#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Kesehatan Mental mulai dari penerimaan – Cara Tenang Markus Aurelius – Aku dan Tokoh #15

Bagikan

Sepertinya hari semakin menguji kesehatan mental tiap orang. Ketika bulan belakangan semakin banyak insan yang datang padaku menumpahkan persoalan. Tekanan makin bertubi dan aku menerima itu dengan tetap sukacita, walau dengan penuh berjuangan.

Mengapa tetap sukacita ditengah muramnya kehidupan?

Karena itu namaku, eh tidak hanya itu ya (tersenyum simpul) Maksudnya karena memilih bersukacita selalu sebuah energi baik buat langkah, itu yang bisa dilakukan dan ada dalam kuasa diri.

Keadaan tidak bisa diatur bukan? maka diri yang perlu diatur, dengan tetap memilih bersukacita ditengah bertubi-tubinya tekanan.

Lalu,
Bagaimana caranya?

Ketika mengulik tokoh untuk series Senin, AKU dan TOKOH menemukan seorang Markus Aurelius. Seorang kaisar sekaligus filsuf Stoik. Aku tertarik menyelaraskan pemikiranku dengannya dalam tulisan ini, karena dalam penerimaan tumbuh kesehatan mental yang baik. Di mana belakangan banyak orang merasa terganggu.

Sebelumnya aku menulis tentang mencintai lebih kuat, masih dalam menghadapi suramnya hidup, dan kali ini aku melanjutkan dengan menguatkan dalam hal penerimaan.

Jika mencintai rasanya terlalu berat, maka penerimaan satu hal yang perlu di perjuangkan.

Baca Juga: Mencintai Lebih Kuat: Cara Menghadapi Hidup yang Tidak Baik – Kembali ke Akar #14

Kesehatan Mental
Kesehatan Mental – Menerima dengan cara melihat dari sudut berbeda

Kemudian melalui seorang Marcus Aurelius aku belajar bagaimana penerimaan sebagai cara hidup tenang membawa kesehatan mental yang baik.

Belajar Penerimaan Hidup dari Kutipan Marcus Aurelius

Marcus-aurelius-tokoh-stoicism- Kesehatan Mental dari Penerimaan
Marcus Aurelius-tokoh stoicism Kesehatan Mental dari Penerimaan

“When you meet someone, remember: he too is a human being struggling with his own burdens.” (Marcus Aurelius)

Kalimat singkat ini menyadarkanku akan lapisan makna yang dalam. Memberi pengertian atas berempati, mengajak untuk menumbuhkan welas kasih sebagai akar penerimaan.

Saat membaca tulisan Frontiers in Psychology aku menemukan bagaimana para peneliti menjelaskan terbentuknya welas kasih: dimulai dari kesadaran akan penderitaan orang lain, berlanjut ke resonansi emosional, lalu berkembang menjadi dorongan peduli dan menerima.

Aku banyak merenung ketika membaca tulisan itu dan diberi pemahaman tentang prilaku. Dalam pembentukan itulah lahir penerimaan. Dan hal itu pada akhirnya justru memberi kelegaan bagi diri kita sendiri.

Jika bicara soal tokoh hari ini seorang Marcus Aurelius, aku yakin insan yang tahu tentang stoic pasti mengenal tokoh besar ini. Untuk yang belum mengetahui, aku beri gambaran sekilas tentangnya dan sebagai pengingat kembali yang sudah mengenalnya.

Marcus Aurelius bukan hanya seorang Kaisar Romawi, tetapi juga filsuf yang dikenal sebagai the philosopher king. Ia menulis catatan pribadinya dalam buku Meditations, bukan untuk dipublikasikan, melainkan sebagai pengingat bagi dirinya sendiri. Justru dari catatan sederhana itu, dunia belajar banyak tentang bagaimana menghadapi hidup dengan tenang.

Kekuatan Marcus ada pada pandangannya yang membumi: meski memimpin sebuah imperium, ia sadar bahwa setiap orang, dari budak hingga kaisar, sedang berjuang dengan bebannya masing-masing. Dari sanalah lahir ajarannya tentang empati, penerimaan, dan hidup sesuai dengan yang bisa kita kendalikan.

Berdasarkan tentangnya itu aku mengambil dia sebagai tokoh kali ini sebagai menyelaraskan pemikiranku tentang kesehatan mental, di mana melihat tentang penerimaan sebagai cara tenang mengatur kehidupan yang sedang banyak mendidik para insan saat ini.

Tentang stoic sendiri temukan lebih lengkap dalam tulisan detik.com yang menurutku bisa jadi pilihan untuk lebih singkat memahami dan menerapkan dalam kehidupan.

Baca juga tulisanku sebelumnya tentang penerimaan:

Kendalikan Pikiran dan Lakukanlah yang Bisa – Langkah Aku Menemukan Penerimaan Hidup

Kesehatan Mental

Aku memandang kopi di depanku, sambil melihat teras didepan dengan langit cukup cerah saat itu. Bayangan insan yang datang padaku belakangan ini membuatku banyak merenung. Memanggil kembali perjalanan hidupku. Hingga di satu titik seorang adik berkata padaku.

“Kak, dari kisah hidupmu, kalau aku sih merasa sah saja kalau kakak mengambil langkah jahat, tetapi nyatanya kakak lebih memilih cara sebaliknya, banyak merangkul jiwa yang retak.”

Kalimat yang kudengar kala itu menjadi satu penghargaan terbesar. Membawa energi baik karena bangga pada diri telah memutuskan dan memilih menjadi sukacita pagi orang yang sedang pedih dalam menghadapi hidup.

Sejujurnya aku tidak mengenal teori stoic ataupun tokoh hari ini. Apa yang aku lakukan tentang memilih kendalikan pikiran dan lakukan yang bisa, sudah jadi kebiasaanku di puluhan tahun lalu.

Sedangkan aku mengenal teori stoic tahun lalu, ketika membaca sebuah buku yang menjelaskan hal itu. Memilih bersikap atau berlaku sukacita dan hal baik ditengah pengalaman hidup yang begitu pahit, semata hanya mengerti itu cara terbaik dan tenang untuk menyelamatkan kesehatan mental.

Tidak hanya itu buku-buku yang aku baca mengajarkan, apa yang jadi prilaku saat ini akan membentuk kehidupan diri di masa depan. Tidak mudah memang, jika itu baik mengapa tidak dilakukan.

Waktu terus berlalu dan apa yang jadi pilihanku, bagaimana mengendalikan pikiran dan melakukan hal yang bisa, tidak larut dalam kepedihan atas sikap hidup yang suka ugal-ugalan membuahkan hasil.

Seperti bagaimana ketika aku memilih tetap menolong dengan tulus orang yang telah memutuskan rejekiku.

Baca di tulisan: Semua Akan Kembali Padamu – Rahasia Waktu – 2016

Dan banyak kemudahan lainna hadir dalam langkahku. Walaupun hidup terus menguji dan memberi materi-materi untuk aku selesaikan dengan baik.

Cara Tenang Mengatur Kesehatan Mental – Aku dan Tokoh

Berangkat dari apa yang aku lihat dari tokoh seorang Marcus Aurelius dari kutipannya, menyelaraskan dengan langkahku, memahami bahwa penerimaan dengan tulus sebagai cara tenang mengolah kesehatan mental.

Melihat dan menerima bahwa setiap orang memiliki bebannya, sehingga empati dan welas kasih ada. Dengan itu menyelamatkan diri dari prasangka atau asumsi.

Kehidupan memang sedang ugal-ugalan mendidik kita dengan caranya, perlu untuk menyadari jika prilaku orang tidak menyamankan butuh sekali menerima dengan cinta kasih, penuh welas kasih. Sehingga itu menyelamatkan diri dan membuat kesehatan mental diri jadi baik.

Kesehatan mental kita jadi baik berawal dari bagaimana kita mengendalikan pikiran, dan itu bisa dilakukan dengan menentukan pilihan untuk bertindak baik, dengan dasar setiap tindakan untuk menyelamatkan semua pihak.

Kesehatan Mental
Kesehatan Mental mulai dari penerimaan

Lihatlah bunga ini, banyak warna tumbuh dengan indah. Semuanya memiliki proses berbeda, dan aku yakin seyakinnya kalau prosesnya dilengkapi dengan hal tidak nyaman. Punya beban tersendiri. Tapi apapun itu tetap tumbuh indah dan saat dipadukan satu sama lain, keindahannya begitu sempurna.

Begitu juga dengan kita semua, tumbuh dan proses yang berbeda dengan kesamaan memiliki beban yang bertujuan untuk membangun dan membuat kehidupan indah pada waktunya.

Lalu,

Marilah tetap kuat, prasangka dengan kehidupan terutama pada orang-orang yang mungkin membuatmu kecewa. Mungkin beban orang itu jauh lebih rumit dari apa yang diri alami.

Sehingga cinta sesungguhnya sudah dilakukan dengan baik.

Bagaimana menurutmu?

Yuk tuangkan pemikiranmu, apakah selaras dengan apa yang kutulis, atau berbeda. Ditunggu dalam kolom komentar ya.

Pasar Minggu, September 2025
Ditulis dalam waktu sedang penuh tekanan target penjualan, yang masih sangat jauh. Butuh Keajaiban.

Bagikan

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

12 Responses

  1. Hati yang gembira adalah obat..ditengah byk masalah saya berusaha melakukan yg terbaik dan tersenyum.berpikir positif ,tidak membalas bila ada yg menyakiti diriku bahkan mendoakan yg terbaik untuk nya.

  2. Semangat mba Nik, semoga segera datang keajaiban itu 😇🙏

    Ketenangan adalah obat, memang paling ampuh dan mujarab dalam setiap situasi dan kondisi seperti apapun dan untuk mencapai level bisa tenang menghadapi berbagai peliknya persoalan tentu harus lulus ujian dulu.

    Tokoh Marcus ini sangat inspiratif dan bisa di petik pembelajaran terkait kehidupannya. Yuk semangat yuk, pasti bisa melalui setiap ujian dan lulus serta naik kelas. Mari menyala dengan lebih indah dan teruslah bersukacita dalam hidup.

  3. Bener banget mbaa karena setiap orang berjuang dengan masalahnya sendiri-sendiri…
    Kadang kita hanya melihat luarnya saja namun kita tidak tahu apa isi hati dan kepalanya, apa yang sedang dia perjuangkan…
    Beberapa kali aku sempat terbersit pikiran yg tidak baik saat melihat tindakan seseorang dan ternyata itu bisa jadi bumerang untukku karena ternyata apa yg aku pikirkan itu sama sekali tidak benar,,,
    Jadi aku juga masih belajar untuk tiidak mudah menghakimi atau menilai tidak baik atas setiap tindakan orang lain hanya karena aku menganggap tindakan tsb bukan hal yang baik

  4. Mbaaa, aku JD banyak belajar nih ttg tokoh2 dunia yg terkenal. Jadi tahu ttg Marcus Aurelius.

    Ttg penerimaan , setujuuuu banget. Jika kita lebih bisa menerima, ntah itu kesalahan orang lain, permintaan maaf, takdir, jodoh, rezeki, jalan hidup kita akan lebih adem ayem tentrem. Krn kita percaya segala sesuatu sudah ada alurnya.

    Daripada mikirin hal negatif yg dilakukan orang lain ke kita, atau mikirin sakit hati yg dialami dan niat balas dendam, bukannya lebih bagus maafkan dan move on aja.

    Krn yg capek kita. Yg rugi kita juga. Lelah pikiran tau ga. Aku pernah ngalamin. Dan ga enak masih nyimpan sakit hati. Hidupku jadi ga bahagia. Kan yg rugi aku jadi nya kalo memutuskan utk tetep dendam.

    Jadi aku memilih maafkan, terima kalau itu memang takdir. Toh nanti segala sesuatunya akan ada pengadilan sendiri. Udahlah, serahin aja ke Yang Maha Kuasa. 😁

  5. “When you meet someone, remember: he too is a human being struggling with his own burdens.” Keren banget ya kalimatnya. Menandakan tidak ada manusia di dunia ini yang hidupnya sempurna. Semua berjuang dengan cobaannya masing-masing.

    Penerimaan memang jalan paling ampuh untuk hidup tenang. Tidak banyak ekspektasi.

    Akhir-akhir ini saya sedang berlatih menerima bahwa semua manusia akhirnya akan meninggal agar tidak terlalu takut menghadapi kematian atau pun perpisahan karena kematian itu sendiri. Tidak mudah memang, tapi semua pasti akan tiba waktunya.

  6. Yup, setiap orang mempunyai permasalahannya masing-masing dan berjuang dengan caranya masing-masing untuk mengatasinya. Tak perlu judging cukup berempati saja, karena belum tentu kita bisa menghadapinya lebih baik
    Kitapun hanya bisa mengendalikan diri sendiri, tapi saya yakin untuk tetap berprasangka baik

  7. TENANG
    Ini ilmu yg mahaall banget 😍
    apalagi di dunia yg makin berisik dan banyak distraksi

    Tapi aku sepakat dgn semua ulasan di artikel ini.
    Semoga kita bisa ya meraih rasa tenang

  8. Kadang di benak aku pun sering muncul doa2 jahat kalau lagi ketrigger hal2 yhang bikin aku sedih T.T. Kadang nrimo tu gak sepaket dengan melupakan gitu, gak tau gimana caranya ya biar sepaket haha 😛
    Secara teori mulai teori di buku filosofis sampai teori agama pun sebenarnya yaa kita udah diajari kalau maju jadi indah memang kadang jalannya gak mudah dan gak nyaman, tapi tetep aja yaa manusia haha.
    Cuma memang kudu diingat bahwa ada hal2 yang bisa kita kendalikan. misal kalau mau balas dendam, otak kita mikir lagi, ini sepadan atau gak. Kyknya emang mental yang sehat akan mengontrol juga kelakuan kita ini. Lebih butuh ke pengalihan aja ke hal2 yang lebih baik supaya gak terpaku pada yang buruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink