#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Masih Perlukah Berjuang Saat Hidup Terasa Tidak Menerima?

Masih perlukah berjuang ketika yang terasa melelahkan bukan persoalannya, melainkan perasaan tidak diterima oleh kehidupan itu sendiri?

Jalanan sore ini tidak terlalu ramai, tidak seperti pikiran yang bergelut dengan tanya dan asumsi. Tentang hidup yang semakin hari penuh kejutan pahit dan getirnya.

Aku memandang jalanan sambil sesekali menimpali obrolan ringan perjalanan kami ke puncak Bogor. Tentu saja topiknya beragam namun yang menjadi inti bagaimana hidup sungguh sedang muramnya.

Sabtu lalu, rencana perjalanan menyusul teman yang sedang staycation di Puncak Bogor, tidak semanis yang dibayangkan. Rasa sukacita sebelumnya karena membayangkan kumpul lengkap akhirnya buyar. Seorang kawan tidak jadi ikut karena tiba-tiba mami-nya masuk rumah sakit.

Sebelumnya, ada juga salah satu sahabat suaminya masuk rumah sakit juga dan dua kejadian di satu minggu yang sama. Dua peristiwa dari sekian kejadian dalam waktu terakhir. Memberi gambaran bagaimana hidup sedang memberi banyak ujian.

Masih perlukah berjuang dan apakah semuanya layak dilakukan dengan sepenuh hati?

Tanya yang terus membayangi dan aku meneguk kopi lalu memejamkan mata. Jawaban enggan hadir dan bayangan hari-hari kedepannya semakin terasa kabut tebal.

Bukan jawaban yang hadir tetapi kesadaran tentang hidup sebagai tokoh yang penuh wajah datang memberi warna dalam logikaku.

Baca juga: 5 Kembar Kehidupan yang Tak Terpisahkan: Rahasia Menyatu dari Lao Tzu – Aku dan Tokoh #5

Masih perlukah berjuang
Masih perlukah berjuang

Hidup Terasa Seperti Tokoh yang Memiliki Banyak Wajah

Masih perlukah berjuang jika wajah hidup sedang muram-muramnya. Celakanya wajah yang suram ini karena kepedihan yang mungkin ia derita sudah lama dan akhirnya ditumpahkan kembali pada waktu.

Konon katanya ada masa-masa kehidupan begitu manis, memberikan banyak gula-gula dengan menghadirkan hal-hal yang menyenangkan. Segalanya terasa menyamankan.

Walau memang selalu ada mendung, hujan tetapi semuanya tidak terlalu terasa karena pelanginya tidak lama datang setelahnya.

Tetapi tahun terakhir, hidup seakan memberi wajah muramnya. Tidak hanya itu wajah-wajah lainnya pun bermunculan. Wajah muramnya ditambah dengan kesedihan, kecewa, marah dan semakin terlihat kejam. Walaupun sesekali ada sedikit senyum.

Sekian wajah yang ditampilkan seperti memberi pengertian kalau hidup sedang sakit. Ia sendiri menderita karena ulah insan yang semakin tidak bertanggungjawab. Sedangkan insan-insan yang berjalan dalam arah yang tepat semakin tertatih ikut menanggungnya.

Wajah keadilan sedang tidak bisa diajak dialog. Ia mau semua insan ikut merasakan sampai akhirnya yang tertatih dalam perjuangan ke arah yang tepat bertanya, masih perlukah berjuang.

Bertanya karena sesakit itu, seberat itu dan terasa dalam sakitnya hidup seperti sebuah penolakan untuk para insan tetap ada bersama kehidupan.

Semua cara untuk arah yang tepat seakan tertutup. BUNTU.

Masih Adakah Alasan untuk Bertahan?

Ketika tanya masih perlukah berjuang ditambah dengan tanya tentang sebuah alasan, waktu seakan berlari tanpa perduli. Ia berlalu saja tanpa melihat ada banyak insan sedang tertatih untuk melangkah.

Alasan?

Senja itu menyapa dan berkata, terima kasih sudah tetap kuat.

Kuat?

Iyakah? Sungguhkah kuat atau tetap ada hanya karena sebuah alasan.

Bertanggungjawab akan sudah diputuskan dan diambil atau bisa jadi mampu karena tidak ada pilihan. Bahkan takdir sendiri tidak berani sedikitpun bernegosiasi dengan waktu karena yang terjadi ya harus terjadi.

Baca Juga: Senja dan Kepastian – Tentang Ambon serta Mimpi

Tempat Indah di Indonesia - Gili Trawangan - masih perlukah berjuang
Kepastian dan senja – masih perlukah berjuang

Adakah Tugas yang Perlu Diselesaikan?

Waktu dan takdir seperti bermusuhan, tidak ada ruang diskusi untuk membuat kehidupan sedikit manis, ramah ataupun menghangatkan. Membiarkan berwajah dingin, muram dan seakan menolak insan-insan yang sedang berjuang.

Walau tanya masih perlukah berjuang ditengah dinginnya hidup semakin kuat, terus menerus datang sampai sebuah alasan hadir dengan teguhnya.

Jika kau masih bernafas artinya ada tugas yang masih belum selesai.

Begitu alasan berkata dengan tenang dan teguh. Bersama senyumannya seakan memberi pengertian, kelak yang sudah tergaris tidak bisa dihapuskan. Semua sudah diatur dengan tujuan besar.

Seperti apa tujuannya hanya waktu yang tahu dan ia sendiri tidak punya hak untuk menyampaikan sebelum takdir menjalankan tugasnya.

Baca juga: Menemukan Peran Hidup: Ketika Luka, Kesadaran, dan Tanggung Jawab Bertemu – Kembali ke Akar #38

Lalu ditengah dialog antara insan, waktu, alasan dan takdir, angin melihat tujuh akar kehidupan berdialog seru. Apa saja yang menjadi topik mereka, coba lihat tulisan Jumat nanti ya.

Bagaimana Sabar, Kuat, Bertahan, Bertanggungjawab, Cinta, Hidup dan ternyata juga ada Takdir berdiskusi.

Masih perlukah berjuang
Senja dan Malam – Masih perlukah berjuang

Akhirnya

Masih perlukah berjuang ketika hidup seakan menolak karena beratnya langkah, seakan semua jalan tertutup kembali pada adakah alasan dan peran yang sudah menjadi garis hidup setiap masing-masing diri.

Terima kasih ya sudah membaca sampai akhir dan apa kabarkah waktumu? seperti apakah ia bergerak?
Yuk berbagi di kolom komentar.

Jakarta Pusat, Akhir Mei 2026
Ditulis ditengah kegelisahan melihat kehidupan yang terus memberi kejutan getir.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

7 Responses

  1. Aku sih percaya kalau nafas masih ada berarti ada urusan yang belum selesai. Hanya saja ingin sekali keluar dari rasa tidak nyaman karena tidak dihargai dengan pilihan hidup. Tak punya gaji dan tak bekerja seperti tamatan S2 kebanyakan tuh seolah dosa dan tidak diterima dengan senang hati. Padahal di sini menjalaninya dengan susah payah setiap waktu.

  2. berarti inti dari berjuang bukanlah karena hidup selalu ramah atau manis, melainkan bentuk pertanggungjawaban atas kehidupan dan peran yang masih dititipkan kepada kita hingga akhir.
    Bagi yang merasa bahwa hidup itu melelahkan dan sering kali tidak adil, mungkin ini saatnya mengubah cara pandang.

  3. Semangat terus ya Mbak Nik. Meski sekarang, semesta seperti sedang bercanda, menertawakan nasib dan harga diri kita.. Tapi Aku setuju, selagi nafas masih berhembus, maka hidup harus terus berjalan.

    Sebesar apapun badainya, hujan pasti berhenti. Dan niscaya, pelangi terbaik akan muncul setelah badai terburuk berlalu. Hidup ini sementara, begitu juga dengan segala ujiannya. Maka tugas kita ya jalani saja yang bisa kita jalani, sesuai porsi yang kita sanggupi.

    Doa terbaik pokoknya lah ya buat nasib kita semua 😀

  4. Hidup emang sering terasa gak adil dan gak sesuai ekspektasi, tapi respon kita yang nentuin kita bakal stres atau tenang. Bagaimanapun, saya percaya bahwa tidak ada hal sia-sia dari semua penciptaan-Nya, termasuk takdir yang terasa tidak enak. Nggak mungkin khan, Dia Yang Maha Penyayang melakukan hal yang mendzalimi hambaNya…
    Jadi, ketika suatu hal yang tidak enak menimpa, saya bilang ke diri saya: “Ini dari Yang Maha Cinta, Yang Maha Penyayang.” dengan begitu, terasa lega saya menerimanya, alhamdulillah.

  5. Saya sepakat dengan kalimat “Jika kau masih bernafas artinya ada tugas yang masih belum selesai” dari sini kita bisa tahu bahwa hidup seberat apapun itu, harus dijalani dengan ikhlas. Dan tugas kita memang hanya berjuang sekuat tenaga, endingnya seperti apa tidak perlu kita pikirkan terlalu dalam.

  6. Seperti yang ayahku bilang, selama nafas ada artinya harus mau belajar. Belajar menjalani kehidupan yang isinya belum ditemukan jawabannya.

    Akupun merasa makin ke sini, keadaan tidak juga membaik. Tapinjika kita berhenti sekarang, apakah kita tak menyesal jika antinya bertemu keadaan baik?

    Mari kita kuat bersama, bertumbuh dan tentu tak perlu menyesal kemudian hari. ❣️❣️❣️

  7. ketika hidup sedang diterpa ujian pastinya ada masanya kita ingin menyerah dan berhenti berjuang ya. tapi semoga saja kita termasuk orang-orang yang mau terus berjuang sampai akhir dan akhirnya bisa mendapatkan indahnya pelangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink