#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Menjadi WNI dengan Utuh: Luka, Kesempatan, dan Tanggung Jawab yang Menguji Cinta | Akar Kehidupan #37

Menjadi WNI dengan utuh adalah pilihan kesadaran. Bukan sekadar lahir di Indonesia, tetapi bersedia mencintainya lengkap dengan segala ketidaknyamanannya.

Akhirnya,

Ikut merespon sesuatu yang sangat mengusik. Sebagai warna negara yang mencintai negeri ini, rasa-ku tergores dengan apa yang tersiar beberapa waktu terakhir.

Ketika melihat kontennya, aku berusaha selalu menahan diri untuk tidak merespon langsung, jika puluhan tahun lalu sebelum di didik oleh hidup, aku pasti akan langsung mengutarakan hati dan pikiranku untuk merespon sesuatu yang menurutku tak sesuai.

Tetapi setelah hidup mendidik, aku selalu memberi ruang jeda dan membiarkan waktu memberi pengertian dan kesadaran,apakah perlu, penting dan apa manfaatnya kalau di respon. Lalu kalau memang perlu maka bagaimana meresponnya.

Dan ketika mendengar kalimat ini, hatiku sungguh tergores dan logiku mengajak untuk menaruh rasa itu sementara.

Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan

Seminggu berlalu dan masa itu, rasaku menyadari makin banyak orang yang katanya berpendidikan tinggi, sampai S2 bisa berkata sesuatu yang menurutku tidak perlu.

Mengapa bisa mengatakan yang sejatinya itu menyiram air panas pada Ibu sendiri. Iya, mengingat tanah lahir sebagai tanah lahir. Akar kehidupan yang tidak akan bisa dilepas sampai kapanpun. Karena itu jika mengabaikan apalagi menghina, sama saja melukai diri sendiri.

Ibaratnya, kau lahir dari rahim Ibu dan saat pertumbuhan Ibumu sedang mengalami yang rumit dan tidak mampu mencintaimu dengan baik, kau marah dan merasa hina terlahir dalamnya. Sedangkan Ibu adalah akar adanya diri.

Sah saja, setiap orang punya pilihan dalam hidupnya untuk berlaku. Soal dosa dan lainnya, tentu waktu dan kehidupan tidak akan tinggal diam.

Perkaranya, di kontek saat ini Ibu yang di abaikan dan buatnya terhina itu punya anak begitu banyak dan aku termasuk di dalamnya. Tentu tidak bisa diam saja. Perlu juga bersuara. Sebagai satu respon atas kecewa atas saudara sendiri.

Murni respon atas rasa sedih, kecewa, yang bertujuan mengajak semua pihak untuk lebih sungguh menjadi WNI dengan utuh. Menyadari bahwa negeri ini adalah IBU PERTIWI yang perlu di jaga, dicintai dengan segala yang ada padanya.

Menjadi WNI dengan Utuh
Indonesia, engkau berharga – Menjadi WNI dengan Utuh

Menjadi WNI dengan utuh sebuah cerita pengalaman hidup, sebagai satu anak negeri yang terus berjuang untuk berkehidupan, ditengah Ibu yang terus di perkosa, direbutkan dan sering dibandingkan tanpa mengerti seutuhnya

Baca juga: Indonesia engkau berharga – Dirgahayu 71 Negeriku.

Ibu Pertiwi yang Terluka: Warisan Penjajahan dan Kedewasaan Mencintai Indonesia – Luka sebagai Titik Awal

Menjadi WNI dengan utuh, hal mendasar perlu kembali di ingat, bahwa Indonesia memang sudah merdeka delapan puluh tahu, tetapi jangan juga lupakan kalau Ibu pertiwi pernah di jajah selama ratusan tahun.

Fakta ini bukan untuk mengasihi diri, tetapi sebagai makna bahwa warisan luka ratusan tahun, tidak mudah untuk di sembuhkan. Selain itu, anak-anak bangsa yang begitu banyak, dengan karakter yang sangat beragam, tentu akan jauh lebih tidak mudah dalam pemulihannya.

Belum lagi sepanjang kemerdekaan, banyak anak-anak bangsa yang tidak paham akan jati dirinya. Seringkali membandingkan dengan bangsa lain. Merasa tidak bernilai dan selalu mengagungkan negeri orang.

Dan juga Ibu Pertiwi yang begitu cantik dan kaya memang sejak dulu menjadi daya tarik banyak bangsa. Sejarah sudah membuktikan bagaimana negeri ini diperebutkan dan diupayakan untuk dikuasai. Saat ini mungkin bukan lagi dengan penjajahan terang-terangan, yang sering kali tidak kita sadari.

Kadang ia tercermin dari hal sederhana, lebih bangga memakai produk luar, lebih tergoda berpetualang ke negeri orang dengan alasan lebih murah atau lebih bergengsi, sementara negeri sendiri jarang kita lirik dengan rasa bangga yang sama.

Bukan berarti mencintai produk atau negara lain itu salah. Tetapi menjadi WNI dengan utuh berarti tetap sadar akar. Tidak kehilangan hormat pada tanah yang melahirkan kita.

Berangkat dari hal itu, izinkan aku bercerita tentang bagaimana caraku menjadi WNI dengan utuh. Berusaha tetap mencintai negeri ini di atas segala penderitaannya.

Mengolah Rasa - Menjadi WNI dengan Utuh
Mengolah rasa luka -menjadi WNI dengan Utuh

Baca Juga: Affan Kurniawan: Luka Indonesia dalam Usia 80 Tahun, Sampai Kapan?

Mencintai Ibu Pertiwi – menjadi WNI dengan Utuh – Kesempatan yang Membuka Ruang

Indonesia, Ibu pertiwi saat ini memang sangat tidak baik-baik saja. Terlihat carut marut, lapangan pekerjaan semakin sulit, keputusan regulasi terasa semakin memberatkan. Banyak hal yang mengecewakan.

Aku tidak mencoba mengalihkan, bagaimana pentingnya juga kita perlu kritis akan pemerintahan. Soal ini aku sendiri bukan tidak mau ikut kritis, tetapi aku melihat sudah terlalu riuh. Lebih memberikan ruang pada mereka lebih berkapasitas.

Dalam hal ini, merespon perkataan mba-nya yang merasa cukup saja dia WNI, aku perlu menulisnya karena lebih mengajak pada siapapun untuk membuka kesadaran menjadi WNI dengan utuh. Mencintai dengan kesadaran bahwa Indonesia adalah rumah, akar utama kita ada.

Karena itu aku menulisnya untuk series Jumat Kembali ke Akar kehidupan.

Aku sangat setuju dan sepakat, mencintai Ibu pertiwi saat ini tidak mudah. Menjadi WNI yang utuh itu sebuah tantangan yang sungguh menguras emosi.

Tetapi, jika ditanya dengan penuh kesadaran dan jujur, apakah dengan marah, kecewa, membenci, menghina kehidupan kita akan berubah jadi lebih baik?

Dengan ini, izinkan aku mengajak kita semua yang lahir, hidup dan di negeri ini, mari arahkan rasa kecewa dengan lebih fokus untuk menjadi WNI dengan utuh. Mencintai dan memperlakukan Ibu pertiwi dengan cinta kasih.

Ada banyak cara mencintainya. Seperti mulai merawat, menyembuhkan luka-luka warisan dengan mulai mencintai semua hal dalam negeri, termasuk product atau hal-hal lainnya.

Mungkin kualitasnya tidak sebaik yang lain tapi paling tidak adil-lah sedikit. Sah dan tidak ada yang salah kok dengan membeli atau menggunakan product negara lain, tetapi boleh dong sedikit dibagi, biasanya memakai product semuanya brand negara lain, mulailah dengan sisihkan sedikit, iya paling tidak 30% product dalam negeri, syukur-syukur bisa minimal 50%.

Atau seperti belasan tahun lalu aku membentuk komunitas traveller, mengajak orang untuk traveling ke negeri sendiri. Iya, setuju banget kok terasa lebih mahal. Tapi dari beberapa kali ke negeri orang, boleh dong ada bagian traveling dalam negeri.

Soal keindahan atau kesenangan, dalam negeri tidak kalah kok. Aku begitu gencar saat itu mengajak trip dalam negeri karena ini satu caraku menjadi WNI dengan utuh. Alih-alih benci, mengeluh apalagi menghina, lebih baik alihkan energi ke yang lebih baik.

Maaf, aku tidak mau dulu jelajah ke negeri orang sebelum menginjak semua pulau atau kepulauan besar di negeri ini, dari Sabang sampai Papua.

Begitu jawabku, belasan tahun lalu ketika di ajak teman berkelana di negeri orang. Bukan tidak mau membuka diri, mengenal negeri orang. Tetapi aku punya prinsip, mengenal diri sendiri dulu baru orang lain.

Ini caraku mencintai negeri menjadi WNI dengan utuh. Melakukan sesuatu. Dengan traveling dalam negeri dan mengajak banyak banyak orang untuk ikut, perputaran uang akan jatuh pada negeri sendiri.

Aku paling senang ketika melihat, orang-orang daerah begitu semangat menerima kami. Wajah-wajah sederhana menyambut dengan kasih yang tulus. Dan aku sendiri sukacita karena makin memberi manfaat pada mereka, dengan kedatangan kami, pendapatan mereka menjadi bertambah dan keuangannya semakin baik.

terbaik bumi pertiwi - Peta Rasa Sukacita - Menjadi WNI dengan utuh
Terbaik bumi pertiwi – terbaik bumi pertiwi – Peta Rasa Sukacita – Menjadi WNI dengan utuh

Dengan lebih sering menjelajah negeri sendiri, aku semakin memahami diri. Aku tidak hanya mengenal Indonesia lewat berita, tetapi lewat wajah-wajah saudara sebangsa yang kutemui langsung. Dari sana aku belajar membaca “tubuh” negeri ini, melihat daerah-daerah yang masih berjuang, yang membutuhkan dukungan untuk bertumbuh.

Terutama dalam hal pendidikan.

Di sanalah hatiku tergores ketika mendengar kalimat, “cukup aku saja jadi WNI.” Kalimat itu terasa seperti pedang tajam, apalagi ketika mengetahui bahwa pendidikan yang pernah diraih di negeri orang pun bertumbuh dari uang negara, dari kontribusi rakyat yang sama-sama berjuang.

Barangkali karena itulah, aku memilih untuk tidak berhenti pada menyalahkan pemerintah atau keadaan. Mencintai negeri dengan utuh bukan hanya soal kritik, tetapi juga tentang tindakan kecil yang berdampak. Memperlakukan keluarga sebagai bagian dari akar negara dengan baik. Merawat lingkungan di mana pun kita berada. Saling mendukung dengan jujur dan bertanggung jawab.

Sebab di balik semua itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa kita abaikan:

Baca juga: Terbaik Bumi Pertiwi – Langkahku Indonesia – Part 2

Tidak Setiap Anak Indonesia Memiliki Kesempatan Sekolah Tinggi

Selama seminggu ini, aku menyediakan waktu untuk lebih banyak mengetahui tentang berita si mba-nya ini, ternyata mba-nya kalau di lihat cukup tahu tentang kondisi pendidikan negeri, dan jejak langkahnya ada yang membuat hati hangat.

Namun rasa hangat itu menjadi dingin ketika melihat bagaimana semua yang telah ia lakukan terasa seperti perlakuan yang hampa. Seolah dilakukan tanpa cinta dan tanpa kesadaran akar. Ucapannya yang berbinar, “cukup aku saja jadi WNI,” seperti isyarat bahwa menjadi WNI adalah sesuatu yang tidak baik.

Mirisnya, mungkin ia tidak menyadari bahwa kalimat itu melukai banyak anak negeri yang masih berjuang dengan bangga atas identitasnya. Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, sulit rasanya menganggap pernyataan itu sekadar terpeleset. Kata-kata, apalagi yang diucapkan dengan yakin, selalu membawa makna dan dampak.

Seandainya saja mba-nya lebih eling-eling dalam tata ucap, mungkin langkah yang pernah dilakukan membangun negeri dengan mendukung Happy Hearts Indonesia,negeri ini lebih hidup.

Sayangnya, lukanya lebih besar dari integritasnya. Melupakan akar yang memang sudah di tugaskan kehidupan.

Menjadi WNI dengan Utuh dan Tugas Kehidupan – Tanggung Jawab sebagai Ujian Cinta

Siapa yang bisa meminta terlahir di mana, setiap kita sudah di atur oleh pemilik hidup untuk setiap pribadi lahir ditempat yang kelak memiliki tugas masing-masing.

Karena itu, negeri yang di sebut Ibu pertiwi tidak bisa lepas sejauh mana melangkah. Bisa saja akan berpindah pakaian seperti identitas, tetapi darah yang sudah mengalir, tubuh yang pertama di beri asupan dari tanah negeri ini, air yang menjadi utama membuatmu hidup sudah mendarah daging.

Kita tidak bisa menolak, sehebat apapun diri kecewanya. Seperti sudah menjadi tugas dan kehendak kehidupan. Maka menjadi WNI dengan utuh sudah menjadi kewajiban. Karena itu AKAR atau awal-nya kita ada di bumi ini.

Akhirnya,

Kembali aku katakan bahwa, aku perlu untuk menulis sebagai respon anak negeri atas perkataan yang sudah terasa sebagai penghinaan bumi pertiwi.

Bukan soal bagaimana kasus lebih mendalam dan seperti apa kehidupan mba-nya, tetapi lebih pada sebuah perkataan yang menyentuh nilai bumi pertiwi, bangsa Indonesia, aku sebagai bagian dari itu perlu untuk merespon dan mengajak semua anak bangsa untuk lebih eling-eling.

Mencintai Ibu pertiwi dengan menjadi WNI yang utuh memang tidak mudah, tetapi disinilah cinta di uji. Karena sejauh mana-pun melangkah, sehebat apapun menggantikan identitas dirimu, menjadi bagian negeri Indonesia yang sudah melahirkanmu tidak akan pernah bisa digantikankan.

Kalau menurutmu, apa arti menjadi WNI dengan utuh? Berbagi cerita yuk dengan menulis pandanganmu di kolom komentar.

Jakarta Selatan, Februari 2026
Ditulis setelah menerima penolakan tetapi tetap bersukacita karena sudah mengerti pola hidup.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

14 Responses

  1. Jadi wni atau bukan memang pilihan pribadi, tapi aku sepakat sama mba nik, mengungkapkan itu ke media itu adalah hak yang menyakitkan. Sebagian lain menganggap sikap si mbak itu adalah kesombongan, meski faktanya memang jadi wna kehidupannya lebih baik, tapi yaitu tadi, ibarat ibu pertiwi sedang tidak baik2 saja apakah lalu kita merasa hina tinggal disana? Cuma aku memilih tidak mengomentari si mbak itu sih

  2. Ikut miris dengan segala kekisruhan yang ada di negeri ini, termasuk berita-berita negatif seperti sesembak yang mengagungkan paspor negeri orang dan merendahkan paspor hijau Indonesia. Walaupun kenyataannya memang sangat banyak yang harus diperbaiki di negeri ini, tapi kalau sudah dihina, apalagi oleh salah satu anak bangsanya, serasa tak ridho juga

  3. Nah, ini sempat dibahas dalam forum alumni kampusku mbak Nik. Sebenarnya kalau dibilang, ya silakan saja kalau mau jadi WNA atau semacamnya, tapi simpanlah itu untuk diri sendiri. Not for sharing in public space. Kenapa ya jadi kisruh sana sini..

    Makanya, dulu pas aku mau apply LPDP, suamiku nggak setuju. Alasannya bikin aku heran waktu itu. Karena aku belum jadi profesional. Marah. Tentu. Tapi, ternyata alasannya baru bisa kupahami pas konten ada DS ini turun.

    Kalau LPDP dan awardee adalah seorang profesional (dosen, guru, researcher, and whatever sebutannnya, pemilik bisnis, pemilik NGO) cocok buat apply, karena kontribusinya bakal terarah dan terukur. Sementara beda, kalau hanya iseng untuk ngerasain sekolah di LN.

    Tapi ada bagusnya juga DS ini bikin konten begitu. Lembaga LPDP pun akhirnya bisa berbenah, mengevaluasi dan berharapnya jadi transparan mengenai dana pendidikan. Dan harapanku dari isu ini tidak ada konflik kepentingan dari pemangku kebijakan. ❤️❤️❤️

  4. Sejujurnya aku pun kesel pas lihat konten nona LPDP satu itu mbak.
    Karena jujur, aku tak pernah membenci negeri ini. Aku mencintainya dengan sepenuh hati. Jika ada satu hal yang kubenci, hanyalah orang-orang busuk yang ada di pemerintahannya. Sudah, itu saja. Tapi kalau sampai merasa bahwa WNI adalah sesuatu yang jelek dan hina, menurutku diksinya tidak pas dan sudah berlebihan si.

    Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Negeri ini hanya kekurangan orang jujur.
    Itulah mengapa, mungkin kiranya Soekarno pun berkata berikan aku 10 pemuda. Tapi yaa, pemudanya pun yang jujur ya! hehehe

  5. Menurutku pribadi ungkapan cukup aku WNI anakku jangan tu karena kecewa banget sama pengelola negara ini yang makin ke sini makin ngawur nggak sih? Terutama soal kesempatan untuk menjadi “sesuatu” yang kelewat kental KKN-nya, sehingga rakyat jelatah nggak kebagian apapun T.T
    Cuma emang ada yang diem2 aja memendamnya sambil mengusahakan, ada pula yang frontal kayak si mbak viral.
    Aku sendiri berharap di manapun anakku berada pokoknya asal jadi orang yang berguna dan nggak merusak tatanan dunia aja hehe. Kalau misalnya di LN lebih baik buat mereka dan ada kesempatannya ya diambil aja, entah melalui sekolah atau bekerja.
    Kalau misalnya rezekinya di dalam negeri juga gpp, yang penting jangan jadi orang jahat dan serakah.
    Jujur aku kepengen reformasi lagi, tetapi tanpa kerusuhan seperti 98 pastinya T.T
    Semoga ada keajaian dari Tuhan lha buat negara ini. Udah 80 tahun merdekat tetapi makin ke sini makin buruk aja, banyak konstitusi yang dobrak-abrik demi kepuasan pejabat2 serakah di atas sana. Mana fungsi trias politica nggak jalan. Walaupun aku cuma emak2 biasa, tapi sebagai lulusan FISIP jiwaku meronta2, rasa2nya yang diajarkan sama dosen2ku dulu teori2nya beda semua ma realitas wkwk.

  6. aku waktu lihat video dia itu sempat ngebatin lho, mbak. Segitu buruknyakah baginya dilahirkan menjadi WNI sampai harus berbangga sekali ketika bisa membuat anaknya punya paspor inggris. Tapi di lain pihak aku juga sadar negara kita sangat tidak baik-baik saja sehingga banyak yang dengan suka rela meninggalkan kewarganegaraannya untuk kehidupan yang lebih baik. Cuma yang aku kaget ternyata jadi panjang banget dampaknya akibat satu kalimat yang dia ucapkan itu sampai merembet ke orang tua dan suaminya juga. Jadi seperti kata orang ya mulutmu harimaumu, berhati-hatilah dalam berbicara.

  7. Saya pun kemarin ikut menyimak Mbak Nik. Dan saya tidak merespon atau iku berkomentar. Sudah diwakilkan oleh netizen lain hehehe.
    Yang membuat terluka karena sua seolah-olah tak nyaman jadi WNI. Padahal dia lahir di Indonesia. Mirisnya dia sekolah ke luar negeri juga karena beasiswa dan dibiayai oleh negara. Suaminya juga dapat beasiswa. Jadi kesannya kacang lupa kulitnya. Padahal seandainya dia ada masalah saat di luar negeri, Indonesia juga yang aja. Membantunya.

  8. Saya pun nggak langsung merespon Mba, tadinya mau silaturahmi ke akun ybs, dipikir-pikir lagi. Udah deh saya nggak mau bereaksi yang berlebihan meski memang kesal dan jadi mikir lagi begini ya, yang udah dapat beasiswa dari Indonesia melanjutkan S2 di Belanda terus sekarang sangat bangga anaknya jadi WNA di Inggris. Sayang banget ya, miris di saat di pelosok negeri banyak anak bangsa yang kesulitan melanjutkan kuliah atau sekolah ini ada sosok yang bikin ngelus dada. Cukuplah jadi pembelajaran kalau oversharing di sosmed itu sangat berbahaya dan bisa jadi blunder buat diri sendiri. Apalagi ini bawa nama negara atau ibu pertiwi.

  9. Ih mbaa Niek….saya pun gemeez pas melihat konten dia terus berseliweran di timeline saya. Padahal dia dapat beasiswa LPDP dari pemerintah, hidupnya dibiayai pemerintah. Eh balasannya koq begini. Kalau pun misal dia ada kekecewaan yaa mendingan dirasakan sendiri saja, jangan dilempar ke sosmed kalau sudah begini kan jadi ramai. Dihujat netizen deh dia.

    Saya sih mengamati dan memperhatikan saja, sambil ngelus dada dan saya setuju 1000% atas pendapat mbak Niek bahwa “Menjadi WNI dengan utuh sudah menjadi kewajiban. Karena itu AKAR atau awal-nya kita ada di bumi ini”.
    Indah sekali pernyataan mbak Niek ini.

  10. Jujur, aku salah satu orang yang sedang berupaya mencari peluang di negeri lain. Tetapi, untuk mencari penghidupan saja. Bukan untuk berpindah kewarganegaraan karena aku akan memilih untuk tetap menjadi WNI.

    Aku hanya sedang berupaya realistis, mengejar peluang lebih baik. Tanpa menghilangkan asalku dari mana. Makanya, pas mbak nya tersebut up kalimat itu di socmed, miris. Secara beliau bisa S2 di luar negeri jalur beasiswa dari negeri kita yang diperebutkan puluhan ribu anak Indonesia. Kurang etis emang apalagi di situasi negeri yang sedang kacau balau, rumit. Setiap hari beritanya meresahkan dan bikin naik darah.

    Semoga kita tetap menjadi WNI yang utuh, mencintai Indonesia tanpa pamrih. Walau tinggal di luar negeri pun, tetap bangga sama negeri tercinta. Cinta mendalam terhadap negeri yang memang menjadi tanah tumpah darah.

  11. Aku S2 mau lanjut S3 di luar negeri saja tuh berpikir karena takut selama di sana saya terpukau dengan karakter orang luar yang terkenal disiplin dan hal baik lainnya
    Namun, bukan jadi alasan bagi saya untuk kemudian memaki-maki negara sendiri yang sejak saya dalam kandungan sudah memberikan damai, tidak lahir dalam perang

  12. Iya miris sih perkataannya, yang sebaiknya disimpan sendiri saja di masa seperti ini jadi terlihat tone deaf. dia yang dimanjakan dengan fasilitas dari keluarga, mendapatkan privilege beasiswa untuk dia dan suami eh malah tega bilang begitu padahal banyak orang Indonesia yang tak mampu mengecap pendidikan dasar…

  13. saya pribadi selalu bangga jadi WNI… walau tuiap hari ada aja gebrakannya..Sepewrti biasa Mba Nik tuh nulis dengan sangat menyentuh dan bikin mikir panjang. Bacanya tuh kayak diajak ngerasain sendiri luka, bangga, dan cinta yang kamu tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink