#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Sabtu Pagi di Jogja: Saat Kehidupan Baru Mulai Bernapas—Bisa Ngapain Aja (Series 31)

Sabtu pagi di Jogja selalu punya cara sendiri untuk memperlambat waktu. Dalam tulisan ke-31 dari seri Aku dan Tokoh, kali ini aku bersama waktu—mengamatinya lewat langkah kaki menuju pasar, wajah kota yang baru bangun, dan jeda kecil sebelum hari benar-benar dimulai.

Baca juga series Senin sebelumnya: Aku dan Tokoh

Waktu adalah tokoh utama dalam kehidupan

Seperti tulisan Pramoedya Ananta Toer, yang tidak hanya bercerita, tetapi mencatat denyut kehidupan manusia di dalam waktu, menjadikannya saksi sejarah yang tetap bernapas lintas generasi.

Baca Juga: Berkelana dalam dunia Roman Tetralogi Buru Om Pram – Penuh Kejutan – 2016

Dan aku mengambil kisah sabtu pagi di Jogja minggu lalu, sebagai caraku menjadikan waktu tokoh utama pada catatan di Jogja. Ada banyak aku dapatkan ketika menikmati pagi saat itu, menghadirkan energi baik dan kekuatan untuk langkah selanjutnya.

Melihat lebih dekat bagaimana kehidupan awal sedang bergerak di Jogja, mulai dari pasar beringharjo, Tugu, Malioboro dan titik nol Jogjakarta.

Sabtu pagi di Jogja
Sabtu pagi di Jogja

Pasar Pagi di Jogja: Wajah Kota Saat Kehidupan Mulai Bernapas

Motor bergerak cepat melaju cepat menuju pasar di pagi itu, aku dan ponakan bangun agak kesiangan, karena hujan sedang manja sekali. Cukup kaget menyadari, kalau ponakan yang biasa tenang mengendarai motor, tiba-tiba ngebut.

Sedangkan waktu baru menunjukkan pukul 5.45 WIB. Ketika motor berhenti di pasar, akhirnya aku tahu kalau pagi itu, waktu terasa sudah begitu terang. Kehidupan awal pada wajah kota Jogja sudah bernafas lebih cepat.

Kami melangkah ke pasar, ritme pagi terlihat cukup bergerak. Tukang parkir sibuk mengatur datang dan pergi kendaraan, orang-orang lalu lalang membeli kebutuhan pokok dan aku bersama ponakan melangkah ke area sarapan.

Waktu masih menunjukkan jam enam pagi lebih, aku yang tidak terlalu terbiasa makan di jam itu, sedangkan ponakan sudah terbiasa makan berat di pagi hari. Perbedaan kebiasaan ini menjadikan satu diskusi cukup lama. Akhirnya diputuskan makan dulu sebelum jalan kaki ke arah titik nol.

Sabtu pagi di Jogja
Menikmati bubur gudeg di pasar saat Sabtu pagi di Jogja

Memilih bubur gudeg untuk sarapan di pasar, karena aku sendiri memang sedang ingin menikmati makanan khas Jogja ini, tetapi karena waktu terlalu pagi, sempat agak ragu. Namun saat ponakan menjelaskan, kalau jalan kaki dulu baru sarapan, biasanya bubur cepat habis.

Kontan saja aku dengan tegas memutuskan, makan saja dulu. Urusan kebiasaan bisa di patahkan sejenak, bagaimanapun kesempatan makan bubur tidak datang setiap waktu.

Sarapan di pasar beringharjo. Jawaban pertama bisa ngapain aja di sabtu pagi di Jogja.

Kemudian setelah itu jalan kaki dari Tugu ke arah titik nol Jogjakarta.

Baca juga: Menikmati Dirty Latte di Hitam Manis Jogjakarta -Rahasia Lapisan Rasa yang Menyatu

Jalan Kaki dari Tugu ke Titik Nol Jogja: Melihat Kota yang Sedang Bangun

Aku dan ponakan melangkah pelan ke arah Tugu dan setelah itu menyeberang. Langit pagi itu setengah tersenyum cukup cerah dengan langit biru. Tetapi adan sebagian sedikit muram karena mendung.

Langkahku tenang dan hal yang paling menarik aku nikmati saat jalan kaki saat sabtu pagi di Jogja minggu lalu, ketika mendapati banyak tukang foto berjejer sepanjang jalan. Rasaku langsung menghadirkan momen cfd di Jakarta.

Sabtu pagi di Jogja
Kang foto – Sabtu pagi di Jogja

Tetapi sabtu pagi di Jogja area Tugu ke arah titik nol, kendaraan tetap berjalan seperti biasa, hanya aku melihat banyak para insan memakai jalan itu sebagai area olah raga lari dan jalan kaki. Aku juga menangkap momen menarik, kang foto tidak hanya tersebar di area bawah, mencoba menangkap momen yang ada, tetapi ada juga berada di sisi bangunan atas.

Aku melihat sabtu pagi di Jogja area Tugu ke arah titik nol, sebagai wajah kota yang sedang asyik bercerita dan mengabadikan waktu sebagai tokoh utama kehidupan.

Selain para pencinta lari dengan busana lengkapnya, aku juga melihat ada pasangan muda sedang berjalan santai. Terlihat mesra dengan menikmati pagi. Aku berjalan pelan di pagi itu, karena selain kota sudah mulai bangun dengan makin banyak berdatangan orang yang mau olah raga di area itu, matahari-pun sudah terik.

Langkahku melaju dengan riang, sambil melihat kehidupan sedang bergerak, sesekali aku berceloteh dengan ponakan. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu bangunan yang cantik, dengan bingkai pohon, rumput hijau dan langit biru. wajah bangunan itu seperti sebuah pandangan yang sempurna.

Sabtu pagi di Jogja
Gedung Agung Yogyakarta – Sabtu pagi di Jogja

Ternyata bangunan itu Gedung Agung,  Istana Kepresidenan Yogyakarta. Lalu mataku beralih ke seberang jalan dan ada bangunan Museum Benteng Vredeburg. 

Aku melanjutkan langkah dan menemukan begitu banyak orang duduk dan berkumpul, Akhirnya sampai ketujuan akhir. Titik nol Jogjakarta.

Ponakanku dengan sukarela menjadi kang foto tantenya, aku dengan segala pose bersama titik nol dan areanya. Setelah puas, kami lanjut kembali ke arah Tugu untuk mengambil motor. Sekaligus menuntaskan misi utama kami, jalan kaki di pagi hari.

Sabtu pagi di Jogja
Sabtu pagi di Jogja – Titik Nol

Ngopi di Kopi Tuku: Memberi Diri Waktu untuk Mengisi Tenaga

“Nak, ngopi di mana ya asyiknya setelah ini “

Tanyaku, ponakanku tidak menyahut langsung, hanya jarinya mencari tahu lewat hp. Kebiasaan ponakan-ku yang satu ini memang jarang langsung jawab, dia lebih senang ketika sudah menemukan baru memberikan jawaban yang pasti.

Belum juga dijawab, aku langsung bertanya lagi, lokasi kopi Tuku jauh ga ya dari sini. Aku lirik dia langsung berganti menulis di google cari alamatnya.

Deket kok tan, ada di Kotabaru. Katanya menjawab.

Dialog soal mencari tempat kopi, ketika melangkah kembali ke arah Tugu untuk ambil motor. Ketika sampai di tempat parkiran motor, tanpa bicara banyak, kami meluncur ke lokasi kopi Tuku.

Sabtu pagi di Jogja
Sabtu pagi di Jogja di kopi Tuku

Bangunan cantik itu menyambutku dengan senyuman langit biru yang manis. Aku memasuki area dan seketika rasaku terpuaskan. Kopi Tuku ini memang jadi salah satu hal yang membuatku senang, tidak hanya rasa kopi yang cocok, tetapi tentangnya semua aku suka.

Kisah detail tentang tempat ini akan aku ceritakan terpisah.

Akhirnya

Jika ditanya, ke mana dan ngapain aja sabtu pagi di Jogja

  • Sarapan di Sarapan di pasar beringharjo
  • Jalan kaki dari Tugu sampai titik nol
  • Minum kopi di Tuku.

Tetapi bukan kegiatan tiga hal itu menjadikan sabtu pagi di Jogja memiliki arti khusus, tetapi pada apa yang dihidupi dalam langkahnya. Saat waktu sebagai tokoh memberi ruang pada diri untuk memahami bahwa,

  • Dalam tempat kebutuhan pangan yaitu pasar memperlihatkan, kadang semua aturan bisa patah jika kebutuhan sudah datang. Seperti aku, kebutuhanku makan bubur gudeg dikalahkan dengan kebiasaan yang tidak makan berat di pagi hari.
  • Jalan kaki di pagi hari, adalah cara terbaik melihat kehidupan sedang bernafas.
  • Memberi ruang pada diri untuk menikmati hal disuka, seperti aku menikmati secangkir kopi.

Lalu,
Bagaimana pengalamanmu dengan sabtu pagi di Jogja. Atau punya cerita lain tentang Jogjakarta Yuk bagi kisahmu di kolom komentar.


Legian Bali – Januari 2025
Ditulis diiringi hujan yang sangat lebat dengan secangkir hangatnya jahe.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

23 Responses

  1. Yogyakarta memang sebaiknya dinikmati lamat-lamat, dirasakan tiap pergerakan waktunya. Dulu, waktu ke sana, aku sengaja nggak milih sarapan di hotel, tapi malah berkeliaran di pasar, nyari jajanan dan nemu tahu bakso (my fav) yang enak dan muraah. Btw, aku juga biasanya gak makan berat di pagi, palingan makan pempek haha (semoga bagi mbak Nik pempek ini bukan makanan berat).

    Sayangnya aku gak bisa bahasa Jawa, jadi transaksi di pasar berjalan sekadarnya, padahal pingin bisa duduk dan ngobrol-ngobrol sedikit ke simbok yang berjualan aneka kudapan dengan masih memakai kebaya dan jarit. Kangen sama Yogya, gak heran kalau banyak yang jatuh hati ke kota ini.

  2. Baca tulisanmu kali ini mbak, mengingatkanku pada satu kebiasaan yang sudah lama tak aku lakukan. Yakni keluar, dan menikmati suasana pagi hari. Heuheu.
    Aku ini sering bangun pagi, tapi gak pernah keluar dan kemana-mana sejak pagi. Padhal ini tuh salah satu waktu terbaik, nikmat dunia terindah yang bisa kita rasakan ya. Merasakan udara yang sejuh dan bersih, juga melihat aktivitas manusia yang bergerak perlahan.

    Duh, kapan2 kita lari pagi yok mbak. Hayoooo!

  3. Aaah jadi kangen berada di Titik Nol Jogja
    Di sana aku nikmati sore meski sedang rintik hujan mulai menyapa
    Aku menyaksikan betapa banyaj manusia yang berjalan kaki, lalu lalang mobil dan pastinya banyak yang berjalan dengan harapan di kepala yang berbeda-beda
    Namun satu yang pasti semua bisa melakukan apa saja

  4. Bikin kangen Jogja iiiih. Aku tuh walau lumayan sering nginep di Jogja, tapi jarang stay di area Malioboro mba. Biasanya selalu tempat2 yg jauh, kayak Kaliurang, atau daerah lainnya yg sepi. Malioboro aku anggab terlalu rame.

    Tapi memang, wajib dicoba sih, apalagi suasananya beda kan. Bisa jalan pagi menikmati kotanya yg sudah hidup, trus makan gudeg, sampai ngopi, beuuugh, nikmat sih mba 😍. Kalau kesana lagi, bisa coba wombats coffee mba.

    Itu yg punya temenku, dulu blogger, tp udh pensiun. Cuma memang dia penyuka kopi banget. Dirty coffee nya katanya enaaak. Aku blm coba, Krn pas tokonya buka, aku blm ada ke Jogja lagi

  5. Duh.. saya jadi kangen Yogya, Mbak. Terakhir saya ke Yogya naik motor. tapi dari Kebumen sih hehehe. Saya sering sarapan dengan nasi gudeg, Mbak. Tapi kalau bubur gudeg belum pernah. Jadi pengin nyoba.
    Jalan pagi menikmati suasana kota pastinya menyenangkan ya, Mbak. Saya juga punya foto di titik 0 dengan background ban BNI. Tapi bocor banget.. karena suasana jalanan sudah ramai. Pagi yang manis yang ditutup dengan ngopi di Tuku. Semoga bisa ke Yogya. Aamin.

  6. Kepingin jadinya ke Titik nol Jogjakarta ini, terlebih bisa menikmati sarapan pagi yang nikmat, karena daku waktu ke Jogja belum sampai sana.
    Ya namanya study tour waktu jaman sekolah, jadinya terbatas area yang boleh dikunjungi hihi

  7. Tulisan ini bikin kangen Jogja, terakhir ke sana sekitar tahun 2010 apa 2009. Lama banget yaa?
    Kalau bubur gudeg cocok untuk sarapan ya karena bubur lebih bersahabat di perut.
    Jadi tiap pagi Kak Nik jalan pagi baru cari sarapan? Syukurlah sehat terus lifestylenya Kak.

  8. Baca ini jadi inget pas ke Jogja kemarin belum jadi ke pasar Beringharjo. Padahal sudah rencana ke sana, tapi malah kaki melangkah ke pasar Pathuk. Hahahaha entahlah… Semoga kalau ke Jogja lagi bisa ke pasar Beringharjo pagi-pagi.

    Ternyata kaya gitu penampakan Gedung Agung Yogyakarta kalau pagi ya. Aku waktu itu lewat malam hari. Beda auranya di pagi dan malam hari.

  9. Yogya memang selalu penuh dengan cerita bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan juga bisa memancing kita untuk mendapatkan cerita yang bisa menarik dan juga berkesan karena setiap sudutnya memang memiliki pemantik cerita yang menarik untuk kita nyalakan dan juga memercik begitu banyak percakapan bisa dengan orang-orang atau dengan diri sendiri

  10. aku waktu ke jogja pagi harinya jalan kaki ke malioboro trus lanjut ke keraton. kalau ke tugunya agak siangan sekalian makan siang di salah satu cafe di sana. ah jadi kangen sama jogja baca tulisan ini

  11. ini yg jadi penasaran ku smpai saat ini pagi di jogja itu enak aja gitu, smpt dulu pass musim hujan ampe beli payung aku heh, kkeluar buat cari sarapan jalan kaki barng temen, duh enak yaa tinggal di jogja dalam hati

  12. Buatku, Jogja tuh sangat nyaman untuk ditinggali. Walau paling lama hanya beberapa minggu di situ untuk bantu teman shooting film pendek. Tapi nuansanya masih berbekas sekali. Makanannya juga enak enak. Liat foto bubur gudeg di tulisan Mba Nik jadi keinget pertama kali makan gudeg di Jogjanya langsung. Rasanya berasa lebih lekoh dibanding yang ada di Bandung sini..

  13. Sabtu pagi di Jogja memang sangat tenang untuk dinikmati ya mbak
    Pasar Beringharjo memang tempat favorit untuk mencari sarapan khas Yogya
    Tapi aku belum pernah cobain bubur gudeg, next bakal aku coba ah

  14. Selalu suka suasana Jogja saat pagi hari. Masih adem udaranya, dan sekarang kawasan Malioboro semakin nyaman untuk berjalan kaki. Paling nikmat lagi sambil mampir sarapan di salah satu lapak pecel atau gudeg dan minum kopi atau teh nasgitel, beuh…

  15. ((lupalupainget)) ((Uda lama beuutt ga ke Jogja)) huhuhu..
    Tapi sarapan gudeg iniih..istimewaahh siyh.. MashaAllaah. Tapi belum pernah pake bubur.

    Yummi yumii..
    Kuat jalan jalan menikmati pagi di Jogja.

  16. Pagi hari di Jogja kunikmati dengan duduk menikmati udara pagi yang menyegerakan. Selang beberapa waktu menikmati sarapan
    Jogja kota yang selalu kurindukan. Entahlah magnetnya cukup kuat

    1. Ah menyenangkan sekali menikmati pagi di Yogya, kangen banget.. terakhir ke Yogya 1.5 tahun lalu menginap di fiesta house di perkampungan penduduk, cari sarapan jalan kaki lumayan jauh tapi menyenangkan..

  17. Ini nih yang ke skip waktu saya dulu ke Yogyakarta: Menikmati Yogya di pagi hari. Padahal vibe-nya seger banget ya pagi-pagi ke pasar Beringharjo lanjut ke titik nol. Waktu itu saya ke pasar Beringharjo nya siang-siang, lumayan lagi crowded, tapi bagaimanapun Yogya memang seluar biasa itu kesannya, membuat kita ingin selalu kembali ke sana

  18. Kak Nieek…pekan kemarin saya juga baru ke Yogya lho…tapi saya agak ke pinggiran kotanya tepatnya ke Gamping Slwman Yogya…sekitar 20 mwnit dari kota Yogya. Disana ada angkringan, meski bukanya sore tapi ada satu yang buka di pagi hari, jadilah pagi saya di Yogya jalan-jalan ke Angkringan Timbangan Tebu di Ambarketawang Gamping Sleman Yogya 😊

  19. baca tulisan Mba Nik soal Jogja smapai menikmati pagi hari di Jogja dan jalan kaki pagi-pagi, bener-bener mengingatkan saya dulu pas tinggal di Jogja, sering banget sepedaan dari Kaliurang ke daerah Malioboro untuk sepedaan, kota ini memang kota paling nyaman yang pernah saya tinggali, semuanya terasa selaras dan warganya juga sopan dan ramah, makanan murah, banyak tempat indah, semuanya membentuk kenangan, memang benar ya Yogya terbuat dari kenangan itu

  20. Nggak ada tempat yang lebih menyenangkan daripada pagi-pagi berburu wisata kuliner kota Jogja di pasar. Kalau saya dulu di dekat titik nol itu ada mbah-mbah penjual lupis yang kalau beli antri pol itu. Tapi nggak papa sembari mengantri saya sesekali bisa mengambil beberapa video, tapi nanti saya pengen mencoba bubur gudegnya buat sarapan seperti mbak Nik ah

  21. Wahh aku baru tahu ada makanan buhur gudeg mbak. Jadi topping gudeg tapi nggak pakai nasi ya? Sebagai gantinya adalah bubur?
    Jadi keinget terakhir ke Yogya kami nyari sarapan di alun2 yang ada beringinnya itu lho.
    Ternyata mbak Nik pagi2 dah sarapan di pasar aja hehe.
    Aku belum pernah nih menikmati suasana jalanan dari Titik Nol ke Tugu, tapi waktu itu sempat jalan2 keliling area hotel. Pagi2 sama aja nih macetnya kyk Jakarta waktu itu haha.
    Asyek bisa nemu Kopi Tuku juga ya di sana. Kyknya kalau soal perkopian, Yogya nih emang lumayan lengkap, mulai kopi lokal hingga yang trend di Jakarta ya mbak 😁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink