Tetap berkarya dalam keadaan yang mungkin terasa tidak nyaman, pelajaran dari Emily Dickinson. Satu tokoh mungkin tidak terlalu populer, sebagai kisah dalam series Senin ini. Sebagai bagian langkah-ku yang boleh dikatakan terseok-seok.
Terus menghidupi mimpi, walau mungkin terlihat tidak hidup. Seperti tidak ada hasil.
Ternyata ketika aku mencari tokoh yang tepat untuk menyelaraskan kisahku tentang menghidupi karya, walau tak terlihat ada pada seorang Emily Dickinson. Seseorang yang tidak merasakan bagaimana karyanya menjadi besar. Karena saat karyanya dikenal banyak orang, saat dia sudah meninggalkan kehidupan ini.
Waktu memang punya rahasia, kapan dan seperti apa mengatur itu penuh dengan misteri.
Menarik buatku mengambil kisah pelajaran dari Emily Dickinson dalam langkahku, ia berkarya tidak perduli apa akan diakui atau tidak, buatnya menumpahkan segala rasa dan logika dalam menulis, membuat puisi dan lainnya sebagai bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.
Menulis atau berkarya bukan suatu tujuan, tetapi sebagai perjalanan hidupnya. Dan aku melihat, dengan hal itu, hidup memberi penghormatan dengan membuat karyanya menjadi terkenal.
Baca Juga: Series Aku dan Tokoh sebelumnya.
Sekilas Tentang Emily Dickinson

Perempuan kelahiran 10 Desember 1830, di Amherst, Massachusetts. Keluarganya memiliki akar yang dalam di New England. Menjadi perhatianku ketika karyanya baru diterbitkan setelah kematiannya – pada 15 Mei 1886, di Amherst, oleh saudarinya Lavinia.
Aku membaca biography seperti menjelajahi waktu, mengenal lebih jauh sosok perempuan yang tidak pernah menikah dan meninggal di usia 55 tahun, membuatku semakin sadar, tekanan hidup bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan karya terbaik.
Pelajaran dari Emily Dickinson hal paling menonjol, tentang tokoh ini, aku rangkum menjadi tabel sebagai gambaran lebih jelas bagaimana serorang perempuan penyendiri tetap di kenang ratusan tahun kemudian.
| Aspek | Hal yang Menonjol | Penjelasan Singkat |
|---|---|---|
| Gaya Puisi | Pendek, padat, penuh simbol | Puisinya sering hanya beberapa baris, dengan metafora tajam dan misterius. |
| Tanda Baca | Banyak memakai dash (—) | Dickinson menggunakan tanda pisah untuk memberi jeda, irama, dan ambiguitas makna. |
| Tema | Kematian, keabadian, alam, cinta, jiwa | Hampir semua puisinya mengandung renungan tentang hidup dan mati, serta batin manusia. |
| Kehidupan Pribadi | Menyendiri (reclusive) | Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, jarang keluar, dunia batinnya sangat kaya. |
| Eksperimen Bahasa | Menyimpang dari norma puitis zamannya | Diksi tidak lazim, kapitalisasi acak, serta struktur unik menjadikannya avant-garde. |
| Pengaruh | Dianggap pelopor modernisme | Puisinya membuka jalan bagi puisi modern dengan gaya bebas dan reflektif. |
Rangkuman tersebut sebagai pelajaran dari Emily Dickinson aku ambil dari beberapa sumber dan yang paling utama dalam situs poetryfoundation.
Aku dan Pelajaran Hidup Emily Dickinson: Berkarya dalam Keterbatasan
Siapa yang tidak memiliki keterbatasan? Apakah pernah merasa minder atau tidak percaya diri akan itu?
Aku yakin setiap kita pernah mengalaminya. Walau memang ada yang ditunjukan atau disembunyikan. Aku sendiri terlihat menjadi pribadi yang sangat berani, tetapi sejujurnya rasa tidak percaya diri itu sering muncul.
Namun karena terbiasa tidak mau menunjukkan, hal-hal yang berdampak negatif, rasa tidak percaya diri itu aku sembunyikan atau mengaturnya jadi sesuatu yang lebih baik.
Minder atau tidak percaya diri seperti meragukan kekuasaan sang pencipta.
Kalimat itu seperti penangkal rasa minderku, dan ketika aku mengenal tokoh diatas sebagai pelajaran dari Emily Dickinson, aku mendapati bahwa keadaan boleh memberi batas, tetapi karya akan terus bisa dilakukan.
Setiap insan memiliki asalan kenapa bisa merasa minder. Aku sendiri jika ditanya, ada banyak peristiwa yang membuatku tidak percaya diri. Latar keluarga, pendidikan bahkan karakterku yang dulu membuat orang malas bertemu, bisa jadikan alasan kuat untuk tidak percaya diri.
Terutama dalam karya. Rasanya aku jauh sekali dibilang mampu melakukan suatu karya. Menulis contohnya, aku sering kali merasa patah karena betapa dengan usaha sekuat tenaga, ada saja celah ketidaktepatan dalam menulis.
Aku memiliki kelemahan dalam mengulang kalimat sulit, kadang ingin menyerah dan mencari hal lain yang bisa dilakukan untuk membuat langkah semakin bersinar.
Tetapi nyatanya, aku terus berjuang untuk berani dalam melangkah dalam karya, terus berproses dan tidak sedikit tulisanku membuat orang terbangun, berterima kasih karena telah membuat tulisan yang membuat mereka semakin “hidup”
Tersenyum saat luka bernanah, mulai terasa kering ketika membaca tulisanku. Hal-hal itulah yang membuatku tetap semangat menulis. Dalam keterbatasanku yang sering typo dalam menulis. Pengulangan yang kadang tidak perlu. Atau kalimat yang sering kali loncat.
Aku terus berjuang melangkah dalam karya, menulis di mana dan kapanpun. Tidak melihat keterbatasan seperti aku dapatkan pelajaran dari Emily Dickinson.

Karya Sebagai Bagian Hidup – Pelajaran dari Emily Dickinson
Diatas langit ada langit. Kalimat paling aku suka ketika merasa diri tak layak. Mengingatkan bahwa selalu ada tempat setiap karya. Jika merasa terbaik akan ada yang lebih baik lagi. Begitu juga sebaliknya, jika merasa tidak layak dan karya tidak baik, masih ada yang kurang baik lagi.
Baik, tepat dan tidaknya hanya soal bagaimana rasa mempertemukan saja bukan?
Bahkan warna biru saja punya banyak lapisannya dan memiliki banyak makna. Begitu juga rasa dan karya. Hanya bergerak yang bisa membuatnya bertemu dengan tuannya.
Baca Juga: Menemukan Tuannya – Merajut Harapan Karya dan Hidup 2025
Kemudian dengan terus bergerak, proses terus berlanjut dan menjadi bagian, bukan hanya sebuah tujuan.
Mimpi dan Berkarya Walau Belum Diakui
Bergerak dan membawanya menjadi bagian hidup, satu pelajaran dari Emily Dickinson yang aku dapatkan tentang berkarya. Ditengah sunyinya dan keterbatasan dirinya, karya bukan soal tujuan dalam dirinya, tetapi sebagai langkah yang akhirnya dia dikenang sebagai tokoh besar.

Aku dan Tokoh Series ke Sebelas
Mengambil pelajaran dari Emily Dickinson, sebagai series ke sebelas Aku dan Tokoh di Senin ini. Tetap berkarya dalam keterbatasan, tidak menunggu diakui untuk terus menghidupi mimpi.
Jikapun kelak, tulisan ataupun karya sudah dibuat tidak mendapatkan mengakuan, aku tetap bersukacita karena dalam prosesnya sudah menemukan kenikmatan hidup. Selain itu, walau tidak banyak, sudah ada manfaat dari tulisanku.
Bagaimana denganmu? Adakah pelajaran dari Emily Dickinson kamu dapatkan dari tulisan ini atau dari sumber lain?
mari bagi di kolom komentar.
Sumber: Pelajaran dari Emily Dickinson
– Emily Dickinson – Poems, Quotes & Death
– Emily Dickinson | The Poetry Foundation
Jakarta, 01 September 2025
Ditulis dalam keterlambatan publis, saat Akar Rumput Indonesia sedang memperjuangkan keadilan.


9 Responses
Pelajaran dari Emily Dickinson ini nyentil banget, ya. Kadang kita mikir karya itu harus langsung diakui, padahal yang paling penting prosesnya. Semangat terus, ya, untuk berkarya…. Ini jadi motivasi bahwa ada beberapa tulisan yang jadi Boom jaaaaauh sesudah ditulis, banyak pula yang evergreen ya kak
Aku tuh percaya ya Mba kalau dalam urusan berkarya, keterbatasan itu hanya soal mau diusahakan atau tidak. Dan Tuhan menciptakan setiap manusia dengan kelebihan yang bisa ditelusuri dengan ketekunan
Kalau apa pun yang dilakukan masih belum diakui, bukan berarti harus berhenti
Sebab hidup tak bisa memuaskan semua orang
Karya apa pun saat ini pasti punya takdirnya, mungkin bukan saat ini tapi nanti
Makanya sangat senang kalau semuanya bisa memahami sehingga tidak ada media sosial yang penuh dengan keluhan atas karya yang katanya tak dihargai
Padahal… tidak ada yang sia sia dalam hidup ini
Berkarya gak melulu soal pengakuan dari orang lain ya mba karena berkarya juga tentang kepuasan batin si pembuat nya…
Mungkin saat Beliau menuliskan puisinya beliau hanya ingin menuangankan isi hati atau buah pikiran nya dan ternyata setelah di publish banyak peminatnya meski beliau tidak bisa secara langsung menikmati keberhasilannya itu…
Aku sendiri juga sedang dalam tahap belajar, memperbaiki dan berusaha untuk terus berkembang setidaknya ada karya yang bisa aku hasilkan yang semoga bisa bermanfaat
Karyanya justru dikenal saat dia sudah tiada yaaa. Hebaaat. Aku jadi ingat Vivian Maier. Sama nih, karya nya baru dikenang saat dia sudah meninggal. Bedanya Vivian ini fotografer.
Terkadang kalau baca ini, aku pun termotivasi untuk bisa menghasilkan karya, yg walaupun ga dikenal skr, tapi berharap bisa dikenal nanti 😄. Cuma belum tahu aja, apa sebenarnya yg bisa dihasilkan . Melalui tulisan palingan.
Yg paling mudah memang itu yaa. Meninggalkan sesuatu yg kita kuasai, dan bisa berguna untuk orang lain. Atau kalopun karya tidak bisa dihasilkan, at least menjadi orang baik ajalah. Supaya orang2 yg pernah kenal kita, tahu seperti apa kita dahulu. Itu aja aku mungkin udah seneng mba.
Kyknya pernah ada filmnya juga yaa tentang Emily ini ya mbak…
Yg namanya berkarya emang gk perlu nunggu terkenal dulu ya mbak, tetapi masing2 orang bisa membuatnya dalam rangka aktualisasi diri hingga meninggalkan jejak kalau pernah hadir di dunia ini.
Hihihi aku tuh sering merasa minder, di tulisan juga keknya, rasa2nya pengen deh bikin tulisan bagus tetapi rasanya kok jadi tertekan, padahal kan maunya nulis hepi2 huhu.
Tapi iya sih mbak, Tuhan aja kek liatnya kita mampu, masa kita gak pede ya huhu.
Eh tapi ada kalanya tiba2 karya kita itu menemukan orang2 yang menghargainya bahkan sampai memujanya, kalau zaman sekarang maksudnya jadi viral hehe. Yaaa, kadang rezeki2an ya. Meski demikian apapun itu, kalau suka berkarya ya tetep aja berkarya 😀
Love banget, jadi pengingat kalau berkarya itu bukan semata-mata soal pengakuan, tapi lebih ke perjalanan diri.
Aku suka bagian ketika diceritain Emily Dickinson tetap menulis meski nggak tahu karyanya bakal dikenal atau nggak. Itu nunjukin kalau karya sejati lahir dari hati, bukan karena ingin dipuji.
Buat aku pribadi, pelajaran yang bisa diambil: jangan takut sama keterbatasan. Justru dari keterbatasan itu kadang lahir karya yang tulus dan bisa nyentuh orang lain. Terima kasih udah berbagi refleksi yang dalam ini, mbak…
Pelajaran dari Emily Dickinson ini terasa meneguhkan bahwa karya sejati tidak selalu harus menunggu pengakuan orang lain. Terus berkarya dalam keterbatasan justru bisa jadi jalan untuk menemukan makna dan kekuatan hidup yang sesungguhnya.
Aku baca ini kaya dinasehati akan kondisiku saat ini yang sedang belajar membuat novel tapi sering mikir “Kok nggak ada yang baca ya?”
“Terus menghidupi mimpi, walau mungkin terlihat tidak hidup. Seperti tidak ada hasil.” Tapi kalimat ini menghiburku. Mari terus lanjutkan mimpi. Tidak ada yang tau mimpi itu akan berujung kemana.