Melihat lebih luas tentang batas dari kasih dan keadilan dalam kehidupan. Cara memahami bagaimana akar kehidupan sebuah kekuatan yang menyelamatkan.
Segala sesuatu ada cerminan dan kembarannya. Selalu dua dan yang tunggal hanya pencipta kehidupan itu sendiri.
Aku selalu mengatakan hal itu pada setiap dialog saat bicara hidup. Terutama ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan. Kekecewaan, khawatir, kesedihan atau hal-hal yang membuat hati terasa perih.
Sampai akhirnya juga aku menulis tentang 5 Kembar Kehidupan yang Tak Terpisahkan: Rahasia Menyatu dari Lao Tzu – Aku dan Tokoh #5
Mencatatnya pada series Senin, Aku dan tokoh. Tetapi kali ini aku mengulik lebih mendalam tentang Kasih dan keadilan dalam kehidupan. Series Jumat, Kembali ke akar.
Baca juga: Kembali ke Akar

Bagaimana Kasih Menghidupkan dan Memberi Makna dalam Kehidupan?
Bicara soal kasih, hal ini paling suka dibahas. Kasih di sini sering dilihat sebagai cinta dan ini adalah akar kehidupan. Di lihat mulai dari adanya hidup ini-pun karena kasih-Nya.
Semuanya berawal dan berakhir dari cinta atau kasih itu sendiri.
Semuanya akan berlalu tetapi hanya kasih tinggal tetap
Aku sangat setuju dengan kalimat tersebut. Kasih menjadi kisah yang tak akan pernah hilang dari kehidupan ini. Hal itu mencerminkan bagaimana kasih itu menghidupkan setiap hal. Cerita akan menjadi hangat karena cinta kasih menjadi pusatnya.
Begitu juga kisah akan terasa seru jika cinta kasih mulai diperjuangkan dengan cara yang kurang tepat. Katakanlah dengan alasan cinta namun memakai semua cara untuk mendapatkan seperti mengorbakan orang lain.
Pernah aku menulisnya juga series Jumat sebelumnya dengan judul Cerminan Drama Pendek dalam Kehidupan Sehari-Hari – Kembali Ke Akar 60
Sedangkan sesuatu yang menghidupkan selalu meminta pengorbanan diri bukan orang lain, rela melakukan untuk kebaikan orang tanpa berpikir akan kepentingan diri sendiri. Dan itulah Kasih.
Maka ketika bicara kasih dan keadilan dalam kehidupan khususnya, cinta kasih hal yang perlu diingat terus menerus bahwa cinta kasih yang tepat adalah sesuatu yang menghidupkan semua pihak.
Tidak hanya diri tapi juga banyak pihak. Karena itulah ketika cinta kasih sudah mulai mengarah pada kepentingan sepihak maka keadilan hadir untuk menyelaraskan.

Mengapa Keadilan Diperlukan untuk Menyelaraskan Kehidupan dan Hubungan?
Kasih dan keadilan dalam kehidupan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dan kali ini bicara soal keadilan sering tidak nyaman. Banyak orang senang menerima cinta kasih dan bahkan memperjuangkan dengan keras.
Tetapi tidak untuk keadilan. Cenderung mengabaikan karena wajahnya tegas. Beda dengan cinta kasih wajahnya lembut. Keduanya berbeda wajah dan karakter tetapi saling membutuhkan.
Lalu mengapa keadilan diperlukan? Jika aku boleh menjawab karena,
Hati manusia suka berubah dan cenderung mementingkan diri sendiri.
Mengikuti keadaan, karena itulah kehidupan menciptakan aturannya dan waktu sebagai hakim terbaiknya.
Coba saja lihat bagaimana anak-anak tumbuh yang terus dengan didikan cinta kasih yang lembut tanpa adanya didikan yang tegas. Dewasanya akan menjadi pribadi yang kurang kuat.
Soal keadilan, dalam langkahku sering orang kurang paham. Mungkin yang mengenalku cukup lama akan mengerti tetapi belum tentu orang baru. Dalam langkahku soal keadilan sering memberi wajah diam.
Dulu aku mengambil wajah kemarahan, semuanya dikatakan dengan tegas yang sebagian orang melihat itu kemarahan dan tahun belakangan aku memakai wajah diam karena mengerti tidak semua paham kalau marah atau tegas itu bukan bertujuan menyakiti.
Baca juga: Belajar Mengenali Akar Emosi – Sayang, Marah Itu Bukan Tujuan Menyakiti
Aku mengambil wajah diam untuk menyelamatkan semua pihak. Namun sebelum diam aku sering memberi ruang toleransi dan tentu saja itu ada waktunya. Biasanya aku memberi batas tiga kali kejadian.
Bukan berarti tidak mau memaafkan atau memahami, karena kadang insan lupa bahwa dalam cinta kasih tanpa batasan akan membuat lupa pijakan dan mengarah pada percaya diri yang berlebihan.
Karena itulah keadilan dibutuhkan, untuk menyeimbangkan dan aku setuju dengan teori keadilan menurut Aristoteles bahwa keadilan dimaknai sebagai keseimbangan. Menyelaraskan. Seperti Kasih dan keadilan dalam kehidupan, dua akar kehidupan berbeda tetapi menjadi satu kesatuan yang saling menyelaraskan.

Kasih dan Keadilan dalam kehidupan sebagai batas dan menyelamatkan.
Segala sesuatu ada batas untuk memberi kesadaran bahwa semuanya terhubung satu sama lainnya.
Aku menutup tulisanku dengan kutipan tersebut bahwa kasih dan keadilan dalam kehidupan saling terhubung dan juga sebagai batas.
Coba bayangkan apa yang akan terjadi bila kasih tanpa keadilan, begitu juga sebaliknya. Kehidupan akan carut marut dan sudah mulai terlihat di era saat ini.
Contoh seperti anak-anak tumbuh dengan kemudahan, bagaimana mereka tumbuh menjadi tidak tahan uji. Atau kebaikan tanpa sadar akan kapasitas, memberi tanpa batas melupakan kapasitas diri.
Dan banyak hal lain yang terjadi dalam kehidupan. Semuanya perlu keseimbangan. Sama dengan halnya kemudahan dan kesulitan, mereka satu sama lain memberi batas dan menyeimbangkan.
Aku ingat bagaimana kehidupan itu adil saat masa kecil sampai umur beranjak dewasa, hidup mendidikku dengan kesulitan dan aku memaknai itu sebagai keadilan yang mendidik karena ada masanya hidup membayar dengan cinta kasihnya dengan segala kemudahan.
Salah satu hal tersebut aku tulis dalam Semua Akan Kembali Padamu – Rahasia Waktu – 2016

Akhirnya,
Kasih menghidupkan, keadilan menyelaraskan, dan batas menyelamatkan. Karena segala sesuatu terhubung dan setiap hal memiliki perannya.
Lalu, batas apa yang sedang kehidupan ajarkan kepadamu hari ini? Yuk cerita di kolom komentar.
Jakarta, Akhir Agustus 2026
Ditulis menjawab ditengah krisis hidup dan riuh tanya tentang keadilan hidup.





