Jukut serapah adalah salah satu sayur tradisional Bali yang biasa dimakan oleh masyarakat di daerah Negara, Kabupaten Jembrana. Ia bukan menu istimewa seperti lawar, tetapi kenikmatannya hidup dalam keseharian.
“Coba cek Warung di Kebun, di sana ada jukut serapah.”
Begitu kata teman SMEA, ketika aku bertanya di mana tempat nyaman yang masih menyajikan jukut serapah. Kami memang sama-sama lahir di kota barat Bali dan bersekolah di sana. Jadi ketika aku bertanya soal makanan khas Bali bagian barat, percakapan itu langsung nyambung, tanpa perlu banyak penjelasan.
Tidak semua orang mengenal kuliner Bali yang satu ini. Aku sendiri pun jarang mencarinya setiap kali pulang ke Bali. Karena tahu, jukut serapah memang tidak mudah ditemui, dan tidak semua orang memahaminya sebagai sesuatu yang patut dicari. Namun dua minggu lalu, seperti ada rasa yang terpetakan sejak kecil dan masa muda, memanggil untuk kembali dinikmati.
Aku membuka peta yang dibagikan sahabatku, mencoba melihat lebih dekat Warung di Kebun. Setelah dicek lebih jauh, tempatnya dan menu yang tersaji membuatku bersukacita. Tanpa banyak pertimbangan, aku langsung menjawab: oke, kita bertemu di sana.
Baca juga: Nasi Sela Bali: Warisan Rasa Bertahan Hidup yang Kutemukan di Tuniang Resto Renon – Peta Rasa 31

Jukut Serapah, Sayur Tradisional Bali dari Negara Jembrana yang Dimasak dari Bahan Sederhana
Sayur tradisional Bali yang ini memang tidak sepopuler lawar atau ayam betutu. Tetapi bagi kami masyarakat Negara Jembrana, jukut serapah makanan nikmat. Bahkan aku sendiri menilati sebagai sayur tradisonal yang istimewa.
Jukut sendiri artinya sayur dan serapah sendiri sepengetahuanku tidak ada arti secara khusus. Bahan yang sering dipakai untuk makanan ini, daun singkong, nangka dan pepaya. Tetapi kadang juga bisa di selipkan bayam.
Menjadi istimewa buatku, sayur ini di sirami dengan berbahan telengis (ampas proses minyak kelapa tradisional). Aku ingat betul masa-masa kecil dulu. Ibu suka membuat minya kelapa sendiri, kebutuhan harian untuk memasak, minyak rambut sampai kulit supaya tidak kering.
Ketika Ibu membuat minyak, aku selalu bersukacita dan bertanya, nanti buat jukut serapah atau pepes telengis. Bahan yang sebenarnya terbuang. Tetapi ternyata jika di olah atau di proses dengan tepat menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Es Cendol kuteguk sambil menunggu sahabaku datang saat pertemuan, menu utama belum di order karena ingin makan bersama. Aku memandang air di kolam tidak jauh tempatku duduk. Pikiranku melayang pada masa anak-anak, senangnya makan jukut ini.
Sedang asyiknya membayangkan, logiku memberi hikmat betapa bahan yang tersisa bisa jadi sesuatu yang di rindukan di puluhan tahun kemudian.
Jika sesuatu lahir dari sisa, apakah nilainya otomatis lebih rendah?
Betapa seringnya penghakiman hadir hanya karena hal yang bekas, sisa dan itu seperti tidak bernilai. Sedangkan sejatinya semuanya bisa di rubah jika memang mau.
Baca juga: Bila Hidup Terasa Sia-Sia: Aku dan Peter Thiel Menemukan Nilai di Balik Sampah dan Derita

Warung di Kebun: Tempat Makan Teduh di Bali yang Tumbuh dari Ruang Jualan Tanaman
Lamunanku terhenti ketika seseorang lewat di hadapanku. Aku mengira sahabatku tetapi ternyata tamu lain. Melihat sekeliling ternyata tamu semakin banyak. Memandangi mereka dengan segala sikapnya dan mataku kembali tertuju kolam dan pohon-pohon di sampingnya.
Aku tertegun, kafe atau warung di kebun ini ada di area jualan tanaman. Aku ingat dulu sepanjang Jl. Hayam Wuruk No.212, Sumerta Kelod, Kec. Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali Tempat warung di kebun ini, semua berjualan tanaman.
Dan sekarang masih tetap hanya hadir tempat makan dan coffee shop di antaranya. Melihat itu aku melihat bagaimana adaptasi penting dalam proses bisnis atau apapun itu.
Apa yang terjadi jika kita menolak beradaptasi hanya karena takut kehilangan bentuk lama?
Mungkin tidak perlu menghilangkan jati diri atau hal yang menjadi dasar idealis, hanya perlu sedikit merubah menyesuaikan keadaan, atau kehidupan yang memang mengatur alur untuk bergerak.
Seperti warung di kebun, mungkin awalnya ia hanya jualan tanaman, tetapi hidup memberi kebutuhan akan hadirnya tempat makan dan itu membawa peluang baik untuk bertumbuh, ia melakukan perubahan . Tetap jualan tanaman tetapi hadir juga sebagai tempat makan.
Baca juga: Sore di Pracimasana Mangkunegaran: Saat Sejarah dan Adaptasi Duduk Bersama – Terbaik Solo #7
Kehidupan Orang Bali Sehari-hari: Antara Adat, Mebraya, dan Liburan
Setengah jam menunggu bersama semua kenangan jukut serapah dan menikmati warung di kebun, sahabatku datang dengan anak gadisnya. Kemudian kami memesan, aku dan sahabat pesan menu utama yang menjadi tujuan tempat ini di pilih, anaknya mesan ayam, sebagai tambahan aku pesan jaje bali dan kopi.
Bertemu memang jadi tempat bercerita banyak, walau hubungan kami baik dalam komunikasi di chat atau telpon, tetapi rasa yang hadir di pertemuan memang berbeda. Selain bicara soal tujuan aku datang ke Bali kali ini, pembicaraan kami berlanjut dengan kisah makanan, kenangan masa SMEA dan akhirnya masuk hal yang mendalam, kebiasaan hidup orang Bali.
Khususnya masyarakat menengah kebawah, yang perekonomiannya bisa di bilang tidak lebih. Hanya cukup.
Mungkin kalau di masyarakat lainnya, kata cukup bisa di sisihkan sesekali untuk bisa berlibur. Tetapi bagi orang Bali seperti tidak ada celah untuk itu. Ada banyak hal yang perlu di pikirkan setiap harinya.
Mulai dari,
- Mebanten (Mempersembahkan canang atau yang lainnya pada Tuhan, tiap hari)
- Odalan (Upacara peringatan hari lahir atau pendirian sebuah pura (tempat suci) dalam agama Hindu di Bali)
- Mebraya (konsep filosofi hidup bermasyarakat dari Bali yang berarti persaudaraan, kekeluargaan, kebersamaan, dan saling tolong-menolong)
- Memikirkan biaya ada pertumbuhan anak seperti nyambutin (tiga bulanan anak) mesangih (upacara pendewasaan seorang remaja melalui pengikiran gigi)
Semuanya membutuhkan biaya dan liburan seperti tak terjangkau dengan adanya kewajiban yang ada.

Jaje Bali satu makanan yang paling sering aku cari, kunikmati di antara kisah kebiasaan hidup orang Bali. Di tengah dialog yang ada, kalimat ini hadir di benakku.
Apakah ketenangan selalu lahir dari liburan, atau dari hidup yang tertata?
Aku menatap sahabatku, satu dari sekian orang Bali yang tidak menuntut hidup untuk bisa liburan. Wajahnya berseri, tenang dan aku merasa kalimat tanya itu menjawab, bahwa bukan soal liburan tetapi bagaimana bertanggung jawab pada hidup untuk selaras, bertanggungjawab akan alur sehingga semua tertata, membawa ketenangan jiwa dan itu yang disebut berbahagia.

Akhirnya
Kopi hitam sebagai salah satu menu, kuteguk dengan nikmat sebagai penutup perjumpaan penuh makna dan aku catat dalam series Senin, Aku dan Tokoh yang ke 33. Aku dan kamu sebagai pribadi, tokoh yang perlu di rawat dengan makna-makna dan membawa langkah yang berkehidupan.
Bersama kisah jukut serapah warung di Kebun, dan kebiasaan hidup orang Bali akhirnya kembali mengingatkanku pada satu hal sederhana: yang terlihat sebagai sisa, sering kali bukan tidak bernilai, ia hanya belum diolah dengan cara yang tepat. Hidup pun demikian. Perubahan tidak selalu datang untuk menghapus, melainkan mengajak beradaptasi jika ingin tetap bertumbuh. Dan soal bahagia, barangkali ia bukan tentang pergi jauh atau mencari jeda panjang, melainkan tentang bertanggung jawab pada peran yang sedang kita jalani, dengan tenang,sadar dan hadir sepenuhnya.
Jika kamu membacanya sampai di sini,
aku ingin bertanya pelan:
bagian hidup apa yang pernah kamu anggap “sisa”,
padahal sesungguhnya hanya menunggu untuk dimaknai ulang?
Atau,
peran apa yang sedang kamu jalani hari ini, yang sebenarnya justru membentuk caramu bertumbuh?
Ceritakan di kolom komentar ya.
Serpong, Januari 2026
Ditulis sambil menunggu tukang yang sedang renovasi rumah kakak.


8 Responses
Baca tulisan mbak Nik pagi-pagi, rasanya kayak di kasih energi tambahan. Lebih semangat buat menjalani hari ini.
Salut sekali sama masyarakat Bali. Menggenggam erat budaya dan hidup penuh tanggungjawab. Meski tidak ada liburan, nyatanya kawan mbak nampak sangat enjoy dan penuh kedamaian. Keren sekali lho.
Rekomendasi tempatnya juga sangat oke banget. Jadi bisa kembali menikmati enaknya Jukut serapah. Baru tau bentuknya dan belum terbayang gimana lezatnya.
Tetapi, salut. Bahkan dari bahan sisa pun kalau diolah sepenuh hati dan ada sentuhan inovasi jadi makanan bergizi dan bernilai juga ya mba. Pembelajaran berharga banget ini sih kalau dikaitkan sama kehidupan.
Menarik banget kuliner Bali ini
Sekilas saya tebak kalau di Sunda Jukut Serapah ini mirip lotek
Tapi kalau di Sunda bukan ditaburi galendo (ampas bikin minyak kelapa) melainkan bumbu kacang
Jukut sendiri kalau di Sunda artinya rumput. Sekarang lebih meluas dengan arti sayuran hijau atau lalapan yang biasanya disajikan digoreng dengan bumbu yang cukup gurih
Aku pikir tadi macam sambel kacang mba ternyata dari parutab kelapa sisa bikin minyak kelapa ya…salah satu cara yg cerdas banget memanfaatkan setiap bahan agar tidak terbuang percuma…
Bener kata mb nik masyarakat adat bali ini memang sangat kompleks dan mereka sangat menjunjung tinggi tradiai tersebut sehingga rasanya liburan bukan lagi sebuah keharusan…
Bisa dibayangkan hari raya keagamaanya sendiri sangat banyak dan setiap hari raya pasti mebanten blm lagi kalo ada upacara2 khusus dn itu gak sedikit biaya yg dikeluarkan..tapi aku selalu kagum dengan budaya bali dan hanya bisa ditemukan di bali 😊
Nama makanannya unik dan saya pun baru pertama kali mendengarnya.
Jukut Serapah ini maknanya jadi berubah kalau dalam Bahasa Sunda, tapi ya di sinilah keunikannya negeri kita yang mempunyai banyak sekali bahasa daerah, jadinya kita ikut belajar dan memahami setiap perbedaan di sekitar kita, termasuk dalam bahasa yang walaupun pengucapan dan penulisan sama tetapi maknanya menyesuaikan secara geografis
Membaca ini membuat saya sadar bahwa bahagia itu sederhana, seperti sepiring jukut serapah yang lahir dari filosofi “sisa” namun kaya makna. Saya belajar dari cerita ini bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tapi cara kita untuk tetap tumbuh. Ternyata, ketenangan memang bukan soal liburan jauh, melainkan hadir sepenuhnya dalam tanggung jawab hidup.
Aku tuh pernah denger masakan sayur jukut goreng di restoran Sunda tapi mba. Lumayan terkenal, walau sampai skr belum pernah coba.
Nah ternyata di Bali ada juga, dan pengolahannya beda banget yaaa. Kalau lihat dari foto, aku bakal ngira itu pecel. Jadi yg coklat itu. Ikan saus kacang tp ampas kelapa yaa??
Uwaaah ini aku sukaaaa kayaknya. Krn sayuran, trus pakai ampas kelapa, kebayang enak dan aromatik.
Baru tahu mba nik dr Jembrana. Aku sekali kesana, dari tempat nginepku di Payangan, ke Jembrana, naik motor Ama Raka 🤣🤣🤣🤣.
Kebayang lah pantat ku LGS pegel 😅. Jauuuuuh kan. Tp seruuuu lah.
Jadi perempuan Bali memang padat jadwalnya ya disela kegiatan sehari-hari tetap menjalankan tradisi dan agamanya dengan baik.. jadi tidak melupakan akarnya.. unik banget sayurnya Jukut Serapah..
Waktu baca jukut serapah aku teringat jukut goreng. Kalau di Bandung, jukut itu sebutan untuk selada air. Ternyata di Bali, jukut artinya sayur ya. Saya baru dengar makanan ini. Memang jarang dijual sepertinya ya.
Hidup di Bali memang tampaknya butuh banyak uang untuk melaksanakan adat ya. Upacara-upacaranya yang bermacam-macam tentu memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi soal liburan, itu gimana mindset ya. Liburan nggak harus jauh dan mewah. Apalagi tinggal di Bali, melipir ke pantai sudah jadi liburan yang diimpikan banyak orang kan? Hehehe…