Pura Adhitya Jaya Rawamangun, menghadirkan kenangan masa kecil yang indah dan tak banyak yang tahu, bahwa Jakarta memiliki pura besar yang menyimpan suasana Bali dan kenangan masa kecil bagi banyak perantau.
Langit pagi ini tidak seindah kemarin, walau memang setiap diatas jam makan siang, hujan seperti selalu menagih tempatnya di akhir tahun. “Jangan dulu ya” begitu kataku pada waktu. Sejak kemarin entah kenapa begitu ingin datang ke Pura Adhitya Jaya Rawamangun.
Keinginan ini hadir tiba-tiba dan tidak mau terhalangi apapun termasuk hujan. Sepertinya waktu berbaik hati padaku. Hujan tidak turun, hanya langit sepertinya tidak bersemangat seperti insan yang terus menerus di uji oleh waktu.
Walau langit sedang tidak bersemangat, tetapi langkahku begitu gesit dan bersemangat menuju halte busway. Rute bus yang aku tumpangi UI – Manggarai (4B) dengan lanjut taxi online. Ternyata dalam perjalanan aku melihat jalan yang dilalui adalah rute busway yang ke arah Pulo Gadung. Aku langsung berpikir, nanti kalau kembali Pura Adhitya Jaya Rawamangun, akan lanjut dengan busway saja.
Ketika turun dari mobil, aku melihat Pura sepi, tidak seperti yang aku bayangkan, berpikir di manis galungan masih ada yang kembali kumpul-kumpul dalam masa hari raya. Tetapi walau sepi, banyak hal menarik yang lihat dan rasakan. Semuanya melunasi rinduku pada rumah, tepatnya suasana di Bali.
Baca Juga: Manis Galungan: Begini Cara Anak Muda Bali Merayakan Cinta – Peta Rasa Sukacita #23

Pura Adhitya Jaya Rawamangun – Suasana Bali di Jakarta
Mengutip tulisan Kumparan, bahwa Pura Adhitya Jaya Rawamangun dibangun dengan semangat gotong royong pada tahun 1970 dan di resmikan pada tahun 1975. Terlihat tidak mudah menghadirkan tempat ibadah bagi kaum minoritas, yang hanya 1.66% dari jumlah penduduk Indonesia.
Aku sendiri tahu Pura ini dari keluarga, walau sudah login ke Kristen, mereka tetap memberitahukan kalau di Jakarta ada tempat yang bisa menemukan orang Bali. Sebagai perantau, tentu ada masa akan hadir rasa rindu pada suasana tanah kelahiran. Benar saja, ketika pertama kali bertemu dengan Pura ini, rindu akan rumah terlunasi. Sama dengan hari ini.
Mengingat kembali ketika aku melangkah ke Jakarta di tahun 1995 dan tak lama tahun berganti, aku berkunjung Pura Adhitya Jaya Rawamangun dan ketemukan suasana Bali di tengah Jakarta. Ingat betul, masa itu kesana karena kangen dengan masakan rumah dan memang apa yang kurindukan terlunasi.
Baca Juga: Langkah Besarku Kedua – 1995

Mungkin nasi campur seperti ada di tempat lain, tetapi rasa dan suasananya tidak sama yang di berikan oleh Pura Adhitya Jaya Rawamangun.
Dan waktu begitu cepat berlalu. Hari ini, kali kedua kesana aku melihat area Pura sudah sangat berbeda. Lebih luas, tertata dan ketika aku melangkah memasuki areanya, menghadirkan kenangan masa kecil.

Menghadirkan Kenangan Masa Kecil Yang Indah – Menari
Banyak yang tidak tahu kalau masa kecilku, hal yang paling indah salah satunya menari. Dan ketika aku melangkah mencari kantin di Pura Adhitya Jaya Rawamangun, langkahku berhenti ketika melihat anak-anak sedang berlatih menari.
Kenangan masa kecil yang indah yaitu menari langsung hadir Aku terdiam, tersenyum memandang para penerus kehidupan sedang gemulainya menggerakkan tubuhnya bersama musik dan suara pelatih dengan hitungannya.
Aku kembali melangkah menuju kantin yang berdampingan dengan tempat pelatihan menari. Aku memesan makanan mengobati rindu rumah. Tetapi yang membuatku begitu tertegun, tidak menyangka kalau suara gambelan dengan hitungan pelatih membuatku kembali pada masa kecilku saat itu berlatih.
Sambil menunggu makanan, aku duduk menonton dan tanpa sadar badanku ikut sedikit bergerak. Mungkin orang-orang di sana agak heran dengan lakuku. Aku menikmati setiap irama dan berbikir, kira-kira boleh ga ya ikutan.
Hari ini aku belum sempat bertanya, tetapi sepertinya latihan itu memang khusus untuk anak-anak, karena aku melihat disamping tempat latihan terdapat gedung sekolah TK dan SD Yayasan Pertiwi Abhilasa.

Anak – Anak Akar dan Penerus Kehidupan
Aku tidak menyangka kalau di Pura Adhitya Jaya Rawamangun ternyata ada sekolah dan penasaran mencari tahu tentang Yayasan Pertiwi Abhilasa. Kutemukan dalam tulisan inspirasitv.com, mengatakan bahwa menjadi satu-satunya Yayasan yang mengelola tiga jenjang pendidikan, yaitu KB, Tk, dan SD yang berbasis agama Hindu di DKI Jakarta.
Aku melihat bahwa yayasan ini punya tujuan jelas, menanamkan nilai Hindu pada sejak awal. Di mana dalam kota besar Jakarta yang begitu banyak sekolah umum, cenderung memberi ajaran yang mayoritas. Tentu akan di sediakan ajaran yang khusus sesuai yang di yakini. Biasanya waktu terpisah dan khusus.
Tetapi aku melihatnya tidak hanya sekedar belajar, lebih pada lingkungan yang memiliki nilai sama. Lebih menariknya lagi, sekolahnya berada di tempat ibadah terbesar di Jakarta. Sehingga anak-anak tetap dalam lingkungan yang bernuansa apa yang di ajarkan.
Kemudian, aku melihat lebih jauh kalau nilai yang ingin diteruskan, penting di tanamkan sejak dini. menjadi akar kemudian tumbuh meneruskan kehidupan. Contoh sendiri aku, walau sudah login ke Kristen, tetap saja nilai-nilai yang di tanamkan masa kecilku terus hidup sampai saat ini.

Akhirnya
Aku menyadari mengapa begitu kuat niatku untuk bertemu dengan Pura Adhitya Jaya Rawamangun. Waktu sedang berbisik untuk mengingatkan dan memperlihatkan kembali bukti, bahwa nilai baik penting di tanamkan pada sejak dini.
Menegaskan akan pikiranku yang sering riuh berkata, anak-anak adalah akar dan penerus kehidupan. Perlu dirawat dengan proses yang tepat. Tidak hanya memikirkan bagaimana biaya hidup dan membayar sekolah di masa nanti. Berjuang dan berlomba untuk masa nanti tetapi mengabaikan proses tumbuh dan kembang anak.
Dan aku memandang Langit sedikit tersenyum dengan sapaan birunya, seperti waktu tersenyum padaku dan berkata,
” Hari ini hidup memberi banyak warna ya, dari sebuah tempat dengan suasana Bali di Jakarta yang menghadirkan kenangan masa kecil yang indah sampai melihat lebih dekat bagaimana nilai keyakinan penting untuk di tanam sejak dini, bukan hanya dalam didikan tetapi juga pada lingkungan”
Aku tersenyum tanpa menjawab, hanya menyimpan semua rasaku pada tulisan ini menjadi bagian series Jumat, Kembali ke Akar.
Baca Juga tulisan series Jumat sebelumnya: Kembali ke Akar
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Bertemu Pura Adhitya Jaya Rawamangun membuatku teringat masa kecil. Bagaimana denganmu, tempat mana yang membangkitkan kenangan masa kecilmu? Ceritakan di komentar yuk.
Jakarta, 20 November 2025. 23.39 WIB
Ditulis saat manis galungan, setelah pulang dari Pura dan main ke rumah salah satu kawan.


17 Responses
Aku sendiri meskipun bukan orang bali hanya sempat bbrp tahun tinggal di bali selalu takjub dengan budaya hindu yang kental di sana..senang liat penjor2 saat hari raya, senang mendengarkan alunan musim gamelannya bahkan dl sempet hafal dgn bbrp lagu bali dan yang salah satu aku suka tinggal di bali karena hari liburnya banyak hehhee secara kan di bali banyak yaa hari raya hindu nya 😁
Kadang di tempat yang tadinya biasa, ada aroma yang menghadirkan kenangan kembali
Seperti saat saya menulis komentar dalam tulisan ini
Saya seperti terbawa suasana di mana dulu masih SD dan siang mendung entah akan hujan atau tidak
Namun ada rasa sakit dalam dada karena aroma ini juga yang aku rasakan ketika bapak sudah diantarkan ke liang lahat, tidur hingga waktunya harus dibangkitkan kembali
Makanan, model bangunan, suasana bahkan tiupan angin saja mampu membawa kenangan kembali, seperti Pura ini dalam kenangan kak Nik
Wah kalau mau nostalgia tentang kampung halaman di Bali berarti bisa mengunjungi pura ini ya mbak? Ada kantin yang menyediakan nasi campur otentik pula ya?
Ternyata ada sekolahannya juga ya di sana. Jenjang kelasnya juga lengkap.
Puranya juga aktif mengajari anak2 menari Bali supaya budayanya nggak hilang walau keluarga keturunan Bali ini sudah merantau jauh2 ke Jakarta ya.
Kalau aku kangen kampung halamanku, hmmm, apa yaa, paling nyari rumah makan khas Surabaya. Ngrasa hoki kalau yang jualan ternyata medok juga, berarti kan asli sana juga haha 😀
Ikut merasakan kebahagiaan yang mba rasakan saat bisa mendatangi Pura Aditya Jaya Rawamangun. Ternyata memang selalu ada alasan kuat jika pengen banget ke satu tempat. Di sana mba temukan rasa yang sama seperti di kampung halaman. Pura ini sudah berusia lumayan lama sekali ya.
Senangnya bisa makan nasi campur Bali juga 🤩 apalagi rasa yang dihadirkan lebih spesial dan aku bantu doakan semoga mba menerima rezeki berlimpah agar bisa mudik dan bertemu bercengkrama dengan keluarga serta sanak saudara 😇
Tetap semangat dan enjoy jalani keseharian. Semoga setiap niatan dan langkah baik dimudahkan.
Lihat anak-anak latihan menari Bali jadi nostalgia juga pernah ikut sanggar nari Bali, bahkan sempat ikut beberapa event dan lomba bareng temen-temen sanggar. Waktu kecil, sih. Hehe..
Pura-nya sudah lumayan lama juga ya berdiri dan masih eksis sampai sekarang, bahkan bisa benar-benar membangkitkan suasana kampung halaman. Plus sembari menikmati nasi campur Bali, pasti nostalgia banget ya, Mbak.
Saat membaca Mbak Nik naik Transjakarta lalu nyambung taxi ke Rawamangun. Saya langsung bergumam. Kok Mbak Nik ga lanjut Tije saja ya. Kan ada dari Manggarai Pulo gadung. Eh.. ternyata Mbak Nik langsung menyadari hehehe.
Nah rumah saya kan dekat kawasan Pulo Gadung Mbak. Jadi saya sering ke Rawamangun. Jadi saya sering lewat depan Pura ini. Dan akhirnya saya tahu situasi dalamnya dari posting Mbak Nik. Salah malah sudah pernah masuk ke Pura Segara di Jakarta Utara. Itu juga ikut kegiatan Sudin Parekraf Jakarta Utara.
Kenangan manis Memang selalu membuat rindu ya Mbak Nik.
Setiap agama pasti mengajarkan kebaikan. Dan kebaikan itu yang menjaga keharmonisan tetap lestari sampai saat ini dan hingga anak cucu kita nanti.
Wah udah ga penasaran lagi deh isi Pura Aditya Jaya Rawamangun. Dulu sering wara-wiri lewat depannya. Kan umat lain ga boleh masuk seenaknya ya. Jadi kangen Bali deh kalo udh lewat Rawamangun tuh. Sedikit mengobati kangenku krn pernah menimba ilmu, bekerja dan tinggal di Bali selama 5 tahun. Dan di Pura Rawamangun itu, suasana Bali kembali terasa meski di Jakarta.
Datang ke tempat yang melahirkan kerinduan memang vibes nya pasti beda. Nuansanya itu langsung kek merasa, ini nyaman dan ini membawa ketenangan.
Eh iya, untuk sate yang di piring itu sate lilit bukan si Kak? Kok ya daku tuh langsung teringat sate lilit khas Bali gitu hehe
Aduhhh aku sukaaaaaa kebijakan kayak gini.
beneran mindfull bangettt
sanggup menghadirkan vibes Bali dan budaya yang begitu kuat mengakar.
keren sangaattt, culture bangsa ini bisa terjaga ya
Pura di Indonesia memang identik dengan suasana khas Bali ya. Kayanya beberapa kali saya melewati Pura di kota-kota lain pun, nuansa Balinya kental terasa. Mungkin karena memang mayoritas penduduk Hindu tinggal di Bali, jadi budayanya tetap dibawa ke segala penjuru.
Senang sekali pasti menemukan tempat yang suasananya mirip kampung halaman. Seolah mengobati rindu. Apalagi rindu akan masa kecil. Saya yang bukan orang Bali saja sejak kecil selalu menyimpan rindu yang besar pada Bali.
Kalau gitu ceritanya mirip sama saya yg suka gak bisa diam jika mendengar gamelan atau musik tari Sunda Jaipongan
Sejak kecil saya biasa mendengar dan belajar menari jaipong sampai SMP
Setelah itu pindah dan melupakan semua karena situasi dan kondisi
Jadinya kalau dengar gamelan Sunda rampak kendang, pengennya langsung dung pak dung pak jaipongan, hehe…
Aku tuh sepakat banget soal anak-anak adalah akar dan penerus kehidupan, karena dari mereka kelak kita menaruh harapan untuk masa depan yang lebih sehat dan baik yang bisa mereka jalani.
Oleh karena itu semampunya sebagai orang tua ataupun manusia dewasa sebisa mungkin menjaga mereka, sang akar agar tidak rapuh, apalagi membusuk. Dengan memupuk terus kebaikan yang kelak berbunga dan berbuah kebermanfaatan
Selalu akan menyenangkan saat berkunjung ke suatu tempat yang membawa kita pada kenangan rumah dan masa kecil. Bagi saya itu istimewa bahkan sangat istimewa. Kak niek juga yaa jadi terbawa kenangan masa lalu.
Menikmati makanan dengan separuh jiwa berkelana ke masa lalu. Nikmat dan bahagia rasanya
Wah, keren ya. Ada pura besar dengan suasana khas Bali di Jakarta
Sudah gitu, pembangunannya dilakukan secara gotong royong ya! Bikin kagum.
Ada yang jual nasi khas Bali pula. Lengkap ya, layaknya di Bali deh
Wah bersyukur banget ya Mbak Nik bisa berkunjung ke pura yang sering dikunjungi saat masih kecil, bernostalgia dan merasakan suasana kampung halaman di sana.. suasananya memang seperti Bali ya tak disangka ternyata lokasinya di Jakarta.. aku baru tahu lagi..
Wah bersyukur banget ya Mbak Nik bisa berkunjung ke pura yang sering dikunjungi saat masih kecil, bernostalgia dan merasakan suasana kampung halaman di sana.. suasananya memang seperti Bali ya tak disangka ternyata lokasinya di Jakarta.. aku baru tahu lagi….
Tema tulisannya cakep banget: kembali ke akar.
Kebayang kangen dan nostalgianya dengan memori masa kecil ya mbok, dengan main-main ke Pura Adhitya Jaya ini. Apalagi sambil menikmati makanan yang juga bisa memanggil kenangan, puas jiwa raga ini rasanya.
Seseru itu memang jadi perantau!