Maut dan ketidakpastian menyadarkan iman yang lebih kuat, sekaligus memperlihatkan jalan dan kuasanya.
Ketika segalanya pasti,
apakah iman masih tetap dibutuhkan?
Hi, bertemu lagi di series Senin, tetapi kali ini tidak mengulas tentang tokoh, melainkan berbagi apa yang aku alami di Selasa, 17 Maret 2026 tepatnya di jam 6 pagi. Kejadian yang membuatku banyak merenung dan akhirnya melihat kembali kalau maut tidak pernah memilih keadaan.
Sebelum lanjut bercerita tentang kejadian Selasa saat itu, izinkan kembali bertanya, apa kabar harimu?
Bagaimanapun harimu, kiranya harapan dan iman tidak pernah menjauh. Bersama tulisan ini, aku berharap bisa menguatkan dan memberikan kekuatan lebih pada kamu yang berjuang di tengah ketidakpastian.
Maut dan ketidakpastian, aku ambil sebagai tema besar, mengajak melihat kembali tentang keadilan waktu dan peran iman sesungguhnya. Kapan dan saat seperti apa bekerja dengan hebatnya.
Baca juga: Ketidakadilan – Iman & Kasih

Kehidupan yang Semakin Dinamis, Hidup Terasa Semakin Tidak Pasti
Banyak ada, banyak tahu tetapi semakin mengaburkan arah
Kalimat ini lahir dari perjalanan kisah-kisah pribadi yang hadir padaku. Aku melihat kecerdasan semakin tinggi tetapi menjadi soal ketika, apa yang diketahui belum mampu menyelaraskan dengan nurani.
Tidak ada yang salah, karena kehidupan memang berlari begitu cepat. Ada banyak insan yang haus dengan keberhasilan, mengira dengan cepat dan banyak tahu mampu menuju yang diinginkan. Tetapi setelah sampai pada tujuan justru terasa kosong.
Lupa proses dan akhirnya kehilangan arah.
Terasa pelik, melahirkan luka dan bisa di sebut maut dan ketidakpastian itu semakin nyata.
Ketidakpastian dalam dinamis seringkali kehilangan arah, lupa untuk kembali pada keyakinan diri dan pijakan, lupa akan iman. Sedangkan sejatinya ketidakpastianlah membuat iman semakin bersinar, jika di beri ruangnya.
Baca juga: Cara Berdamai dengan Luka Masa Kecil dan Orang Tua agar Tidak Mengendalikan Hidupmu #38

Kisah Mengalami Musibah atau Maut dalam ketidakpastian hidup
“Gedebuk”
Suara itu begitu keras dan membangunkanku di Selasa pagi tanggal 17 Maret 2026 tepatnya jam 06.00. Aku langsung lompat dan kaget mendapati kepalaku sakit sekali dan langsung mengusap-usap dengan rambut.
Sambil menangis dan berdoa kencang, meminta tolong pada Tuhan supaya tidak berdampak berat. Diiringi dengan alarm kencang dari HP yang memang selalu aku nyalakan di setiap jam 6.00, tangisku semakin kencang sungguh ketakutan itu hadir.
Bagaimana tidak, kehidupan yang sangat tidak pasti, mengalami musibah seperti bertemu maut. Kepala terbentur keras, pikiranku langsung melayang ke hal-hal yang menakutkan.
Selang beberapa jam kemudian, tangisanku mereda dan telingaku mulai terasa ‘pengeng’ (seperti ketutup air) tetapi masih mendengar dengan baik.
Setengah hari itu menenangkan diri atas kejadian pagi dan sorenya aku merasa cukup stabil emosinya dan melanjutkan kehidupan dengan bertemu kawan di acara buka bersama.
Pulang dari bukber, aku termenung cukup lama. Mengapa aku sampai bisa terjatuh dari tempat tidur?
Pagi itu aku kebangun jam 3.00 am dan berjuang kembali tidur di jam 5.00 AM dan tepat di 6.00 aku terjatuh. Sesuatu yang tidak aku mengerti. Karena tidurku terbiasa mendekati tembok, mengapa kali ini menjauh dan sampai terjatuh ke lantai.
Aku menunggu sampai tiga hari, tidak terjadi reaksi yang menakutkan seperti muntah atau pingsan. Namun telingaku masih terasa kurang nyaman. Tepat seminggu dari kejadian aku memutuskan ke dokter dan CT Scan. (Cerita detailnya akan aku tulis terpisah)
Puji Tuhan hasilnya baik, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya perlu kontrol kembali di tanggal 7 April 2026.
Baca juga: Jika Tidak Ada yang Pasti dalam Hidup, Trus Mengapa Perlu Terikat? Mengulik Rahasia Angin
Maut dan Ketidakpastian – Ketika Iman Menemukan jalannya
Peristiwa Selasa pagi itu menyadarkanku kembali atas maut dan ketidakpastian hidup yang tidak melihat keadaan, tidak melihat waktu. Di manapun jika sudah bagiannya ya akan terjadi saja.
Hidup hampir setengah abad, sudah berkelana ke tempat-tempat yang cukup penuh tantangan, aku berusaha hati-hati dan Puji Tuhan tidak bertemu dengan musibah atau kecelakaan. Dan ini, ketika jatuh dari tempat tidur yang cukup tinggi dengan benturan kepala sangat keras, aku sungguh heran dan membuktikan kembali, namanya maut tidak pernah tahu kapan dan di manapun bisa terjadi.
Tidak ada yang pasti, apalagi musibah atau maut.
Selain itu, di tengah ketidakpastian hidup saat ini dan dinamisnya waktu, kecelakaan yang aku alami di Selasa lalu sungguh ujian besar akan imanku.
Aku banyak termenung dan berpikir, ada rasa khawatir semakin besar. Sepanjang minggu sebelum ke dokter, sakit kepala dan telinga, rasanya tidak sesakit tekanan hidup saat bertemu maut dalam ketidakpastian.
Aku bertahan tetap percaya akan baik-baik saja dan semua kebutuhan akan dicukupkan. Membiarkan waktu dan kehidupan mengambil alih dan saat itulah imanku mulai bekerja.
Dan tepat seminggu sehari sebelum kedokter apa yang aku butuhkan, Tuhan memberikan dengan sangat tepat waktu.
Pikiranku langsung melayang pada arti iman dan menyelaraskan dengan ketidakpastian. Maka kutipan awal tulisan ini lahir, bahwa apakah jika segalanya pasti, iman masih di butuhkan? Lalu lahir kembali sebuah pemikiran,
Maut dan ketidakpastian seperti jalan mulus untuk iman,
memberi ruang besar dan panggung untuk bersinar.
Maret 2026, materi hidupku sangat berat, namun aku bersyukur lulus dengan hikmat dan pengetahuan. Memperlihatkan kembali janji-NYA tidak pernah berubah.
Seperti kala itu, Desember 2016 imanku bekerja dalam ketidakpastian. Banyak yang meragukan, kalau seorang aku bisa jelajah Raja Ampat. Nyatanya aku berangkat dengan biaya yang jauh dari pada umumnya dengan fasilitas yang baik.
Maut dan ketidakpastian mungkin tidak pernah bisa kita hindari, tapi saat itulah iman menemukan jalannya, menguatkan, menuntun, dan memperlihatkan kuasanya dengan cara yang sering kali tak terduga.
Akhirnya, terima kasih sudah membaca sampai akhir. Bagaimana menurutmu tentang maut dan ketidakpastian dalam iman. Cerita yuk di kolom komentar.

Baca juga: Wayag Raja Ampat #2 : Trip Langka Sekali Seumur Hidup dan Penuh Makna
Jakarta Selatan, 30 Maret 2026
Ditulis setelah menikmati jalanan dengan hujan deras, bersama suara musik piano.


21 Responses
Maut itu sesuatu yang selalu mendekati dan pasti akan datang jika Tuhan sudah berkata sudah waktunya pulang
Tak bisa diundur atau dimajukan
Semua terjadi begitu saja
Namun, aku selalu bertanya dalam hati, iman kan percaya kalau kematian itu pasti dan akan datang tetapi mengapa harus sedih dan menangis
Bukankah juga kelak akan mengalami
Aku selalu bingung dalam tanya soal ini
Mati pasti
Tapi kenapa air mata juga turun tanpa permisi
Bukannya bahagia karena bertemu dengan Tuhan…
Hmm…
Memang selama hidup di dunia yg fana, iman harus selalu diperkokoh serta dilakukan upaya penebalan iman.
Karena maut adalah suatu kepastian yg tidak bisa kita hindarkan.
segimanapun kuat kita berusaha menghentikan takdir maut, ya ttp ga bisa
Mbaaaa, ya ampuun , awalnya aku pikir mba ketiban apa gitu pas tidur, ternyata malah jatuh. Itu tempat tidurmu tinggi ya mba? Aku pun ngerasa kalau jatuh dr tempat tidur itu agak mustahil, Krn badan kita biasanya udah ada reflek sendiri di usia dewasa. Beda Ama anak kecil yaa. Aku sering tidur dipinggir bnget, tp tetep ga pernah jatuh.
Mungkin beda cerita kalau ada mimpi yg jelas banget, nah kemungkinan jatuh bisa jadi tuh
Cuma aku ada pengalaman ngeri dari jatuh saat tidur ini.anakku yg sulung, pas usia bayi, jatuh dari tempat tidur, padahal udah di kelilingi bantal. Ya Allah LGS lemeeeees. Tau sendiri kalau anak di bawah 1 tahun, jatuh begitu kan bahaya yaa, kepalanya msh lembek. Untungnya ga ada Kenapa2.
Masalah maut ini makin aku pikirin di saat usia dah dewasa skr. Makin tua,makin inget Ama jatah umur yg makin berkurang. Cuma bisa berharap di saat sudah waktunya Tuhan memanggil, semoga saat itu aku sudah punya bekal yg cukup 😔.
Memang mbak, setiap kali mengalami momen ‘near of death, atau melihat langsung saudara atau kolega kita yang berpulang tiba-tiba, pastilah menyadarkan kita bahwa hidup ini hanyalah sementara. Tak ada yang lebih pasti dibandingkan kematian, oleh karena itulah sebaiknya kita jadikan hari-hari sebagai persiapan.
Aku pun merasa, di umurku yang kepala 3 ini dosaku luar biasa banyakkk sekali. Kadang berhitung-hitung, ini pahalaku apakah sebanding? Apakah siap jika dipanggil? Kok ya masih saja hari-hariku sering lalai. Padahal dalam Qur’an, jelas-jelas dikatakan ‘celakalah orang-orang yang lalai’.
Maka dari itu, aku bersyukur sampai detik ini masih bisa diberikan umur. masih diberi kesempatan bertobat dan memperbaiki diri. Karena kelak, jika memang sudah waktunya kita dipanggil, maka tak ada satu pun yang sanggup menghindar dari-Nya.
Kepala terbentur membentuk mozaik
Rasa dramatik sedikit berantakan
Jikalau ada tutur yang kurang baik
Kiranya mbak nik senantiasa maafkan
Maut dan ketidakpastian seperti jalan mulus untuk iman,
memberi ruang besar dan panggung untuk bersinar.
setuju sama kalimat ini kak 🙂
Mbak Nik, gimana kondisi dah kabarnya sekarang? Aku baru tahu kalau mbak sampai di CT Scan karena ada benturan keras yang telinga nggak nyaman. Kebayang sih rasa khawatir dan takutnya kayak apa. Beneran langsung kepikiran terkait kematian.
Tulisan ini reflektif banget. Bikin menyadari bahwa maut dan ketidakpastian selalu menyertai dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Hanya saja, kadang kita tidak terlalu peka untuk merasakannya.
Semoga kita semua dipanggil berpulang dalam kondisi terbaik. Sehingga ada damai berpulang ke pangkuanNya 😇🙏
Berpasrah, berdoa, dan terus melakukan hal baik mengisi hari-hari yang semakin penuh tantangan dan pelik. Semoga semakin strong. Have a great day, aamiin 😇🙏
Alhamdulillah Kak Niek tidak kurang suatu apapun. Semoga sekarang sudah pulih dan sehat kembali. Kondisi telinga sudah ekmbali nyaman. Bicara tentang maut dan ketidakpastian memang memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap selalu berusaha berada dalam kondisi iman kepada Tuhan, disebabkan oleh ketidaktahuan kapan kita berpulang maka sebisa mungkin ingin sekali selalu ada dalam kondisi baik dan tidak sedang berbuat dosa. Berserah kepada Tuhan dan tetap berdoa agar saat maut menjemput kita sedang ingat kepada Tuhan
Mau memang pasti datangnya, tinggal bagaimana kita menyambutnya bahagia dengan persiapan bekal.
Sehat-sehat untuk Kak Nik.
Pastinya jatuh gedebuk seperti itu gak menyenangkan. Soalnya daku pernah ambruk pas lagi sholat, gegara vertigo.
Btw, apakah masih ngopi Kak? 😭
Kehidupan memang selalu memberikan kejutan ya, bisa manis bisa pahit, tapi maut adalah akhir dari kehidupan duniawi yang harus direnungkan juga, karena semua orang akan mengalaminya. Supaya hidup yang singkat ini berharga
maut sendiri adalah sesuatu yang pasti. Dalam artian pasti akan datang pada setiap makhluk yang bernyawa.
Hanya saja, waktunya kapan yang nggak pasti. Makanya, sebagai makhluk, kita hanya berupaya dengan baik untuk menyiapkan bekalnya.
Agak serem nih kalo udh bicara kematian. Hehe. Btw, tulisan kak Nik ini hadir sebagai kontemplasi yang sunyi namun sangat bertenaga tentang esensi keberadaan kita sebagai manusia ya.
Sepakat ama pemikiran Mbok gek Nik yg membingkai “ketidakpastian” bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai ruang di mana iman justru bisa tumbuh paling subur.
Menarik sekali melihat bagaimana narasi ini mengajak kita untuk berdamai dengan maut bukan dengan rasa takut, tapi dengan kesadaran untuk menemukan “jalan pulang” yang lebih bermakna melalui tindakan nyata di dunia.
Segala hal di dunia ini tidak pasti, tapi maut itu pasti terjadi. Hanya saja waktu dan caranya yang kita tidak pernah tahu. Dulu selalu merasa takut jika membayangkan meninggal. Tapi akhir-akhir ini berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Ya karena pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari, jadi tidak perlu takut. Semua sudah diatur, ada jalannya. Begitulah iman menuntunku.
Btw orang dewasa jatuh dari tempat tidur itu memang kejadian yang tidak biasa dan cukup mengejutkan ya mbak. Tapi lagi-lagi, kalau sudah takdirnya, apa saja bisa terjadi, bahkan hal-hal yang paling mustahil sekali pun.
Saya jadi ingat nih sama teka teki dari imam Al Ghazali tentang apa yang paling dekat dengan kita dan ternyata jawabannya adalah kematian. Semakin bertambahnya usia pastinya juga mengingatkan kita kalau jatah hidup di dunia juga semakin berkurang dan kematian bisa datang kapan saja. Sebagai muslim dan manusia kita tentunya ingin bisa menyambut kematian itu dalam kondisi yang baik dan iman yang kuat
Mba Nik, aku doakan semoga selalu sehat wal afiat. Semoga aman ya mba, nggak ada efek dari jatuhnya…
Baca tulisan Mba Nik seperti refleksi ke diri sendiri juga. Dunia ini memang serba nggak pasti. Kata orang yang pasti di dunia ini cuma kematian yang di mana kita juga nggak tahu kapan waktunya.
Jdi manusia memang akhirnya mesti berserah ya mba.. :’) Kita cuma bisa berusaha dan berdoa semoga segala hal baik sellau menghampiri kita.
Mbak nikkk.. baca ini jadi keinget alm. Bapak. Hiks…
Pas bapak saya ndak ada, tuh kayak g bisa tidur. Takut lihat hp dan nggak berani ngapa²in. Entah kenapa kayaknya Tuhan tuh sering kasih pertanda² bahkan malam itu aku mulai baca sebuah buku yg isinya kematian ayah. Pas sekali
Besok subuh²nya dapat tlp bapak meninggal.
Anehnya, ndak ada raungan terlalu beredih. Kayak sejak awal pertanda² itu, kukira Tuhan berharap saya mempersiapkan diri. Harus ikhlas dan menangis secukupnya.
Maut, cilaka dan teman²nya tidak bisa kita kontrol sepenuhnya. Dan sampai saat ini, saya berusaha dgn baik, tidur dengan memikirkan ini dan bangun dengan melakukan hal² baik. 🥹
Menurutku, justru maut dan ketidakpastian inilah yang jadi salah satu penjaga untuk kita terus berusaha sebaik mungkin dalam setiap langkah ka Nik. Karena kematian itu hadir di waktu yang tidak bisa kita perkirakan, maka kita hanya bisa berjalan dan berharap saat itu hadir, kita berada pada kondisi yang terbaik sehingga tidak malu untuk menghadap Tuhan yang telah menciptakan. Kita jadi bisa membuktikan kalau hidup yang diberikan bisa dimanfaatkan dengan baik (walau memang manusiawi ya dengan jatuh bangunnya keimanan). Tapi justru Tuhan memperhitungkan usaha yang kita lakukan saat iman sedang goyah, bagaimana kita bisa tetap bertahan yakin padaNya dan melakukan perintahNya dalam kondisi yang tidak ideal tersebut. 😉
Alhamdulillah ka Nik gapapa. Kok ngebayangin jatuhnya keras banget banget sampai bikin ka Nik nangis gitu yaa, huhu. Tapi aku penasaran, kalau gapapa, kenapa telinga masih terasa kurang nyaman ya ka?
Hidup memang penuh ketidakpastian
Kadang berjalan sesuai rencana, kadang memberi kejutan yang tak terduga
Di sinilah iman sebagai penuntun ya mbak
Mbaa.. sekarang kabarnya bagaimanakah?
Semoga sehat selalu ya Mba.. duh teringat dulu pernah mengalami jatuh dari kasur.. semoga semua aman..
Kalau bicara pengalaman hidup dan mati selalu ingat setiap pasca operasi yang pernah dilalui. Rasanya membuat kita menjadi orang baru setelahnya.
Aku permnah mengalami satu periode dalam hidupku yang kemudian membuatku jadi diriku yang sekarang. Jadi kalau misalnya kena musibah tu malah jadi kek “mati rasa” mbak, soalnya kek “dulu aja pernah kena musibah yang besar tapi survive, kalau sekarang kyk gini doank, it’s ok aku bisa menerima” heuheu.
Maut dan ketidakpastian selalu ada dalam hidup tetapi kalau kita selalu ketakutan malah kek jadi ada di kepala terus jadi afirmasi negatif nggak sih?
Manusia cuma bisa melakukan bagiannya, ya bikin rencana ABCD, tapi ya lagi2 kita nggak tahu masa depan seperti apa. Jadi aku tu memutuskan hidup di masa sekarang aja do the best semampunya.
waduh sempat jatuh yaaa, semoga nggak pa pa dengan hasilnya ya mbak Nik.
Aku juga abis lebaran jatuh dari tangga, kaki sempat dibebat dan sampai sekarang masih kesemutan hiks, kena ini pun aku santai tapi sekelilingku yang heboh hehe. Cuma emang bete sih jadi nggak bisa nglakuin aktivitas biasa dengan leluasa. Menyesali kejadian itu tapi gimana lagi, itu salah satu ketidakpastian kan, udah takdir.
Bismillah moga sehat2 semua kita yaaa.
Tulisan ini mengingatkan kalau kematian memang tidak bisa ditebak waktunya
Jadi wajar kalau akhirnya kita diajak untuk lebih serius menjaga iman dan memperbaiki diri. Kehidupan di dunia itu sementara, kehidupan setelah kematian itu yang kekal. Tanpa adanya bekal yang cukup, perjalanan hidup setelah kematian bakal sangat melelahkan.
Ketidakpastian itu bukan sesuatu yang harus selalu dihindari, tapi justru bisa jadi ruang untuk menemukan makna dan memperdalam iman. Memang dalam banyak refleksi spiritual, keraguan dan ketidakpastian bukan berarti kehilangan iman, tapi bagian dari proses bertumbuh. Bahkan disebutkan bahwa keraguan bisa menjadi “jalan” menuju pemahaman yang lebih dalam tentang Tuhan dan kehidupan itu sendiri