Menjelang 2026, dunia seakan menahan napas, dan di tengah ketidakpastian itu, diajak untuk kembali menanyakan hal-hal paling mendasar tentang diri. Tanpa perlu terburu mencari jawab, tetapi lebih bagaimana arah dan kesadaran bisa hadir.
Awan setengah sendu memandang padaku dan tidak menunjukkan dirinya akan menangis, ia malah sedikit tersenyum padaku. Menyapaku, mengingatkan diri kemarin bertemu dengan beberapa kesayangan. Orang yang selalu ada di tahun 2025, menerima segala rasaku, mencari disaat diri sedang diam tanpa suara. Mengawali renungan menjelang 2026.
Masih banyak yang merangkulmu Nik, begitu awan berkata dan aku kembali sadar betapa hidup tidak pernah sedikitpun, mengingkari janjinya untuk tetap menjaga dan memeliharaku.
Baca Juga: Kisah Waerebo – kutemukan kekuatan di wajahmu
Siapa yang di 2025 waktunya SELALU ceria?
Dari orang yang datang padaku sampai tersiar di mana-mana, sampai tulisan ini dibuat, waktu tidak menunjukkan mengarah lebih nyaman. Banjir, kebakaran, polah pemangku kepentingan semakin menjadi-jadi. Ingin rasanya mencabik semuanya. Tetapi untuk apa? apakah emosi berguna? Lantas apakah semua bisa berdampak lebih baik?
Nyatanya, sudah banyak bereaksi tetapi mereka seperti tidak perduli. Menunjukkan, dunia ini memang sudah tambah sakit. Konon tahun nanti diberi label kuda api, seakan apinya sudah mulai hidup dari akhir tahun ini. Panas dan memancing emosi.
Kemudian, aku menaruh semua rasa pedih, kecewa, pilu ini pada sang kehidupan dan berupaya menggantikan waktuku dengan pertemuan-pertemuan, yang memang seperti biasa aku lakukan di akhir tahun.
Caraku merayakan kehidupan, sejenak di akhir tahun bertemu sebelum masing-masing mencari tempat berlibur atau melakukan hal-hal yang diperlukan. Dengan pertemuan itu, aku disadarkan kembali kalau hidup tetap merangkulku dan awan itu mengingatkan kembali.
Pertemuan orang-orang terkasih selalu memberi energi baik, dan dari sana lahir suatu kesadaran untuk berbagi pada pembaca, merenung pertanyaan penting menjelang 2026.
Sebelum lebih lanjut membaca tentang menjelang 2026, mari sediakan kopi hitammu atau secangkir teh hangat untuk menemani membaca tulisan ini dan lebih dari itu penting untuk dingat kalau pertanyaan ini tidak perlu buru-buru dijawab.
Biarkan rasa memeluk logikamu, biarkan mereka bercinta, sehingga nanti lahir sebuah kesadaran penuh, yang akhirnya menjadi akar kuat untuk melangkah dan bertumbuh di tahun depan.

1. Menjelang 2026: Bagian Hidup Mana yang Sudah Tidak Berakar?
Aku memandang cheese cake matcha sambil melihat rumput hijau di luar jendela. Sama-sama hijau, yang satu menenangkan mata hingga turun ke hati, yang lain nikmat di lidah, nyaman di rasa. Keduanya terpadu.
Sebagai seseorang yang tidak paham proses pembuatan cake, aku sungguh takjub. Ternyata keju dan matcha bisa selaras, menghasilkan rasa yang begitu nikmat. Nalarku lalu mencari makna dari apa yang kutilik dalam kehidupan.
Sejak belajar neuro-semantics, kata harus terasa semakin enggan bersamaku.
Apa yang harus dalam hidup?
Bisa jadi bukan itu yang kita mau, melainkan apa yang dianggap perlu.
Lalu, menjelang 2026 ini, hujan pun seperti bertanya padaku:
Bagian hidup mana yang selama ini dijalani karena “harus” bukan karena “hidup”?
Potongan cheese cake matcha itu lumer di mulutku, dan aku sadar: bisa jadi nikmat yang mendekati sempurna ini, tidak akan pernah kurasakan jika keju bersikap egois, mengharuskan pembuatnya untuk tidak mencampurnya dengan matcha.
Dan aku pun ingin bertanya padamu, apakah 2025 terasa berat karena kata harus itu memegang eratmu?
Menjelang 2026 ini, apakah masih ingin mempertahankannya?
Baca Juga: 2025 Aku dan Kamu – Kesadaran Mendalam yang Tak Terduga Apa yang Terbentuk?
2. Menata Arah Hidup 2026 dengan Ritme yang Lebih Pelan
Aku termenung ketika membaca tulisan “Apa yang sebenarnya kita minta dari anak-anak, ketika kita mendidik mereka?“
Tulisan penutup Dinda yang membuatku pilu membayangkan anak-anak yang terkena bencana alam. Miris.
Mengajak nuraniku berkelana mencari makna lapisan terdalam menjelang 2026. Pertanyaan penutup tulisan itu seakan bercermin padaku, sebenarnya apa yang diri minta pada hidup, berlari berlomba menaklukkan waktu. Percaya diri dengan bekerja lebih keras dan tidak memberi ruang pada diri untuk rehat, akan menjadikan masa datang lebih baik.
Aku memandang toples yang berisi jahe buatan berbentuk bulat, dikirim oleh seorang yang begitu hangat hatinya. Kawan yang boleh dibilang setahun kadang hanya bertemu sekali, bahkan di 2025 ini belum sempat bertemu, tetapi doa dan perhatiannya tidak pernah berhenti.
Baca juga: Kado Natal Terbaik: Menyelamatkan Langkah – Kembali Ke Akar #25
Satu pelukan hidup diwakili olehnya. Pemberiannya terseduh dan keteguk tadi setelah makan, hangatnya menyeimbangkan suasana sendu setelah hujan siang ini. Bersamanya kembali teringat, apa yang sejatinya diminta pada hidup?
Kemudian logika berbisik dengan tanya lebih tajam,
Saat tidak ada yang perlu dikejar atau dibuktikan, apakah kecepatan masih terasa perlu bagimu? Apakah kebutuhan itu lebih penting dari dirimu sendiri? Jika dirimu tak mampu melangkah, apakah pembuktian itu masih punya arti?
Pelan-pelan logika jatuh pada nurani dan pertanyaan menjelang 2026 yang tidak mengejar itu, membuka ruang-ruang kesadaran tak perlu buru-buru dan mengarahkan diri pada ketenangan.Aku tersenyum dan bangkit dari kursi untuk order kopi hitam.
“Mba, kopi hitam tanpa gula satu dong”

3. Nilai Hidup Apa yang Perlu Dijaga, Bukan Dikejar?
Tidak sampai lima menit kopi tersaji, kudiamkan sekitar setengah menit, panasnya tak mampu kuteguk. Setelah itu rasa pahitnya membasahi mulutku, nikmatnya melunasi resah akan ketidakjelasan waktu.
Empat belas hari lagi menjelang 2026, teduh hari ini seakan mendukung diri merenung, mempersiapkan menyambut tahun yang konon katanya lebih gesit dari tahun ini.
Setelah merenungi makna cepat, aku memandang kopi hitam, pahitnya memberi kenikmatan. Teringat 2025 terasa pahit tapi ternyata tersisip juga nikmat akan kesadaran, bahwa mempertahankan dan menjaga nilai hidup, tetap terhubung dan menjaga hubungan baik memampukan langkah tetap ada.
Kemudian, kembali tanya hadir dan mengajak diri lebih dalam merenungi,
Nilai apa dalam hidupmu yang selama ini paling ingin lindungi agar tidak rusak oleh ambisi dan pembuktian diri?
Aku berterima kasih pada waktu karena sudah menjaga diri, untuk tidak silau dengan alat, tetap menjaga tujuan. Tercermin ketika orang ingin dibantu meringankan beban hidup, diarahkan oleh coaching, tidak selalu aku menuntut bayaran.
Sungguh, aku butuh uang itu, apalagi ekonomi semakin tidak perduli dengan keadaan. Tetapi kebutuhan itu aku taruh dalam ruang hening, meminta pada pencipta untuk mengaturnya.
Dengan sudah menaruh pada doa, lalu ketika ada orang datang padaku dan tidak punya anggaran untuk membayarku, sedangkan hidupnya butuh dibantu, lantas dengan itu aku menolaknya?
Walau berjibaku dengan waktu karena perlu mengaturnya dengan baik, antara klien yang membayar dan tidak, aku tetap bersukacita melakukan tugas hidup dengan hati tulus. Percaya, kehidupan itu terlalu adil mengatur kecukupan.
Baca juga: Life Coach Hidup Berkehidupan – Cara Waktu memberi Tugas 2024
4. Refleksi Diri Sebelum 2026: Di Mana Kamu Pernah Meninggalkan Dirimu Sendiri?
Cermin dihadapan kupandang, ada wajah yang sudah berjuang sehebat-hebatnya melalui tahun ini. Tertatih tetapi tetap tersenyum bahagia karena akhirnya sudah sampai juga juga di penghujung tahun.
Apakah tahun mendatang lebih baik?
Pertanyaan menjelang akhir tahun sambil tetap memandang wajah dicermin, sepertinya tak ada yang bisa menjawab. Siapa yang tahu hari esok?
Ruang hening itu tetap memberikan bisikan-bisikan renungan.
Dalam setahun terakhir, di bagian mana kamu paling sering hadir untuk orang lain, tapi absen untuk dirimu sendiri?
Sisi lain dalam diri bertanya lagi dan sisa yang satunya seperti melembutkan rasa, biasanya ia begitu keras mengarahkan kalau hidup bukan tentang diri saja.
Mudahkan orang lain. Hal yang paling keras dan penuh sinar pada langkah, tetap mengingatkan bahwa diri adalah utama. Tubuh, jiwa dan raga adalah harta terbaik yang dimiliki, bagaimana bisa meninggalkannya jika mau tetap memberi kemudahan pada orang lain.
Melihat kembali 2025, ternyata aku sudah cukup adil pada diri. Biasanya tidak bisa leyeh-leyeh dengan tenang karena terus bertanggungjawab pada waktu. Tetapi tahun ini waktu mengajak untuk peluk lebih hangat. Memberi diri rehat lebih banyak.
Yang terpenting, tetap bergerak dan memberikan waktu materi untuk melihat, kelak tidak ada alasan untuknya tidak memberi apa yang dibutuhkan. Bukankah setiap usaha ada upahnya?
Renungan menjelang 2026 ini mengajakku lebih keluar dari diriku sebelumnya.

Kembali ke Akar Kehidupan: Bagaimana Merawat Peran Hidup di 2026?
Warna bunga ini begitu lembut, menyambutku tiap pagi seakan mengecupku dan menyapaku dengan senyumannya.
Minggu ini menjelang tahun 2026, hari-hari memang berbeda dari biasanya.
Ada sentuhan khusus merayakan akhir tahun dan setiap waktunya selalu ada tanya pada diri. Walau sudah setahun tak ada resolusi dan untuk tahun depanmu tak ada, tetapi aku mempersiapkan diri lebih dari itu.
Lebih utuh dan mengajak kesadaran lebih hidup, merenungi menjelang 2026 dengan tanya terakhir,
Jika 2026 sebagai sosok bernama “PERAN” bagaimana caramu menghidupinya dengan utuh?
Tanya hadir membuka ruang tenang menghadapi tahun penuh kecepatan, memperlakukan 2026 dengan cinta dan tanggungjawab utuh. Layaknya sosok sebagai peran yang ditangan, hidupi saja dulu dengan utuh.
Kembali ke akar kehidupan, mengerti akan diri dan memperlakukan peran dengan baik dan penuh tanggungjawab.
Baca juga series jumat sebelumnya: Kembali ke Akar
Akhirnya
Menjelang akhir tahun, sering kali membuka pintu bagi pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita tunda.
Barangkali lima pertanyaan diatas bisa membantumu, untuk membuka kesadaran penuh untuk menghadapi tahun 2026.
Atau kamu ada tanya hal lain, boleh ya bagikan di komentar.
Jakarta, tengah Desember 2025
Ditulis dalam ruang hening dengan landasan reposision Neuro Semantics.


17 Responses
Hai Kak Nik, terima kasih sudah melahirkan tulisan ini dan kebetulan aku baca di saat kondisiku lagi penuh pertanyaan: rasa nggak siap menghadapi 2026, rasa belum cukup merangkum 2025. Banyak pertanyaan yang Mbak hadirkan seolah kembali padaku, “apakah kebutuhan itu lebih penting dari dirimu sendiri?” nilai apa yang ingin kulindungi dan tidak rusak oleh ambisi diri, sering hadir untuk orang lain tapi absen untuk dirimu sendiri. Rasanya kok pengen menitihkan air mata :'( Terima kasih sudah membuat dunia ini jadi sedikit lebih hangat Kak.
Tahun 2025 memang banyak sekali hal² ‘mengejutkan’ dari berbagai tempat dan orang. Bahkan alam pun rasanya ikut-ikutan mau memberi kejutan. Aku sendiri yang mendengar saudara² di Aceh, Sumatra dan sekitarnya pun ikut merasakan bagaimana perasaan mereka Mbak Nik. Di benakku, nggak kebayang kalau itu terjadi padaku. Satu hal yang sering muncul adalah wajah anakku dan suamiku jika ada berita² kurang enak terjadi.
Di tahun 2026, aku tak tahu resolusi apa yang kutetapkan. Rasanya hampir menyerah kalau disuruh menuliskan resolusi karena resolusi tahun ini tidak tercapai dan malah bergeser dari rencana semula. Tapi kalau harapan, semoga tahun 2026, aku, mbok Nik dan semua org yg kukenal semoga selalu sehat. ❤️❤️❤️
Mbak Nik, secara pribadi daku ingin mengucapkan terimakasih yaa. Terima kasih telah hadir, dan menjadi satu diantara titik-titik pertemananku. Terima kasih atas segala bantuan, nasihat, dan seluruh hal positif yang membantuku merestrukturisasi diri perlahan. Meski masih banyak kekurangan, tapi daku senang karena setidaknya banyak teman-teman baik yang ada di sekelilingku.
Maaf kalau tahun 2025 ini aku banyak merepotkan. Semoga 2026 kita semua makin bersinar yaa. Shining shimmering splendid! hehehehe
Personally untuk 2025 bagi saya berjalan dengan baik dan menjadi guru, pengalaman dan bekal untuk siap menghadapi 2026 dengan berdamai. Tapi kalau melihat lingkungan sekitar, bahkan dalam skala besar seperti negara kita dan beberapa momen-momen di belahan dunia lain ternyata masih banyak hal-hal yang mengiris hati sampai membuat kita merenung sebegitu runyam kah dunia saat ini. So that, selain rapalan-rapalan doa untuk sendiri, terselip harapan juga agar negeri kita dan dunia ada dalam kondisi yang lebih baik di 2026 dan masa-masa selanjutnya
Time flies so fast, serasa kutak ingin meninggalkan tahun 2025. Jujurly tahun yang nano-nano banget 2025 ini mbak Niek, sebagian dari diriku enggan untuk melangkah maju, tetapi sebagian lain ingin segera berpindah. Hanya berusaha melakukan yag terbaik dengan versiku. Banyak yang berubah di tahun 2025 baik dari segi profesioanl maupun sosial. Semoga diri ini dapat berkarya dan berguna untuk sesama
Kelima pertanyaan yang sangat ngena dan bikin aku termenung memikirkan banyak hal. Terutama ketidak hadiran diri sendiri secara utuh ketika diri beneran butuh. Aduh, beneran berasa di cubit sakit. Betapa sering memikirkan oranglain dan ingin membantu tetapi sama diri sendiri malah sering tega banget. Puk, puk. Semoga segala dinamika di tahun 2025 ini kasih banyak pembelajaran berharga dan lebih siap menyongsong 2026, harus penuh ketenangan dan kesadaran supaya tidak kehilangan value diri.
2025 dan segala ke-dar der dor-annya harus diakui kerap bikin fisik dan mental jadi termlehoy mlehoy
semogaaa kita bisa makin eling, mindfull dan sigap menjalani 2026 dan selanjutnya
Walau tdk mudah, insyaAllah Tuhan senantiasa kuatkan kita 💪
menjelang akhir 2025, masih beberapa pertanyaan terus membayangi perjalanan hidup saya, mbak NIk, salah satunya, “Sampai kapan saya akan berada di situasi dan kondisi seperti inii?” karena perasaan sudah berusaham tapi hasil begitu-begitu saja. Apa masih ada yang kurang maksimal yang belum saya lakukan?
Tapi akhirnya.. memikirkan serba tak cukup, serba tak puas, serba tak sesuai harapan, sangat melelahkan hati dan pikiran. sampai akhirnya pada pemikiran, Tuhan memberikan sesuai apa yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan. Apalagi saya masih terus diberi kesehatan yang merupakan anugerah yang luar biasa. intinya, saya harus banyak-banyak bersyukur.
Tentunya setiap orang punya dan mengalami sesuatu hal di tahun 2025 ini. Kejadian bahagia dan sedih datang silih berganti. Entah itu persentasenya seimbang, atau mungkin ada salah satu yang berat timbangan keadaannya. Namun, yakin selalu Yang Maha Pengasih akan memudahkan langkah baik yang kita jalani. Semangat 🔛🔥
tertatih tetaap tersenyum karena di tahun ini aku berusaha menuju sesuatu yang penat di hati. Bukan soaal uang, karir,status atau duniawi apa itu , but aku coba menanyakan ke dalam hati , apakah tahun ini aku sudah benar2 bersyukur kepada tuhanku , apakah khidupan aku ini sudah yakin sama Allah , jujur aku pengen nangis bangeut ka ya Allah maafin aku , terimakasih ya ka atas tulisan nya yang tulus selalu mengingatkan
Sebuah tamparan pertanyaan berisi 5 hal kehidupan yang patut kita renungkan. Nggak usah menunggu akhir tahun/awal tahun. Tapi setidaknya bisa kita renungkan setiap hari.
Makasih kak Nik udah mengingatkan hal2 di atas. Demi hidup yang lebih baik ke depan. Kadang kita ga perlu mengejar hidup agar setara dgn orang lain. Atau mengejar peran tertinggi agar hidup kita tervalidasi. Mgkn kita cmn butuh bertahan asal kebutuhan dasar terpenuhi. Biar kita terus dpt berperan lebih baik lagi dan bs menyiapkan hidup sblm kita dipanggil Tuhan nanti.
Terima kasih untuk tulisannya yang indah di penghujung tahun. Memang pertanyaan tentang hidup tak ada habisnya. Tentang apa yang sudah berlalu dan tentang apa yang akam datang. Saya sendiri tidak banyak menyimpan pertanyaan tentang apa yang sudah berlalu, walaupun hal-hal tak terduga terjadi menjelang akhir tahun ini. Aku lebih fokus bertanya tentang apa yang menanti di depan sana. Akan seperti apa hidup tahun depan? Sejujurnya pertanyaan ini malah bikin was-was. Tapi sebagai manusia kita harus tetap berjalan maju menghadapi apapun yang akan terjadi, siap maupun tidak siap.
Masih ada beberapa hari menyusun rencana
Namun, ingat 2025 adalah tahun yang sangat menyedihkan
Kehilangan ponakan karena sakit di usia 6 tahun itu membuat terpukul
Semoga kelak mampu menjaga kesehatan lebih baik lagi
2026 ingin kulalui dengan lebih tenang
Ingin sukses berjualan puding
Mbak Niek, saya oernah membaca dalam satu buku bahwa kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain sebelum diri kita sendiri bahagia. Jadi memang pas yaa bahwasanya mengurus diri sendiri iru memang yang utama. Bahagiakan dl diri kita, baru menyapa yang lain. Agar kebahagiaan dari dalam diri kita menular ke orang lain. Hadir utuh untuk diri sendiri saat diri ini mebutuhkan dirinya.
Selamat menyambut tahun baru 2026 mba Niek, sehat selalu….
nggak terasa beberapa hari lagi udah memasuki tahun 2026, rasanya kayak baru awal tahun 2025 menjalani hari-hari di tahun ini, biasanya entah kenapa kalau udah memasuki bulan januari, terus aku bayangkan sampe desember, rasanya 12 bulan itu lama banget.
Dan pastinya resolusi yang aku mau ga pernah tersurat, aku simpen dalam pikiran dan mungkin di notes.
Tapi pastinya berusaha untuk memberikan yg terbaik untuk diri sendiri dan orang lain
Semoga di tahun 2026 semua resolusi bisa tercapai dan catatan tahun 2025 bisa menjadi pengingat supaya lebih bijak ke depannya ya mbak
Ah iya, sebentar lagi, tahun berganti
Terima kasih mbak, pertanyaan pertanyaan di atas, membantu untuk bisa berefleksi menjelang pergantian tahun