Kecewa berlarut seperti sesuatu yang biasa. Padahal ketika kekecewaan terus dipelihara, perlahan ia berubah menjadi sakit hati yang menggerogoti semangat hidup.
“Hati yang gembira yang manjur adalah obat,
Amsal 17:22
tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”
Kalimat yang menjadi peta rasa dalam tulisan kali ini.
Sore ini busway yang aku naiki terasa sepi. Pukul 06.15 PM, aku melirik arlojiku dan memandang jalanan. Terlihat cukup lengang. Aku berpikir, sepertinya memang saat bulan puasa, waktu seperti sekarang paling tepat untuk pergi.
Khususnya aku yang tidak puasa. Tidak perlu buru-buru sampai rumah untuk berbuka bersama keluarga.
Laju bus begitu cepat dan tidak terasa sampai di tujuan. Tujuan yang di tempuh dengan cepat sore ini mengingatkan betapa berharganya waktu.
Dengan cepatnya sampai, tugas yang menanti bisa dikerjakan lebih awal. Soal waktu, aku seringkali mengatakan pada orang-orang yang datang bercerita dan ingin diarahkan, bahwa waktu adalah satu asset penting yang perlu dihidupi.
Seperti kecewa berlarut yang menjadi sia-sia, karena tanpa sadar sudah mengisi waktu dengan hal yang tidak bermanfaat.

Selain Tubuh, Waktu Adalah Asset Utama dalam Hidup yang Sering Kita Abaikan
Setiap harinya aku selalu mengingatkan pada diri bahwa yang utama di rawat adalah tubuh. Kendaraan roh dan jiwa dalam menjalani kehidupan. Lalu setelah itu aku akan mengingatkan diri bagaimana memperlakukan waktu dengan sebaik-baiknya.
Setiap kita di beri waktu 24 jam sehari, tidak pernah kurang ataupun lebih sedetikpun. Cara memperlakukannya yang akan mencerminkan kehidupan seperti apa kedepannya.
Hal ini perlu sekali diketahui dan penting diingat, untuk sadar bahwa kecewa atau sakit hati itu sesuatu yang sia-sia. Mengapa sia-sia? Mari kita tilik lebih mendalam.
Coba lihat bunga di kuning di atas, apakah terasa indah jika hatimu sedih terluka, kecewa berlarut dengan keadaan yang tidak mendukungmu, orang yang di harapkan pergi tanpa kabar, gaji tidak pernah naik, anak-anak tidak patuh atau banyak hal yang membikin kecewa.
Kecewa boleh, berlarut jangan.
Kekecewaan yang berlarut akan membantuk sakit hati dan jika itu terjadi maka hal yang dirugikan adalah tubuh. Seperti kalimat peta di atas, hati yang patah keringkan tulang. Maksudnya dengan kecewa berlarut seperti hati yang patah dan itu membuat segalanya tidak bersemangat.
Selain tidak mampu melihat keindahan,
apakah dengan tidak bersemangat semua persoalan akan membaik?
Lalu, jika kecewa berlarut dan sampai dengan sakit hati, bagaimana memikirkan tanggung jawab kehidupan, seperti biaya hidup yang sudah menuntut, atau mimpi yang sedang dibangun.
Dengan membuang waktu atas kecewa berlarut, maka tanyaku, yakin mau sakit hati?
Baca juga: Tergores Terluka Boleh – Bernanah jangan – Terbaik – Hidupberkehidupan 2024
Mengapa Kecewa Berlarut dan Sakit Hati Bisa Menjadi Racun bagi Hidup
Sayang, tidak ada yang melarangmu untuk kecewa. Boleh kok, karena kita masih manusia, di beri ego untuk merasakan ketidaknyamanan. Hanya yang kurang tepat itu terus memeliharanya.
Namun perlu untuk disadari kalau, kita ini retan dengan menyenangkan diri. Lupa soal secukupnya. Seringkali kita membiarkan diri diselimuti kecewa, lupa untuk bangkit dan merawat sebuah keiklasan.
Mengapa kecewa berlarut dan sakit hati sia-sia?
Karena jika tidak segera disadari akan luka, dia akan terus merayap seperti racun. Dikit sedikit menghabiskan waktu dan terlebih tubuh.
Marah, sedih, kecewa berlarut dan sakit hati itu seperti membawa tomat busuk. Tanpa sadar bau busuknya tercermin dengan sikap yang muram, pemarah dan semuanya terlihat salah.
Sikap seperti itu sejatinya sudah menjadi racun pada diri sendiri dan kehidupan sekitarnya. Sungguh sesuatu yang sia-sia.
Baca juga: Luka, Amarah dan Kalah – 2016

Hidup Tak Hanya Tentang Saya: Cara Melihat Luka dengan Kesadaran
Sayang, kehidupan ini memang terlihat tidak selalu adil. Seringkali merasa sudah melakukan semua hal dengan tepat, tetapi nyatanya banyak hal tidak berjalan sesuai harapan. Ambil sejenak waktu bersedihmu, tak apa.
Hanya mari terus bangkit berjuang, ada banyak hal menunggumu. Wajah-wajah penuh harap atas pertolonganmu. Mereka kadang tidak pernah paham kalau diri sedang lelah. Mau bagaimana lagi, harapan mereka bergantung padamu.
Saat seperti itulah perlu untuk sadar dengan sepenuhnya, bahwa hidup tak hanya tentang saya. Letih, kecewa, sedih sudah menjadi bagian dari langkah.
Mari kuatkan diri dan terus mengingat bahwa kecewa berlarut apalagi sakit hati itu hal yang sia-sia, terlebih mengingat bahwa segalanya terhubung. Jika luka tidak di pulihkan, maka akan menyebar ke yang lainnya.
Di sinilah kesadaran diri penting di rawat. Mengingat terus bahwa hidup tak hanya tentang saya.
Baca juga: Self Awareness: Mengapa Kita Bereaksi dalam Relasi dan Keputusan Hidup – Peta Rasa 38
Akhirnya
Semuanya perlu diingat selalu bahwa sedih, marah, kecewa berlarut apalagi sakit hati akan membuang waktu, meracuni diri yang berdampak meracuni orang lain, dan paling sia-sia ketika semuanya itu melupakan bahwa tugas insan adalah menjadi bermanfaat buat orang lain.
Bagaimana menurutmu? Punya pengalaman tentang kecewa berlarut dan sakit hati? Yuk share di kolom komentar. Dan terima kasih ya sudah membaca tulisan ini sampai selesai.
Selamat berproses berkehidupan.
Jakarta Selatan, 11 Maret 2026
Ditulis untuk kamu yang kecewa dengan kehidupan yang terasa melelahkan dan peluk sayang dari jauh.

