan kasihku yang paling terdalam.
Jika ditanya, ingin bahagia? tentu saja. Tetapi tanpa perlu ditanya-pun aku sudah hidup dalam kebahagian itu, melalui hal-hal yang sudah menjadi kebiasaanku sepanjang langkahku.

Kehidupan yang Ingin Dicintai
Hatiku berbinar dan sungguh girang ketika menonton film Avatar Fire and Ash. Film berdurasi lebih dari tiga jam itu, seperti mengajak kembali pada sumber energiku. Laut. Tidak hanya soal laut, tetapi alam semesta dan film ini memberikan gambaran begitu jelas cara kita dicintai tercermin bagaimana kita mencintai. Khususnya alam semesta.
Menyebutkan film ini bukan untuk mengulasnya. (Tetapi mungkin nanti aku tulis ulasan yang menurutku sebagai film terbaik sepanjang hidup) Kali ini ingin memberi gambaran kalau seringkali ingin bahagia, tetapi lupa mencintai, hal utama dalam menghadirkan rasa bahagia.
Begitu juga hidup, sebagai tokoh utama, kehidupan-pun ingin dicintai dengan merawat apa yang sudah diberikannya.
Ada banyak bagian-bagian kehidupan, saat ini yang mau aku bagikan berdasarkan apa yang sudah dialami. Ketika bahagia jarang menjauh dariku, karena berupaya terus merawat kehidupan dengan penuh kasih, melalui mencintai alam semesta dan hal-hal yang ada di sekitarku.
Seperti tempat tinggal, perlengkapan hidup dan orang-orang terdekat. Tidak hanya keluarga tetapi juga kerabat atau siapapun yang terdekat, termasuk satpam dan lainnya.
Ingin Bahagia? Sudahkah Mencintai Alam?
Aku menyampaikan pertanyaan tersebut sebagai memicu kesadaran. Kadang kita sibuk mencari bahagia, sedangkan tidak ada waktu untuk bertemu pagi dan sekedar berjalan di padang rumput.
Berlibur ke alam tetapi tidak berdialog intim dengannya. Merasakan udara yang diberikan. Menikmati sungguh-sungguh alam tersebut. Seperti ketika dalam laut, bermain dengan sukacita, tetapi tetap juga menjaganya.
Seberapa sadar kalau alam sumber dari kehidupan. Tanpa-nya kehidupan ini tidak akan baik-baik saja. Sehebat apapun kita menciptakan teknologi. Hal ini juga tercermin dalam film Avatar Fire and ash.

Baca juga: Aku dengan bawah lautnya Indonesia
Merawat Yang Ada – Kebiasaan Baik Jawaban Ingin Bahagia
Ini mungkin terlihat sederhana, bagaimana merawat yang ada pada kita sebagai pemicu kehadiran kebahagian. Seperti tempat tinggal, bagaimana menjaga kebersihan, barang tertata dengan rapi, paling tidak tidak bingung mencari ketika dibutuhkan.
Memperbaiki yang rusak dan konon katanya, jika tidak, akan mengajak barang lain untuk rusak juga. Jika dirawat dan semua fungsi berjalan dengan baik, berdampak baik juga pada suasana hati.
Terlebih juga merawat orang-orang disekitar kita. Saudara, teman, kerabat. Mereka adalah pemberian dari kehidupan. Jika mencintai dengan tulus, salah satu cara mencintai kehidupan.
Dan aku selalu memakai akhir tahun sebagai cara melihat kembali, apakah dalam tahun berjalan sudah melakukan itu. Jika belum, biasanya mencari cara untuk mengutamakannya.
Beres-beres tempat tinggal, terutama memeriksa barang yang sudah lama tidak dipakai dan meneruskan pada yang membutuhkan. Begitu juga pertemuan yang membawa energi baik. Seperti dialog santai sambil menikmati aple scramble yang nikmat dibuat salah satu sahabat.
Pernah aku tulis secara detail hal itu di,
- 5 Alasan Kenapa Beberes Akhir Tahun Wajib Jadi Kebiasaan
- Tiga kebiasaan Baik Akhir Tahun – Tentang Akar

Akhirnya
Setiap kita punya cara untuk bahagia dan pengalamanku setiap langkah kecil merawat hidup adalah jawaban dari pertanyaan ingin bahagia. Bagaimana menurutmu, apa cara sederhana yang sudah dilakukan untuk merawat kebahagiaanmu?
Yuk berbagi pengalaman di kolom komentar.
Jakarta, 22 Desember 2025, 01.50 am
Ditulis sambil dikejar waktu karena bersiap sibuk Natalan.


satu Respon
untuk tulisann nya terimkasih ya ka, seperti di nasehatin kaka tapi jauh gitu , ingin bahagia tentunya harus kita ciptakan. Lihat sekitar kita mencinttai dengan tulus ituu kuncinya. Apayang kita miliki hari ini harus dirasa dan disyukuri itu secara akan menumbuhkan kesadaran kita