#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Nasi Sela Bali: Warisan Rasa Bertahan Hidup yang Kutemukan di Tuniang Resto Renon – Peta Rasa 31

Nasi Sela Bali. Aku menemukan menu ini pada satu resto di daerah Renon. Rasaku langsung menghadirkan kisah awal mengapa ada makanan ini. Peta rasaku menghadirkan sukacita, sejarah makanan ini perlu aku bagikan, bahwa setiap tantangan akan selalu ada peluang baik.

Langit di atas Renon siang itu begitu biru, tersenyum manis menyambutku. Aku turun dari motor Irox Yamaha milik ponakan. Hari itu aku diantar oleh ponakan perempuan yang sedang libur semester. Kepulanganku kali ini bukan untuk berlibur tetapi ada hal yang perlu diatur.

Diantara keperluan itu, selalu menyempatkan diri untuk bertemu teman-teman. Dan siang itu, aku bertemu dengan teman SMA di Tuniang resto. Masuk ke area resto, rasa sukacita sudah hadir, interior dan bangunan terbuka membuatku berbinar.

Sekitar sepuluh menit menunggu, temanku datang bersama suaminya. Lanjut memilih menu. Sebelum mereka datang, aku sudah mencari-cari makanan yang kusuka dan ketika melihat menu yang membawa kenangan tentang bertahan hidup, langsung memilihnya. Nasi sela Bali.

Menu itu juga ternyata di sukai oleh temanku dan berujung kami semua memilihnya. Sambil menunggu, kisah tentang nasi sela ini mengalir dan bersamanya diingatkan, bahwa hidup memang suka memberi kesulitan, tetapi ia tetap adil memberikan hikmat dan kemampuan pada manusia untuk menemukan solusinya.

Lalu, bagaimana sebuah makanan bisa menghadirkan hikmat pertahanan hidup?

Mari lanjutkan membaca dan siapkan rasamu untuk melihat lebih dekat kisah dibalik hadirnya nasi sela Bali.

Nasi Sela Bali
Nasi Sela Bali

Baca juga: Rujak Kuah Pindang dan Tipat Cantok: Kuliner Bali Paling Dicari yang Wajib Kamu Coba – Peta Rasa 26

Latar Sejarah – Nasi Sela Bali sebagai Makanan Bertahan Hidup

Nasi séla merupakan kuliner khas dari Kabupaten Karangasem, Bali – sebuah makanan tradisional yang lahir dari kelangkaan beras pada tahun 1970-an, ketika masyarakat setempat mencampurkan nasi putih dengan ubi sebagai cara bertahan hidup.

Sejarah ini juga tercatat dalam arsip budaya Indonesia tentang nasi séla khas Karangasem. Apa yang tertulis di sana menghadirkan kenangan masa-masa kecilku.

Aku lahir di masa tahun itu, merasakan bagaimana saat itu kakek menyiapkan nasi dengan campuran sela (ubi-ubian) Juga pernah dicampur dengan jagung. Terkenang masa itu, aku sendiri suka sekali dengan nasi sela, karena ada rasa manis ubi-ubian. Terlebih jika dipadukan dengan kuah pindang, nikmatnya tak bisa aku ungkapkan. Enak sekali.

Saat itu, umur masih belum genap sepuluh tahun, tak mengerti kalau sela yang dicampur karena kehidupan sedang paceklik. Semuanya serba sulit. Yang aku tahu, makanan yang dihidangkan tetap terasa nikmat.

Kemudian, setelah waktu berlangsung lama, saat masa-masa SMA, nasi sela Bali atau campuran kembali menjadi makanan kami, dan saat itulah aku mengerti kalau nasi yang dicampur dengan ubi dan jagung adalah cara mempertahankan hidup.

Tidak mampu membeli beras banyak, untuk memperbanyaknya dicampur dengan ubi-ubian dan jagung. Saat ini kisah dibalik hadirnya makanan ini, membawa sesuatu yang berarti buatku. Dan kutemukan di sebuah resto yang ada di Renon.

Menemukan Nasi Sela Bali di Tuniang Resto Renon

Ketika menemukan menu di sebuah resto yang cukup besar ini, aku sungguh tertegun. Melihat cerminan yang mungkin tak banyak orang ingat.

Segala sesuatu jika dibalut dengan cerita yang kuat,
akan menjadi hal yang besar dan menghidupkan.

Seperti makanan yang ada latar sejarahnya akan terus hidup dan memberi kehidupan. Begitu juga ketika datang ke Tuniang Resto Renon. Menu yang di tawarkan menghadirkan rasa kenangan.

Tidak hanya nasi sela, aku juga mendapati banyak ragam makanan khas Bali. Seperti jaje Bali, tape Bali, rujak kuah pindah dan masih banyak makanan yang semuanya mengajakku kembali pada kenangan masa kecil.

Tentang Tuniang Resto Renon

Tuniang Renon Bali sebuah warung makan ber-lokasi di Jl. Tukad Gangga No.23B, Renon, Denpasar, Bali. Memiliki bangunan yang terbuka. Interior yang ada menghadirkan kenyamanan.

Tuniang Resto Renon
Tuniang Resto Renon

Di tengah area ada kolam ikan dan yang paling membuatku betah di sana, area ruangan AC tetapi bisa melihat taman rumput rapi, bersih lengkap dengan pohon natal dan rusa.

Menemukan Nasi Sela Bali di Tuniang Resto Renon
Area – Tuniang Resto Renon – tempat makan yang ada menu nasi sela Bali

Ada satu bagian ruangan seperti teras, aku suka sekali dengan interiornya. Ada sebuah pajangan dinding yang unik, bukan lukisan tetapi sebuah karya seni yang indah.

Tuniang Resto Renon

Semua area melengkapi rasa nikmati yang tersaji. Sebuah tempat makan yang aku sarankan untuk datang menikmatinya, jika datang ke pulau dewata.

Peta Rasa Membangkitkan Kekuatan – Nasi Sela Bali

Hari itu aku sangat bersyukur, pertemuan dengan teman sma menghadirkan banyak makna dan membawaku pada banyak kesadaran. Sebuah makanan memberikan ingatan, bagaimana masa lalu pernah ada menghadapi krisis hidup, tetapi tetap bisa bertahan.

Diingatkan kembali, pada dasarnya manusia diberikan perlengkapan yang sangat mumpuni, sebuah akal yang bisa menemukan jalan keluar. Tidak hanya berhenti pada menemukan solusi tetapi jika dihidupi terus menerus akan membawa kehidupan.

Seperti nasi sela Bali ini, makanan yang sejatinya untuk mempertahankan hidup, di puluhan tahun kemudian menjadi menu enak di sebuah resto dengan segala kenyamanannya.

Sebuah peta rasa yang menghadirkan sukacita, terutama aku begitu berbinar merasakan makanan yang sudah lama sekali tidak menikmatinya.

Kemudian,
Bersama kisah nasi sela Bali dan Tuniang resto ini, aku lukis sebagai jejak langkahku untuk sebuah Peta Rasa Sukacita.

Jimbaran – Bali. Januari 2026
Ditulis setelah berenang pagi di Sanur bersama heningnya waktu dengan awan yang sedang sendu.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

2 Responses

  1. Aku pikir tadi nasi campur mbaa ternyata beda yaaa…
    Iyaa sie jaman dulu yaa krn beras mahal jd diganti ubi sama jagung yang mana klo masa sekarang jadi makanan khas dan jadi semacam membangkitkan memori masa kecil dulu…
    Nasi sela yang dulu makanan kala paceklik sekarang sudah naik tingkat jadi makanan restoran yang di poles sedemikian rupa dengan berbagi lauk yang menarik…
    Restorannya juga terlihat nyaman mbaa luas juga…jadi kangen ke baliii hihihi

  2. Duh nggak nyangka Bali pernah mengalami krisis beras, padahal sawah banyak yaaa, penasaran apa penyebabnya, apa ada banjir atau gagal panen karena cuaca?
    Jadi penasaran sama nasi dicampur umbi2an, ada manis2nya. Jadi keinget anak bayi di jawa kalau MPASI ya ada campuran nasi dan ubi2 gitu. Anakku juga pernah aku kasi hehe.
    Siapa sangka ya mbak bertahun2 kemudian nasi sela menjadi makanan resto 😀
    Mungkin supaya warga Bali tidak melupakan sejarah juga.
    Restonya keknya nyaman yaa, dengan area outdoor dan dekorasi interior yang menarik. Bikin betah ya kyknya kalau ketemuan sama teman, mengobrol berlama2 di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink