Perjalanan Bali Surabaya ini bukan sekadar lanjutan rute dari kisah lima kota sebelumnya, melainkan ruang pemaknaan yang lebih dalam. Dalam ketidakpastian itu, prasangka baik yang kupeluk sejak awal justru membuka jalan, kehidupan menyatakan cinta-Nya lewat kejutan manis yang selamatkan langkahku.
Baca juga: Kisah Perjalanan 5 Kota dalam Sebulan: Bertumbuh dengan Bergerak di Tengah Ketidakpastian
Aku termenung sejenak ketika melanjutkan perjalanan panjang itu, kembali ke akar, tempat lahirku – Bali – lalu langkah kembali bergerak, membawaku mampir ke Surabaya. Di antara jeda perpindahan itu, ingatanku kembali pada satu kalimat yang kutemukan saat singgah di Ullen Sentalu, Jogjakarta:
Terang adalah penuntun jalan kehidupan.
Makna dari nama Ullen Sentalu itu seperti menempel dalam nuraniku, mengakar, lalu hidup kembali dalam perjalanan Bali Surabaya. Aku memahami, prasangka baik adalah terang langkah, ia menuntun.
Bagaimana kehidupan, bersama waktu, menuntun langkah demi langkah. Mengajariku untuk tetap berpegang pada satu prinsip sederhana: prasangka baik saja – selebihnya, biarkan hidup bertanggung jawab atas alurnya.
Baca Juga: Ullen Sentalu – Ketika Cinta Kehidupan Merangkul 48 Tahun – Peta Rasa ke 34

11 Januari – Kembali ke Bali, Melihat Tanah Kelahiran dengan Cara yang Berbeda
Pukul 13.00 WIB, ponakan mengantarku ke tempat bus gunung harta. Aku memilih jam siang karena ingin sampai di Bali di pagi hari. Waktu yang tidak banyak, aku padatkan dengan bermalam di perjalanan.
Suite class Combi type yang aku pilih, ternyata satu bus dengan type sleeper. Merasa beruntung tidak memilih sleeper karena ternyata pilihanku sudah cukup nyaman.
Aku duduk percis di belakang sopir. Bus meluncur dengan diiringi gerimis dan tidak selang berapa lama menjadi hujan deras. Tiba-tiba salah satu chat whatshaap ada yang mengirim lagu 11 Januari dan jadilah aku sedikit melo. Hujan dengan lagu ini seperti menghadirkan rindu tetapi tidak bisa di lunasi.
Aku paksakan diri untuk tidur karena ternyata tidak bisa menyalakan lampu baca. Aku bersyukur tidak sering terbangun dan ketika terbangun sudah berada dekat dengan titik penjemputan.
Kakakku ternyata sudah menunggu dan setelah bertemu, kami meluncur ketempat penginapan. Karena hari masih pagi, belum bisa cek in, koper aku titip ke penginapan dan kami ke kafe untuk diskusi soal tujuan datang ke Bali.
Urusan dengan keluarga sudah setengah selesai, Kakak lanjut bekerja dan setelah itu ponakan mengambil alih tugas untuk mengantar aku kesana kemari dalam kebutuhanku berada di Bali.
Melihat Tanah Kelahiran dengan Cara yang Berbeda
Kembali ke Bali kali ini bukan seperti biasanya, pulang ke rumah dengan bertemu keluarga atau ber-wisata dengan menikmati keindahannya. Kali ini aku mau melihat lebih dekat, bagaimana perkembangan Bali yang dalam waktu terakhir begitu banyak pribadi datang untuk mencari rejeki.
Ekonomi tahun terakhir sedang senang-senangnya membuat jantung bekerja lebih keras, karena itu apakah Bali ikut dalam ritmenya. Ternyata sama. Ketemu beberapa kolega, kawan sahabat, hampir sama mengutarakan kesulitan. Terutama soal pajak.
Walau demikian, ditengah ketidakpastian kehidupan tetap memberi hal manis dalam perjalanan Bali Surabaya, khususnya di Bali 12 Januari sampai 18 Januari 2026.
Baca juga: Nasi Sela Bali: Warisan Rasa Bertahan Hidup yang Kutemukan di Tuniang Resto Renon – Peta Rasa 31
Perjalanan Bali Surabaya – Prasangka Baik Menyelamatkan Langkah
Seminggu di Bali banyak kejadian aku alami, semuanya memberi ruang pengetahuan, dan hal yang paling utama aku dapatkan bahwa di tengah ugal-ugalannya kehidupan mengatur alur, ia tetap adil membuktikan bahwa prasangka baik menyelamatkan langkah.
Dari sekian kisah, aku bagi satu yang paling membuatku malu pada hidup karena sempat bertanya mengapa langkahku belakangan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Siang ke sore saat itu, aku sedang menunggu ponakan yang sedang ada urusan dengan temannya. Menunggu di pantai Seminyak lengkap dengan laptop. Ceritanya menunggu sunset sambil menulis.
Tetapi entah mengapa rasaku seperti tak bersuara, aku putuskan untuk mendekat ke pantai dan duduk di bawah payung sambil menunggu sunset. Logika-ku berlarian dengan begitu banyak asumsi dan tidak sadar gerimis datang.
Aku tetap termenung dalam gerimis dan berpikir hanya sebentar. Tetapi ternyata makin bertambah waktu, gerimis berubah menjadi hujan. Aku kembali ke kafe dan sampai di tengah, hujan angin datang.
Di sanalah hatiku lirih, ingin menikmati sunset tetapi diberi hujan deras. Tetapi karena tidak terbiasa larut dengan apapun, terlebih dalam perjalanan tiga kota sebelumnya, hidup sudah membuktikan keadilannya, aku buka laptop dan mulai menulis. Mengarahkan pikiranku yang mulai serakah dengan asumsi.
Dua jam berlalu, pikiranku mulai tenang dan sudah kembali pada jalurnya yang selalu berprasangka baik. Perhitungan biaya untuk lanjut di Bali selama seminggu aku serahkan pada hidup, terjadi ya terjadilah.
Tulisan selesai, hujan reda dan ponakan-pun menjemput. Sampai di penginapan, hidup membayar lunas atas prasangka baikku. Iparku menitipkan dana melalui ponakanku, senilai yang aku butuhkan untuk melanjutkan menginap sesuai rencanaku.
Tahun terakhir aku memang sangat perhitungan dalam biaya hidup. Karena memang butuh kebijaksanaan lebih untuk mengatur keuangan dalam kondisi ekonomi saat ini. Seperti perjalanan lima kota dalam sebulan ini-pun semuanya aku lakukan berdasarkan kebaikan hidup.
Termasuk dalam perjalanan Bali Surabaya, langkah demi langkah di cukupkan. Aku sempat berpikir saat di pantai Seminyak, bagaimana caranya mengatur biaya seminim mungkin dengan semua agenda yang sudah aku rancang.
Sepanjang hidup, tidak pernah aku mengalami hal itu, ada getir dalam mengatur biaya hidup. Hanya di pantai Seminyak saat itu, sejenak dan hujan mengingatkan untuk kembali pada jati diriku. Prasangka baik pada hidup.
Setelah mendapatkan dana, aku langsung mencari penginapan dan kembali hidup begitu luar biasa mengatur langkahku. Bertemulah dengan penginapan yang sangat baik dan harganya aduhai menyenangkan.
Baca kisahnya di: Kubu Taraya Bali – Tempat Menginap di Jimbaran: Saat Warganya Menciptakan Peluang di Tanah Sendiri
Satu kejadian dari sekian langkah yang hampir semua memberi pelajaran hidup, bahwa kehidupan tetap adil.
Sebelum melanjutkan langkah ke Surabaya, aku sediakan waktu untuk kebaktian di Gereja dan ketemu Ibu yang kebetulan sedang ada di kota Denpasar.

19 Januari – Dalam ketidakpastian bertemu Surabaya
Awalnya ingin langsung Bali Jakarta naik bus. Tetapi setelah di hitung-hitung biayanya, nilainya hampir sama. Akhirnya aku memutuskan untuk mampir ke Surabaya dan semuanya dalam ketidakpastian.
Tujuan mampir ke Surabaya adalah bertemu dengan kolega bisnis dan waktu belum bisa di pastikan, karena ia termasuk orang yang super sibuk. Aku beranikan diri untuk tetap melangkah, melihat waktu apakah memberi rejeki.
Ternyata setelah sampai di Surabaya, orangnya tidak bisa bertemu. Tentu saja aku tidak kecewa karena menghadapi ketidakpastian perlu banyak rencana lainnya.
Diantaranya aku agendakan bertemu dengan blogger Surabaya dan bertemu salah satu klien Jakarta kebetulan lagi ada di Surabaya. Tidak semua rencana terwujud tetapi yang terjadi semuanya baik.
Selain bertemu blogger dan klien, aku juga masih bisa menikmati beberapa hal di Surabaya, seperti mengenal kota tua-nya.
Baca juga: Saat Seduh Coffee di Kota Lama Surabaya: Kisah Menikmati Jeda Waktu yang Tenang – Peta Rasa 33

20 Januari – Kembali ke Jakarta, Menutup Perjalanan Bali Surabaya
Setelah bertemu satu klien, perjalanan Bali Surabaya pun selesai. Malam itu aku kembali ke Jakarta dengan kereta. Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, aku kembali memanfaatkan malam karena berpikir bertemu Jakarta setelah sebulan ditinggal, rasanya ia lebih manis ditemui saat pagi hari.
21 Januari 2026 aku bertemu kembali dengan Jakarta setelah ditinggal dari 22 Desember 2025.
Akhirnya
Prasangka baik adalah terang yang membuat tetap melangkah,
darinya kehidupan bekerja, menyelamatkan, mencukupkan, sekaligus menumbuhkan.
Kamu, pernah menempuh perjalanan Bali–Jakarta? atau adakah kisah ketidakpastian dalam langkah?
Yuk berbagi di kolom komentar.
Jakarta Selatan, Februari 2026
Ditulis untuk series Jumat – Kembali ke Akar dengan mata yang sedang meleknya setelah minum tuku dan americano.


2 Responses
Mbok Nik, berapa kali biasanya pulang ke Bali? pasti amaze ya tiap mudik ada aja perubahannya. Bali emang gak bisa diem.
Perjalanan menyenangkan menjelajahi 3 kota sekaligus, dengan mindful, low budget, dan penuh berkat. Semoga aku dapat kesempatan lagi buat road trip mengagumi keagungan ciptaan-Nya, dan memberi pengalaman hidup yang baik dan bijak.
Seruuuunya Jakarta Bali. Via darat berarti yaa. Pernah sekali mba, tp zaman aku masih SD kls 1. Jujur ga terlalu ingat. hanya samar2. Dan sbnrnya aku pengen ngulang, tp naik mobil , ajakin anak2. Mereka belum pernah ke Bali.
Prasangka baik itu penting. Di agama pun selalu diminta utk berprasangka baik terhadap siapapun dan apapun. Aku percaya, sebenernya kalau kita terbiasa berpikir yg baik, segala sesuatu itu akan menjadi baik. Ibaratnya pikiran kita yg baik, akan menarik hal2 baik juga.
Cuma kadang memang ga semudah itu kan, terlebih dengan kondisi skr yg acak kadut 😅😅😅. Saluuut dengan mba nik yg berusaha utk prasangka baik dengan hidup. Akh hrs belajar bisa begitu