Mengubah rasa getir menjadi manis sepertinya cara klise untuk semangat hidup, tetapi melihat lebih dekat tentang penolakan amarah bangkit, melihat kisah hidup Jean-Jacques Rousseau, seakan membangkitkan semua rasa kelam yang pernah hadir.
Minggu lalu pada rubrik Jumat, Kembali ke Akar Kehidupan, aku menyinggung tentang setiap kita punya luka dan kesadaranlah bisa membawa pada makna bahwa itu sebuah materi kehidupan.
Baca juga: Cara Mencintai Dengan Utuh – Ketika Logika dan Rasa Saling Memeluk – Rahasia Akar #7
Jika dalam tulisan tersebut aku merangkai cara mencintai dengan utuh, maka dalam rubrik Senin, Aku dan Tokoh tentang penolakan Amarah Bangkit. Sesungguhnya tulisan ini tidak menyamankan rasaku, karena perlu membangkitkan kembali getir yang sudah menjadi manis.
Tidak mudah, tetapi penting dibagi dalam cerita, untuk mengajak bagi siapapun yang membaca tulisan ini, bahwa bukan hal yang mustahil kalau penolakan amarah dan bangkit itu bisa dipadu jadi indah.
Pernah juga menulis tentang kekalahan, jika tidak mampu mengolah amarah, karena rasa tidak nyaman itu seringkali memicu emosi dan jika itu dibiarkan mengarah pada jalan yang tidak tepat, karena itu aku menyebutnya kalah.
Baca Juga: Luka, Amarah dan Kalah – 2016
Karena itu, aku terus melatih diri untuk menerima setiap ketidaknyamanan dengan sadar, apakah dengan mengikuti emosi semua persoalan akan selesai. Kemudian, bersama dengan proses aku menemukan satu tokoh masa lalu, masa hidupnya pernah mengalami luka, tetapi bisa bangkit menjadi tokoh besar.
Jean-Jacques Rousseau kisahnya luar biasa, bisa jadi pelajaran untuk masa sekarang di mana terlihat cukup muram. Bersanding dengan kisahku yang terlihat sama, merajut jejak penolakan amarah bangkit.

Penolakan Akar Kepahitan – Sekilas Tentang Jean-Jacques Rousseau
Seakan hidup menolaknya, ketika dia lahir ibunya meninggal dan ayahnya meninggalkannya dalam pengasuhan orang lain. Hidupnya berpindah-pindah dan jika dilihat, dia punya alasan untuk marah pada hidup.
Penolakan yang diterima bisa membentuk akar kepahitan. Tetapi nyatanya dia percaya bahwa, manusia secara alami penuh kasih dan kebebasan, Sebagaimana dijelaskan dalam The Social Contract
Tabel berikut aku sampaikan untuk bisa mempermudah melihat tentang Jean-Jacques Rousseau dan bagaimana penolakan amarah bangkit bisa gambaran melalui kisah hidupnya. Jika ingin tahu secara lengkap tentangnya silahkan baca di Wiki.
| Tahapan Hidup | Kisah & Fakta |
|---|---|
| Lahir & Penolakan Awal | Lahir di Jenewa (1712). Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya meninggalkannya di usia 10 tahun. Dibesarkan orang lain, hidup berpindah-pindah. |
| Masa Muda Terlunta | Tidak menempuh pendidikan formal lama. Hidup sebagai pengembara, pencari identitas, dan kadang dianggap liar oleh lingkungan. |
| Pahit dan Pergulatan | Kerap merasa asing dan ditolak. Hidup dalam kemiskinan dan keterasingan. Muncul rasa kecewa pada struktur sosial dan sistem masyarakat. |
| Kebangkitan Gagasan | Menemukan makna lewat menulis. Muncul pemikiran bahwa manusia secara alami baik, tetapi dirusak oleh sistem sosial. |
| Karya Utama | – Discourse on Inequality (1755) |
- The Social Contract (1762)
- Émile (tentang pendidikan)
- Confessions (memoar jujur dirinya) |
- | Gagasan Sentral | Manusia lahir bebas dan penuh kasih. Kepemilikan pribadi dan sistem masyarakat menciptakan rantai yang menindas dan merusak kebaikan alami manusia. |
- | Warisan Pemikiran | Mempengaruhi gerakan Revolusi Prancis, teori pendidikan modern, serta filsafat eksistensial dan politik. |

Lahir Masa Keruntuhan – Aku dalam Penolakan Amarah Bangkit
Anak terakhir dari empat bersaudara, dalam keruntuhan keluarga tentu bukanlah sebagai disebut berkat. Kelahiranku saat kondiri ekonomi keluarga sangat jatuh. Bapak mengalami sakit. Ibu berjuang keras menghidupi keluarga.
Jika Jean ditinggal pada umur sepuluh tahun dan aku baru mengenal ayahku di umur tujuh tahun. Keadaan sakit yang berat mengkondisikan beliau harus berada di rumah sakit. Entah apa alasan ibuku, pertama kali diajak menjenguk bapak di usia diatas batita.
Masa muda Jean terlunta-lunta dan aku sendiri memutuskan di usia delapan belas tahun, meninggalkan tanah kelahiran dan pernah di masanya tidak makan seminggu, bertahan hidup dengan hanya minum teh manis. Pahitnya hidup membuat Jean terlihat liar dan aku juga.
Baca Juga: Langkah Besarku Kedua – 1995
Ada masanya aku sebagai pribadi yang murung dan tidak mau bertoleransi apapun. Hidupku hanya hitam dan putih. Masa kecil aku di warnai dengan alam dan menjadi pengasuh anak-anak sepupu. Punya musuh sebuah kebanggaan buatku, karena itu aku jadi tidak terlalu dekat sama orang.
Penolakan makanan sehari-hariku dan ternyata Jean juga begitu.
Siapa yang suka dengan anak kurus kering, kucel, pemuruh, pemarah dan keras kepala?
Hidup terlalu keras padaku dan itu membentuk diriku menjadi pribadi yang sangat keras.
Penolakan amarah bangkit dalam tulisan kali ini, bukan untuk berbagi kesedihan tetapi mengajak untuk melihat, Jean ratusan tahun yang lalu mengalami dan dimasa sekarang aku sendiri mengalami.
Mengolah Emosi dengan Menulis
Ketika mempersiapkan tulisan penolakan amarah bangkit, aku menemukan hal yang sama lagi pada Jean-Jacques Rousseau. Menulis cara menemukan kembali diri yang seutuhnya. Melalui itu kami sama-sama melihat bagaimana semua hal yang getir itu sebuah materi hidup.
Aku baru mengetahui tentang Jean di tahun ini, setelah mengulik lebih dalam tentang tokoh dunia, yang berlatar kesulitan tapi berhasil. Kesamaan proses hidup terlihat jelas. Disinilah aku semakin mempercayai kalau hidup itu berulang.
Melihat juga bagaimana terapi mengolah emosi dengan menulis begitu nyata. Aku dan Jean membuktikan, walau perbedaan ratusan tahun tetapi tetap sama-sama mengubah getir menjadi manis.
Penolakan amarah bangkit, tiga kata yang tidak mudah, tetapi jika mau memperjuangkan tentu bisa. Semanis pisang goreng, yang sering aku makan sebagai penawar getir saat hidup suka menguji.

Menulis dipadu dengan makanan yang disenangi, akan menyelaraskan rasa dan logika. Merangkai setiap kejadian yang dialami, mendapati diri bahwa semua itu membentuk menjadi pribadi yang kuat. Dan menikmati makanan kesukaan mengingatkan bahwa semuanya hanya pilihan.
Kita tidak bisa memilih dilahirkan dimana, tetapi bia memutuskan mau menjadi pribadi seperti apa selanjutnya.
Penolakan amarah bangkit tidak akan pernah terjadi jika tidak mau memilih hal yang tepat. Namun kembali lagi soal keadilan waktu, bahwa setiap pribadi bisa melakukan sepatutnya jika peka dan mau diajar.
Mengapa Rasa Pahit Perlu Ditulis, Bukan Disembunyikan?
Karena hidup berpola dan terus mengulang.
Seperti aku dan Jean, kami sama-sama menemukan makna hidup dan bangkit dari amarah melalui menulis.
Karena itu tulisan penolakan amarah bangkit, bukan tentang menjual kesedihan, Tetapi tentang bagaimana luka dan rasa pahit bisa menjadi peta kehidupan yang bernilai, menumbuhkan kesadaran, dan berdampak pada langkah selanjutnya.
Jika Jean-Jacques Rousseau sudah membuktikan dengan karya-karya luar biasa dari penderitaannya. Aku paling tidak sudah bisa mewujudkan mimpi seperti menjelajahi Indonesia dari Sabang sampai Papua. Tidak hanya itu, sudah bisa mengarahkan atau membuat orang yang tidak mau sekolah menjadi sarjana (S1) dan membuat sekelilingku tersenyum disaat hidupnya getir.
Penolakan amarah bangkit akan terus aku hidupi dengan berjuang membuat karya, semoga saja bisa mengikuti langkah Jean-Jacques Rousseau, tidak menempuh pendidikan formal tetapi karyanya diakui. Aku merasa sudah berjalan setengahnya dan berharap waktu mewujudkan mimpiku untuk membawa jiwa-jiwa penuh kemenangan melalui pelatihan hidup yang aku ambil profesinya sebagai life coach.
Aku dan Jean-Jacques Rousseau dalam Penolakan Amarah Bangkit
Aku tidak menyandingkan diri pada tokoh besar seorang Jean-Jacques Rousseau, tetapi melihat bagaimana kehidupan serorang di ratusan tahun lalu berulang dan aku alami, bisa jadi kesadaran bersama bahwa kamu yang sedang berjuang dalam getir hidup tidak sendiri. Aku dan orang-orang yang sebelumnya pernah mengalaminya.
Lalu supaya menjadi peta kesadaran aku rangkum dalam tabel tentang aku dan Jika Jean-Jacques Rousseau dalam penolakan amarah bangkit. Sebagai series Senin, Aku dan Tokoh.
| Tahap | Jean-Jacques Rousseau | Nik Sukacita |
|---|---|---|
| Penolakan | Ditinggal ayah sejak usia 10 tahun, kehilangan ibu saat lahir, hidup berpindah-pindah tanpa kepastian. | Bertemu ayah pertama kali di usia 7 tahun. Sepanjang hidup, pertemuan bisa dihitung jari hingga sang ayah wafat. |
| Amarah | Hidup terlunta-lunta dalam kemiskinan, sering merasa ditolak dan diremehkan oleh masyarakat. | Hidup begitu keras; direndahkan, dicibir dan pernah bertahan hidup seminggu hanya dengan teh manis. |
| Bangkit | Menulis menjadi jalan meredakan emosi, menciptakan karya yang membentuk dunia berpikir baru tentang manusia dan masyarakat. | Menulis menjadi ruang pengolahan rasa dan arah. Setiap kata adalah pilihan sadar untuk menghidupi waktu — bukan sekadar bertahan, tapi menghadirkan makna. |
Jika Jean dan aku mampu bangkit dari amarahnya, kamu juga bisa. Mari beri nafas pada penolakan amarah bangkit langkahmu. Jika butuh teman mari sapa aku dan kita menemukan nilai hidup dari setiap kesulitan.
Atau kamu mau bercerita tentang penolakan amarah bangkit pada kolom komentar? Mari yuk.
Jakarta, Awal Agustus 2025
Ditulis saat senang ketika melihat mall ramai banyak yang belanja, tanda ekonomi sedikit bernafas.


11 Responses
pisang goreng jumbo, keliatan enak bangettt 😀
Tulisan Mbak Nik ini berasa banget, bukan cuma bikin mikir, tapi juga menyentuh. Aku suka gimana pengalaman pribadi bisa dirangkai jadi refleksi yang dalam, apalagi ditautkan ke pemikiran tokoh besar kayak Rousseau. Jadinya nggak cuma intelektual, tapi juga terasa relevan.
Yang paling ngena buatku adalah bagian tentang luka dan amarah yang bisa diolah, bukan disangkal. Kadang kita terlalu sibuk menekan perasaan, padahal sebenarnya bisa dijadikan bahan untuk bertumbuh, bahkan menghasilkan sesuatu yang berarti.
Poin tentang menulis sebagai cara menyembuhkan juga bikin aku mengangguk terus. Menulis memang sesederhana itu, tapi efeknya bisa luar biasa. Jadi ruang buat berdamai dengan diri sendiri.
Tfs Mbak Nik.
ah, aku turut prihatin membaca di bagian baru diajak ibu menengok ayah di atas usia batita. Mungkin ada rasa khawatir dari ibu dan biasanya balita memang tidak diijinkan menengok orang sakit. Karena itu usia yang rentan.
Memang tidak semua orang dapat mengelola amarahnya. Saya pun merasakan demikian, dipendam tapi macam bom waktu tinggal nunggu meledak. Tapi saya lampiaskan juga dengan menulis. Kekesalan saya, amarah saya, agar tidak berlarut2 terpendam dalam benak. Karena kita juga mesti sayang sama diri sendiri. Kl marah diturutkan terus, bisa nongol berbagai penyakit dan yang rugi adalah kita juga.
Kaya pernah dengar JJ Rousseau, ternyta toko di salah satu buku pelajaran jaman sekolah dulu tapi lupa pelajaran apa. Ya, orang-orang besar jaman dulu melewati proses yang panjang dan perih tapi dari proses itulah mereka terbentuk. Membaca biografi dan perjuangan tokoh-tokoh seperti menyirami diri kita dengan multivitamin, bikin sehat dan tercerahkan.
Bukan JJ Rousseau tapi ternyta Kak Nik juga mengalami kegetiran dalam hidup, syukurnya Kak Nik mampu melewatinya dan mengambil sari terbaik dari proses pahit yang berlangsung. Anyway thanks buat masukannya Mb, memang setiap dari kita seharusnya berproses, mulai dari penolakan, amarah lalu bangkit. Cara yang terdengar sederhana seperti itu aja belum tentu semua orang bisa melaluinya 🙂
Hmm amarah itu memang menyakitkan ya mbak
Meski ingin mengolahnya tetapi tetap saja ada rasa yang memuncak dan butuh diakui
Sayangnya saya bukan punya amarah untuk bangkit tetapi amarah yang membuat saya terlalu terlihat atau dianggap perfeksionis
Makanya saya jug bingung bagaimana bangkit tetapi tidak menyakiti rasa yang sedang menyatu dalam raga
Terbentur, lalu Terbentuk 💪🔥 yap pasti tiap orang bakal mengalami kepahitan hidup. Wajar dan memang harus dihadapi, rasa amarah juga diolah dgn baik. supaya kita bisa mendapatkan hal2 baik dan hikmah ya.
yg makin mendewasakan dalam hidup yang darderdor ini
Ka Nik… aku baru tersadar mengenai hikmah yang bisa kita dapatkan jika banyak membaca biografi tokoh-tokoh besar yang tentunya perjalanan mereka gak pernah mudah untuk sampai ke titik tersebut.
Terima kasih atas kisah inspirasinya, ka Nik.
Selain kesamaan dengan tokoh Jean-Jacques Rousseau, ka Nik juga member kesan mendalam atas nama pena ka Nik.
Bahwa sejatinya hidup itu menjadi suka setelah apa yang tlah dilewati di sepanjang sejarah hidup.
Ada amarah penolakan dan harus bangkit untuk menjadi sosok yang kuat dan bijak dalam hidup.
Ternyataa..
Menyemai benih-benih kebaikan itu gak mudah dan gak sebentar yaa, ka Nik.
Kini, kami bisa menyemai kebijakan itu dari tulisan-tulisan menginspirasi ka Nik.
Terimakasih, ka Nik.
Wah jarang2 anak terakhir nih mengalami masa keruntuhan keluarga. Soalnya kasus yang aku tahu biasanya anak pertama tuh yang hidupnya lebih nelongso krn ortu baru merintis, trus yang terakhir yang merasakan enaknya setelah ortunya meingkat ekonominya hehe.
So sorry buat Jean Acques.
Meski begitu takdirnya, emang pilihan hidup tetap di tangan yang bersangkutan ya mbak. Apakah mau terus-menerus meratapi nasib atau bangkit berusaha jadi lebig baik dan Si Jean ini berhasil membuktikannya. Walau sekolahnya gak tinggi tapi karya2nya diakui juga.
Walau mungkin juga gak mudah karena menyimpan amarah. Tapi amarah emang outputnya dua, jadi pendendam mau ngancurin dunia atau malah jadi karya.
Aku tercekat saat baca di bagian berbagai tahapan perbandingan antara Mbak Nik dan Jean-Jacques Rousseau itu. Gak bisa komen banyak selain mau bilang Mbak Nik hebat bisa menjadi seperti yang sekarang ini. Semoga semakin jadi pribadi yang lebih baik amiin amiiin.
Tentang Jean-Jacques Rousseau sendiri aku baru denger. Namanya gak setenar Victor Hugo atau Jules Verne misalnya (tapi mungkin aja akunya yang kuper) dan kayaknya belum ada bukunya yang diterjemahin dalam Bahasa Indonesia. Padahal The Social Contract tuh kayaknya menarik, ya.
Mba nik, aku berasa speechless bacanya, saat tahu mba nik pernah mengalami hidup sekeras itu. Krn saat kita ketemu, yg aku lihat mba nik ceria, ramah, dan sepertinya tidak pernah mengalami susah yg sampai hanya minum teh manis 😭.
Begitulah hidup ya mba. Orang Indonesia terlatih sabar dan mungkiiiiiin Krn ajaran agama, kita jadi mampu bertahan Krn tahu ada Dia yang akan menolong. At least jumlah orang yang bunuh diri di sini tidak sesering beberapa negara di asia timur.
Aku selalu yakin, bangkit dari kemarahan, kegagalan, itu akan bikin kita stronger. Lebih mampu menghadapi badai yg lebih besar.
Kalo soal menulis sebagai sarana bangkit, aku merasakan kok . Dari SD aku menulis di buku harian. Semua yg aku rasakan saat itu di rumah atau sekolah. Hasilnya, stress tidak menumpuk. Semua tersalurkan melalui tulisan. Itu yg bikin aku ga bisa berhenti menulis sampai skr, walau hanya di blog. Semacam terapi kan. Menghilangkan rasa stress, jenuh dan sakit hati.
Thank you sharingnya mba nik. Semoga orang2 di sekitar kita memiliki pikiran yg sama. Mau bertahan dan bangkit dari kemarahan dan kegagalan. Dengan cara apapun, termasuk lewat menulis
setuju dengan kalimat
karena hidup itu berpola dan terus mengulang
sekarang saja suasanya kembali seperti masa lampau,
sadar tidak sadar akan begitu terus,