Banyak orang sibuk menjaga kesehatan mental dengan berbagai cara, tapi ada satu rahasia yang sering terlewatkan: identitas diri. Padahal, ‘siapa saya’ adalah pondasi dari jiwa yang kuat.
Kalimat itu lewat lalu lalang dalam pikiranku, ketika membaca tulisan WHO. More than 1 billion people are living with mental health disorders, according to new data released by the World Health Organization (WHO), with conditions such as anxiety and depression inflicting immense human and economic tolls. Kalimat awal dalam tulisan tersebut sudah membuat logika dan nurani beradu,
Artikel tersebut ditulis pada awal September 2025 lalu, sebuah kenyataan yang membuatku hati teriris. Ternyata apa yang ada pada sekitarku, terjadi pada kehidupan dunia. Mengajakku berpikir lebih luas dan dalam lagi. Sepanjang tahun ini, aku terus mengulik lebih dekat bagaimana insan menyadari akan identitas diri.
Banyak melihat bagaimana ditanya tentang siapa diri, tak mampu menjawab. Hilang arah dan cenderung menjawab yang penting bagaimana tetap waras dan bahagia. Sering kali aku tidak melanjutkan pertanyaan tentang diri, melainkan mengulik: apakah kebahagiaan sungguh bisa dirasakan jika identitas diri saja sudah pudar?
Kehidupan saat ini memang dinamis, setiap kita diajak terus bergerak dengan cepat, hal itu sering kali melupakan sejenak kesungguhan tujuan dan tanpa sadar memudarkan arti siapa saya. Gambaran diri yang diciptakan sempurna, lengkap dengan nilai kekuatannya, pun sering terlupakan
Semakin hari tergerus dengan tuntutan, membuat kesadaran akan sebuah penerimaan satu langkah untuk mengajak henti sejenak. Dengan berhenti memiliki waktu untuk melihat siapa sesungguhnya diri. Padahal, itulah sejatinya rahasia utama dari kesehatan mental
Baca juga: Kesehatan Mental mulai dari penerimaan – Cara Tenang Markus Aurelius – Aku dan Tokoh #15

Ketika Identitas Diri Rapuh, Mental Pun Mudah Terguncang
Meneguk hangatnya wedang di sela teduhnya cuaca setelah hujan, aku terbayang perjalanan dari Jakarta ke Bogor dengan seorang kawan. Kebetulan mobil yang dipakainya tergolong baru namun kapasitas mesin kecil.Tidak seperti mobilnya sebelumnya, memiliki kapasitas mesin besar. Dalam lajunya aku tersadar bagaimana kapasitas mesin, memiliki kekuatan besar dalam laju kendaraan. Menyadarkanku rahasia yang sering terlewatkan bagaimana identitas diri hal yang penting.
Aku berpikir, banyak orang tidak menyadari bahwa rapuhnya identitas diri membuat mental ikut mudah terguncang. Seperti mesin kecil yang dipacu kencang, ia cepat kewalahan. Begitu pula jiwa yang tidak punya pijakan kuat: sedikit saja guncangan, terasa seperti badai besar.
Kemudian dalam laju mobil, kawanku fokus dalam menyetir dan logika terus bertarung melihat kembali peristiwa kejadian, bagaimana kesehatan mental seseorang terganggu, sering terjadi karena berakar pada belum sepenuhnya sadar siapa diri. Sedangkan identitas diri bisa diibaratkan seperti mesin mobil.
Memiliki peran penting pada jiwa. Seperti pada mesin mobil, semakin besar kapasitas mesinnya, semakin tenang ia melaju meski dipacu kencang. Beda dengan mesin kecil, pada kecepatan 90 km/jam saja sudah terasa seperti terbang, ngos-ngosan menahan beban. Begitu juga dengan diri kita: saat sadar siapa diri, tahu nilai besar yang ada dalam ciptaan, badai sehebat apapun tetap bisa kita hadapi dengan tenang. Kapasitas batin itulah yang membuat kesehatan mental berdiri kokoh.
Baca juga: Kepingan Puzzle membentuk Tujuan – Terhubung Menjadi satu Gambar Indah – 2024
Lalu, bagaimana menemukan cara tahu rahasia yang sering terlewatkan yaitu mengetahui identitas diri dengan utuh?
Semoga masih tetap lanjut membaca tulisanku, dengan penuh kesadaran dan tidak perlu terburu-buru mengetahui. Membiarkan waktu menemani dengan tenang, menerima setiap hikmat yang dibalut dengan kebaikan.
Siapa Saya? Rahasia Yang Sering Terlewatkan

Latte hangat kuteguk dan aku terkejut mendapati rasanya begitu pas. Tidak menyangka, coffee shop yang berada jauh dari pusat kota, memiliki rasa yang begitu nikmat. Perpaduan coffee dan susunya menyatu tanpa menghilangkan rasa utuh masing-masing.
Susu tetaplah terasa susu, coffee-pun demikian. Tetap utuh dengan kenikmatannya. Aku menyesapnya sekali lagi dan benar, ini memang racikan yang sungguh nikmat. Aku menaruh minuman itu dan bergerak ke ruang barista. Mengucapkan terima kasih sudah membuat rasa yang cocok denganku dan kudapati lelaki muda itu tersenyum gembira atas terima kasihku.
Aku tidak mengira dalam proses menulis, tentang rahasia yang sering terlewat pada identitas diri, mendapatkan pengalaman langsung, dan bisa langsung ditulis sebagai analogi yang mungkin bisa melahirkan pengetahuan yang sesuai.
Rahasia yang sering terlewatkan?
Siapa saya, identitas diri akar jiwa yang menjadi pondasi pada riuhnya kehidupan.
Mari sejenak melihat bagaimana aku menceritakan tentang minuman diatas, sebutannya Latte tetapi sejatinya itu perpaduan dua hal. Coffee dan Susu. Bagaimanapun orang mengaduknya, membuat nama baru, sejatinya tetaplah coffee. Walaupun mungkin rasanya tidak sama di lidah orang, jati dirinya tetaplah coffee, memberi kenikmatan dan sebagian orang tetap terjaga dan menjadikan semangat.
Begitu juga kita, tercipta dengan sempurna, lengkap dengan kekuatan ataupun kelemahannya. Kekuatan membawa kita untuk memudahkan orang lain dan kelemahan menjadikan kita rendah hati, karena memberi ruang pihak lain bersinar.
Setiap hal dalam diri kita memiliki keunikan. Berbeda untuk menjadi gambaran kehidupan yang indah. Tentu perlu dan penting menilik supaya lebih jelas siapa diri, dengan menemukan apa tujuan kehidupan membuat kita ada.
Tidak perlu buru-buru, jika waktu yang akan mengarahkan. Asal diri dengan rendah hati mau diajar. Seperti halnya aku, tidak sedikitpun punya niat untuk menjadi pelatih kehidupan, tetapi yang akhirnya tujuan itu semakin kuat.
Yang paling kuat dari puluhan tahun lalu, menyadari bahwa aku terlahir memiliki tujuan dan penciptaku penuh kasih dan adil. Sehingga gambaran diri tetap utuh walau kehidupan sering membuatnya retak.
Jika manusia diciptakan serupa gambar pencipta, terus mengapa percaya diri kalau ciptaannya tidak memiliki tujuan?
Kemudian, rahasia yang sering terlewatkan soal siapa saya, identitas diri tak pernah ada dalam langkahku. Selalu sadar bahwa aku adalah ciptaan sempurna yang memiliki tujuan.
Baca juga: Pengorbanan Setiap Peran – Mengalahkan Tekanan dengan tujuan – Review Film Zero day – 2025
Bagaimana menemukan jati diri dan tujuan hidup?

Teringat langkah diri, bagaimana semuanya akhir dikuatkan tentang identitas diri dan mengerti siapa aku sesungguhnya. Dimulai dari kesenangan bertemu dengan orang lain. Mendengar setiap ucapan dengan penuh rasa, melihat bagaimana orang yang berilmu bersikap.
Semuanya terekam pada nurani dan logika, tanpa sadar, membawaku pada pribadi yang mampu menemukan solusi disetiap persoalan. Kemampuan itu mengarahkan tujuan, yang sejatinya sudah diatur oleh kehidupan.
Berangkat dari pengalamanku itu, jika ingin tahu bagaimana rahasia yang sering terlewatkan kalau mengenal diri dan tujuan, akar dari mental yang kuat, adalah menemukan perkumpulan yang tepat dan sehat.
Teras Sapa – Ruang Tenang Penerimaan
Lalu, dengan kerendahan hati izinkan aku memperkenalkan ruang tenang dan penuh penerimaan. Teras Sapa, lahir di September 2025, ruang di mana setiap cerita di terima dan cinta kasih sebagai landasannya.
Mungkin apa yang jadi rahasia yang sering terlewatkan, yaitu mengenal diri lebih utuh dapat ditemukan, dengan terbuka mau bertemu dan bercerita di ruang Teras Sapa.
Baca juga: Temu Cerita di Teras Sapa – Rahasia Semakin Terhubung, Mengapa Terpisah? (Peta Rasa 16)
Mari kenali dirimu, temukan rahasia yang sering terlewatkan sebagai akar kehidupan.
Temukan juga series Jumat lainnya di:Kembali ke Akar
Bogor, Awal Oktober 2025
Ditulis bersama teduhnya Kafe di Bogor dengan nikmatnya Latte, sambil terkagum akan nyamannya setiap sudutnya.


16 Responses
Yang ironis adalah saat seseorang mampu mengenal dirinya dengan sangat baik, hidup sehat, bahagia dan punya goal yang dapat dikejar namun ketika berhadapan dengan pasangan yang salah, manipulatif dan abusif, seseorang itu bisa kehilangan jati dirinya seketika, sebab seumur hidup menjalani hubungan ditekan dan dianggap dirinya nggak berharga.
Aku sering banget nemu video-video kayak gini belakangan. Salah satu yang terkenal yang menimpa influencer kecantikan itu. Melihat dia berceloteh banyak di sosmednya dan bilang kalau dia sekarang jauh lebih bahagia dibanding dulu saat masih ada pasangan, akunya ikut hepi dan mikir juga, akunya sendiri udah bisa mengidentifikasi diriku dengan baik atau belum huhuu
Apakah yg Yayan maksud adalah Tasya Farasya?
Yap, memang dalam hidup banyaakk banget kondisi tidak ideal.
Sosok yg diharapkan jadi panutan, eh..malah ujung2nya keplak_able.
wohoo, semogaa kita dijauhkan dari manusia modelan ex suamik Tasya ituuu
Mengenal identitas diri kadang terasa sulir dilakukan. Mungkin bila kita sudah mengenal identitas diri, akan lebih mudah mwngendalikan pikiran, lebih mudah menjaga kesehatan mental dan lebih mudah mencari solusi masalah2 diri sendiri.
Salah satu fokusku sejak 5 tahun terakhir emang kesehatan mental sih kak, Kalau ngomongin soal identitas diri sebagai fondasi kesehatan mental, aku setuuujuhhhh buanget. Analogi mobil dengan kapasitas mesin kecil itu pas banget buat menggambarkan jiwa yang rapuh. Kita sering sibuk “ngebut” dengan tuntutan hidup, tapi lupa kalau “mesin” diri sendiri belum cukup kuat.
Seringkali kita cuma fokus cari solusi instan biar “waras dan bahagia” tanpa benar-benar tahu siapa kita di dasarnya. Padahal, kalau akarnya (jati diri) kuat, terpaan badai sekecil apapun nggak akan bikin kita gampang ngos-ngosan.
Latte yang sempurna di kafe itu juga analogi yang keren! Intinya, kita harus tahu bahan dasar dan keunikan diri kita, kayak kopi dan susu yang menyatu tapi nggak hilang identitasnya
Akhir-akhir ini sering baca wanita merasa kehilangan jati dirinya ketika menjadi ibu rumah tangga. Saya yang membaca bingung, kenapa mereka bisa kehilangan jati diri? Padahal apapun peran kita, kita tetaplah kita bukan? Mungkin ibu rumah tangga bukan peran yang mereka inginkan sehingga mereka merasa kehilangan jati diri.
Kalau saya setuju dengan filosofi tentang kopi di atas. Bahan apapuj yang ditambahkan, dia tetap saja kopi. Hanya berbeda rasa. Nah, saya pun begitu, peran apapun yang saya ambil, saya tetaplah saya, hanya beda peran saja.
Dari dulu hal yang paling fundamental dan krusial adalah menemukan diri sendiri. Sepengalamanku menemukan diri sendiri tuh rasanya bener-bener rumit, ditambah bagaimana interaksi dengan orang-orang pun membuat kita mau tak mau harus beradaptasi atau bertoleransi dengan keadaan disekitar.
Tapi sungguh, pertanyaan tentang siapa kita ini memang jadi pertanyaan paling banyak dicari bahkan dari seingatku, sejak masa para filsuf. Namun seberapa susahnya itu, dan seberapa mudahnya berubah, esensi siapa kita bener-bener harus dicari. 🙂
Kuncinya Memang identitas diri ya Mbak. Karena itulah yang khas yang membedakan seseorang dengan orang lain. Kalau sudah krisis identitas diri, maka akan hampa dan kosong. Akhirnya kena mental health. Makanya perlu terus bertanya, siapa diri saya? Apa kekhasan yang saya punya? Dari sini akan timbul rasa mempunyai kelebihan-kelebihan yang bisa menjadi penopang untuk bangga menjadi diri sendiri
Nah ini kak, adakalanya kita sendiri itu lupa dengan kekuatan yang ada dalam diri kita. Mungkin karena kerap melihat kekuatan yang ada pada orang lain, sehingga malah insecure jauh melesat ke dalam. Memahami akan potensi diri, memang perlu kesadaran diri ya, karena tiap² insan punya kemampuan diri yang unik, yang belum tentu semua orang memilikinya
Iya ketika kita mengenal diri kita dengan baik, memahami apa kebutuhan dan kekurangan kita maka akan lebih mudah bagi kita untuk mencapai tujuan ya Mbak.. kutahu yang kumau dan jadi nggak gampang goyah dengan pendapat orang lain
Penting sekali soal identitas diri ini Karena itulah jati diri kita sebenarnya di mana kita tidak bisa lepas darinya. Tanpa identitas diri kita akan bingung menentukan arah tujuan dan kita akan bingung dengan keberadaan kita di alam semesta sehingga akan terbawa arus yang tidak kita kehendaki
Betul banget Kak Nik, kudu mempertahankan identitas diri dan branding-nya sekalian.
Apalagi kalau IRT. Some housewives lost their identity karena dipanggil dengan sebutan Bu xx (nama suami) atau mama xx (nama anaknya). Padahal juga butuh identitas pribadi sehingga tetap eksis dan tidak mudah stress.
Selamat ya mba Nik atas terlahirnya Teras Sapa. Beberapa waktu lalu muncul di time line Instagram dan aku sempat membaca tulisan serta ada event pertemuan juga. Menarik dan semoga menjadi salah satu wadah terbaik buat orang-orang berbagi cerita.
Iya ya, kalau diri mengenali secara utuh pastinya nggak mudah rapuh. Apalagi di era serba cepat, mudah bikin stres dan lelah secara mental. Semoga saja terus bisa berproses mengenali diri dengan sebaik mungkin. Sehingga bisa lebih memfilter mana yang mesti di kendalikan dan mana yang mesti diabaikan bak angin lalu saja. Terima kasih selalu membuat tulisan menarik.
Teras Sapa membuat pembaca merasa disapa dengan hangat hingga ke relung jiwa terdalam. Menemukan kembaki jati diri ini butuh sebuah perjalanan dan ketenangan. Gak bisa terburu dan bergegas. Proses yang membuatnya ka Nik bisa sampai ke titik ini dan pada akhirnya jadi bisa membantu dan bermanfaat lebih luas.
Artikel yang menenangkan menjadi reminder setiap diri untuk kembali ke akar, menemukan jati diri.
Lebih dari 10 tahun terakhir saya fokus untuk lebih mengenal diri dan keluarga. Bersama berproses. Alhamdulillah ditemukan dengan komunitas yang dapat mengarahkan how to untuk mengenali diri hingga potensi diri sehingga saya sudah selesai dengan diri sendiri dan tidak perlu mencari pengakuan dari orang lain
Kesehatan mental dan pikiran itu penting, kita tidak lagi disibukkan dengan permainan pikiran karena sudah selesai dengan diri sendiri
Hmm iya ya
Bagaimana kita nggak mudah stres, kalau mengenali diri sendiri saja belum bisa.
Memang harus dimulai dari mengenal diri sendiri ya
aku suka masih belajar mengenal diri sendiri hari ke hari :”)