#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Ke Mana Keadilan Hidup Saat Kesalahpahaman Semakin Nyaring?

Ke mana keadilan hidup tentang refleksi wajah kehidupan yang sedang menuju perubahan besar. Tentang kesalahpahaman sebagai tokoh paling agung yang sering hadir.

Selamat datang Juni 2026

Izinkan menyapa bulan baru yang entah apa yang akan diberinya. Aku sendiri melihat bulan ini sebagai sosok yang cukup menakutkan karena ada banyak keputusan yang perlu diambil ataupun dilihat.

Keputusan tidak hanya aku sebagai pribadi tetapi juga tentang bagaimana hidup akan memutuskan langkah-langkah diri selanjutnya. Karena bagaimanapun di tengah keadaan yang semakin tidak ada kepastian, penyerahan pada hidup hal yang paling tepat untuk lebih tenang.

Konon katanya soal bertahan-pun menjadi sesuatu yang belum bisa diambil langkahnya. Bertahan seperti apa? Lalu pertanyaan itu hadir di sela-sela riuhnya reaksi keadaan yang makin memanas.

Sejenak, ditengah jantung sedang dipacu dengan kejutan hidup. Mari sedikit tenang dengan menikmati pemikiranku dalam tulisan tentang ke mana keadilan hidup, tentang tanya yang mungkin saja tidak ada jawabannya.

Tetapi barangkali dengan membaca ini, lahir kesadaran bagaimana berkehidupan bukan tentang bagaimana menjalani hidup yang gemilang tetapi menyadari segalanya hanya sebuah proses.

Proses diri yang di ajak lebih kuat, murni dan siap untuk kembali pada pemilik kehidupan.

Baca juga: Masih Perlukah Berjuang Saat Hidup Terasa Tidak Menerima?

Ke mana keadialan hidup
Ke mana keadialan hidup

Ke Mana Keadilan Hidup Saat Keinginan Mengaburkan Nurani

Sore itu masih terasa indah dan angin sepoi yang menerpa wajahku membuatku tersenyum syukur. Aku berterima kasih di setiap sore saat matahari mau pamit ataupun ada hujan, hatiku merasa terasa hangat.

Ada terima kasih karena satu hari sudah lewat, terlepas dengan segala ceritanya. Satu hari lagi nyawa diri telah hilang dan berharap apa yang sudah dilakukan membawa kebaikan bagi hidup.

Di tengah rasa syukur seringkali tanya tentang ke mana keadilan hidup lewat dibenakku. Bersamaan syukur tetap tanya itu hadir karena hari-hari terasa semakin tidak menentu. Bukan hanya tentang aku tetapi juga di sekitarku.

Waktu akhir-akhir ini, walau insan datang padaku tidak mampu membayar jasaku dengan uang, sebagai pejuang kehidupan aku tidak berhenti untuk mau mendengar. Bagaimanapun profesi ini bukan tentang bagaimana aku mendapatkan rejeki uang tetapi lebih peran hidup yang sudah menjadi takdir.

Karena itu mendengar dan mengarahkan insan pada kesegaran jiwa, sudah menjadi hari-hari-ku ditengah juga tanggung jawab sebagai karyawan swasta yang juga di arahkan hidup untuk menjalaninya.

Peran-peran yang sedang dijalani ini memberiku pandangan bagaimana hidup sedang keruh dan berdampak pada jiwa-jiwa yang memudar kemurniannya.

Kadang satu sisi melihat itu sebuah alasan kuat tetapi satu sisi disanalah letak ujian waktu, bagaimana reaksi insan itu sendiri atas tekanan hidup.

Baca juga: Masih Bertahan? Lihat Bagaimana Hidup Membuktikan Keadilannya – Kilas Balik 2025

Ke mana keadilan hidup?

Di sudut jalan aku duduk melihat lalu lalang insan bertarung dengan waktunya dan aku mendapati satu sosok gagah dengan perawakan begitu menawan, duduk disebelahku.

Lama kami diam memandang sore dan insan lalu lalang. Tiba-tiba sosok disebelahku bertanya,

“sedang menunggu apa?”

Aku yang ditanya langsung merasa kikuk karena wajah tampan yang begitu tegas, mengalihkan rasaku yang sedang bergejolak dengan harapan dan ketidakpastian.

“Tidak menunggu apapun, hanya ingin duduk dan ingin menunggu jawaban tentang ke mana keadilan hidup saat ini, rasanya dunia semakin bersuka dengan tekanannya”

Wajah itu memandangku lalu memandang jalanan lagi.

Setelah menahan nafas dan membuangnya dengan pelan, ia berceloteh. Ia memperkenalkan diri sebagai keadilan yang sejatinya ia-pun sedikit bingung dengan polah manusia.

Bisa-bisanya bertanya tentang keadilan, sedangkan hari-harinya penuh dengan prasangka tidak baik pada waktu. Melakukan kegiatan terburu-buru hanya untuk menuntaskan tugas tanpa memberi nafas didalamnya.

Yang penting bekerja tanpa berpikir apakah pekerjaan itu mendatangkan untung untuk perusahaan. Yang penting melakukan tugas sebagai istri, suami, anak, sahabat tetapi tidak berupaya apa yang membuatnya hidup.

Hanya berpikir, bagaimana diri dihargai dan hidup nyaman. Lupa kenyamanan diri selalu beriringan dengan kenyamanan orang lain.

Merasa tugas sudah dilakukan dengan memainkan perannya dengan sebaik-baiknya. Terlihat berusaha berjalan dalam kebenaran tetapi tidak sungguh mengerti arti kebenaran itu sendiri.

Apakah disebut benar jika jiwa menjadi mati. Sungguhkah kebenaran itu berwajah mematikan? katanya kebenaran itu sebuah kesungguhan yang benar ada. Iyakah?

Seperti kebenaran dinyatakan hanya dari soal bukti dan keberadaan sejati? Apakah hanya sedangkal itu ia diciptakan? Sedangkan bukti-bukti dan keberadaanpun semakin indah dibuat. Seakan-akan itu nyata tapi sejatinya semu. Palsu.

Wajah keadilan yang ganteng, tegas itu berubah menjadi muram dan sedih. Panjang lebar ia berceloteh mengatakan begitu banyak orang menginginkan kehadirannya, tetapi tidak sungguh-sungguh untuk benar mau hadir.

Katanya lanjut, bahwa memang tidak mudah ia datang tetapi jika para insan mengerti cara kerja waktu, ia akan datang dengan penuh sukacita. Keadilan selalu bersahabat dengan waktu dan peran mereka saling mendukung satu sama lain.

Aku mendengarkan celotehnya sambil memeluk diriku sendiri, ingin rasanya memeluk keadilan yang sedang sedih, tapi tentu aku tahu diri. Siapa aku yang asing dan ditengah jalan. Sedangkan seakan kami baru bertemu sekali dalam wujud yang begitu menawan.

Tak terasa malam menjemput, keadilan yang ganteng itu pamit lanjut melangkah ke arah keramaian dan aku masih duduk melihat gelap. Berpikir mungkin keadilan enggan hadir juga karena begitu sering mengajak kesalahpahaman bermain.

Baca juga: Prasangka baik cahaya dalam gelap – Kisah Transportasi umum – Tentang keadilan hidup – 2025

Ke mana keadilan hidup

Wajah Kesalahpahaman Semakin Bersinar

Ke mana keadilan hidup yang mungkin tanya ini menjadi primadona. Dan keadilan sendiri sejatinya tidak pernah menjauh atau ia tetap ada diantara semua tokoh hidup saat ini.

Namun para insan dengan dalih memenangkan hidup dan kenyamanan diri sering mengajak kesalahpahaman bermain dalam peran-peran mereka.

Lihat saja berapa banyak insan salah paham tentang perusahaan yang terlihat meminta karyawannya pekerja lebih banyak, menilai sebagai perusahaan arogan sedangkan mengertikah perusahaan itu sendiri juga kadang tertatih untuk tetap bisa ada.

Walau memang ada saja perusahaan yang arogan, tidak memanusikan. Tetapi bukan berarti semua begitu. Atau sebaliknya, perusahaan menuntut banyak pada karyawan, sedangkan mereka tidak dilengkapi hal yang sesuai untuk bisa maksimal.

Juga bagaimana hubungan sering retak karena salah paham. Pasangan merasa tidak sayang hanya karena kebutuhan diri tidak dipenuhi dan celakanya masing-masing tidak berupaya dengan mencari tahu atau berupaya sejatinya apa kebutuhan pasangan itu sendiri.

Tidak hanya soal pasangan, bisa dengan orang tua, sahabat ataupun kerabat. Alih-alih berupaya membangun komunikasi yang tepat, malah lebih sering mengajak kesalahpahaman sebagai tokoh utama yang seakan membantu dirinya tetap nyaman.

Yang penting tetap waras.

Begitu katanya, lupa kalau kebun yang indah butuh ketekunan dalam merawatnya. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan. Tidak ada hubungan yang manis tanpa pengorbanan rasa dan waktu.

Ke mana keadilan hidup di kala semua hal yang tepat sudah dilakukan, tetapi mengapa hari tetap saja terlihat muram?

Tanya itu mungkin belum bisa terjawab. Mungkin yang diperlukan menunggu dengan terus berjuang bahwa kebaikan tidak akan pernah salah hadir di waktu yang tepat.

Kebijaksanaan dalam hidup dan di mana keadilan hidup
Kebijaksanaan dalam hidup dan di mana keadilan hidup

Baca Juga: Apa Itu Kebijaksanaan dalam Hidup? Saat Logika Tidak Kehilangan Nurani

Menunggu Waktu yang tepat cara bijaksana keadilan hidup berperan

Ke mana keadilan hidup, barangkali mungkin perlu melihat dengan tenang, bahwa tanya itu terjawab saat kebijaksanaan hidup hadir sebagai tokoh utama sebagai kawan baik.

Mengerti akan peran waktu selalu tepat di keadaan yang tepat untuk sesuatu yang tepat.

Lalu dengan itu apakah tanya ke mana keadilan hidup tetap punya arti jika kebijaksanaan tentang waktu sudah dirangkul dengan baik.

Baca juga: Makna Kehidupan dalam Dialog Tenang 7 Akar Kehidupan

Jakarta Selatan, awal Juni 2026
Ditulis dengan banyak harapan bulan ini memberikan jalan terbaik untuk semua langkah hidup.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

10 Responses

  1. Iya kehidupan di dunia memang tak selalu adil ya barusan ada ini yang ngeluh anaknya berprestasi dan kudu kerja keras untuk masuk SMA lewat jalur prestasi dan dia kecewa karena teman anaknya yang pemalas melenggang mudah masuk sma itu lewat jalur afirmasi..

  2. Waktu adalah salah satu harta yang tidak bisa kita simpan maupun kita ulang sehingga memang harus bijaksana dalam menjalaninya dan kadang banyak hal baru kita pahami dan juga hargai setelah waktu berbicara

  3. Sekarang ini jujurnya aku mulai ga percaya kalau negara ini memprioritaskan keadilan untuk warganya. Kok ya melihat apa yg banyak terjadi skr, keserakahan hati lebih merajalela daripada keadilan. Kayaknya pemimpin dan petinggi negara, udah mulai berani utk melakukan hal2 demi memperkaya diri mereka saja. Kalau dulu banyak yg diam2 dan malu2, skr rasanya makin berani dan ga peduli 😔

    Ntahlah, apa keadilan bakal bisa naik lagi, atau memang sekarat Krn kalah dengan sifat serakah orang2.

  4. Kalau membicarakan tentang keadilan memang yah begitulah, membingungkan dan bikin geleng kepala.
    Mungkin ada yang memang benar menerapkan bagaimana berkeadilan itu, tapi jangan sampai lupa pula bahwa ada pula yang tidak menerapkannya. Semoga bisa arah kebenaran mengajarkannya

  5. Kata keadilan ini terasa sangat mahal sekali ya Mbak di era sekarang. Bahkan keadilan di mata hukum sekalipun seolah bisa dimainkan oleh uang.

    Meski begitu, sebagai manusia biasa hanya bisa berusaha yakin bahwa keadilan di dunia ini masih ada walau jadi minimalis atau terkukung sama banyak kesalahpahaman. Semoga saja, begitulah pikirku berusaha optimis.

    Jujur, semakin sering keluar rumah di era sekarang, malah bikin perasaan tidak stabil karena melihat banyak kondisi yang jauh dari ideal. Tak bisa menutup mata namun tidak bisa banyak membantu juga, menyiksa rasanya. Semoga saja keadilan ini segera hadir dengan utuh dan membasuh segala luka serta duka yang tengah menjalar.

    Terima kasih sudah memeluk lewat tulisan dan selalu menyediakan waktu mendengarkan meski kadang beberapa orang tak mampu membayar, berkah untuk kehidupan mbak Nik dan lancar pekerjaannya serta sehat selalu ya, aamiin.

  6. Menghadapi ketidakpastian memang melelahkan, tapi menyerah pada proses dan merangkul kebijaksanaan waktu adalah bentuk kedamaian tertinggi.
    Seperti biasa, membca tulisan kak nik harus perlahan sembari diresapi dengan dalam…. sangat dalam dan kontemplatif sekali.
    Refleksi tentang sosok “Keadilan” yang mengobrol di sudut jalan itu sangat puitis, sekaligus menampar realitas kita yang sering kali egois. Kadangkala kita sibuk menuntut keadilan dan kenyamanan diri, tapi justru sering kali mengundang “Kesalahpahaman” sebagai tokoh utama dalam merespons keadaan.

  7. Yang penting tetap waras! Deg, kalimat itu lgsg menohok di tengah ketidakadilan yang terus ada dan mampir di hidupku. Berasa ketidakadilan itu terus muncul di saat hidup penuh tekanan ini. Aku pun merasakan itu skrg kak Nik.

    Di tengah pemulihan kondisi ibu setelah sakit, aku masih diberi kekuatan utk tetap sehat sehingga bs menjaga ibu dgn baik. Astungkara karena aku msh diberi rezeki shg bs mencukupi kebutuhan diri dan keluarga. Di saat teman2 lain msh repot dgn upayanya dlm mencukupi kebutuhan harian. Astungkara jg msh bs ngasih pinjeman walau saat ditagih, susahnya minta ampun. Wkwk

    Smg kita selalu sehat2 ya mbok gek. Dan tetap waras!

  8. “Mengapa hari tetap saja muram?”

    Pertanyaan yang sering sekali kuajukan pada diri sendiri. Rasanya aku sudah melakukan semuanya dengan benar dan sekuat tenaga, tapi mengapa hariku tetap saja terasa salah. Keadilan, kesalahpahaman, kenyamanan, kebijaksanaan adalah hal-hal rumit yang kadang sulit diwujudkan. Namun jika percaya waktu, mungkin semua akan datang diwaktu yang tepat.

  9. Aku sudah di tahap nggak ngerti lagi apakah keadilan masih ada atau emang sudah menjadi khayalan semata. Soalnya, aku sudah terlalu kenyang bertemu sama hal-hal yang kuanggap nggak adil. Tentu dari kacamataku ya.

    Aku paham sih. Bahwa mungkin ada hal-hal yang luput dari perhatianku yang mungkin saja bisa mempengaruhi penilaianku soal adil atau nggak adil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink