Tujuh akar kehidupan berdialog tenang tentang diri sebagai cerminan makna kehidupan. Sabar, Kuat, Bertahan, Bertanggung Jawab, Cinta, Hidup dan Takdir dengan segala pesonanya.
Caramu mengenal membuka kesadaran mengapa harus ada
Bertemu kembali dalam series Jumat Kembali ke akar kehidupan. Tepat di series ke 50 aku menghadirkan sebuah dialog tenang tujuh akar kehidupan, yang di akhir-akhir ini seperti lagi senang-senangnya menari.
Tulisan ini mengajak perenungan lebih tenang dan mendalam, mengenal karakter Sabar, Kuat, Bertahan, Bertanggung Jawab, Cinta, Hidup dan Takdir. Dialog mereka mungkin bukan sebuah alur tetapi lebih bagaimana tentang keberadaan tujuh hal tersebut.
Menjelaskan mengapa akhir-akhir ini tugas mereka semakin banyak. Jika di sebut permainan bola, mereka sering turun ke lapangan. Apalagi Sabar, Kuat dan Bertahan.
Trilogi akar kehidupan hadir hampir pada ke semua insan. Kadang sebagai tamu dan tidak jarang menginap karena tugasnya bisa saja sehari ataupun lebih.
Hadirnya dialog tenang mereka barangkali memberi hikmat, yang membuat setiap pembaca yang sungguh mendapatkan nafas yang segar dan membuka kesadaran tentang hidup perlu dimaknai dengan sebaik-baiknya.
Baca juga: Ruang Makna yang Perlu Dirawat di Tengah Kecepatan Dunia: 5 Hal Penting dalam Hidup

Sabar, Kuat, dan Bertahan sebagai Akar Kehidupan
Angin memandang dengan wajah yang tak bisa dibaca. Langit terlalu muram tanpa hujan. Para insan duduk menikmati suasana alam yang teduh dengan masing-masing kesukaannya.
Sepertinya tekanan hidup dalam ekonomi tidak baik, tetap saja kafe ini begitu ramai. Mungkin mereka sudah muak dengan segala isu yang ada. Atau mungkin juga rekening sedikit ada tambahan karena sudah akhir bulan. Masa-masa gajian.
Apapun, suasana kafe saat ini begitu riuh dan melihatnya sebagai kebaikan. Paling tidak pemilik mendapatkan keuntungan dan perputaran keuangan berjalan dengan lancar.
Dan di satu sudut, tujuh akar kehidupan dengan tenang berdialog. Tidak perduli dengan ramainya keadaan. Mereka justru tersenyum-senyum bersama makna kehidupan sebagai topik utama dialognya.
Terdengar trilogi Sabar, Kuat dan bertahan mendomasi dialognya.
Si Lembut Sabar yang teduh
Meneguk kopinya dan melanjutkan,
Orang-orang saat ini begitu sering memanggilku untuk menemani segala kepedihan, kesulitan dan duka yang kadang tiba-tiba datang.
Sabar ya
Aku dipanggil dan tentu ketika namaku disebut langsung datang. Tetapi tidak semua orang menerima keberadaanku. Mengerti sekali, aku memang tidak mudah untuk diterima. Kalau sekali, dua kesulitan datang mereka bisa saja mempersilahkan aku duduk, tetapi kalau bertubi-tubi, mereka langsung melupakanku.
Bagaimana lagi, tugasku memang tidak mudah tetapi HARUS ADA.
Karena jika aku diperbolehkan menjadi kawan baik dalam setiap langkah, atau bisa jadi saudara segala sesuatu akan terasa ringan. Semua persoalan akan dipikul olehku, bukan mereka.
KUAT yang kadang sebagai pemanis kata
Mungkin keberadaanku tidak harus ada karena karena aku lebih tidak mudah diterima. Karakterku yang cenderung keras kepala mungkin akan jadi asing buat mereka.
Musim ini kalau kalau sampai aku jadi tamu apalagi bisa menginap dan lebih hebatnya jadi teman atau saudara, insan ini menjadi yang terpilih sebagai pribadi yang mengerti makna kehidupan.
Mengenal aku si KUAT akar kokoh menghadirkan keteguhan.
Keras kepalanya sang BERTAHAN
Lalu Bertahan menimpali, kalau KUAT keras kepala, aku sang Bertahan lebih lagi. Tingkatan keras kepalanya jauh lebih tinggi. Kadang tidak tidak perduli dengan keadaan.
Yang penting bisa berTAHAN.
Begitu orang sering memakai namaku. Sepertinya dipanggil sebagai andalan untuk masih bisa bernafas. Walau kadang hidup itu tak diperdulikannya. Yang penting waktu terisi.
Aku seperti sebuah slogan yang sejatinya kurang diharapkan, karena keberadaanku kurang menyamankan. Mau bagaimana lagi, walau mereka menolak kadang waktu mendorongku hadir tanpa dipanggil.
Baca juga: Masih Bertahan? Lihat Bagaimana Hidup Membuktikan Keadilannya – Kilas Balik 2025

Bertanggung Jawab sebagai Penyelamat Kehidupan
Begitu katanya. Penyelamat jika mengerti makna kehidupan bahwa tanpaku si bertanggung jawab insan akan menjadi orang yang liar. Tanpa batasan.
Iya, aku batasan yang penyelamatkan. Saat bertubinya tekanan, pekerjaan terus menuntut, atasan juga sibuk dengan tuntutannya sering menumpahkan bebannya, aku hadir mengingatkan untuk terus melakukan apa yang menjadi tugasnya.
Begitu juga hubungan, baik dengan pasangan, rekanan ataupun dengan siapapun. Aku juga menyelamatkan alur dan insan-insan untuk terus memainkan perannya.
Wajahku memang terlihat tegas karena aku sering menuntut, tetapi percayalah hatiku lembut karena semua peranku membawa kebaikan. Kadang saat ini memang tidak nyaman tapi jika menjadikan sahabat atau saudara, yakinlah hari esokmu akan penuh sinar.
Baca juga: Menemukan Peran Hidup: Ketika Luka, Kesadaran, dan Tanggung Jawab Bertemu – Kembali ke Akar #38
Cinta, Hidup, dan Takdir yang Membentuk Kehidupan
Trilogi akar kehidupan yang ini, Cinta Hidup dan Takdir paling tidak banyak bicara. Ia hanya mendengar karena memang tiga tokoh ini seperti dituakan. Wajahnya penuh kebijaksanaan.
Cinta sebagai nafas yang selalu memberi warna
Wajahnya tidak selalu baik, kadang aku juga terasa menyakitkan karena ada keakuan bermain. Tapi kalau aku ditemani dengan akal budi dan nurani yang baik, wajahku sangat indah.
Siapa yang tidak menyukai aku? Sang CINTA yang selalu memberi warna penuh.
Sayangnya tidak banyak orang yang sungguh-sungguh memelukku dengan baik, dengan ketulusan. Seringnya mereka memanggil sisi gelapku. Obses, posesif. Tidak memberikan aku sepenuhnya bekerja.
Membiarkan ego mereka ikut bertarung denganku. Sedangkan aku sebagai tokoh utama perlu untuk mengerti makna kehidupan mengapa aku ada, mengenaliku secara utuh dengan hati yang tulus.
Baca juga: Apakah Cinta hanya soal rasa – Hallo bulan cinta – 2
Hidup sang Makna Kehidupan
Sepertinya aku tidak perlu banyak bicara ya dalam pertemuan ini, karena aku sejatinya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tahun-tahun belakangan bahkan bisa jadi dekade terakhir aku seperti diperkosa nuraninya.
Banyak yang memperjuangkan aku ada, tetapi tidak sungguh merawatku. Hatiku patah.
Sayap-sayapku seperti dicabut satu persatu. Makna kehidupan yang jadi kunci aku ada seperti asing.
Ingin sekali aku mengatakan kalau aku lelah.
TAKDIR akar yang terkejam
Semua akar terdiam ketika Hidup bicara dengan pelan, terlihat tenang tetapi semua yang hadir sangat tahu bagaimana ketenangan hidup menghadapi polah insan ada emosi yang disimpan.
Lalu takdir bicara.
Di antara kalian semua, seringkali aku dianggap paling kejam. Iya begitu kadang, karena aku tidak bisa diajak bernegosiasi, dengan waktu sekalipun.
Tugasku memang kejam jika bertemu dengan insan yang tidak mengerti makna kehidupan tentang penerimaan. Aku seperti memaksa, tetapi sesungguhnya keberadaanku menyeimbangkan dan sebagai pembentuk tatanan yang sudah dibuat oleh SANG MAHA KARYA.
Baca Juga: Frida Kahlo dan Garis Takdir yang Tak Bisa Dilewati – Aku dan Tokoh #18

Bersatu merangkul insan dengan mesra
Akhirnya Sabar, Kuat, Bertahan, Bertanggung Jawab, Cinta, Hidup, dan Takdir terdiam sejenak. Ruang gaduh disekelilingnya tidak sedikitpun menggangu ketenangan mereka dalam berdialog.
Memang mereka tidak banyak dialog, seakan tubuhnya memberi isyarat cukup dengan menjelaskan keberadaannya saja sudah memicu ruang makna kehidupan yang penting untuk dimengerti.
Tujuh akar kehidupan tiba-tiba berdiri dan berpelukan serta berbisik satu dengan lainnya.
“Yuk rangkul dengan mesra mereka yang sedang berteman dengan KESALAHPAHAMAN, karena dia yang membuat waktu terasa berat.“
Berkata bersamaan dan angin melihat itu tersenyum geli karena begitu kompaknya.
Dan aku berterima kasih untukmu yang sudah membaca saat akhir. Dari ketujuh akar kehidupan diatas, mana yang sering membuatmu tidak mudah mengerti makna kehidupannya. Cerita yuk di kolom komentar.
Jakarta Selatan, Akhir Mei 2026
Ditulis bersama riuhnya suasana kafe kopi dan berjuang melawan rasa ngantuk berat.


12 Responses
Selamat kak Nik! Pencapaian yang luar biasa….. semangat terus menulis dan memberikan inspirasi!
Sabar, Kuat, dan Bertahan itu terasa sangat sesuai dengan kehidupan banget ya, apalagi di masa-masa penuh tekanan sekarang. Tapi buatku, Takdir adalah yang paling menantang untuk dimengerti. Belajar menerima tanpa negosiasi itu butuh kedewasaan spiritual yang luar biasa.
Aku butuh asupan seperti ini terus…..
Bertahan dan cinta, keduanya agak lumayan membuat aku kebingungan bahkan lelah hahaha. Tetapi, sekarang ini ku coba memahami, bahwa akar kehidupan akan terus dibutuhkan dan biarkan beriringan meski kadang akan ditemui bingung. Setidaknya, kekuatan sabar, tanggung jawab, bisa menjaga semua yang sudah baik. Percaya juga bahwa takdir itu memberi yang paling terbaik meski melalui ujian dan teka-teki terlebih dahulu untuk melatih serta memantapkan diri.
Di setiap fase Sabar, Kuat, Bertahan, Bertanggung Jawab, Cinta, Hidup, dan Takdir. Akan selalu memberi makna mendalam buat kehidupan yang fana. Selama masih diasah terus rasa peka dan penerimaan pada segala kejutan kehidupan.
Bertahan tapi untuk hal yang positif, daku rasa masih oke saja, yang penting hati tetap bahagia bukan karena paksaan.
Sebab hidup di dunia kan sekali, mati pun sekali, jangan hanya bertahan dengan terpaksa, tapi lakukan dengan bahagia, tulus dan sabar, kalau tidak ya lepaskanlah
Saya langsung mencatat 7 akar kehidupan ini, Mbak Nik. Dan inilah 7 dasar yang harus kita tanamkan dalam diri kita ya. apabila sudah tertanam dengan baik, maka Insya Allah kita akan bisa menjalankan hidup dengan baik Hanya pastinya perlu proses saat menerapkan dan perlu disesuaikan takaran saat diterapkan karena dalam hidup ini kita menghadapi beragam masalah, beragam hal, dan beragam orang dengan berbagai karakternya.
Bukan karena tdk mengerti kak Nik. Aku malah kena cobaan 7 akar kehidupan ini. Berasa Tuhan kok nguji aku bertubi2 gt. Langsung semua gitu loh.
Sabar (ngurus orangtua yang lagi sakit) , Kuat (mencoba melakukannya sendiri utk menghidupi diri dan keluarga), Bertahan (dari ekonomi yang lagi susah. Cari kerjaan susah, usaha sendiri pun masih banyak tantangan), Bertanggung Jawab (terhadap pilihan hidup yang aku pilih skrg. Balik desa, hiatus dari gemerlap ibu kota), Cinta (belum ktmu jodoh euyy) , Hidup (mencoba hidup apa adanya) dan Takdir (menerima takdir sambil trs berusaha mengubah takdir kalo masih bisa).
Eh jadi curcol nih. Hehe.
7 akar yang related banget dengan kenyataan di kehidupan ini. Saya yakin jika ketujuh hal ini ada dan bisa dikelola oleh seseorang dalam kehidupannya maka makna hidup akan menjadi luar biasa memberi inspirasi.
Lengkap betul lah pembahasanmu ini mbak Nik. Sabar, Kuat, Bertahan, Bertanggung Jawab, Cinta, Hidup, dan Takdir… ketujuhnya memang senantiasa memelukku erat-erat setiap harinya. Walau kadang, mungkin mereka tak hadir bersamaan.
Biasanya Sabar, Kuat dan Bertahan yang muncul lebih awal. Mereka memelukku ereaat, dari sejak pagi buta hgingga senja menjelang. Memaksaku dan ragam emosi serta peluhku turun berjamaah. Baru kemudian, perlahan trio berikutnya, si Bertanggung Jawab, Cinta dan Hidup yang Datang menyusul.
Pada akhirnya, si paling sepuh, Takdir.. yang bakal jadi penutup semuanya, hihihi
Hmm… dalam banget ya sebenarnya kalau ingin menjadi hidup yang lebih bermakna dan berkesan
Sebab saya sendiri merasakan kalau salah satu dari akar tersebut tidak berjalan dengan baik atau ada yang lebih dominan juga tidak bakalan bagus
Rasanya ingin sekali fokus agar lebih mindful dengan hidup
7 akar kehidupan memang snagat berpengaruh ya mbak. Sabar, kuat, dan bertahan sungguh butuh perjuangan bagiku. Kayanya di sana ujian hidup saya 😁
Tapi namanya hidup harus terus dijalani dengan cinta dan tanggung jawab.
Tulisan yang sangat mendalam dan sarat perenungan, Kak Nik! Dialog imajiner antara tujuh akar kehidupan ini benar-benar berhasil memotret realitas emosi kita sehari-hari dengan cara yang sangat puitis namun tetap membumi. Bagi saya personally, karakter **Takdir** dan **Hidup** adalah yang paling menantang untuk didekap dengan ikhlas akhir-akhir ini; melihat bagaimana Hidup merasa ‘lelah’ karena nuraninya dikesampingkan, serta Takdir yang sering disalahpahami sebagai sosok yang kejam, sungguh menjadi tamparan yang akhirnya membuat bendungan air mata ambrol. Membaca sambil ngusap air mata. Deep banget Kak.
Cinta dan sabar, aka yang rumit menurutku dan kadang tak perli dijelaskan hanya perlu dirasakan, tanpa berkata pun menuntut balas
Sabar dalam bersikap pun bertutur, entah sampai kapan, bukan berarti tak boleh marah atau berontak sih tapi lebih ke sabar dalam menjalani hidup
Begitupun Cinta yang tak menuntut balas dan kadang tak perlu pula disampaikan
Kak aku menemukan cinta dan ketulusan di artikel kak nik ini. Terus menulis seperti ini ya kak, terus menjadi penyemangat pembacanya juga… Kereeen