Tidak semua perjalanan perlu tujuan, di Saat Seduh Coffee sebagian hanya butuh tempat untuk berhenti sejenak. Melihat insan yang sedang menghabiskan waktunya dan merasakan bagaimana tempat dengan keramahan staffnya menghadirkan kenyamanan.
Selalu ada hal menarik untuk dilihat ketika memberi ruang tenang dalam jeda. Di tengah tanggung jawab yang terus mengejar, aku membiarkan waktu memberi ruang bagiku untuk hadir di kota Surabaya. Ada rencana, tentu saja, tetapi tidak sepenuhnya berani berharap besar.
Langkah sebulan di lima kota yang kutemui, dari pertengahan Desember 2025 hingga Januari 2026, tidak sepenuhnya memiliki nyawa besar dalam rencana-rencana itu. Rencana tetap menjadi nadiku, tetapi untuk perjalanan kali ini, aku merasa perlu memberi peran lebih pada waktu dan kehidupan untuk mewujudkannya.
Dan sungguh, hidup kembali menyatakan cinta-Nya padaku. Langkah demi langkah, keajaiban dan penyertaan itu hadir. Termasuk akhirnya menuntunku tiba di kota Surabaya
Ada beberapa agenda yang terencana saat berada di kota ini. Tidak semuanya terwujud, tetapi sukacita tetap menyertaiku, seperti pertemuan dengan blogger Surabaya dan satu kenalan yang kemudian menghubungkan langkah-langkah selanjutnya. (Kisah tentang mereka mungkin akan kuceritakan dalam tulisan terpisah.)
Kali ini, aku ingin berbagi bagaimana di antara waktu menunggu pertemuan, ada ruang yang kupilih untuk menikmati sudut Kota Lama Surabaya. Dan ruang itu bernama Saat Seduh Coffee.
Baca juga: 24 Jam menikmati indahnya Surabaya

Saat Seduh Coffee: Ruang Tenang untuk Berhenti Sejenak
Hari kedua di Surabaya Januari ini, ada janji temu dan mereka bisanya jam empat sore. Sedangkan aku masih memiliki waktu empat jam sebelum waktu pertemuan. Sebelumnya teman blogger memberi saran atas satu tempat, tetapi aku merasa masih ragu ke sana,. Aku cari informasi lagi di internet dan nama saat seduh coffee terlihat terang.
Aku cek segala sesuatunya, apakah tempat itu memang benar sesuai yang aku butuhkan. Akhirnya dengan semua informasi yang didapatkan, coffee shop yang berada di area jempatan merah kota lama Surabaya menjadi pilihan untuk menunggu.
Masuk ke dalam area saat seduh coffee, rasaku langsung hangat. Ruangannya luas dan staff yang menyapaku begitu manis, selain sapaannya yang manis, orangnya juga berlaku penuh binar. Aku suka anak muda yang memiliki energi baik yang kuat.
“Bisakah aku nitip koper, karena setelah makan aku ingin jalan-jalan melihat kota lama “
Tanyaku, dan mas-mas karyawan menjawab penuh sukacita dan binar matanya mencerminkan ketulusan, “Bisa dong kak” katanya. Kontan saja aku giring koper mediumku ke sela meja.
Aku order makan siang dan dirty latte, mataku tertuju dengan piano manis di depan, di sampingnya sekelompok wanita sedang asyik berdialog, aku melihat mereka begitu intim, ada tawa dan suasananya begitu hangat. Sepertinya tempat ini memang populer karena semakin waktu berjalan, tamu semakin banyak datang.
Sedang asyik menikmati suasana yang ada, pesananku datang dan ketika menikmatinya, aku langsung tersenyum manis. Rasa pada makanannya aku beri 8/10 dan dirty lattenya 7.8/10. Bukan terbaik tetapi sudah membawa rasa senang ketika mengecapnya.
Lima belas menit setelah menikmati makan, aku berdiri dan izin ke staff coffee shop, untuk keluar jalan di area kota lama Surabaya, sekaligus berpesan kalau ada koper dan barang lain yang aku tinggal.

Menyusuri Kota Lama Surabaya dengan Langkah Tenang
Teriknya matahari siang itu, menyambut langkahku keluar dari Saat Seduh Coffee. Langit diatasku terlihat di selimuti awan putih. Aku melangkah dengan tenang, menyusuri trotoar. Tidak jauh dari coffee shop ada penjual tanaman dan warung-warung kopi.
Langkah terhenti saat bertemu jembatan merah, walau panas raga dan mataku menikmati area jembatan merah kota lama Surabaya. Saat itu aku merasa ada banyak kisah hadir di sana. Sesungguhnya aku tidak terlalu ingat dengan sejarah jembatan merah ini.
Namun setelah aku hadir di sana, aku mencoba mencari tahu lebih jauh. Dan benar saja, apa yang kurasakan saat berdiri di kawasan itu sejalan dengan informasi yang kukutip dari Kompas: Jembatan Merah sejak awal berfungsi sebagai penghubung wilayah timur Sungai Kali Mas – kawasan Pecinan dan Arab – dengan wilayah barat sungai yang menjadi pusat aktivitas orang-orang Eropa. Dan banyak hal lagi peristiwa yang menjadikan jembatan itu bersejarah.

Mataku tertuju pada gerbang pecinaan, lama aku berdiri, apakah aku datang ke area itu atau balik badan menuju bangunan bank Mandiri. Matahari di atasku seakan berbisik, balik badan saja, karena jika aku melangkah maju ke arah pecinaan, waktu tidak cukup untuk menjelajahinya.
Kemudian, langkahku mengarah ke bangunan bank mandiri dan aku teringat akan kota lama Jakarta, area dan bangunannya sama. Kalau di Semarang, Bandung bangunannya memang hampir sama, tetapi areanya terasa berbeda.
Cerita Kang Foto 10 Ribu 3 Lembar
Sedang asyik menikmati area bangunan tua, tiba-tiba seseorang menawarkan jasa foto.
” 3 Lembar Rp.10.000,- kak, aku jawab dengan pertanyaan, yakin mas 10 ribu 3 lembar? “
Yakin kak, begitu jawab kang foto yang membuatku berpikir, ya sudah berbagi rejeki setitik tak apa. Sejatinya penasaran, seperti apa foto yang ditawarkan, buatku itu harganya terlalu terjangkau.
Terjadilah pengambilan foto dengan berbagai gaya, tiga pose di setiap satu area dan saat itu kami mengambil tiga area. Pikirku mungkin nanti bisa di pilih. Selesai foto, semua file di copy ke HP. Prosesnya begitu cepat.
Tanganku udah merogoh uang yang sudah kusiapkan dan ketika bayar, masnya bilang,
“Jadinya 90 ribu kak, karena ada sembilan foto di 3 area”
Yuhuuuu akhirnya aku mengerti mengapa rasa curigaku begitu kuat atas harga yang ditawarkan.
Terlalu manis, benar saja manis itu berujung pahit. Aku sudah memastikan dari awal kalau mau tiga saja, tetapi kata masnya tidak apa ambil semua, Tapi setelah di bayar terjadi protes. Kontan saja aku bilang.
Mas, maaf ya. Saya ini mau di foto karena iseng aja dengan harganya. Karena sejujurnya tidak pernah berniat berpose ditengah matahari terik dan di antara waktu yang aku pakai menikmati suasana.
Akhirnya sesuai kesepakatan awal, aku hanya ambil tiga foto dan membayarnya senilai sepuluh ribu. Dalam hatiku sebenarnya merasa bersalah karena, secara kenyataan masnya tidak sepenuhnya salah dengan kalimat 10 ribu 3 lembar. Hanya prosesnya tidak terlalu transparan.
Sepertinya masnya kecewa, aku sendiri pun kecewa. Tapi waktu terus berlanjut. Aku tinggalkan mas kang foto dengan kembali ke Saat Seduh Coffee.
Nilai yang Baik Selalu Ada jika Dilihat dengan Tenang dalam Jeda
Masuk ke Coffe shop dan melihat mejaku tetap kosong, sedangkan areanya penuh terisi. Ketika duduk, aku melihat tulisan reserved. Betapa pelayanan tempat ini begitu manis. Di tinggal sejam jalan-jalan di area kota lama Surabaya, mejanya tetap di peruntukan untuk aku.

Ketika aku lihat jam dan masih ada waktu untuk buka laptop. Aku melanjutkan tulisan di blog. Sambil mempersiapkan, logikaku berkata, Surabaya memang terkenal dengan kota industri pada zamannya, tetapi ketika aku jalan pagi tadi dan sejam melangkah santai dan tenang di area kota lama Surabaya, banyak hal bisa di gali untuk bisa membuat kota ini bisa mendatangakan banyak orang dan berkembang.
Tidak hanya warga negeri sendiri, bisa juga orang asing yang memang semakin banyak melirik Indonesia sebagai tujuan wisata. Apalagi berada di antara Malang, Banyuwangi dan Bali.
Setiap hal menyimpan kekuatan baik; ketika dilihat dengan tenang, kekuatan itu dapat menjadi akar pertumbuhan yang kelak membuahkan hal-hal manis.
Kalimat itu seperti memberi cermin untuk kota Surabaya yang akan jauh lebih berkembang. Mungkin juga tidak hanya untuk kota ini, tetapi pada diri yang ingin bertumbuh dan berbuah manis, penting untuk mengenali diri lebih dan menemukan kekuatannya.
Akhirnya
Tentang Saat Seduh Coffee di Kota Lama Surabaya dan menikmati jeda waktu yang tenang, saat menunggu pertemuan aku bingkai pada series Rabu, Peta Rasa Sukacita, sebagai catatan sukacitaku karena bisa melihat lebih luas kota Surabaya dan menemukan makna serta kehangatan pada ruang saat seduh coffee jembatan merah Surabaya.
Baca juga series sebelumnya: Peta Rasa Sukacita
Lalu,
Jika dalam pertemuanku dengan Surabaya di awal 2026, memberiku ruang untuk jeda dengan tenang, bagaimana denganmu? Adakah kota yang membuatmu bertemu hal yang sama dengan ceritaku.
Yuk cerita di kolom komentar.
Serpong, Minggu terakhir Januari 2026
Ditulis bersama hujan datang dan pergi sesukanya.


18 Responses
Hwahahaha, emang begitulah mbak. namanya ada di kota luar sana, nggak bisalah kita itu ‘meleng dikit’ dan percaya pada sesuatu yang too good to be true. Kadang niat kita baik, eeeh malah dimanfaatkan. Tidak berarti bohong, hanya saja tidak ada niat untuk mengais rezeki secara jujur. Dan ini menyedihkan sih ya.
Mbak Nik, ini tulisannya gak ditulis pas jarum jam ke atas semua kanya? Hahahaha
Wah asyik bisa menitipkan koper bentar ya di sana 😀 jadi buat wisatawan yang mau keliling bentar liat kawasan lama Surabaya bisa banget nih nitip sana 😀
Tapi aku penasaran sama makanan dan kpinya nih mbak,nggak difoto hehe.
Aduh itu tukang potonya gimana, sih. Kok mendadak jadi 9 lembar poto hehe. Kyknya kita emang mesti ngotot nih kalau dicurangin gitu yaa kesel.
Ini info bagus juga supaya pada berhati2 kalau dipoto gitu ya.
Aku pribadi sekarang mengandalkan tripod kalau nggak ada yang motoin mbak 😀
Tapi yawdalah ya bagi2 rezeki. Aku pun kadnag kalau ketemu potografer2 jalanan gitu yawda niat bagi2 rezeki supaya liburannya lancar 😀
Wahhh tibaknyaa scammer berkedok tukang foto dah merambah Surabaya.🥱🫣
pedihhh sih tahu kenyataan ini .
semogaaaaa segera ngilang dah tuh.
untung Mbak Nik tegas dan kembal kesepakatan awal. dan sejak awal sudah jelas kalau 10 ribu 3 lembar. kerena kalau saya, lumayan juga harus membayar dari 10 ribu ke 90 ribu. Apalagi Mbak Nik sudah menukaskan, “Yakin, 10 ribu 3 lembar. Makanya saya suka menolak penawaran beginian di tempat wisata juga. mending pakai tripod hehehe.
Lanjut soal kota tua Surabaya, saya sebenarnya pengin sekali ke sana. Apalagi ini ada kaitannya dengan kota lama di Jakarta dan Semarang juga. kalau kota lama semarang saya sudah pernah.
Perjalanan unik Kak, dari nitip koper dan ngopi yang menarik.
Apalagi urusan pepotoan ini ternyata nggak dimana-mana serupa ya kisahnya dari waktu ke waktu. Soalnya jadi mengingatkan daku waktu jaman wisuda SMA dan kuliah. Foto 1 lembar 5000, tapi pas kami mendatanginya, loh kok ada beberapa lembar. Langsung deh getok harga jauh dari 5000, ya otomatis ndak jadi hehe.
Aku nggak expect kalau Saat Seduh Coffee adalah nama cafe. Aku berpikir saat membaca judul artikelnya, ada kemungkinan kalau kakak sedang menginap di Surabaya dan sedang menyeduh coffee. Lantas menuliskan sesuatu tentang apa yang sedang terlintas saat itu.
Hehehe…
Meski ada momen yang agak mengesalkan karena mas-mas yang fotoin nggak transparan. But, Saat Seduh Coffee di Kota Lama Surabaya, sangat manis diingatan ya mbak Nik. Aku seneng sama staf nya yang begitu baik dan ramah. Bahkan pengertian sekali. Kadang pelayanan seperti ini kasih kita ingatan berkesan tentang tempatnya.
Aku ingat banget, awal tahun memutuskan ke Semarang dan Jogja, kedua Kota yang terasa berbeda, sangat hangat menyambut dan ramah dikenang. Memang sesekali butuh kasih jeda dan waktu rehat buat diri sendiri, dari situ bakalan menemukan banyak hal menarik dan sesekali menggelitik, kemudian bisa lanjutkan perjuangan.
Huaa mbak Nikk.. sayang banget pas dirimu ke SBY aku baru aja singgah di sana sehari sebelumnya. Coba aku bertahan satu hari saja, bisalah kita ngopi² cantik di kawasan tunjungan. Barangkali suatu saat semesta berkesempatan mempertemukan, maka akan senang ya rasanya. 🥰🥰
Tapi salah satu alasan aku jarang menerima harga terlalu murah. Ya itu.. biasanya mereka pakai strategi di luar konteks yang ditawarkan. Akhirnya ya bengkak.. 🥹
Surabaya update nta aku lihat di story wa temn ku , yg hijrah ke surabaya dadi Bandung. Dan kali ini update nya dari ka nik, walau belum pernah ke Surabaya kota ini selalu terdengar
Baca tulisan ka nik jadi ingin berkunjung ke Surabaya aamiin
Suasana di Kota Lama Surabaya memang agak berbeda dibandingkan dengan kota lainnya. Entah kenapa ada sesuatu yang membangkitkan perasaan ketika berada di kota lama ini. Dan suasana seduh coffee pastinya juga memberikan sebuah pengalaman yang mengesankan dan menjadi bagian dari hidupnya Mbak
Saya paling gak suka dengan pedagang yang ngakal ngakalin kek gitu ka Niek….padahal bilang aja dari awal harga foto adalah 10rb untuk 1 lembarnya, kan jelas yaa. Jadi gak bikin kita kecewa. Btw baik banget yaa pihak coffee nya mau dititipin barang agak lama. Diantara Surabaya yang panas pilihan singgah di coffee adalah keputusan tepat.
Lovely journey meskipun tetap ada dinamikanya. Surabaya memang cocok menjadi salah satu destinasi dengan segala keunikannya, termasuk keramahan warganya yang bisa tercermin dari staf Seduh Coffee yang sangat friendly, meskipun ada saja oknum yang memberikan setitik nila seperti Kang Foto
Seru bisa sejenak menikmati Kota Surabaya. Mulai Minum kopi di Seduh Coffee sampai berjalan-jalan di Kota Tua. Meskipun agak sedikit di luar prediksi si mas-mas tukang fotonya. Syukurlah kafenya juga baik. Bisa menitipkan barang dan kursinya pun masih disimpan untuk mbak. Sungguh hari-hari itu selalu dihiasi hal memyenangkan dan kurang menyenangkan sekaligus ya.
Jadi maksud mas tukang foto itu 3 lembar 10 ribu buat 1 area kah? Jadi 3 foto 3 area 90 ribu? Bisa aja nih tukang foto trik marketingnya
Welcome di Surabaya mbak Nik, sayang ya kita ga jadi ketemuan, next time ya mbak kalau ke Surabaya lagi berkabar, semoga bisa meet up
semoga pengalaman yang tidak menyennagkan dengan kan foto tidak emmbuat kapok berkunjung ke SUrabaya ya
Syahdu Mba Nik.. bukan sekadar ngopi, tapi juga ruang untuk menyerap suasana Kota Lama Surabaya yang tenang dan penuh cerita. Menikmati kopi sambil lihat interior vintage di kota bersejarah itu rasanya kayak slow down dari rutinitas sehari-hari..Pelayanannya yang ramah dan pilihan menu kopi serta pastry pasti juga bikin pengalaman makin nyaman di coffee shop heritage ini
Hahaha mbak Nik
Aku juga kena jebakan foto ini di Jogja tahun lalu
Namun, you know me aku tetap bayar sesuai yang disampaikan sebab gak tega lihat kakinya juga yang pincang
Hmm… anggap sedekah aku waktu itu
Lain kali main ke Surabaya, Bonbin ya… Rabbit in Wonderland mungkin bisa jadi tempat perenungan selanjutnya
Emang bener yaa. Kalau terdengar “too good to be true”, ya berarti memang bener begitu, ihihi. Apakah dia sengaja gak transparan di awal dengan bilang 10 ribu 3? Kayak ambigu aja, apakah harga 3 foto 10 ribu, atau harga per foto 10 ribu, tapi bisa ambil 3. Ah, apapun itu, untung ka Nik bertahan dan kekeuh dengan kesepakatan awal.
In this economy Emang macem2 banget ya jadinya modus nyari uang gitu, hiks.
Anw, bacanya jadi ikut ngerasain tenangnya ‘me time’ di sana deh ka. Tempatnya cozy banget, apalagi bisa buat nunggu sambil nge-blog gitu. Udah gituu pelayannya juga terbaik. Dari awal sangat ramah dan ternyata meja nya tetap di-reserved buat ka Nik. Memudahkan dan menghargai pengunjung banget yaa.
Berarti kalau ke Surabaya nanti, aku wajib mampir ke sini nih.