Menghadiri Taste of Australia 2026 menjadi pengalaman berkesan, seolah berkelana ke Negeri Kangguru. Lewat festival kuliner ini, keindahan Australia hadir bukan hanya di lidah, tapi juga di rasa dan suasana.
Rasa tak pernah berdiri sendiri.
Ia lahir dari proses yang dijalani dengan tepat.
Ketika proses terlewat, hidup pun menyajikan rasa yang tak sepenuhnya lengkap
Maksudnya gimana? Apa hubungannya dengan taste of Australia?
Kalimat tentang proses menjadi peta tulisanku kali ini. Hadir dalam festival kuliner yang dipersembahan oleh Kedutaan Besar Australia mengingatkan, jika proses tidak dilakukan dengan tepat akan menghadirkan rasa yang kurang tepat juga.
Begini ceritanya.
Siang menjelang sore Sabtu lalu, 7 Februari 2026 bersama hujan, langkahku setengah berlari kembali ke apartemen, setelah menghadiri pemberkatan pernikahan anaknya seorang sahabat. Aku terpaksa berganti busana karena dress yang aku pakai saat itu, terasa kurang nyaman untuk acara casual.
Lama menunggu taxi online membuatku khawatir. Sebagai seorang capri sejati, terlambat itu sebuah neraka dunia. Hal yang paling tidak aku sukai. “Pak, saya butuh cepat sampai ya, boleh ya minta tolong kendaraan di percepat.” Begitu kataku pada pengemudi dan beliau menerima permintaanku dengan jawaban, ‘Baik bu’
Tetapi memang waktu punya kuasa mutlak atas apapun, termasuk hujan semakin riang dan bersenangnya menari bersama badai. Perjalanan dari apartemen ke lokasi doubletree jakarta semakin melambat. Bagaimana bisa aku memaksa untuk lebih cepat, kalau pandangan terhalang karena jalanan tertutup dengan hujan badai.
Lagi, aku di ajak bersabar dan belajar menerima hal yang tidak disukai. Kedatanganku ke taste of Australia saat itu mengajak untuk beradaptasi pada keadaan yang tidak sesuai keinginan.
Sampai di meja tamu, aku meminta maaf atas keterlambatan dan penjaganya berkata tidak apa-apa karena mengerti akan cuaca. Mereka-pun ternyata cukup repot karena acara awal di area outdoor menjadi indoor.

Sambutan Wakil Duta Besar Australia dan Cooking Demo Callum Hann
Sepertinya aku tidak sepenuhnya terlambat, perpindahan lokasi acara membuat ruang waktu yang sama dengan keterlambatanku, sehingga aku masih bisa mengalami momen sambutan dari Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa melalui Taste of Australia, masyarakat Indonesia tidak hanya diajak melihat, tapi juga merasakan langsung keragaman, kualitas, dan kesegaran hasil bumi Australia. Festival ini menjadi ruang perjumpaan rasa, tempat dua budaya kuliner saling menyapa, saling mengenal.
Kecintaan terhadap makanan, rupanya menjadi bahasa yang sama antara Australia dan Indonesia. Tradisi kuliner keduanya saling menginspirasi, saling melengkapi.
Senyum manis Ibu Gita menghadirkan rasa nyaman sebagai tuan rumah Taste Of Australia. Setelah itu kami di arahkan menuju ruang cooking demo.

Sebagai pribadi yang baru mulai mencoba menghadirkan senang atas proses memasak, cooking demo bersama Callum Hann menghadirkan keinginan kuat untuk memasak. Australian MasterChef personality dalam proses demonya memberikan informasi yang sangat baik.
Saat itu, Callum memasak hidangan khas Australia berupa Australian Rib Eye, daging sapi Australia memang dikenal dengan kualitasnya yang premium, dipadu bumbu sederhana menghadirkan rasa yang lezat.

Berkelana ke Negeri Kangguru Lewat Festival Kuliner
Setelah sesi cooking demo, saatnya yang paling dinanti-pun tiba. Mencicipi cita rasa negeri kangguru. Sampai kembali di aula besar, sepertinya terlambat. Hidangan utama sudah penuh dengan antrian, dan aku paling tidak suka antri berlama-lama kalau soal makan.
Disinilah letak ketidaktepatan prosesnya.
Ini bukan soal senang atau tidak, jika ingin rasa nikmat yang penuh dan utuh. Mestinya ikuti proses.
Aku melihat antrian yang begitu panjang untuk makanan utama, langkahku langsung mengarah ke area sepi, dimana saat itu yang masih tidak ada orang tempat dessert.
Selanjutnya berkelana rasaku di mulai. Mari mengenal kuliner Australia yang aku nikmati dalam Taste of Australia 2026 sabtu lalu.
Pavlova – Si Manis Yang Menawan

Mataku langsung berbinar ketika melihat si Pavlova, aku gagal fokus dengan merahnya strawberry. Segar. Ketika mencicipi ternyata bayangan rasanya tidak sesuai. Ternyata rasa kuatnya ada pada manis. Sungguh manis dan aku kurang cocok dengan rasa ini.
Tetapi nuraniku mengajakku tunggu, nikmati secara pelan dan ketika lama-lama dilumat, perbaduan rasa manis cake dengan asam strawberry menghadirkan rasa yang seimbang. Hanya memang, akan lebih tepat si menawan yang manis ini lebih tepat di cicipi setelah makan utama.
Lamington Cake – Si Manis Gurih

Wajahnya seperti ongol-ongol, secara rasa ada sedikit mirip, tetapi buatku Lamington cake yang aku cicipi di Taste Of Australia 2026, rasanya lebih padat. Sedangkan ongol-ongol cenderung kenyal.
Jika dibanding dengan si menawan manis Pavlova, aku lebih suka si manis gurih Lamington. Terpadu dengan coklat dan baluran kelapa menjadikan cake ini terasa nikmatnya lengkap.
Mini Meat Pie – Si Primadona yang Bikin Rindu

Si Primadona, bagaimana tidak. Saking senangnya orang-orang pada mini meat pie, aku dan beberapa teman sampai tidak kebagian. Tetapi untuk sajian ini udah pernah aku nikmati di lain momen.
Paduan Pastry dan daging cincang selalu aku suka. Nikmatnya masih kebayang sampai saat ini ketika menulis momen Taste Of Australia 2026.
Sedikit menyesal karena proses makanku kurang tepat dalam momen tersebut. Jika saja aku tahu ada mini meat pie, mungkin rasa tidak suka mengantri panjang aku abaikan. Sayangnya aku tidak mengintip sedikitpun sajian utama terlebih dulu.
Langkahku sudah ke area yang menawan, si cantik manis Pavlova.
Beef Skewer dan kawan-kawannya

Setelah menikmati dessert, salad dan kopi hitam sambil menikmati serunya games yang dibawakan MC, aku melirik antrian menu utama, ternyata sudah lebih pendek dan akhirnya menu utama aku nikmati.
Sosis, jagung dan roti tidak perlu aku sampaikan secara detail ya, karena itu sudah terlalu umum rasanya. Hal yang paling menyenangkan di menu utama adalah beef skewer, potongan daging sapi yang lembut masih terasa nikmatnya sampai saat ini. Benar-benar nikmat dan lezat.
Di antara semua rasa yang kucicipi dalam rangkaian berkelanaku di festival kuliner Australia, beef skewer menjadi tahta tertinggi dalam cita rasa. Sampai pikiranku yang begitu random-pun hadir. Di Indonesia saja nikmatnya luar biasa, bagaimana kalau menikmatinya langsung di negeri kangguru tersebut.
Karena selama hidup berkenala ke berbagai tempat, rasa yang hadir di tempat asalnya jauh lebih nikmat dari pada hadir di tempa lain. Mau sebaik atau sepintar apapun mengolahnya.
Selain apa yang ku cicipi tadi, masih ada es cream, popcorn dan karena perutku tidak mampu menampung, rasa yang mengiurkan itu akan abaikan.
Penutup Momen dan Pengingat akan Proses
Pengalaman menikmati momen Taste Of Australia menjadikan hariku begitu penuh energi. Banyak hal baru aku dapatkan dan terlebih acaranya begitu seru, dari sambutan, cooking demo sampai menikmati kulinernya. Tidak hanya itu selingan games dengan banyak hadiah menambah kehangatan festival kuliner sore itu.
Semakin lengkap dan sempurna momen manis sabtu lalu dengan hadirnya Fabiolous. dan menutup momen dengan lagu #dancingqueen yang membuatku lupa diri bergoyang.
Kemudian, sehari setelah acara, aku melihat kembali momen Taste Of Australia, semua rasa yang dihadirkan, cita rasanya begitu nikmat tetapi ada yang kurang tepat. Lalu aku di ingatkan bahwa prosesnya makannya kurang tepat.
Bayangkan saja, kalau aku mau sedikit berkorban ego, mau antri lebih dulu. Rasa nikmat yang akan tercicipi akan sempurna jika mini meat pie dan beef skewer aku nikmati terlebih dulu baru kemudian si menawan yang manis pavlova dan si manis gurih lamington cake.
Rasa gurih daging di sempurnakan rasa manis asam dan gurih, kemudian di tutup dengan kopi hitam. O la la begitu sempurna-nya rasa itu.
Begitulah,
Seringkali kita melangkah mengikuti ego, hingga rasa yang tiba tak seutuh yang kehidupan siapkan. Dari pengalaman itu, hidup kembali mengingatkan: sepelik apa pun prosesnya, jalani dengan sadar. Karena saat proses dilalui dengan tepat, hasil pun datang pada ketepatannya.
Akhirnya
Sebagai penutup atas tulisan ini, aku berterima kasih banyak
ke Food Blogger Indonesia dan Kedutaan Besar Australia atas kesempatan yang diberikan untuk mengikuti Taste of Australia 2026.
Pengalaman berkelana ke Negeri Kangguru Lewat Festival Kuliner ini aku abadikan dalam series Rabu, Peta Rasa Sukacita. Baca juga series sebelumnya: Peta Rasa Sukacita
Jakarta Selatan, 11 Februari 2026
Ditulis dalam proses pemulihan flu berat dan punggung terasa sakit terus.


9 Responses
Sebuah pengalaman yang sangat berkesan ya mbak Nik. Akhirnya bisa mencicip aneka hidangan Australia dan bisa melihat dari dekat chef Callum Hann yang menyambut kita semua hingga mengajak menyaksikan demo masak nya 🤩🤩🤩
Iya, kita agak terlambat mengantri saking santai nya hehehe. Gapapa, pembelajaran buat next agenda. Selalu ada hikmah dibalik setiap kegiatan ya. But, tetap happy mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
Wah senengnya bisa kumpul teman-teman Blogger dan food vloger bersama perwakilan Kedutaan Australia yang menghadirkan chef Callum Hann. Walaupun terkendala hujan sehingga hadir telat dan kurang tepat dalam susunan mencicipi hidangan di sana, tetapi setidaknya ada penutup manis dengan berdendang Dancing Queen, ya.. hehe
Acara Taste Of Australia ini seru ya. Bisa mengenal makanan dari negeri kanguru. Walaupun terlambat, ternyata masih ditakdirkan mengikuti rangkaian acara dengan utuh karena ada perpindahan lokasi. Semua seperti sudah diatur.
Makanannya juga enak semua, tapi benar ya, urutan makan juga mempengaruhi cita rasa. Memang kadang untuk menikmati sesuatu dengan benar, kita harus bersabar.
kak Niek,,,saya sampai gugling ini mencari resep makanan yang tersaji di event Taste Of Australia 2026 ini,,,soalnya enak-enak terlihatnya tampilan makanan di foto. Apalagi kue yang kata kak Niek seperti ongol-ongol itu oh iya namanya lamington Cake, hehe bikin penasaran abis. APalagi sajian utama yang kata kak Niek nikmatnya luar biasa….aduhaai jadi ingin merasakannya juga,,,,
Aku pun kayanya sama sih, Mba, bakalan ngantri di tempat yang sepi dulu baru ke hidangan utama meski ngantri mengular. Dessertnya menggoda aku malah suka pavlova yang manis dibandungkan rasa asli strawberry yang ada asemnya. Mungkin karena selera setiap orang beda-beda ya. Sajian utama juga menggoda, beef skewernya tampak lezat nih.
Wah jadi penasaran aku sama kue-kuenya terutama pavlova, lamington cake dan pastinya meat pie nya. Apalagi dagingnya juga pakai daging Australia yang terkenal kelezatannya ya, mbak
Aku pernah ke festival ini tapi dua tahun lalu haha lama yaaa.
Menurutku makanan Indonesia tu lebih berbumbu, kalau makanan Australia bumbunya tak seberani Indonesia, tetapi menurutku kyk kita jadi bisa merasakan rasa asli bahan makanannya ya mbak.
Acara2 kayak gini memperkuat diplomasi antar kedua negara ya. Di sana juga bisa menjalin networking sama teman2 baru.
Aku paling suka dessertnya yang lamington cake itu mbak. Unik rasanya dan mudah diterima oleh lidah Indonesia 😀
Beef skewer aku belum pernah nyobain nih, semoga kalau ada festival lagi bisa ikutan dan nyicipin 😀
Salah banget aku buka ini pagi-pagi pas puasa, ahaha. Jadi kepengen dan otak jadi mikir aku lagi laper, wkwkwk.
Anw, aku pengen banget deh ngerasain mini meat pie-nya. Dari tampilannya aja terasa nikmat banget kayanya. Aku pun sangat menyukai paduan pastry dan daging giling ka, well semua pastry sih aku suka, hehe.
Aku sempat ketawa pas ka Nik menyamakan Lamington cake dengan ongol-ongol, ihihi. Bener sih, mirip2 gitu yaa. Tapi dari segi rasa pasti beda. Sama-sama enak, cuma sensasinya beda aja yaa.
Waduh salah jam nih baca artikel mbak Nik, secara menggambarkan makanan-makanan khas Australia ini deskriptif jadinya aku auto membayangkan wkwkwk
Looks yummy ya mbak dan penampilan pun cakep membuatku ingin comot juga
Serasa berada di Australia selama beberapa waktu ya