Jika tidak ada yang pasti dalam hidup,
Kalimat itu terhenti, melihat Merpati genit bertengger dalam pohon melihat angin, tanpa terlihat genit. Wajahnya hampa.
Lalu ia melanjutkan kalimat Jingga, trus mengapa perlu terikat?
Jingga tersenyum pada Merpati genit. “Terima kasih” katanya.
Aku melihat polah mereka ikutan tersenyum, berterima kasih pada waktu. Paling tidak, masih ada hal yang bisa membuat tersenyum di musim yang tak bisa dijelaskan. Dingin ataupun panas, penuh ketidakpastian.
Kali ini, series Jumat, kembali ke akar kehidupan, aku menyampaikan semua rasa dan logika. Izinkan memohon maaf pada pembaca, karena dalam aksaraku kali ini lebih berbentuk tulisan bebas.
Boleh disebut prosa, puisi atau apapun itu. Bebas saja.
Hanya, jika ingin mencicipi dan ingin mendapatkan asupan sehat, tolong sediakan waktu lebih dan lihatlah lapisan maknanya. Rasanya di musim seperti ini, butuh sejenak berdialog dalam dengan rasa dan logika dengan memahami kedalaman.
Melihat lebih luas dan mendalam tentang alur kehidupan. Bercermin pada rahasia angin tentang ketidakpastian, keterikatan dan rahasianya.
Dalam Ketidakpastian, Angin Selalu Menyelinap
Pohon tersenyum getir akan polah angin
Bunga yang biasanya riang menyambut pagi, kali ini tak bergairah
Matahari tak perduli dengan semuanya, tak mengenal jika tidak ada yang pasti
Yang dia tahu bahwa saat ini, musim ini tetap bersinar, tetapi bedanya sekarang dia lebih angkuh
Sedangkan lautpun merasa angin sedang tak bisa diajak berdialog
Desiran yang biasanya menyentuh manis
Berubah membawa gelombang yang tak putus
Terus menerus.
Jika tidak ada yang pasti
Mengapa semuanya mempertanyakan,
Sampai kapan angin semakin tak tentu arah?
Tidak bisa dilihat atau mengerti kapan dia datang dan pergi
Kapan dia memeluk mesra, atau kapan menampar dalam badai
Sungguh jika boleh keluh ini hadir, tidak kutanyakan mengapa
Hanya bagaimana menerima semuanya?
Jika tidak ada yang pasti, bagaimana meminta angin untuk sedikit memberi ruang teduh. Sejenak saja.
Merpati genit menjawab sambil lalu, “mungkin kamu perlu mengenal lebih jauh kalimat ini dibawah ini“
If you want to see the sunshine, you have to weather the storm– Frank Lane

Baca juga: 5 Rahasia Ketajaman Intuisi yang Bisa Dipelajari dari Alam
Keterikatan Itu Seperti Berusaha Menggenggam Angin
Be like the wind and drive others without being seen. – Lao Tzu
Jingga merenungi kalimat itu, banyak tanya lahir dalam logika dan nurani
Tak mau kalah membenturkan rasa pada setiap pemikiran
Seperti angin yang mendorong tanpa terlihat
Membawa teduh kala terik menari
Tetapi tetap saja, ada ruang penghakiman
Mengapa sebebas itu
Angin sendiri ingin mengungkap banyak hal tetapi ia tak punya otoritas untuk menjelaskan
Kau sudah tahu bagaimana waktu tak memberi kepastian
Dia terus menerus memberi bukti
Tetapi mengapa semua tidak melihat dengan jelas
Bingung dengan ketidakpastian
Bertanya tentang keterikatan
Sedangkan semuanya hanya alur
Apakah kau paham jika tidak ada yang pasti, perlu aturan untuk selaras
Bukan mengikat, karena keterikatan membawa ketakutan
Seperti badai membuat rajawali terbang tinggi
Aturan terlihat mengikat tapi sejatinya membebaskan
Keterikatan hanya pada rasa yang tak mau bergerak
Seperti berusaha menggenggam angin
Nyatanya tidak ada yang dipegang, hanya pikiran yang terikat
Apa angin ada wujudnya?
Apa aturan sungguh mengingat?
Jingga bertarung dengan logika dan rasa dan aku memandang pagi itu di ujung laut yang teduh.
Ikut bertarung dengan kalimat, Jika Tidak Ada yang Pasti, trus mengapa perlu terikat?
Baca juga: Menemukan Makna dalam Setiap Dialog – 3 Hal Penting yang Sering Terlupakan

Rahasia yang Terasa, Tapi Tak Pernah Tuntas Terjelaskan
Angin seperti berbisik pada Merpati genit
Jika kau tahu semua tentang ketidakpastian dan keterikatan
Apa yakin soal jika tidak ada yang pasti akan terjawab tuntas?
Jika iya,
Di mana letak rahasia kehidupan?
Apakah yakin dengan mengetahui semua
Kau akan merasa lebih baik?
Jangan-jangan jika semua kau pahami
Menjadikanmu tenggelam dalam ketakutan
Mungkin kamu perlu menyelami
Keterikatan itu membebaskan dan ketidakpastian bara-mu menuju tujuan.
Jika kau semakin bingung dengan segala tanya
Barangkali satu hal yang pelu untuk digenggam terus
” Setiap peristiwa memiliki tujuan dan rahasia itu karakter yang membuat alur kisah menjadi istimewa”
Merpati genit melihat kalimat itu langsung terbang bergirang. Seakan sadar, betapa semuanya hanya perlu dijalani.
Ada saatnya perlu bertanya, namun jika tanya tak ada jawaban, bergerak dengan sukacita cara terbaik memberi waktu mengatur dengan sebaik-baiknya.
Baca juga series Jumat sebelumnya: Kembali ke Akar

Jika Tidak Ada yang Pasti
Apa masih perlu dipertanyakan?
Kemudian aku bangun dari renungan, berdiri melihat luasnya samudera.
Terlihat teduh, siapa yang tahu kalau sejatinya banyak gemuruh bersamanya.
Tak ada yang pasti, tapi setiap peristiwa punya tujuan. Jika kamu sedang mencari ruang teduh di tengah badai, mungkin tulisan ini bisa jadi tempatmu berteduh sejenak.
Atau masih ada tanya hadir, mari tulis di kolom komentar.
Pasar Minggu, Awal September 2025|
Ditulis dalam mengemas rasa dan logika tentang ,bertanya memberi arah, diam memberi ruang, dan waktu yang menuntun akhirnya jadi jawaban


12 Responses
Ya tak ada yang pasti ya, seperti situasi Indonesia akhir-akhir ini siapa sangka demo sama berakhir kerusuhan dan menimbulkan korban jiwa? Pedih… tulisan Mbak Nik kayak puisi, ikut seleksi puisi SIP Publishing yuk temanya saudara serumpun..
Menurutku, bahkan untuk membiarkan semuanya dibawa pergi dengan angin, membutuhkan pembiasaan, skill khusus, yang perlu dilatih terus menerus..
Karena semua kemelekatan itu sendiri adalah ujian dari hidup kita..
Belajar “Let it go” juga berarti belajar bijak dan menjadi dewasa
Seringkalii.. keberadaan akan sesuatu membuat kita fanaa..
Dan itu juga yang membuat kita merasa “memiliki”.
Renungan yang sama, ka Nik..
Kalau melihat kalimat “rasa memiliki” atau keterikatan ini, menjadikan kita sadar, betapa manusia itu dari yang awalnya sendiri.. dan nanti kembali pun sendiri.
Nice contemplation.
memang kita kudu berupaya keras untuk melepas kemelekatan pada apapun.
Makasii untuk reminder-nya
Tiap hari selalu belajar utk makin dewasa 😍🙏
Ah iya, memang tidak ada yang pasti dalam hidup ya mbak
Bahkan, musim yang bisa diramalkan, kini mulai tak pasti
Cuaca mulai berubah ubah seiring semakin masifnya perubahan iklim
Terikat memang menyiksa tetapi hidup ini juga terikat dengan kehendakNya
Tak bisa bebas semaunya karena semua akan jadi pertanggungjawaban padaNya kelak, baik atau buruk yang tercipta
Kepastian selalu ada, seperti menulis komentar ini sudah pasti karena takdirNya bertemu dengan Kak Nik melalui kontemplasi artikel ini
Intinya, selalu ada kepastian pada sebuah ketetapanNya, hanya saja manusia diminta berusaha sebab pasti dalam ranah manusia memang tak selalu terwujud dan terikat
Ku baca sembari merasakan hempasan lembut semilir angin dengan segelas kopi anget lhooo kak… ngebacanya Bikin mikir dan merenung. Kadang kita emang butuh ‘tamparan’ lembut kayak gini buat sadar kalau enggak semua hal bisa kita genggam. Intinya sih, jalanin aja, ya? Angin aja bebas, kita juga seharusnya gitu.
Tak ada yang pasti terjadi bakal seperti apa, maka berdoalah
Tak bisa pula diprediksi, karena itu berdoalah
Tak ada yang tahu masa depan bakal seperti apa, lagi-lagi maka berdoalah.
Dengan berdoa bisa membuat hati lebih tenang menghadapi sesuatu yang belum pasti di hadapan
Memang betul kalau keterikatan itu menyiksa, bagai menggenggam angin. Karena apa? Karena manusia tidak benar-benar memiliki semua benda di bumi ini. Bahkan nyawa adalah pinjaman dari Tuhan. Jadi memang tidak boleh terikat dengan apapun di dunia.
Pertanyaaan yg susah dijawab. Hidup memang tiada yg pasti… Lantas kenapa harus terikat..betul juga….
Tapi kemudian balik ke persoalan hidup dengan sesama. Kalo tidak ada aturan yg mengikat, mau jadi apa kehidupan di dunia .. mungkin kalau kita hanya tinggal dengan segelintir orang, di tempat terpencil, tidak bisa akses ke tempat lain, tidak perlulah terikat dengan aturan. Tapi beda cerita saat hidup di wilayah yang heterogen .
Pertanyaan yg mirip begini pernah aku akuin pas sekolah . Katanya takdir manusia udah ditentukan. Jadi ngapain harus peduli dengan berbuat baik dan berbuat jahat. Toh udah ditentuin dari sananya.
Tapi jawaban ustad waktu itu, takdir memang sudah ditentukan, tapi Tuhan memberi kebebasan manusia untuk menjalani hidup nya dengan kesadaran dan keinginan sendiri. Untuk memilih surga atau neraka…
Hahahaha complicated ya mba 😅😅😅. Memang ga ada yg mudah kalo udah menyangkut kehidupan
Ah meras diingatkan… seringnya kita memang merasa memiliki sesuatu padahal sebenarnya tidak. Sayangnya rasa memiliki ini jadi boomerang yang cukup berbahaya ya.. ah terimakasih remindernya kak
Aku ingat sebuah kalimat yang bikin aku terenyuh dari salah satu guru terbaik yang pernah kupunya. “Menjadi tidak terikat, adalah misteri selama kita bernafas.”
Dan aku baru sedikit memahami mengapa itu bisa terjadi. Banyak yang bilang karena kita adalah makhluk sosial, makanya kita jadi terikat pada sesuatu. Tapi aku kurang setuju juga dengan istilah itu. Karena satu sisi manusia juga butuh ruang teduh untuk dirinya sendiri. Kembali lagi ‘terikat pada dirinya sendiri’.
Sampai suatu hari ketika anakku sakit beberapa waktu lalu, ada gong! Kita terikat bukan karena kita takut atau kita ini makhluk sosial, tapi ikatan itu terkadang menjadikan kita manusia seutuhnya. Terutama ketika rencana kehidupan yang seringkali penuh tanda tanya tidak berjalan sesuai dengan harapan. 🙂