#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Pengalaman BPJS Rujukan: Begini Rasanya Saat Ilmu Bernyawa Terasa Semakin Nyata dan berkesan

Pengalaman BPJS Rujukan menjadi warna khusus langkahku di bulan Maret. Peristiwa jatuh di tempat tidur yang masih menjadi misteri. Materi hidup yang masih belum terjawab. Memberi ruang pada diri untuk lebih banyak diam dan berpelukan dengan hening.

Seperti malam ini, rintik hujan di luar tidak mampu mengalahkan sepinya malam. Suara kendaraan di luar sana terdengar begitu sayup. Tidak juga mampu mengalahkan betapa heningnya malam ini.

Hening yang mengajakku untuk melihat lagi alur hidup yang sudah berlalu. Mengingatnya untuk bisa menjadi catatan penting di langkahku, sebagai ilmu yang bernyawa dalam peristiwa pengalaman BPJS rujukan.

Pertama kali dan saat mengalaminya suara pelan dalam diriku berkata, “oh begini ya rasanya” Merasakan bagaimana menunggu begitu lama, di rujuk sana sini dan sampai merasakan bagaimana seorang dokter ahli memberikan obat yang jelas sekali itu tidak diperlukan.

Baca Juga: Maut dan Ketidakpastian – Ruang di Mana Iman Menemukan jalannya

Pengalaman BPJS Rujukan
Langit sore itu jadi saksi cerita Pengalaman BPJS Rujukan

Menunggu Sebelum check-up

Cerita tentang bagaimana kejadian sampai aku punya pengalaman BPJS rujukan sudah aku tulis di halaman sebelumnya. (Maut dan ketidakpastian – link tulisan diatas) Dan dalam tulisan kali ini aku ingin bercerita bagaimana proses setelah itu.

Saat kejadian aku tidak langsung check-up, walau sejatinya ada rasa khawatir karena ini terkait dengan kepala dan rasa sakit setelah terjatuh sungguh membuatku menangis kencang.

Tetapi setelah setengah hari berlalu, rasa sakit semakin memudar dan aku mengatur emosiku dan mengatakan pada diri untuk tenang. Semuanya akan baik-baik saja, walau di pagi hari saat itu sungguh begitu panik.

Dalam kesendirian jatuh dan benturan keras itu membuat segalanya terasa begitu kacau. Terpujilah Tuhan karena rasa panik itu tidak terlalu lama dan keadaan kembali aku kuasai dengan baik.

Hari itu aku tidak memutuskan untuk Check-up karena sudah terbiasa untuk menunggu waktu. Setiap keputusan yang terkait dengan diri sendiri, hubungan orang lain aku selalu memberi ruang pada waktu untuk memberi penjelasan.

Tidak mau buru-buru karena,

Waktu adalah hal yang paling bijaksana dalam kehidupan, ia tidak pernah bohong sedikitpun. Jujur apa adanya walau kadang itu menyakitkan.

Semuanya aku serahkan pada nurani untuk melihat kapan perlu untuk bertindak. Begitu juga dengan perkara check-up setelah kejadian aku baru ke klinik setelah seminggu berlalu.

Baca juga: Di Tengah Ketidakpastian, Bagaimana Tetap Berkehidupan? 3 Hal yang Penting Dihidupi

Faskes Pertama dan Pengalaman BPJS Rujukan

24 Maret 2026, seminggu setelah kejadian aku meluncur ke klinik Kimia Farma 152 untuk memeriksa kepala yang terjatuh. Tiga hari setelah kejadian, kepalaku sesekali terasa sakit dan telingaku semakin tidak nyaman.

Setelah menunggu tidak terlalu lama, dokter memeriksaku dan aku melihat wajah dokternya terlihat sangat muda. Kebiasaanku menilik orang memang tidak bisa hilang walau keadaan diri sedang tidak baik.

Satu kebiasaan sebagai cerminan menjaga diri. Lawan bicara atau orang dihadapan bisa jadi sebagai guru ataupun bisa juga menjadi ancaman. Tidak lepas dari apapun latar dan profesinya.

dokter muda ini cukup membuat nyaman, namun setelah mendengar keluhanku tentang telinga, ia langsung ingin merujuk ke dokter THT. Logikaku langsung menyala dan memberi sinyal pada nuraniku. Bukan, bukan itu yang aku butuhkan dalam hal ini.

Kejadian utamanya aku jatuh, aku perlu memeriksa kepalaku dengan CT Scan. Mau melihat apakah semuanya baik. Soal telinga menurutku itu dampak. Entah ini pemikiranku tepat atau tidak, yang jelas aku terbiasa untuk melihat segala sesuatu dari duduk perkaranya terlebih dulu.

Memastikan akar perkaranya dulu baru dampaknya.
Sebuah cara untuk lebih jelas menemukan solusinya.

Lalu dokter muda itu merujuk pada dokter ahli bedah dan beliau bertanya mau di rujuk kemana, aku teringat dengan seorang kawan pernah berkata kalau RS Cempaka putih sangat baik pelayanannya soal BPJS.

Ternyata setelah oleh staff klinik, tempatku terlalu jauh dan aku bertanya tempat yang tepat sesuai kebutuhanku dimana, dan setelah cukup lama diskusi akhirnya di rujuk ke RSUD Tebet. Setelah itu aku langsung meluncur dan ternyata setelah sampai, dokter ahlinya hanya sampai jam 10 pagi dan aku saat itu sampai sana jam 11 siang.

Dalam Sehari hanya bisa satu dokter ahli

Esok paginya 25 Maret 2026 aku datang ke RSUD Tebet dan setelah cukup lama menunggu, aku bertemu dokter ahli bedah dan beliau cukup muda. Setelah tanya jawab seperti biasa, dokternya memeriksa kepalaku dan beliau melihat ada memar.

Lalu beliau berkata, “saya kasi obat ya dan setelah seminggu kalau masih terasa sakit nanti kembali dan saya rujuk untuk CT Scan” Kontan saja aku langsung berkata, “dok, kenapa tidak langsung CT Scan?”

dokternya langsung berkata, “oh kalau mau hari ini juga boleh, saya rujuk ya”

Jadilah surat rujukan untuk CT Scan itu ada dan merujuk ke RSUD Pasar Minggu. Aku baru sadar, mengapa saat di rujuk ke dari faskes pertama, staff kliniknya tidak merujuk langsung ke rumah sakit yang ada peralatan lengkap.

Satu hal yang aku sadari, disinilah perlu pendamping kalau mau periksa kedokter. Karena sendiri itu suka lupa karena menahan sakit atau hal-hal yang tidak nyaman karena kejadian.

Setelah dirujuk, aku langsung ke RSUD Pasar Minggu. Dengan segala aturan dan administrasinya, aku berhasil daftar dan lagi, aku harus sabar menunggu esoknya.

Ternyata BPJS membatasi konsultasi ke dokter ahli hanya sehari. Pengalaman BPJS rujukan yang memberi pengetahuan penting. Dengan menahan rasa tidak nyaman telinga, aku pulang dan harus bersabar untuk konsultasi esok hari.

Esoknya dengan menunggu lama, aku berhasil bertemu dengan dokter bedah, dokternya sudah cukup umur dan setelah masuk, ada jeda waktu cukup lama tidak menyapaku. Logika dan nuraniku langsung membaca sikapnya.

Ada sesuatu yang membuatku menunggu, ada apa selanjutnya. Setelah bicara tidak terlalu lama, dokter ahli akan memberikan surat intruksi untuk CT Scan dan mengatakan kalau nanti yang membacakan hasil adalah dokter ahli bedah syaraf.

Lalu aku bertanya, apakah aku diberi obat karena kepala dan telingaku sudah cukup menggangu. Tidak lupa aku katakan kalau punya alergi obat jadi dosisnya tidak bisa yang tinggi.

26 Maret 2026 Siang – Drama Obat

Saat dikatakan diberikan obat, aku sungguh senang, paling tidak saat nanti menunggu hasil CT Scan ada obat untuk meredakan sakitku. Karena surat rujukan untuk membaca hasil CT Scan bisa dilakukan minimal 8 hari setelah hari itu.

Hal itu menjadi aturan RSUD Pasar Minggu kalau bertemu dengan dokter ahli kembali di RS tersebut dengan BPJS perlu menunggu delapan hari. Kecuali kalau tidak sanggup bisa langsung ke IGD. Aku mrasa masih cukup mampu menunggu jadi tidak perlu ke IGD dan memutuskan menunggu.

Hari itu, 26 Maret 2026 adalah hari yang penting buatku, karena saat itulah apa yang sudah aku alami dalam bekerja 13 tahun di asuransi kesehatan memberi pengetahuan yang bernyawa. Pengalaman BPJS rujukan saat itu sungguh memberi tambahan ilmu bernyawa.

Ceritanya begini, setelah menunggu lama dan mendapatkan obat, entah angin apa yang membuatku bertanya pada staff farmasi, obat yang diberi itu untuk apa. Ada dua obat, satunya alergi dan satunya obat yang berhubungan dengan lambung.

Hah????? aku langsung kaget, gimana maksudnya??? aku ini yang bermasalah telinga dan terkait dengan jatuh. Mengapa jadi alergi dan lambung. Lalu staff farmasi cek nama dokternya, lagi aku menemukan raut wajah yang aku sungguh hafal itu artinya apa.

Staff farmasi memintaku untuk kembali ke asisten dokternya dan bertanya langsung. Aku kembali ke ruang tunggu dokter dan mendapati ruangan sepi dan baru tahu kalau siang hari waktunya sudah di tutup untuk konsultasi.

Aku mencari-cari staff atau suster di sana. Walau harus menunggu, aku akhirnya bisa ketemu dengan asisten dokter dan ia memintaku menunggu karena perlu tanya dokternya. Aku melihat ia masuk ke satu ruangan dan tak lama kemudian dokter ahli bedah yang memberikan resep obat itu datang dan masuk ke ruangan.

Sedangkan aku menunggu diluar. Cukup lama aku menunggu dan setelah keluar kata asisten dokternya obatnya memang itu dan aku langsung lemes. Aku bertanya,

“Mas, menurutmu iya, apakah ini tepat buat keluhanku?” asisten dokternya terdiam dan selang berapa lama ada suster datang seakan ingin tahu bagaimana obrolan kami dan aku biarkan saja. Sikap mereka jelas sekali kalau dokter ini memang “sesuatu”

Terjadilah obrolan cukup panjang antara aku dan asisten dokter, mencari solusi bagaimana caranya supaya aku mendapatkan obat karena telinga dan kepalaku sudah cukup mengganggu.

Dengan diskusi panjang, aku memutuskan untuk kembali ke faskes pertama yaitu klinik kimia farma. Aku meluncur dengan obat yang tidak bisa aku minum beserta hasil CT Scan yang ternyata keluarnya cukup cepat.

Pengalaman BPJS Rujukan
Pengalaman BPJS Rujukan – CT Scan

Kembali ke Faskes Pertama

Aku meluncur ke klinik Kimia Farma 152 dan untuk mempercepat proses aku dafar online melalui aplikasi JKN yang buatku ini sangat mempermudah proses konsultasi.

Ternyata setelah sampai, namaku sudah sempat dipanggil dan kliniknya sepi jadilah langsung masuk dan menceritakan apa yang aku alami hari itu.

dokter saat itu tidak muda dan tidak juga berumur. Aku cukup nyaman konsultasi dengannya dan beliau juga heran mengapa diberi obat alergi dan lambung.

Dengan ketenangan dokter di klinik kimia farma ini, akhirnya aku mendapatkan obat yang cukup sesuai dengan pesan jika sudah membaik minum obatnya jangan dilanjutkan.

07 April 2026 – Bertemu Bedah Syaraf – dr Arief Purwodito

Waktu berlalu, obat yang diberikan dokter fasker pertama tidak aku minum sampai habis karena kondisi kepala dan telingaku sudah membaik. Walau sesekali suka kambuh tidak nyamannya.

Dan waktu untuk konsultasi terkait hasil CT Scan-pun tiba. Pagi saat itu bersama para pengabdi gajian aku berjibaku menunggu TJ dan karena begitu padat, aku mengalah yang akhirnya naik taxi online.

RSUD Pasar Minggu pagi itu sudah ramai dan bersyukur proses admistrasinya tidak perlu menunggu lama. Tetapi ternyata menunggu dokternya terasa sekali lama yang akhirnya memutuskan bertanya, apakah dokternya sudah sampai atau belum.

Selang berapa lama, aku dipanggil dan aku bertemu dengan dokter muda yang ceria. Beliau menyapaku hangat dan terasa berbeda auranya. Benar saja, setelah bertanya singkat soal tujuanku bertemu beliau, langsung menjelaskan dengan detail hasil CT Scanku.

HASIL CT SCAN BAIK, tidak ada yang dikhawatirkan.

Caranya menyampaikan informasinya sungguh menarik dan membuat terasa mudah di cerna. Detail dan tenang dalam menyampaikan. Aku melihat, skill komunikasinya sangat baik.

Termasuk soal mengapa telingaku terasa sakit. Akhir penjelasannya, beliau mengatakan tunggu sebulan dulu, jika masih terasa sakit baru perlu check ke THT.

Hari itu sebagai waktu yang khusus dan pengalaman BPJS rujukan di tutup dengan hati tenang karena dr Arief Purwodito menjelaskan dengan sangat baik.

Pengalaman BPJS Rujukan
Pengalaman BPJS Rujukan – CT Scan

Ilmu Bernyawa Terasa Semakin Nyata dan berkesan

Akhirnya dengan kejadian jatuh dengan proses waktu

  • 17 Maret 2026 Pagi Jatuh dari tempat tidur
  • 24 Maret 2026 Pagi ke Fasker Pertama dan rujuk ke RSUD Tebet
  • 25 Maret 2026 Pagi datang ke RSUD Tebet rujuk ke RSUD Pasar Minggu
  • 26 Maret 2026 Pagi datang kembali RSUD Pasar Minggu, CT Scan dan drama obat
  • 26 Maret 2026 Siang kembali ke Faskes pertama mendapatkan obat sesuai
  • 07 April 2026 Hasil CT Scan di jelaskan dengan sangat baik.

Semuanya memberi ruang pada logikaku atas pengalaman BPJS rujukan, bahwa setiap hal dalam perjalanan hidup memberi pengetahuan dan bukan hanya sekedar tahu tetapi sebuah ilmu bernyawa dan hidup.

Tentang bagaimana respon saat diberi obat atau bagaimana dokter mengarahkan, tidak selalu perlu diterima dan ikut saja, mereka memang sudah mempelajari dan bisa dikatakan ahli. Tetapi tetap saja mereka masih manusia, ada celah untuk terpleset.

Maka kembali pada diri, keadaan boleh terasa tidak tepat tetapi respon itu yang menentukan bagaimana menjadi tepat.

Semua proses pengalaman BPJS rujukan ini memberi kesan yang mendalam dan khususnya sebagai penutup, terima kasih sudah membaca sampai akhir.

Kalau kamu, pernahkah punya pengalaman BPJS rujukan? Boleh dong cerita di kolom komentar.

Jakarta Selatan, April 2026
Ditulis setelah menghadapi perubahan dan sebagai Peta Rasa Sukacita karena berkesan.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

satu Respon

  1. Ya ampun Mbak Niek kok bisa jatuh dari bed? Alhamdulillah hasil CT Scan baik2 aja yaa.
    Memang ya di satu sisi BPJS memudahkan, tapi juga ada kekurangannya, salah satunya agak susah ketemu sama dokter yang ingin kita tuju, khususnya yang spesialis, padahal pasiennya banyak. Yaaa gimana, dokter dna klinik/ RS-nya juga udah engap keknya mbak, karena sesungguhnya karena “sistem” mereka dibayarnya “seuprit”.
    Untungnya tenaga medisnya, terutama si asisten dokternya juga bisa memberikan penjelasan dengan baik, juga memberikan saran alurnya sebaiknya gimana supaya pada akhirnya bisa ketemu tindakan yang tepat ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink