Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka, apakah yakin sudah merdeka? mari kembali melihat bahwa kemerdekaan adalah pilihan. Mungkin ada yang merasa sudah muak dengan apa yang terjadi, tetapi tetap teguh dalam tekanan itu adalah sebuah pilihan.
Bersoal tentang pilihan kadang juga tidak bisa dilakukan, ada banyak keadaan menempatkan diri berlaku tanpa bisa memilih. Tetapi satu hal yang bisa diupayakan adalah bagaimana kemerdekaan diri dari rasa keterikatan.
Saat badai tetap percaya bahwa akan berlalu, ketika malam ingat kalau akan datang siang. Atau keadaan tidak berpihak, memilih tetap tenang. Memiliki kekuatan untuk terbebas, dari keterikatan dalam tekanan hidup sebuah cara hidup sejati.
Tiba-tiba burung merpati itu genit menggoda, “teorinya begitu, tapi apakah bisa melakukannya?”
Lalu diri termenung, tidak mudah memang tetapi ada banyak tokoh mampu melakukannya dan Nik Sukacita juga sudah mampu dalam kisah Aku dan Tokoh di sembilan Senin lalu, mengapa diri tidak bisa?
Kemudian merpati itu berceloteh menjawab, “tenang, semua bisa jika ada kemauaan dan coba siapkan kopi atau teh hangatmu dan baca dengan tenang apa yang di bagi dalam tulisan kemerdekaan adalah pilihan, sebagai series ke sepuluh.”
Bagaimana tokoh-tokoh dunia menemukan kekuatan tak tergoyahkan di tengah tekanan hidup?
Memutuskan kemerdekaan adalah pilihan, sebagai series kesepuluh, Senin Aku dan tokoh ingin melihat kembali semua tulisan sebelumnya. Menyelaraskan dengan momen penting, bumi pertiwi sedang merayakan kemerdekaan.
Aku buatkan tabel list tulisan series Aku dan Tokoh untuk bisa jadi gambaran. Tokoh-tokoh yang sudah kita bahas dalam seri ini, sama-sama menghadapi tekanan yang bisa menghancurkan. Tapi mereka memilih: tetap teguh. Dari sinilah kita belajar, bahwa kemerdekaan adalah pilihan, bukan hasil keadaan.
| # | Judul & Tokoh | Kisah Singkat | Makna / Tema |
|---|---|---|---|
| #1 | Kesadaran Membentuk Keberanian – Winston Churchill | Menceritakan perjalanan mengatasi kesulitan hidup: dari merantau dan jadi pengasuh anak, bertahan dengan gaji pas-pasan, hingga memilih pindah demi menjaga prinsip. Semua langkah lahir dari kesadaran situasi dan nilai yang dipegang, bukan spontanitas. | Keberanian sejati lahir dari kesadaran hidup yang menuntut langkah, meski jalannya sulit – itu adalah bentuk kemerdekaan dari ketakutan dan keterbatasan. |
| #2 | Ketika Tegas Tak Lagi Harus Melukai – Nelson Mandela | Kisah tentang bagaimana Mandela dalam penjara belajar menyalurkan amarah dan keteguhan menjadi sesuatu yang bermakna. Menyadari bahwa kejujuran terhadap diri dan keadaan—bukan sekedar emosi-lah yang memberi kekuatan sejati. | Kemerdekaan adalah mampu menata emosi, bersikap tegas tanpa harus menyakiti- itulah jalan menuju kebebasan dalam hubungan dengan diri dan dunia. |
| #3 | Sukacita sebagai Kekuatan Hidup – Gene Wilder | Mengangkat kisah Gene Wilder (Willy Wonka) yang memilih sukacita sebagai kekuatan, meski tengah berjuang melawan Alzheimer. Mengambil tiga pelajaran penting: menghargai waktu, tidak hidup dalam rasa takut, dan memilih sukacita di tengah penderitaan. | Kemerdekaan sejati adalah memilih sukacita sebagai kekuatan hidup—bukan reaksi, tapi tindakan sadar dalam menghadapi tantangan. |
Kemerdekaan adalah pilihan juga aku ambil dari film untuk series Aku dan Tokoh.
| Episode | Judul & Tokoh | Kisah Singkat | Makna / Tema |
|---|---|---|---|
| #4 | Kenapa Liburan Tak Menyembuhkan? – Alexandra David-Néel & Etty Hillesum | Isolasi sejati bukan soal lokasi, tapi apakah kita sadar membuka diri. Diri sendiri sebagai tokoh, menunjukkan bahwa pulang ke diri lebih penting daripada pelarian fisik | Bebas sementara tak cukup, kemerdekaan batin datang dari kesadaran diri sendiri. |
| #5 | 5 Kembar Kehidupan yang Tak Terpisahkan – Lao Tzu | Logika vs hati, kasih vs keadilan, sulit vs mudah; semuanya saling melengkapi dan bukan untuk dipilih | Kemerdekaan hidup adalah keseimbangan, tidak terjebak ekstrem, tapi harmoni. |
| #6 | Squid Game dan Cermin Kehidupan | Tekanan hidup seperti sistem yang memaksa kita “bermain” tanpa sadar. Masih ada ruang untuk memilih langkah yang menghidupkan, seperti menolong di tengah sistem yang menekan | Merdeka bukan berarti lepas dari sistem, tapi punya kesadaran memilih aksi yang manusiawi. |
| #7 | Apa Coaching Selalu Berhasil? – (belum dirangkum detail) | Kisah nyata dua coachee—satu bertumbuh, satu terjebak. Dinamika pilihan dan dukungan yang tak selalu menghasilkan “sukses” universal | Kemerdekaan adalah hak memilih jalan yang sesuai, bukan hasil yang dipaksakan. |
| #8 | Penolakan Amarah Bangkit – Jean-Jacques Rousseau | Dari penolakan, keterasingan, hingga bangkit lewat menulis dan kesadaran. Menulis menjadi jalan mengolah luka menjadi makna | Kemerdekaan adalah proses bangkit dari dalam, menjadikan luka sebagai kekuatan pemaknaan. |
| #9 | Kebaikan yang Dianggap Bodoh – Toyohiko Kagawa | Keteguhan berbuat baik di tengah kritikan; hidup bersama kaum miskin sebagai solidaritas sejati. Kebaikan tulus itu kuat meski dianggap bodoh | Kemerdekaan adalah berbuat baik tanpa pamrih—kebebasan hati yang lebih besar dari penilaian. |
Sembilan series Senin sebelumnya mengambarkan, bagaimana aku dan tokoh dihadapkan pada tekanan hidup begitu besar, tetapi tidak menghalangi langkah untuk mencapai tujuan. Terlepas dari rasa yang mengikat dan dengan itu mencerminkan kemerdekaan adalah pilihan.
Memilih tidak terikat dengan penderitaan, kepedihan, duka apalagi marah pada hidup. Merdeka atas keterikatan rasa tidak hanya soal kesedihan tetapi juga kesenangan, yang kadang menjerat langkah menjauh dari tujuan.
Sembilan minggu mengulik, tentang tokoh yang selaras dengan langkahku, mereka hidup ratusan tahun tetapi menjadi contoh bagaimana kemerdekaan adalah pilihan, memilih tetap kuat dalam tekanan hidup.

Bagaimana dengan diri dalam Bumi Pertiwi? – Kemerdekaan adalah Pilihan
Apa hubungannya dengan diri dengan bumi pertiwi, Indonesia tempat lahir, tumbuh dan hidup?
Delapan puluh sudah merdeka, apakah kita benar-benar menikmati dengan baik kemerdekaan itu. Atau jangan-jangan kita sendiri menodainya? Semoga bukan kita ya, aku dan kamu yang bertemu dengan tulisanku ini dan membaca sampai saat ini, bukan sebagai insan yang mengeluh, atau sering kritik berlebihan pada bumi pertiwi.
Terlebih pada pemerintahan, regulasi atau apapun yang membuat kita merasa tidak nyaman hidup di negeri ini. Kita mungkin sadar, betapa negeri yang disebut Indonesia ini begitu kaya. Tetapi apakah sungguh-sungguh sadar untuk menjaga, atau berkorban membuat kekayaan itu terus hidup?
Aku mungkin tidak bisa mengambil contoh yang bukan ranahku. Sebagai pencinta alam dan penikmat perjalanan, aku berjanji pada diri sendiri kalau belum menempuh ujung barat Sumatera sampai dengan timur Papua dan pulau besar Indoensia, tidak mau menginjakkan kaki negeri orang.

Bukan tidak mau mengenal pihak lain, tetapi lebih ke melihat diri sendiri, seperti apa Indonesia dari dekat. Selain itu aku berpikir kalau traveling di negeri sendiri, tentu akan membuang uang ke negeri sendiri, yang mendapatkan rejeki adalah orang kita sendiri.
Baca juga: Langkahku di Indonesia – Terbaik Bumi Pertiwi – Part 1
Terbaik Bumi Pertiwi – Langkahku Indonesia – Part 2
Wujud cintaku pada pertiwi sudah aku lakukan, setelah menginjakkan kaki semua pulau besar Indonesia, beru setelah itu aku pergi ke negeri orang.
Baca juga: 2 Hal Paling Berkesan Saat Menikmati Lounge Rooftop Bar Marina Bay Sands Singapura – Hadiah hidup melalui Sahabat dan Ketika Infinity Pool Malaysia memanggil – Cintanya Hidup 2023
Lalu, apa hubungan dengan tekanan hidup?
Semoga pembaca masih mau dengan sabar meneruskan membaca kemerdekaan adalah pilihan sampai selesai ya.
Indonesia adalah kita – Happy Anniversary 80 RI
Kemerdekaan adalah pilihan, hal yang aku pilih untuk memperingati ke 80 RI, sebagai wujud cintaku ingin mengajak untuk mengingat, bahwa seburuk apapun negeri ini tetaplah ini rumah sendiri.
Lahir, tumbuh dan hidup. Mencintainya itu hal penting karena jika tidak, bukankah itu seperti menolak diri sendiri?
Mungkin negeri ini semakin mengesalkan dengan segala regulasi atau banyak ketidakadilan, tetapi bukankah kita punya pilihan untuk terus merdeka dalam diri sendiri. Merdeka tidak perlu mengeluh terlalu sering, bebaskan dari prasangka yang belum tentu apa yang terlihat diberita itu benar.
Memilih tetap berpikir baik itu adalah menyehatkan diri dan semesta akan menghadirkan apa yang dipikirkan serta diucapkan. Konon apa yang keluar itu yang menentukan.
Bagaimana bisa kehidupan akan memberkati, jika pikiran, ucapan dan laku selalu mengutuk?
Semoga kita tetap sadar bahwa seperti apapun negeri ini, itu adalah diri kita sendiri. Dengan itu, mencintainya dengan ketulusan dan berupaya memberikan yang terbaik.
Aku dan Tokoh Merdeka atas tekanan hidup
Mungkin jika ditanya soal bagaimana kecewa atas system negeri, sudah dirasakan saat dalam kandungan. Orang tua adalah satu korban yang tidak bisa aku ceritakan. Aku punya alasan kuat untuk tidak perduli pada pertiwi, tetapi nyatanya aku tetap mencintai dengan sepenuh hati.
Kemerdekaan adalah pilihan, itu yang jadi acuanku. Memilih untuk terlepas dari belenggu dendam.
Begitu juga dengan salah satu tokoh yang aku tulis dalam series Senin, seorang Nelson Mandela, bahkan dalam penjara dia tetap merdeka jiwanya. Mengubah ketidaknyamanan dengan fokus akan tujuan. Tidak marah pada keadaan tapi mengubahnya menjadi makna, membawa kedamaian.
Baca tulisanku tentangnya di Nelson Mandela dan Aku: Ketika Tegas Tak Lagi Harus Melukai – Tokoh Part 2
Kemerdekaan adalah pilihan, terutama pada diri sendiri. Berupaya untuk tidak mengikat pada apapun sebuah kekuatan menuju hidup sejati.

Akhirnya,
Mencintai negeri bukan soal romantisme belaka. Setiap cinta selalu diuji, begitu juga dalam mencintai negeri, ujiannya sering hadir sebagai tekanan hidup yang nyata. Tapi kebebasan atau kemerdekaan adalah pilihan. Dengan mencintai tempat kita berpijak, kita belajar bertahan, menemukan arah, dan tetap teguh meski negeri atau keadaan tidak bisa dikendalikan.
Pijakan menentukan keteguhan dan nurani logika adalah kemudinya.
Aku dan para tokoh pendahulu sudah membuktikan dan tentu masih banyak insan juga sudah membuktikan. Semoga pembaca yang belum bisa jadi kekuatan dan mampu melakukannya.
Tulisan ini hanyalah sudut pandangku. Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Kalau kamu sedang menyeruput kopi atau teh hangat seperti yang disarankan merpati genit tadi, mungkin kamu juga punya refleksi tentang kemerdekaan yang ingin dibagikan. Atau mungkin ada satu tokoh yang membuatmu sadar bahwa kemerdekaan adalah pilihan.
Barangkali kamu mau berbagi di kolom komentar – aku akan senang sekali membacanya dan mungkin, dari sana, lahir tulisan Senin berikutnya.
Jakarta, Agustus 2025
Ditulis 01.05 AM, tanda cinta pada hidup setelah seharian penuh dengan kegiatan.


7 Responses
Kalau dibilang kita merdeka atau nggak, tentunya tergantung dari sisi yang merasakannya sendiri, karena bisa saja ada yang merasa sudah merdeka karena tidak ada penjajahan dari bangsa asing, tetapi bisa saja ada yang merasa belum merdeka karena penjajahan terjadi dari bangsa sendiri, sebagaimana yang tengah ramai di medsos
Luar biasa perjuangan mba melahirkan tulisan ini. Dini hari banget, setelah lelah beraktivitas masih menyempatkan 🤩 💯 sungguh inspiratif dan upaya yang bikin takjub.
Iya, Indonesia sudah merdeka mba ke-80 tahun. Namun memang tak bisa menutup mata kondisi merdeka ini berlaku untuk sebagian golongan saja. Rakyat biasa hanya bisa memerdekakan diri dari segala kepayahan dengan lebih keras berkegiatan, berusaha. Mencintai negeri ini memang harus siap tak terbalas, atau bertepuk sebelah tangan. Namun nggak usah lelah atau menyerah, teruslah teguh mencintai jika ada kesempatan untuk memperbaiki yang rusak maka perbaiki dengan adab dan ilmu. Sehingga perlahan bangkit ke arah lebih baik.
Terima kasih atas tulisannya, membuat lebih merenung dan bertanya pada diri sendiri. Sedalam dan sekuat apa mencintai negeri ini?
Setuju banget Mbak Nik, penting untuk belajar dari para tokoh dunia tentang keberanian, kejujuran dan cara meraih kebahagiaan karena hidup di masa kini memang sedang sulit harus tetap stay positive
Tetep siih.. ka Nik.. akutu kalau melihat negeri ini dan mengartikan dengan kata “merdeka” asaaa tidak merdeka.
Tapiii.. sejatinya kalau aku pikir-pikir lagi, yang berarti merdeka itu tetap terikat dengan aturan dan norma yang berlaku yaa.. Kalau kebijakan pemerintah uda offside gituu.. rasanya gemeess jugaa.. berasa “Mau dibawa kemana negeri ini?” – sebab semua permasalahan belum usai, uda muncul masalah baru.
Sedih rasanyaa..
Aku masih belum merdeka
Kebebasan untuk terus belajar dan menjalankan apa yang aku suka masih sering bertentangan dengan ijin pasangan
Katanya aku kalau sudah punya prioritas maka diminta untuk fokus itu
Padahal merdeka untuk sekadar keluar menjalankan kegiatan positif tuh seperti dapat runtuhan emas
Tulisan yang inspiratif
Mengisi perayaan kemerdekaan dengan meneladani kisah tokoh dunia agar kita mampu mengambil banyak insight ya mbak
Setuju sama poin akhirnya. Kadang kita gampang terjebak ngeluh soal keadaan, padahal kalau mau jujur, sikap kita sendirilah yang nentuin rasa merdeka itu. Apalagi pas nyambungin ke Indonesia, bener juga, meski banyak bikin kesel tetap rumah sendiri. Jadi memang balik lagi ke pilihan, mau terus keikat sama rasa kecewa atau tetap jalan dengan hati yang merdeka.
Aku suka soal lepas dari penderitaan tapi juga dari kesenangan yang menjerat. Itu ngena banget, karena sering kali kita nggak sadar justru hal yang bikin nyaman bisa jadi belenggu. Jadi kalau bisa berdiri teguh di tengah tekanan sambil tetap punya hati yang bebas, rasanya itu level merdeka yang sebenarnya. MERDEKAAAA!!!