#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Krisis Iklim atau Krisis Kesadaran? Ketika Bumi Berkata Cukup – Aku danTokoh (Bumi) #22

Mungkin Bumi tidak sedang marah, Ia hanya sedang berkata cukup melalui krisis iklim yang terjadi. Cukup untuk keserakahan, Cukup untuk lupa pada batas.

Terlalu banyak batas yang di abaikan, begitu hal yang tiba-tiba terlintas dalam benak ketika melihat konten Ria. Tersadar, benar adanya sampai hukum adat-pun semakin tak di pandang dengan hormat. Sedangkan, hukum adat sering menyelamatkan kehidupan.

Contoh nyata masyarakat Bali, ketika merayakan Nyepi. Secara adat tidak bisa diganggu. Bahkan aturan dunia yang memerlukan pencahayaan-pun tak bisa menghapus tradisi tersebut. Mungkin saja dunia melihat ini hanya tradisi yang penting untuk dilakukan oleh masyarakat Bali. Umat Hindu khususnya.

Tetapi pernahkah menyadari kalau dengan tradisi itu, memberi nafas sejenak pada Bumi, pada semesta untuk bersenang. Tanpa ada cahaya buatan manusia, termasuk suara apapun.

Ketika manusia memberi ruang dengan berhenti melakukan ritmenya, maka alam semesta bersukacita dan memberi hadiah pada semua. Contoh nyata bintang-bintang dilangit begitu terang terjelas.

Dengan tradisi Nyepi, seberapa banyak hal diselamatkan?

Berangkat dari sana, marilah sejenak beri ruang untuk membaca tulisanku selanjutnya, barangkali dengan menikmati secara tenang dan utuh mengetahui, bagaimana cara mengerti kalau bumi sedang berkata cukup dalam krisis iklim.

Atau mungkin dengan melihat lapisan maknanya, bisa jadi bukan krisis iklim yang terlihat, tetapi sebenarnya kita sedang krisis kesadaran akan kecukupan.

tempat terbaik untuk menikmati Gunung Batur - Krisis Iklim
Mengurangi Krisis Iklim dengan menghormati aturan adat. – Gunung Batur Bali

Baca juga: Jineng Bali dan Pitutur – Warisan Jiwa Tentang Nilai Kehidupan – Kembali ke Akar #8

Mengapa krisis iklim bukan sekadar masalah lingkungan

Bagaimana jika krisis iklim hanyalah bahasa lain dari Bumi untuk mengajak kita melihat ulang makna “berkehidupan”?

Jika di tanya soal makna berkehidupan, mungkin terasa berat bagi jiwa-jiwa yang sudah lelah dengan tekanan waktu. Tetapi pernahkah menyadari, kalau tekanan waktu itu berasal pada kita sendiri, yang semakin jauh dari tujuan mengapa kita ada dalam kehidupan ini.

Merawat dan melanjutkan hidup. Akar terbesar dari makna berkehidupan.

Merawat bukan memaksa dengan terus mengambil isi bumi. Melanjutkan kehidupan, bukan mematikan rasa dengan “memperkosa” tanpa perduli bumi sudah sangat lelah.

Tidak ada yang salah, kalau pohon ditebang untuk kebutuhan manusia itu sendiri, karena tujuan alam-pun untuk memberi kehidupan pada manusia, tetapi seberapa sadar saat mengambilnya, lalu merawatnya dengan menanam kembali?

Tidak hanya itu, jika merawatnya saja seperti mengambil sepuluh, semestinya menanam sepuluh. Tetapi yang ada mengambilnya tanpa ada menanam kembali. Terus menerus tanpa perduli kalau itu berdampak pada siklus kehidupan.

Bukankah itu seperti memperkosa? Memaksa memuaskan nafsu manusia yang ingin terus memiliki lebih.

Kemudian, dengan hal itu tidakkah logika dan nurani memberi hikmat, kalau mungkin krisis iklim ini bukan sekedar masalah lingkungan, tetapi lebih jauh dari itu. Yaitu krisis kesadaran manusia itu sendiri, tentang kata cukup dan melupakan tujuan manusia ada dalam kehidupan.

Baca juga: Apa seh Hidup Berkehidupan – Menilik 3 hal tentangnya

5 Rahasia ketajaman intuisi - Krisis Iklim

Cara sederhana merawat Bumi dan diri sendiri

Berangkat dari kesadaran kalau ini tidak hanya soal krisis iklim, bukan hanya sekedar masalah lingkungan, tetapi pada bagaimana cara insan memperlakukan alam semesta.

Melalui pengalaman atas kehidupan yang sudah aku lalui, ada dua cara utama yang penting, untuk merawat bumi yaitu mulai dari dari diri sendiri dan tidak bosan dengan konsisten mengajak orang terdekat untuk melakukannya juga.

Dengan penuh kesadaran, komitmen, konsisten melakukan hal ini,

1. Gunakan Secukupnya untuk semua hal kebutuhan harian

  • Apakah yang kusebut “butuh” selama ini benar-benar kebutuhan, atau sekadar kebiasaan yang belum kusadari?

Setiap orang memiliki kebutuhan tersendiri, tetapi penting sekali menyadari kebutuhan tersebut apakah benar-benar membuat diri, lingkungan membawa pertumbuhan? Tanpa ‘menyakiti’ keadaan?

Mungkin perlu melihat kembali, sungguhkah kebutuhan atau hanya sebuah keinginan. Contoh sederhana, ketika membeli tas atau sepatu dan kebutuhan diri tidak berlebihan. Coba lihat isi lemarimu, sudahkah mencerminkan cukup untuk kebutuhan atau hanya keinginan.

  • Berapa banyak hal kecil dalam keseharian – dari air, listrik, hingga makanan, yang digunakan tanpa rasa terima kasih?

Hal sederhana paling dasar mengapa kehidupan sedang mengajarkan kecukupan, bukan hanya masalah lingkungan dengan krisis iklim, yaitu bagaimana diri melakukan kebiasaan kecil harian terhadap air, listrik hingga makanan.

Menggunakan air, listrik secukupnya, ketika menggunakan AC atau lainnya. Atau menggunakan keperluan harian seperti sabun, odol dan perlengkapan mandi lainnya. Bukan soal irit ataupun hemat, tetapi jika menggunakan dengan secukupnya dan tidak hanya diri tapi banyak orang melakukannya, bukankah hal itu membawa dampak baik pada bumi?

Lalu, soal makanan, ini juga perlu sekali jadikan kebiasaan, secukupnya saja. Habiskan piringmu, berterima kasihlah pada rejeki makanan di piringmu dengan bertanggung jawab menghabiskannya. Buatlah kebutuhan secukupnya, tidak perlu berlebih.

Berjaga-jaga tentu saja baik, tetapi jika berlebih akan berdampak banyak. Segalanya punya keterhubungan. Membuat makanan berlebih tanpa menghabiskan, akan menumpuk sampah dan hal ini akan menambah beban pekerjaan kita atas persoalan sampah yang semakin banyak.

  • Bagaimana rasanya hidup dengan kesadaran “secukupnya” – bukan karena takut kekurangan, tapi karena percaya bahwa yang cukup selalu membawa damai?

Setiap hari memiliki kesulitannya sendiri dan akan selalu ada cara hidup memberi ruang untuk menyelesaikannya. Kalimat itu jadi landasanku untuk terus belajar mencukupi diri untuk apapun.

Percaya kalau kehidupan memiliki cara mencukupkan kebutuhan. Berjuang sebaik-baiknya, jika di beri lebih, simpan atau beri pada pihak lain. Karena saat musim subur atau berlimpah datang, itu cara hidup mengajarkan untuk menyimpan dan berbagi.

Jika ada musim subur, maka akan ada namanya musim kering atau kekurangan. Semua hal memiliki dua sisi.

Lalu, Dalam setiap perubahan cuaca dan bencana, apa makna yang sedang diminta hidup untuk kita ubah terlebih dulu?

Berangkat dari pertanyaan diatas, menyadarkan bahwa penting untuk menggunakan kebutuhan harian dengan secukupnya dan menghormati bumi. Dan dengan itu, bisa membantu menyembuhkan krisis iklim yang sedang terjadi.

Baca juga: Rumah Kaca – Ketika nurani babak belur saat tidak mampu mengatakan cukup – 2016

2. Hormati Hukum Adat Sekitar

Hal kedua yang dilakukan untuk merawat kehidupan, memberi kesadaran untuk menghormati hukum adat.

Sebagai orang Bali dengan latar belakang adat yang kuat. Aku sendiri sangat merasakan bagaimana hukum adat bisa jadi pagar yang kuat untuk bisa menjaga kehidupan dengan baik.

Terlebih soal alam dan segala isinya.

Kita seringkali berdalih, mengejar kemajuan hidup tetapi melupakan arti hidup itu sendiri. Hidup yang bertumbuh membawa kebaikan pada semua pihak, termasuk alam.

Alam ada untuk kebutuhan manusia, tetapi bukan berarti bisa semena-mena. Dia juga punya hak untuk berkata cukup, melalui peristiwa krisis iklim yang terjadi.

Dan hukum adat yang sudah dibuat sebelum era kata modern ini lahir, menurutku lebih memahami bagaimana semesta ini bekerja dan perlu untuk menghormati dan mendukungnya.

Pink Beach dan JEEVA Beloam - Krisis Iklim

Baca juga: 5 Rahasia Ketajaman Intuisi yang Bisa Dipelajari dari Alam

Aku dan Tokoh (Bumi) – Krisis Iklim atau Krisis Kesadaran?

Kemudian, tulisan ini aku bagi sebagai series Senin, Aku dan Tokoh, mengambil Bumi sebagai tokohnya. Melihat lebih dekat, apa yang terjadi belakangan ini, krisis iklim mencerminkan kalau kehidupan sedang sakit, alam sedang mengajarkan cukup.

Mungkin ia sedih dengan prilaku kita yang semena-mena, sering menuntut tapi lupa merawatnya.

Barangkali saatnya lebih sadar untuk gunakan kebutuhan harian dengan secukupnya dan hormati hukum adat yang mencintai alam semesta. Cara sederhana merawat alam semesta.

Dan juga, mungkin Bumi tak butuh diselamatkan, tapi butuh didengarkan.
lalu bagaimana caramu mendengar dan merawatnya hari ini? Tulis di kolom komentar yuk.

Baca juga series Senin sebelumnya: Aku dan Tokoh

Serpong, 10 November 2025
Ditulis sambil mendengar musik Jazz dan membayangkan jika Bumi seorang perempuan, betapa sedihnya karena sering dituntut tanpa ada rasa cinta.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

40 Responses

  1. Setuju Kak Nik. Walau bumi memberi banyak pada manusia tapi emang harus sadar diri dan ambil secukupnya saja. Jangan rakus.
    Tapi sedihnya kalau ada eksploitasi alam dan rakyat (plus negara) yang dirugikan.

  2. Akh iya bener banget, sebetulnya kesadaran banyak orang yang mulai bergeser menjadi Maruk dan serakah ya. Plot twist, di ending kalau bumi perempuan 🥹🥹🥹 kebayang betapa nyeri dan sakit tak berujung karena terus menerus di eksploitasi tanpa henti.

    Iya, tamak dan rakus. Hanya ingin memperkaya diri dengan tujuh turunannya padahal, kalau bumi rusak manusia tidak bisa hidup dengan nyaman dan aman. Seperti sekarang, udara makin tercemar dan banyak yang menyakiti orang penjaga adat, dengan alasan mereka tidak logis. Padahal, masyarakat adat dan segala upaya menjaga alam beneran aksi baik yang patut didukung dan dihormati.

    Contoh related nya terkait nyepi. Meski setaun sekali tetapi itu sangat berdampak baik buat alam raya dan tentu para manusia di dalamnya. Nice mba, tulisan yang mencubit dan mengingatkan betapa pentingnya kesadaran menjaga dan merawat bumi.

  3. Kami termasuk keluarga yang gak terlalu sering beli baju, paling hanya 1-3x dalam setahun. Jadi kalau dilihat orang ya pake baju yang itu-itu aja. Mungkin banyak orang berspekulasi soal ini, tapi terserah. Karena ini salah satu cara kami menyelamatkan bumi yang sudah penuh sesak dengan sampah dari limbah tekstil yang susah diurai. Apalagi sekarang ditambah dengan adanya fast fashion, ah… makin menjadi-jadi saja.

  4. Sekarang ini ajarkan anak2 arti kata cukup mba. Aku liat, para penguasa negara, atau para koruptor, semuanya itu Krn mereka ga kenal arti kata cukup.udah kaya, uang banyak, tetap saja mau LEBIH BANYAK lagi. Itu yg mendorong mereka korupsi, ga peduli Ama bumi. Keruk habis2an, biarkan orang lain menderita, yg penting diri sendiri makin kaya. 😭

    Ga paham lah, kenapa rasa serakah nya semakin besar.

    Krn itu aku mau memastikan anak2ku tahu arti cukup. Dunia bukan akhir. Kita hidup abadi nanti di akhirat. Kalau cuma mau merusak alam, apa ga dipikir anak cucunya akan seperti apa.

  5. Bener, jangan kita aja yang pengennya didengar, tapi biarkan juga lingkungan mendengar kita, apalagi bumi ini, yang jangan sampai berteriak mengeluarkan kepulan magma maupun bergetar hebat

  6. Setuju mbak. Bumi sudah lelah dieksploitasi terus-terusan oleh manusia. Saatnya manusia berbenah diri sebelum bumi semakin meradang. Menamkan rasa cukup memang sangat penting. Hidup dengan sadar dan tidak berlebihan. Semoga banyak manusia yang semakim sadar bahwa bumi juga butuh dirawat dan dijaga, tidak sekedar dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

  7. Saya setuju sekali ini. Hati raya Nyepi bukan saja tradisi, tapi juga ajakan untuk lebih mencintai bumi. Dari sini juga mungkin te cetus id gerakan Earth hour, bagaimana memberikan bumi napas sejenak untuk beristirahat.
    Tapi begitulah, Mbak. Manusia banyak tak bijak dan sadar diri. Mengambil lebih pada alam. Akhirnya alam marah dan terjadilah krisis global. Padahal alam sudah memberi, manusia memanfaatkan dengan bijak.

  8. Bener banget, nenek moyang kita dulu membuat hukum adat dan juga mitos2 tu sebenarnya buat menjaga lingkungan. Misal mitos jangan ambil ikan di sungai X, nanti dikutuk, padahal itu keknya supaya ikannya nggak habis.
    Sayangnya makin ke sini manusia makin nggak takut apapun, lebih takut nggak punya duit ketimbang takut kutukan. demit.
    Ya ini sebenarnya ok masuk logika. Namun di satu sisi juga kasihan sama lingkungan, ada aja orang serakah yang menerabas apa saja demi keuntungan pribadi.
    Padahal kalau alam rusak akhirnya udah mulai terasa tandanya di mana2 mereka sendiri yang rugi. Bahkan manusia yang nggak ngapa2in (justru karena nggak mencegah juga kali yaa ikut terdampak.
    Emang dibutuhkan keberanian buat mencegah, minimal speak up utk jaga lingkungan.

  9. Bumi hanya satu
    Wajib kita jaga bersama ya mbak.
    Caraku menjaga bumi adalah dengan selalu melakukan gaya hidup ramah lingkungan
    Mulai dari rumah, dengan cegah, pilah dan olah sampah

  10. Bener kak. Kalo ada bencana, tentu kita hrs introspeksi. Apakah benar itu lgsg dr Tuhan atau emg cara Tuhan menyadarkan manusia lewat alam yang diciptakannya.

    Hal2 sederhana di sekitar rumah pun bs kita jadikan contoh. Saat kita membuang sampah seenaknya, apalagi dibuang ke sungai, bakalan banjir kalo got mampet penuh sampah. Belum lagi tebang pohon sehingga kondisi jadi panas dan terik. Belum lagi sumber air sooo jauuuhh. Udh ngebor 100 meter malah ga ketemu airnya. Dan hal2 sederhana lainnya.

    Smg kita bs berbuat kebaikan bahkan dgn alam sekitar ya kak. Biar mereka jg merawat kita dgn baik. Damai tanpa bencana.

  11. Sudah seharusnya kita hidup saling memberi, bukan hanya mau menerima.
    Itulah esensi Allah menciptakan manusia dan alam, bersinergi untuk kebaikan.
    Sadar banget kalau manusia sudah terlalu besar mengambil dari alam.. tetapi begitulah dunia. Sangat menyilaukan sehingga membuat banyak orang menjadi lupa.

    Semoga kesadaran ini dimiliki oleh kita semua sehingga mengajarkan kebaikan pula pada generasi berikutnya untuk tetap berkesadaran penuh dengan alam.

  12. Konten Mba Ria selain estetik juga menyentuh, aku takjub sama dia Mb. Aku setuju tentunya, krisis iklim ini memang harusnya jadi bahan evaluasi besar manusia buat melihat kembali bagaimana dan apa yang selama ini kita lakukan. Aku sering baca tulisan sustainable tapi cara Mbak Nik sedikit berbeda, seperti menyentuh hati masyarakat untuk memahami tentang kondisi yang terjadi. Terima kasih sudah membuat tulisan sustainable ya Mba, mari sama sama jaga bumi kita ini 🙂

  13. Pernah sih aku membaca bumi itu bisa memulihkan dirinya sendiri cuma kadang bentuknya itu kayak bencana gitu kayak zaman es dulu. Tapi tentunya akan lebih baik kita turut berkontribusi dalam pemulihan bumi ini

  14. Jleb banget ini mbak, menohokku, membuatku tersadar dan merenung, apakah aku memperkosa bumi? Apa aku telah mendengar keluh kesahnya? Egoisnya aku selama ini tak memperhatikan bumi.

  15. Suka sedih Mba kalau lihat kondisi saat ini. Maunya istiqomah buat bikin bumi membaik. Tapi ada aja tantangan eksternal yang buat miris. Kalau udah begini kuat kuat aja pasang kacamata kuda. Fokus diri sendiri dulu dan keluarga.

  16. Iya betul banget kak Niek, apapun itu sesuatu yang berlebihan tidak baik adanya. Ambil dan gunakan secukupnya saja, itu jauh lebih memberi makna dan kepuasan. Bahagianya pas, kenyangnya pas dan senangnya juga pas.

  17. Beruntungnya karena punya pasangan yang selalu meningatkan dengan kata CUKUP. Bukan tidak bisa dan mampu melebihkan tetapi ketika terbiasa dengan cukup itu, maka rezeki mengalir deras
    Saya sempat berada di titik, uang di tangan mau dibelikan apalagi saking ada lebihan yang sementara kebutuhan lain sudah terpenuhi
    Makanya anak anak pun butuh paham kata cukup supaya gak kemaruk

  18. Aku berusaha bangettt menanamkan prinsip Cinta Bumi ke anak dan famili Terdekat.

    Pakai Secukupnya, dan Harus Bertanggungjawab atas apa2 yg kita konsumsi.

    yang jelas, aku biasakan anakku utk pakai preloved baju dari sepupu²nya. Ngurangi limbah fashion juga

  19. Ka Nik, aku baca ini saat lagi bertebaran berita bencana di Sumatera. Rasanya kok marah banget ya sama orang-orang yang ada di jajaran pemerintahan. Kita pribadi, bahkan mengajak anak-anak untuk juga ikut mencintai lingkungan. Bahkan salah satu tujuan aku sering mengajak mereka traveling ya ini, supaya tumbuh kesadarannya akan keindahan dunia dan seisinya sehingga harus terus dijaga dan dilestarikan.

    Tapi kemudian pemerintah dan orang-orang yang berkepentingan malah gak mau sadar akan hal itu dan malah terus berbuat sesuatu yang merusak hingga akhirnya bukan hanya krisis iklim yang sekarang terjadi. Aku merasa alam juga ikut “berdemo” akhirnya sekarang. Ah, harapan kita memang bisa juga diteruskan ke generasi mendatang. Semoga saja generasi berikutnya bisa lebih mencintai bumi dan bisa melakukan segala hal untuk merawatnya.

  20. yap, krisis iklim dan perubahannya tidak lain tidak bukan akibat kita-kita juga yang berada di dalamnya, pentingnya menjaga dan inisiatif kesadaran masing individu agar bumi dan iklim tetap terjaga

  21. judulnya deep banget dan langsung jleb! Aku setuju, masalahnya bukan cuma di perubahan iklim, tapi di krisis kesadaran manusia yang seringkali mengutamakan kenyamanan instan. Perlu banget edukasi masif dari usia dini.

  22. Menarik & penting! Menggabungkan fakta iklim dengan aspek moral/kesadaran membuat isu ini terasa lebih dekat dan nyata bagi kita semua

  23. Kadang kita udah tahu bahayanya, tapi masih sulit konsisten bertindak. Semoga makin banyak orang yang buka mata, dan jadi lebih peduli sekarang

  24. Setuju Kak. Walau bumi memberi banyak pada manusia tapi emang harus sadar diri dan ambil secukupnya saja. Jangan rakus.
    Tapi sedihnya kalau ada eksploitasi alam dan rakyat (plus negara) yang dirugikan.

  25. Iya betul banget kak Niek, apapun itu sesuatu yang berlebihan tidak baik adanya. Ambil dan gunakan secukupnya saja, itu jauh lebih memberi makna dan kepuasan. Bahagianya pas, kenyangnya pas dan senangnya juga pas.

  26. Topik penting memang. Bukan cuma soal alamnya, tapi bagaimana kita sebagai manusia bisa berubah dan sadar akan dampaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink