#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Merawat Mental Lebih Tenang – Rahasia Kuliner Masa Kecil – Peta Rasa Sukacita #25

Bagikan

Kuliner masa kecil membangkitkan rasa nyaman dan satu cara merawat mental lebih tenang. Sebuah kisah berlanjut setelah menikmati tempat yang melunasi rindu pada rumah.

Baca: Pura Adhitya Jaya Rawamangun: Suasana Bali di Jakarta – Menghadirkan Kenangan Masa Kecil Yang Indah

Siang itu, seorang kawan merespon story instagram tentang Pura yang ada di Rawamangun. Aku dengan semangat membalasnya dan berujung janjian kembali kesana sama dia.

Tidak selang berapa hari, masing-masing kami berangkat dengan busway. Tempat tinggal kami beda arah dan memutuskan bertemu langsung di Pura Adhitya Jaya Rawamangun.

Aku yang lebih duluan sampai dan cukup kaget karena tempatnya penuh. Kebetulan saat itu di hari Sabtu dan sebelumnya aku datang di hari kamis. Sepertinya kalau weekend banyak insan yang datang sembahyang, setelah seminggu sibuk dengan rutinitas bekerja.

Menjadi sorotanku, ternyata yang datang tidak hanya warga Bali tetapi terlihat juga yang berhijab. Sepertinya kantin Pura ini memang terbuka luas untuk umum. Hanya memang perlu lebih cermat memilih menu. Sebagian besar warung disana non halal.

Tetapi jangan takut, diantara warung non halal ada juga makanan halal, seperti contohnya nasi jinggo.

Merawat Mental Lebih Tenang - Nasi Jinggo
Merawat Mental Lebih Tenang – Nasi Jinggo

Jika pertemuan pertama dengan Pura Rawamangun, ada rindu terlunasi dengan rumah. Kali ini aku akan bercerita, bagaimana ber-kuliner di Pura Adhitya Jaya Rawamangun, terasa merawat mental lebih tenang.

Dan karena itu, kuliner kali ini tidak bercerita bagaimana proses makanannya, tetapi bagaimana makanan itu menghadirkan rasa yang merawat mental lebih tenang. Tentang rasa membangun sukacita dan kenyamanan.

Seperti makanan masa kecilku yang paling membangkitkan rasa senang, Lawar dan Jaje (kalau di Jawa sebutannya jajanan pasar) dan yang paling aku suka diantara semuanya adalah Jaje Bantal.

Lawar Kelungah – Kisah Kakek Yang Jadi Andalan

Makanan khas Bali yang paling utama dan sering orang tahu adalah Lawar. Bahan makanan ini yang sering diketahui adalah Kacang panjang,nangka, pepaya muda. Tidak banyak tahu kalau ada bahan dari kelungah (Kelapa ini masih sangat hijau. Tempurungnya pun masih sangat lunak. Daging buahnya lembut sekali)

Menjadi kisah yang membangkitkan rasa dan bisa merawat mental dengan tenang karena seorang alm Kakek. Bagaimana setiap galungan akan jadi andalan para orang tua yang ingin memasak lawar.

Alm Kakek dulu memproses kelungah itu pintar. Cara memotongnya sangat tipis dan bisa membuat Lawar jadi super lembut dan enak di rasa.

Sosok alm. Kakek yang gigih di masa usia senjanya menjadi kekuatan pada diriku, untuk berjuang dengan segala keadaan. Beliau tidak pernah mengeluh. Setiap kejadian dilihat baik. Selalu mengajarkan anak cucunya untuk berjuang dengan gigih dalam segala keadaan.

Percaya pada hidup akan adil dan gigihlah dalam berjuang cara menyehatkan mental.

Boleh dibilang kalimat itu lahir dari sosok alm. Kakek yang selalu menjadi andalan kami. Dan ketika makan lawar aku terkenang dengan kegigihan beliau. Seperti waktu bertemu dengan Pura Adhitya Jaya Rawamangun. Walau tidak bisa makan lawar klungah, tetap ketika menikmati lawar pada nasi cambur, semangat itu tumbuh.

Apalagi ketika menikmatinya lawar dengan rasa yang hampir sama, terasa diajak kembali di masa kecil dan segala kenangan bersama kakek hadir membawa semangat dan itu satu hal cara merawat mental lebih tenang.

Pura Adhitya Jaya Rawamangun - Merawat Mental Lebih Tenang
Merawat Mental Lebih Tenang – Kuliner Masa Kecil di Pura Adhitya Jaya Rawamangun

Baca Juga: Rayakan Hidup Merawat Jiwa – 081024 – Happy Mental Health day

Jaje Bantal – Rasa Gurih dan Manis Menyatu

Jika lawar membangkitkan sosok seorang yang selalu diandalkan, maka Jaje bantal tentang bagaimana rasa yang selalu dikenang dan membawa semangat yang berlipat-lipat.

Jika kamu mencari kebahagiaan, mulailah dengan mencari makanan yang enak

Begitu satu kalimat pernah aku baca, dan aku sangat setuju dengan itu. Karena itulah juga tulisan tentang merawat mental lebih tenang dengan makanan masa kecil aku rangkai.

Soal enak, setiap pribadi memiliki tolak ukur tersendiri. Bisa jadi kalau Jaje bantal aku bilang snack terenak yang aku rasa, bahkan melebihi dari pisang goreng, tetapi belum tentu bagi orang lain.

Jaje Bantal ini seperti kue lipet, tetapi buatku itu sungguh jauh berbeda. Paduan rasa gurih dan manis itu enaknya luar biasa di lidahku. Mungkin dengan bahan yang ada membuat rasa itu begitu sempuna.

Bahannya: Beras ketan yang dicampur dengan kelapa parut, Pisang Gepok dan Kacang merah. Prosesnya cukup lama dan itu yang aku lihat membuat Jaje Bantal ini enak. Perbaduan gurih ketan, kelapa parut dan kacang serta manis pisang. Rasa puluhan tahun tetap membawa hangat hati dan jiwa.

Peta Rasa Sukacita ke 25

Hangatnya kenangan tentang Lawar Klungah: Kekuatan dari Kakek dan nikmatnya paduan rasa gurih dan manis dari Jaje Bantal menghadirkan ketenangan pada jiwa. Sederhana tetapi membawa dampak besar. Karena itu aku pilih sebagai cara merawat mental lebih tenang.

Dunia boleh saja carut marut, tetapi mental tetap perlu tenang dan menikmati makanan masa kecil cara indah merawatnya.

Aku petakan rasa itu dalam series Rabu, Peta Rasa Sukacita

Kalau kamu, bagaimana menemukan cara merawat mental dengan tenang lewat kenangan masa kecil, tulis di kolom komentar yuk. Siapa tahu kisahmu memperkaya rasa untuk kita semua.

Jakarta, Awal Desember 2025
Ditulis sambil janjian ketemu kawan di Pura Adhitya Jaya Rawamangun lagi.

Bagikan

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

9 Responses

  1. Tulisan ini ikut membangkitkan kenangan masa kecilku. Terutama tentang kakek. Kakekku disiplin dan galak, tapi di sini lain juga ramah, hangat dan perhatian. Beliau sangat sayang sama aku. Kalau aku sakit, pasti dipijitin sampai tertidur. Lalu yang paling berkesan adalah setiap lebaran pasti memotong ayam peliharaannya dan dimasak jadi soto ayam Lamongan. Soto ayam terenak yang pernah aku makan. Kakekku juga sering bikin camilan. Terutama yang berbahan dasar singkong. Seperti getuk, sawut, atau singkong rebus gula merah.

    Selain itu makanan-makanan di atas juga membangkitkan kenangan masa kecilku akan Pulau Bali. Dulu, hampir tiap liburan sekolah saya ke Bali ke rumah Pakde dan menginap di sana cukup lama. Pantai Nusadua, Geger, Kuta dan Sanur adalah yang paling sering saya kunjungi. Ah rindu sekali rasanya. Sudah 7 tahun tidak menginjakkan kaki di Bali. Rekor terlama dalam hidup.

    1. Btw saya pernah makan nasi jinggo dan lawar yang kata teman saya sudah dibuat tanpa bahan non halal. Tapi belum pernah makan bahkan ketemu sama jaje bantal. Kok kayanya enak ya. Penasaran jadinya 😁

  2. Mbokk nikk… rage nyak pengen medharan nokkk.. Nikmat. Be Guling, Lawar, Sambal Matah. Beuh. 🤭

    Kalau nasi jinggo tuh aku selalu lewat, karena bagiku tak puas dengan isiannya. Hihihi..

    Tapi ngomongin makanan dan rasa rindu, makanan yang bikin aku rindu tuh lawar kelungah buatan alm.papa. Jujur kalau dibandingkan alm. Ibuk. Tangan alm. Papa justru lebih jago masaknya. Beliau tahu banget teknik merajang bawang sampai kelapa, bahkan membakar terasi buat sambal pun beliau jago. Wkwkw..

    Karena alm. papa termasuk yatim piatu sejak kecil di rumah keluarganya. Jadi dalam kamusnya tidak berpantang masak, tidak berpantang cuci baju kakak perempuannya yang kerja. Dan setelah papa g ada tuh ternyata rasa rindu nggak cuma tentang makanannya. Tapi cerita² rajangan bawang dan nangkanya yang bikin dekat. 😅

  3. Kuliner memang membuat saya bisa tenang
    Apalagi kalau makanan itu masakan Mama
    Sungguh aku rindu tetapi percaya gak mbak kalau hal ini juga memberikan sesak yang tak bertepi?
    Saat semua orang mampu akrab dengan ibunya, memang mentalnya akan baik baik saja. Sebaliknya? Hanya ada rasa tak beruntung bahkan mungkin benci yang muncul ketika melihat makanan yang sama seperti buatan Mama
    Benci karena masa kecilku tak seindah orang lain
    Benci karena semua harus aku lalui tanpa kepercayaan

  4. Ih pura ini Deket loh Ama rumahku 😄😄. Selama ini cuma ngelewatin aja mba. Kantinnya itu di dalam pura berarti yaa?

    Penasaran dengan rasa lawar. Sering denger soalnya. Tp waktu itu pernah lihat ada lawar yg pakai darah, sementara darah dilarang buat kami 🙏. Kalau yg ga pakai darah ada juga ga mba?

    Oh jaje itu ada pisangnya yaaa. Kebayang ini ENAAAAK. Paduan kelapa , ketan dan pisang memang sempurna ❤️👍👍👍👍. Ini kalau aku ketemu, pasti aku coba sih

    Setuju mbaaa. Di saat moodku down, obatnya itu makanan sih. Pasti mood cepet balik lagi.

  5. Saya Jadi pengin nyoba Lawar dan Jaje bantal nih. Mbak Nik. Kalau di Sulsel lawar itu mangga muda dikasih kelapa goreng dan ikan. Disantap dengan nasi enak sekali. Kalau Jaje ini kayak lepet ya. Hanya ada isinya. Tapi Memnag dari sebuah makanan, bisa membangkitkan sebuah kenangan manis. Kalau saya salah satunya ketan serundeng. Dulu saya bertetangga dengan Nenek Pasa orang Toraja. Saya anggap kayak nenek sendiri. Dia itu sering bikin ketan dan serundeng. Enak sekali. Ibu saya pun diajari cara membuat serundengnya.

  6. Belum setengah perjalanan baca tulisan ini langsung keinget almarhum kakek dan nenek. Dulu kalau lagi libur sekolah sering banget nginep di rumah beliau dan pastinya akan ada banyak makanan-makanan tradisional yang disediakan. Ah betahnya..

    Sekarang kalau lagi kangen masakan mereka, biasanya nyari ke penjaja makanan tradisional, walaupun rasanya berbeda, tetapi setidaknya sedikit mengobati rasa rindu

  7. ketika kita menghargai dan makanan didepan kita itu akan jadi sebuah cerita yang selalu di kenang. Makanan dan cerita nya itu memang 1 iktan yang tidak putus, aku juga punya makanan yang kalau aku makan suka teringat ceritanya alhamdulillah ya Allah nikmat itu sederhana

  8. Yaampun Jane Bantal tuh suami doyan banget juga lho ka. Lawar sepertinya aku pernah denger tapi gak inget pernah makan deh. Apa pernah tapi aku anggep pecel ya, huahua. Penampilannya mirip, tapi memang rasanya beda. Kalau ke Bali lagi, pengen makan Lawar ini deh, penasaran.

    Makanan masa kecil tuh bukan sekedar makanan tapi juga kenangan ya, jadi rasanya orang yang biasa membuatnya atau yang biasa makan bersama ikut hadir bersama kita saat makan. Perasaan kayak gitu memang bikin hati jadi hangaaatt banget. Pantas saja sih kalau ka Nik bisa bilang kalau itu rahasia sehat mental ka Nik, karena memang perasaan yang hadir itu seperti mengobati hati.

    Kalau aku, yang paling diingat adalah duku, soalnya alm. bapak dulu suka banget buah duku. Terus sama kentang balado, setiap kali aku pulang, mama selalu menyiapkan kentang balado itu yang dimasak untuk aku. Sekarang sih udah enggak karena semakin bertambah umur, mama sudah jarang masak. Tapi setiap kali makan itu, jadi ingat betapa kita disayang sama orangtua 🥺

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink