Secangkir piccolo latte kerap menjadi saksi ketika seseorang merasa hidupnya kehilangan arah. Dan dari setiap dialog aku melihat satu pola yang sama: energi hidup selalu mengalir ke mana perhatian mereka menetap.
Energy flows where attention goes, as directed by intention.
Neuro-Semantic Presuppositions
Kalimat NS presuppoositions hadir saat kemarin, Minggu, 8.55 pagi di sudut kafe Kokas. Di tengah asyik membaca buku saat menunggu seseorang yang ingin bercerita.
Dalam menunggu, hadir bayangan banyak pertemuan di temani piccolo latte bersama kisah dengan segala persoalan hidup. 15 menit setelah itu datang yang di tunggu.
Lelaki muda, 21 tahun dengan parasnya yang manis dan tampan terlihat tenang. Perawakannya memperlihatkan anak ini rajin olah raga, penampilannya sederhana tetapi menarik. Dengan segala ada padanya ketika duduk di depanku dan bercerita.
Setiap kata dan kalimat yang hadir, aku semakin yakin dan sadar bahwa ketenangan di luar belum tentu tenang di dalam. Kemudian cerdas dan bijaksananya pribadi tetap membutuhkan orang lain untuk membantu mengarahkan energi dengan tepat.
Kemudian dari sanalah aku ingin menghadirkan tulisan ini, lima kisah dan piccolo latte diambil dari pribadi yang bercerita. Namun diantara kisah yang ada tidak termasuk pertemuan dengan pemuda 21 tahun kemarin.
Kisah saksi piccolo latte dalam tulisan ini menjadi harapanku untuk kamu yang mungkin mengalami dan bisa jadi jawaban atau mengarahkan energi yang lebih tepat atas persoalan yang ada.
Kemudian tulisan ini masuk dalam series Senin, Aku dan Tokoh yaitu kamu, pribadi-pribadi berharga, kehilangan arah tetapi berani jujur bercerita. Bentuk cinta akan diri sendiri.
Baca juga: Self Love dalam 24 Jam: Cara Bertanggung Jawab atas Hari sebagai Bentuk Cinta Diri

Menikah Tanpa Cinta: Ketika Ketakutan Lebih Besar dari Kejujuran Diri
Langit siang itu begitu cerah, berbeda dengan seseorang di hadapanku. Wajah manisnya tertutup dengan muram, tanpa senyum. Alisnya berkerut menunjukkan betapa pikirannya begitu rumit.
Ia datang ketika seminggu sebelumnya meminta waktuku untuk bertemu. Selain memang jadwalku cukup padat saat itu, aku sedang memberi ruang pada dirinya, mem-validasi rasa sesungguhnya atas perkara yang sedang di alami.
Karena sebelum akhirnya memutuskan bertemu, sudah ada dialog cukup mendalam via telepon. Walau akhirnya mampu menangis dan mengeluarkan penatnya, aku memberikan pilihan untuk lebih baik bertemu.
Semua cerita yang hadir, menurut pandanganku pernikahannya bukanlah tanpa cinta. Tapi lebih tepat cinta sepihak. Atau mungkin lebih tepat lagi, cinta besar yang sepihak.
Panas terik di luar tidak terasa dalam ruangan, karena dingin AC di kafe tersebut cukup menyeimbangkan. Membantu aku fokus mendengar kembali kisah terus berputar. Aku tetap memberi ruang untuk menumpahkan kembali dan piccolo latte menjadi saksi terbaik.
Aku memandang piccolo latte dengan tanda cinta diatasnya, lalu kembali mendengar secara mendalam dengan memandang wajah, tubuh dan semua gerak yang di lakukannya.
“Mungkin ini aku terlalu mengejarnya, aku terlalu mencintainya dan ternyata walau tetap menikah tetap saja cintanya tidak sepenuhnya aku rasakan”
Kalimat terakhir yang aku bisa ceritakan dalam tulisan ini. Iya, wanita ini sebut saja Bening, begitu gigih mengejar pria yang boleh di golongkan sebagai orang yang tidak terlalu bisa mengungkapkan perasaannya.
Walau pria itu akhirnya menjadi suaminya, bening masih terasa kosong. Pernikahan selama tujuh tahun dengan hadirnya seorang anak laki-laki tidak juga mampu membawa ia bahagia yang utuh.
Ketakutan demi ketakutan hadir dalam hari-harinya, sedangkan aku melihat suaminya tidak melakukan hal-hal yang tidak bertanggung jawab. Ia tetap menjadi suami yang baik. Hanya memang bukan golongan yang mampu menguangkapkan perasaaan. Dingin.
Mungkin inilah jarak yang terjadi, Bening yang butuh perhatian khusus, ingin di sayang dengan kata dan tindakan mesra, bukan hanya sekedar tanggung jawab.
Karena sebagai klien yang perlu di arahkan dengan tajam, aku selipkan kalimat bahwa apa yang sudah di ambil perlu bertanggung jawab. Seperti Bening berani mengambil orang yang jelas tidak punya perhatian khusus padanya menjadikan suami.
Walau akhirnya luluh karena kegigihan bening, membangun rumah tangga bukanlah perkara suka dan tidak suka, tapi komitmen menjadi perisai utamanya. Sesi siang itu cukup alot, karena mengarahkan pribadi yang terlalu menggenggam rasa sendiri bukan perkara yang mudah.
Kemudian hadir satu kalimat,
Jika perhatianmu selama ini menetap pada rasa takut, ke mana energi hidupmu mengalir – dan apakah itu benar arah yang kau niatkan?
Kalimat ini seperti pedang yang menusuk, ketika seseorang yang terus berputar-putar pada rasa yang sejatinya tidak perlu di rangkul terlalu dalam.
Waktu kedepan masih ada, mengapa hidup dalam ketakutan. Mengapa fokus dengan sikap suami yang dingin, yakinkah dinginnya tanda tidak cinta? walau sudah tujuh tahun tidak merasakan kehangatan cinta suami, tetapi dengan di beri anak yang lucu, bukankah itu bukti hidup sudah mencintainya.
Bagaimana kalau perhatiannya di arahkan ke membesarkan anak, cintai dengan segala kemampuan sambil tetap melayani suami dengan sebaik-baiknya.
Setelah memandangnya dengan penuh kasih setelah mengarahkan apa yang perlu, piccolo latte itu aku nikmati. Menawar rasa dan logika yang terus bertarung menghadapi Bening.
Akhirnya, tiga jam berlalu, wajah murah sebelumnya hilang dengan semangat dengan berani menerima kenyataan, bahwa suami boleh saja tidak mencintainya, tetapi hidup sudah mencintainya dengan semua apa yang di milikinya.
Tahun-tahun berganti, sesekali aku bertanya kabar dan di setiap percakapan kami, selalu hadir kalimat. Terima kasih ya Nik sudah membantuku untuk melangkah mengatur hidup dengan tepat.
Dan aku-pun berterima kasih, ia berani jujur bercerita secara utuh dan mau di arahkan. Karena bagaimanapun keberhasilan tidak hanya sepihak. Perlu kedua belah pihak yang saling.
Baca juga: Drama China Bukan Picisan: Ketika Cinta Gagal Memahami Validasi Rasa

Luka dari Orang Tua: Ketika Masa Lalu Masih Menguasai Arah Hidup
Piccolo Latte selanjutnya menjadi saksi beberapa insan bercerita tentang luka masa kecil atau di masa hidupnya, semuanya bermuara orang tua berulang menuntut.
Pagi itu, aku biarkan Jaka air matanya hadir dengan malu-malu, ketika hatinya tidak mampu menahan betapa terlukanya ia ketika orang tuanya terus menerus menghakiminya.
Penghakiman sebagai anak yang tidak berhasil, anak yang tidak ingat orang tua. Di sekolahkan tinggi tetapi belum membawa hasil yang baik. Bingung dengan dirinya yang sudah maksimal berupaya tetapi tekanan orang tua seperti tidak mengerti bagaimana hari-harinya begitu letih.
Tekanan masa mudanya membawa ia kembali pada masa kecilnya dengan sekali sikap orang tuanya, menuntut ia belajar lebih, sedikit bermain, tidak ada pelukan dan kasih sayang secara terasa dan tanpa sadar itu membawa luka batin yang kuat.
Ketika menghadapi klien seperti ini, sejujurnya aku ikut pedih tetapi profesiku mengajak untuk tetap tenang. Tidak larut dalam luka yang sedang menanah. Jaka tidak banyak bicara, hanya wajah dan air matanya yang mengalir.
Alu alihkan perhatianku pada Piccolo Latte untuk membuat ia nyaman, karena merasa mungkin tidak nyaman di lihat, lelaki tetapi menangis. Sepertinya keadaan berpihak pada kami. Posisinya membelakangi orang-orang di kafe Sehingga Jaka leluasa bersikap sesuai rasanya saat itu.
Seperti biasa aku selalu memilih sudut yang tenang, mencari tempat yang mengkondisikan kami bercerita dengan leluasa. Aku bersyukur punya kebiasaan itu dan ternyata sering menyelamatkan.
Setelah semuanya tenang, aku mencari kalimat yang tepat untuk membawanya ke arah yang menyamankan.
“Jika perhatian terus di masa lalu,
realitas seperti apa yang sedang tercipta hari ini?”
Mungkin yang perlu disadari kalau sebenarnya ia selalu bermain di masa lalu, ketika orang tuanya menuntut saat ini, rasa masa kecilnya hadir mendorong ketidaknyamanannya. Merasa orang tuanya terus menuntut.
Orang tua tetaplah mereka yang punya pemikiran yang seringkali tidak mampu di arahkan. Perkaranya, bagaimana hari kita tetap damai, tergantung bagaimana memberi perhatian yang perlu di hidupi. Bukan fokus pada rasa sakit masa kecil tapi arahkan pada sesuatu yang memang di kejar.
Teringat iya, sakit iya tapi latih diri untuk mengarahkan pada apa yang sejatinya di inginkan pada diri. Seperti saat itu, Jaka sedang berjuang membangun bisnisnya. Fokus saja pada hal tersebut. Walau memang orang tuanya seperti tidak pernah melihat usahanya, biarkan saja. Orang tua tetaplah orang tua. Dirimu adalah tokoh utamanya, hidupi ia dengan rasa bahagia.
Hidupi mimpi sambil pelan-pelan bersihkan luka-luka masa lalu. Tidak membiarkan peristiwa baru yang tidak nyaman membentuk luka.
Tahun berganti, senyum gantengnya menghiasi wajahnya saat bertemu kembali, setelah melakukan berulang sesi cerita bersama piccolo latte yang selalu menemani. Terima kasihnya tidak pernah hilang dari setiap kalimatnya, Aku-pun demikian, membalasnya dengan terima kasih juga, sudah berani hadir dalam ruang sesi dan berulang, yang aku tahu betul itu tidak mudah.
Baca juga: Tergores Terluka Boleh – Bernanah jangan – Terbaik – Hidupberkehidupan 2024

Hasrat yang Terlalu Tinggi: Ketika Pelarian Disamarkan sebagai Kebutuhan
Kisah Piccolo Latte sebagai saksi soal hasrat yang tinggi. Mungkin yang terakhir ini cerita dewasa yang sering dibilang tabu. Tetapi ini perlu di ketahui dan aku berpikir baik untuk menjadi bagian tulisan ini.
Sex memang sesuatu yang tidak perlu di umbar tetapi sebagai pengetahuan untuk menyelaraskan dan memberi arah buatku penting. Aku termasuk pribadi yang sangat berhati-hati bicara soal ini, karena ini bagian yang paling intim dan krusial jika tidak tepat dalam menyampaikan.
Sebagai pendukung pemikiranku cara mengarahkan hasrat sex yang berlebih, aku selipkan tulisan klikdokter. Hampir semua yang ditulis pernah aku sarankan ke pribadi yang datang padaku. Tetapi aku lebih sering mengajak melihat duduk perkaranya.
Seperti siang itu, wanita sangat cantik sebut saja Binar, ia datang dengan lesu. Sebenarnya pribadinya sangat riang. Ia datang mengutarakan bagaimana suaminya sudah tidak mampu memberi kebutuhannya. Sering terjadi pertengkaran karena tidakpuasannya di ranjang.
Aku tidak fokus pada hubungan mereka, tetapi aku mengajak Binar untuk mengetahui mengapa ia punyabegitu besar hasrat pada sex. Mulai membedahnya dari cara makannya sampai masa kecil, masa muda dan menikah.
Rasaku dan logikaku bertarung begitu keras ketika mendapati Binar ternyata masa mudanya tidak di pergunakan lebih bertanggung jawab. Keadaan yang menempatkannya ke pelarian pada sex bebas.
Aku cukup ragu untuk mengutarakan kalau apa yang dia rasa sekarang adalah akumulasi dari apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Rasa kebutuhan berlebih karena sudah begitu banyak perbandingan dan memicu ketidakpuasan pada pasangan yang sekarang.
Sering berdalih soal kebutuhan tetapi nyatanya itu bukan hanya soal butuh, tetapi perlu mengetahui mengapa hal itu datang berlebihan. Air itu penting tetapi jika berlebih-pun akan menjadi petaka.
Picollo Latte di depanku ku sentuh, dingin. Sedingin rasaku saat mengutarakan kenyataan bahwa ini bukan kebutuhan tetapi kesadaran diri untuk perlu di arahkan yang tepat.
“Apa sebenarnya niat terdalam di balik hasrat ini: koneksi, pengakuan,
atau penghindaran rasa?”
Kemudian, dingin Piccolo latte yang ku minum menghantarkan kalimat di atas dan wajahnya yang tadinya tertunduk, langsung memandangku tajam. Aku dengan tenang menghadapinya.
Lalu, kalimat itulah yang membawa dua jam kemudian penuh dengan diskusi yang boleh di bilang penuh dengan pertarungan logika dan rasa. Sampai di satu titik, ia berkata terima kasih ya Nik, untuk kesabarannya.
Aku-pun seperti biasa, terima kasih juga sudah mau berani dan jujur atas ceritanya.
Kemudian ketika,
Memanggil tiga kisah tersebut, bukanlah perkara yang mudah. Bersama bayangan rasa piccolo latte dan dentingan piano dalam musik yang aku nyalakan, menemaniku menghadirkan tulisan ini.
Pahit nikmat piccolo latte seperti memberi cerminan, kadang hidup memang seusil itu menghadirkan kisah kehidupan pada pribadi, pahitnya membawa kenikmatan. Jika mampu mengarahkan pada yang tepat.
Cinta sepihak, luka masa kecil dan hasrat yang berlebih semuanya tidak nyaman, tetapi jika jujur menyadari semuanya hadir membawa pesan,
Bahwa bukan soal bagaimana kemarin atau orang lain,
tetapi ini tentang hari ini dan esok dan diri sendiri.
Akhirnya, terima kasih sudah membaca kisah piccolo latte bersama kisahnya, jika ada cerita yang mau di sampaikan atas tulisan ini, silahkan ya di kolom komentar.
Pasar Minggu Jakarta, Februari 2026
Ditulis sambil membayangkan piccolo latte sambil mendengar nyanyian burung.


28 Responses
Yaampun, quotes terakhirnya itu ngena banget. Ini bukanlah tentang kemarin atau orang lain. Tapi bagaimana kita his berdamai dan bisa menjadi diri yang lebih tenang serta fokus dengan perkembangan pribadi.
Ketiga kisah yang didapat cukup variatif dan menunjukkan, di segala fase kehidupan memanglah gak pernah terhindar dari masalah atau trauma masa lalu. Tapi gimana kita menyikapi nya lah yang penting yaa
Respon yang akhrinya terpenting di setiap peristiwa. Karena itu kalau berpikir tentang diri dan esok biasanya insan akan berupaya sekuat tenaga untuk berjuang melangkah dengan sukacita.
Karena diri dan esok adalah tokoh utamanya, yang lain adalah bagian menjadi warna atau kita yang mewarnai. Sesuai dengan peran yang sudah di beri hidup.
Thank you Isti sudah mampir dan komen.
Aku bisa membayangkan gimana gundahnya si Jaka dengan segala tuntutan orang tua. Nggak perduli apapun yang sudah dia lakukan, selama orang tuanya belum merasakan kepuasan. Tetap saja terasa kurang. Padahal, mungkin si Jaka sudah berdarah-darah dalam mengupayakan. I feel you, Jaka.
Peluk dari jauh mba, terima kasih responnya ya. Sekarang Jaka sudah hidup dalam arah yang tepat dan penuh sukacita.
Semoga makin banyak anak-anak yang terluka di masa kecil dipulihkan ya.
Semua kisahnya ini jadi pesan bahwa hal² yang berlebihan (ketakutan berlebih, hasrat berlebih dan luka yang terlalu lama disimpan) pada akhirnya akan membuat luka baru.
Mungkin saja, kita semua diingatkan bahwa tak ada salahnya bercerita, belajar menerima dan perlahan melepaskan kelebihan² yang nggak bisa ditanggung itu. Bukan untuk mengumbar, tapi memang agar bisa berjalan kembali. 🥰
Cerita yang tepat adalah caranya mencintai diri dan hidup. Karena sehebat apapun diri tetap membutuhkan orang lain melihat dari kaca mata yang berbeda.
Tepat sekali, berlebihan itu yang jadi duri dan semoga kita terus berjuang untuk sadar akan kecukupan ya. Terima kasih Dinda untuk komennya.
Mbaaak, ini yang kemarin dikau ceritakan yaaa tentang 3 kisah itu, hihihi. Semuanya inspiratif, dan semuanya punya strong point yang menarik lho satu sama lainnya. Tapi aku tertarik sama kisah bening dan binar sih ya.
Bening, rasanya sepertinya kamu telah terlalu lelah berbucin ria, sampai akhirnya mulai ada di titik jenuh. Mungkin satu waktu, yang kamu butuhkan adalah deeptalk. Karena pasangan itu kadang ada sesuatu yang dipendam, didiamkan sampai bertahun-tahun. Gali itu, jangan sampai ia meledak.
Dan untuk binar, aku jadi ingat quotes ini. Kalau terlalu sering makan steak, pelan-pelan steak yang lezat tidak akan terasa sama lagi.
Sepakat sekali, deeptalk satu cara untuk mengetahui kebutuhan masing-masing. Hanya untuk mencapai itu banyak pihak tidak mampu.
Semoga kita semua diberi langkah dengan kemudahan untuk bisa mengkomunikasikan apa yang dirasa dan butuhkan ya.
Terima kasih Fajar untuk responnya.
Kisah secangkir piccolo latte yang penuh makna akan kehidupan. Tentu kita semua melakoninya dengan jalan masing2. Ada yang berliku kayak Bening. Atau yang mulus kayak jalan tol.
Jujur membayangkan pernikahan berat cinta sebelah tuh berat sekali emg. Kita dipaksa utk mencintainya secara penuh, tapi tdk dgn balasannya. Akhirnya ya kita bakal sakit sendiri kalo dirasakan.
Untung aja petuah hidup dari kak Nik menyadarkanku. Kalo hidup hrs terus berjalan. Ga perlu lagi memikirkan energi negatif yang bakal meruntuhkan hidup kita. Keep move on. Toh kita sudah menjalaninya dgn indah, versi kita sendiri.
Yess mas Didik, melangkahlah dengan kesadaran untuk meninggalkan hal yang negatif di masa lalu. Semua di izinkan ada untuk membentuk kita jauh lebih baik.
Walau setidaknyaman apapun keadaan, karena hari terus berganti dan pada akhirnya semuana juga akan berganti termasuk hal yang kita tidak suka.
Mbak Nik, membaca tulisanmu yang ini membuatku jadi ingin berkata bahwa kadang yang terasa hambar itu bukan berarti tidak ada rasa, bisa jadi hanya berbeda cara menunjukkannya, dan ketika kita mau melihat dari sudut itu, hati biasanya ikut lebih lapang. Mengakui bahwa pengalaman lama masih memengaruhi cara kita bersikap itu sudah langkah besar lho Mbak, tapi perubahan nyata terjadi saat kita memilih tidak terus dibayangi olehnya dan berani menentukan sikap hari ini. Pelan-pelan, ketika kita bersikap lebih sadar dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri, hidup biasanya menemukan ritmenya kembali. Semangat ya Mbak untuk terus menyalakan ruang ruang refleksi seperti ini, karena pasti banyak yang merasa dikuatkan dan tidak sendirian lewat cerita cerita yang dihadirkan.
Terima kasih Mba Rien. Semoga di mudahkan untuk tetap memberi ruang refleksi.
Sepakat untuk semua responnya. Terutama hiduo akan menemukan ritmenya sesuai yang di butuhkan pribadi itu sendiri.
Tiga cerita yang berbeda. Tapi intinya semua meninggalkan luka. Dan Luka itu harus segera disembuhkan. Salah satunya dengan cara bercerita. Karena hidup harus terus berlanjut. Terus memang orang yang terlihat tenang penampilannya, ternyata menyimpan gejolak batin juga.
Tepat sekali pak Bamb, bercerita satu cara memulihkan luka-luka batin. Karena dengan itu hati biasanya bisa menemukan apa yang perlu di tinggalkan dan apa yang perlu di rawat.
Terima kasih untuk responya ya pak.
Aku merinding baca ini. Permasalahan yang diceritakan berbeda dengan yang aku alami, namun nasihatnya tetap masuk. Terutama quote di bagian akhir: Bahwa bukan soal bagaimana kemarin atau orang lain, tetapi ini tentang hari ini dan esok dan diri sendiri. Karena yang masih bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, hari ini dan esok. Orang lain dan hari kemarin sudah tidak ada dalam kendali. Berusaha mengendalikan orang lain itu sulit. Terima kasih atas cerita dan nasihatnya Mbak Nik ☺️
Dengan senang hati mba Asri. Terima kasih juga sudah membaca dan memberi respon.
Sangat berarti sekali buat langkahku dan merawat ruang cerita dan menulisnya.
Sebuah aprisiasi yang indah dan memberi semangat.
Kisah Piccolo Latte ini sangat dalam sekali. Ada tiga kisah dengan orang berbeda dan duduk perkara beda pula. Butuh tenang dan energi lebih menghadapi ketiga situasi tersebut.
Cinta sepihak memang berat. Tak kalah sulit maybe mengatasi hasrat berlebih. Nah, semua itu bermuara pada: kesadaran dan kejujuran. Bila berani mengakui secara sadar lalu berusaha mengatasi dengan benar, pasti ada titik terang dan ngobrol memang selalu dibutuhkan karena sejatinya manusia makhluk sosial ya mbak.
Betul sekali La. Kesadaran dan kejujuran respon yang penting atas perkara atas luka.
Keberanian terbesar dan cara mencintai diri dan hidup adalah ketika mau jujur, sebenarnya apa yang dibutuhkan.
Tidak mudah tapi itu langkahnya. Semoga kita semua terus belajar berani jujur dan bercerita ya. Sehingga menjalani kehidupan dengan tenang. Terima kasih Lala untuk respon baiknya.
Membaca cerita 3 orang ini membuat saya banyak belajar tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan yang mungkin tidak sejalan dengan impian. Bisa jadi salah satu cerita teman Mbak Nik ini juga relate dengan kehidupan kita. Dan pastinya mereka beruntung ya bertemu Mbak Nik yang membantu membuka pikiran mereka dalam menghadapi masalah yang dihadapi
Terima kaish mba, mungkin seberuntung aku tulisanku dibaca olehmu dan meresponnya dengan komen. Terima kasih ya.
Dari piccolo latte yang seharusnya bisa menebarkan rasa hangat nan mendalam, ternyata mengukir beragam kisah bahwa permasalahan hidup tiap orang terlalu kompleks. Ada getir, kehampaan, dan ketimpangan, padahal mungkin kombinasi rasa pada minuman itu terasa pas.
Hebat Kak Nik, bisa membuka ruang mendengarkan kisah mereka, karena tentunya profesi ini bukan hal yang mudah menerima suatu curcolan hidup yang “negatif”
Hihi setiap peran selalu ada yang tidak nyamannya. Tetapi ketika melihat hasilnya akan terbayarkan lunas. Angka mungkin di butuhkan untuk kehidupan, tapi buatku bagaimana mereka bisa lebih berkehidupan itu jauh lebih utama.
Terima kasih mba Fenni atas responnya.
Piccolo Latte yang hangat dan manis menjadi teman yang tepat untuk mendegarkan setiap kisah yang hadir ya
Kehidupan memang menyimpan banyak cerita dengan berbagai rasa yang ada
Seperti itu mba Dian. Terima kasih ya untuk komemnya.
Kisah pertama sepertinya banyak menimpa pasangan². Kalau saya sih jika memiliki perasaan tak dicintai maka itu harus ngobrol terbuka satu sama lain. Bisa jadinlove language nya beda, jadi merasa tidak dicintai. Jadi mengimbangi dan memahami padangan itu penting.
Sangat beruntung sekali jika ada jalan untuk komunikasi. Tetapi ada banyak pihak hal itu tidak bisa di lakukan karena banyak alasan. Karena itu fokus ke hal yang lain satu caranya, sambil menunggu waktu mengatur kembali.
Terima kasih mba Heni untuk komennya.
Hmm berasa relate banget sama aku. huhuu.. Kadang kita emang terlalu fokus sama yang sudah lewat sampai lupa menikmati hari ini. Tulisan Mba Nik selalu halus tapi nusuknya dapet, bikin kita ingin selalu berdamai sama cerita hidup sendiri.
Aaah terima kasih banyak mba Alien. Halus dan nusuk itu dua kata yang bikin hangat hihi. Senang sekali tulisanku bisa membuat berdamai
Sehat selalu ya mba dan semoga waktu bisa mempertemukan kita.