Sekali saja dalam setahun tentang refleksi Nyepi. Di tengah dunia yang berkejaran dengan pengakuan, ada ruang yang mengingatkan manusia untuk berhenti sejenak.
Apa yang kau cari sayang?
Burung-burung bertanya dengan sopan sambil menari-nari bersama senja yang begitu anggun sore ini. Setelah beberapa hari semesta seperti galau. Pagi dengan mentari, siang dengan badai dan malamnya bersama gerimis.
Hari ini cerah dan burung itu bergembira dengan mentari. Sedangkan aku memandangnya sambil meneguk secangkir air jahe hangat. Seperti sore ini yang hangat, aku larut dalam pemikiran yang terus hadir.
Tentang para insan terus berjuang dalam luka. Tentang insan terus berusaha menyelamatkan dirinya dan tidak berpikir bahwa semua orang sedang berjuang.
Lalu, sebuah tanya hadir.
Jika semua orang terus berjuang hanya untuk bagaimana menyelamatkan perahunya, tanpa ada ruang tenang memberi diri untuk orang lain, lalu di manakah letak harmoninya kehidupan?
Sekali saja salam setahun, kalimat ini merengek dan bertarung dengan harmoni kehidupan dalam logikaku.Terus menerus untuk di maknai dan akhirnya aku menyerah. Dalam diam merenungi kalimat sekali saja dalam setahun, aku teringat masa-masa kecil sampai remaja.
Sebelum memutuskan melangkah ke Jakarta, aku menikmati hening, tenang 24 jam dalam setahun dalam perayaan tahun baru Saka, Nyepi.
Sepertinya benar adanya, tempat lahir dan bertumbuh masa kecil sebuah akar bagaimana kelak hidup menuntut pertumbuhan. Walau sekarang secara iman sudah berbeda, tetapi tradisi, adat masa kecilku membentuk menghadapi kehidupan selanjutnya.
Dinamis waktu, akhirnya jeda, henti dan ruang tenang itu sungguh di butuhkan. Apalagi soal berhenti 24 jam, benar-benar dibutuhkan sekali saja dalam setahun.
Jeda dan ruang tenang mengajak melihat lebih dekat,
apa arti pencapaian jika pada akhirnya bertemu dengan kesendirian, ke angkuhan dan menghancurkan pihak lain?
Mungkin memang saatnya untuk terus berpikir, sekali saja dalam setahun, belajar dari tahun baru saka, Nyepi.

Baca juga: Krisis Iklim atau Krisis Kesadaran? Ketika Bumi Berkata Cukup – Aku danTokoh (Bumi) #22
Sekilas tentang Tahun Baru Saka, Nyepi
Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Saka bagi umat Hindu. Pada hari dijalankan Catur Brata Penyepian tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan, sehingga kehidupan seolah berhenti selama sehari.
Secara umum yang diketahui kegiatannya hanya di hari Nyepi saja, tidak banyak orang tahu kalau ada beberapa kegiatan sebelumnya seperti Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan.
Bagaimana prosesnya dapat di baca di https://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi.
Kegiatan sebelum Nyepi begitu ramai dan menuntut ketepatan waktu, seperti kehidupan sekarang ini yang terus menuntut untuk tepat waktu karena konon katanya ketepatan itu indikator keberhasilan.
Dalam kejaran ketepatan, dunia tidak memberi ruang tenang seperti adat Bali pada hari tahun baru Saka yaitu Nyepi. Umat hindu berkejaran dengan ketepatan waktu tetapi memberi ruang pada alam semesta untuk berhenti dalam 24 jam dalam sehari saja dalam setahun.
Aku ingat betul masa-sama saat merayakan Nyepi bersama keluarga, sehari sebelumnya kami semua sibuk memasak, berlomba dengan waktu, menyediakan makanan sehari penuh karena esoknya di hari Nyepi tidak boleh menyalakan api dan bekerja.
Jangankan bekerja, untuk bicara saja kami perlu pelan-pelan. Biasanya kami menggunakan waktu untuk berdialog intim dengan keluarga utama.
Bosan?
Tentu saja tidak, ini adalah waktu kami belajar untuk menahan diri dari keinginan. Hawa nafsu yang seringkali membawa manusia pada kejatuhan. Belajar kecukupan.
Waktunya untuk melatih kesadaran,
apa sebenarnya di cari dalam hidup.
Sekali saja dalam setahun memberi ruang pada semesta untuk mengambil alih perannya secara utuh. Dan manusia sendiri melatih diri untuk bersantai dan memberi ruang pada diri untuk lebih mengerti tujuan.

Baca juga: Liburan Nyepi – Tahun Baru Caka 1939
Sekali Saja dalam Setahun – Memberi Ruang Pada Kesadaran
Asyik menuangkan pemikiran tentang sekali saja dalam setahun, tidak terasa burung-burung bersama senja telah berganti dengan malam. Hanya pertanyaan yang masih tersisa dalam pikiranku.
Apa yang kau cari sayang?
Pertanyaan manis tetapi menusuk. Membawa kenangan ketika memberi ruang penuh pada diri untuk melepaskan dari riuhnya dunia maya. Internet dengan sosial media.
Tahun ini sepuluh tahun sudah aku melakukan kebiasaan dalam masa ulang tahun, 24 jam atau sehari penuh tanpa internet. Terhubung utuh dengan orang-orang sekitar. Tidak hanya orang juga alam.
Namun dari semua itu, hal yang paling penting ternyata kebiasaan itu membawa diri pada terhubung penuh, utuh dan penuh rasa sayang pada diri sendiri.
Malam sebelum merayakan tanpa data internet, aku selalu menyediakan waktu berdialog dengan diri sendiri. Melihat kembali diri dalam setahun di tulisan diary, bicara secara intim dengan pencipta.
Kegiatan itu menghadirkan jawaban atas untuk apa ada, apa yang di cari dan siapa diri. Sekali saja dalam setahun, hanya 24 jam dalam setahun. Memberi ruang pada kesadaran dengan utuh.
Kini, bulan ini Maret 2026 tepatnya tanggal 19 kembali di rayakan hari raya Nyepi. Di ingatkan tentang berhenti dan aku mendengar internet dimatikan. Sebagian tersiar mereka begitu gaduh. Seperti mati gaya dan runtuh.
Sejatinya, hal itu memberi ruang penuh untuk bernafas pada pikiran yang seringkali di beri makan informasi terus menerus. Tanpa sadar itu membuat lelah yang akhirnya berujung Burnout.
Apapun yang terus menerus tanpa jeda akan melelahkan. Karena itu pencipta kehidupan sudah mencontohkan, saat Dia menciptakan dunia di hari terakhir ada istirahat.
Maka dari hal tersebut, ada dua hal yang perlu diketahui secara mendalam mengapa perlu sekali sekali saja dalam setahun untuk memberi ruang pada semesta sekaligus diri untuk tenang dalam diam.
Dua hal itu bagaimana dunia tercipta ada rehat di hari ketujuh dan tubuh pun sudah memberi penjelasan, setelah seharian penuh beraktifitas juga butuh untuk rehat
Baca juga: 36 Jam Tanpa Internet – Sejenak Memberi Ruang

Ruang Bernafas Utuh 24 Jam – Refleksi Nyepi
Akhirnya ketika memberi ruang pada kesadaran secara utuh, sekali saja dalam setahun untuk lepas dari internet, mungkin akan mengerti bahwa kehidupan punya ritme untuk berjalan, lari dan berhenti dan terus perputar sesuai dengan ketentuan waktu.
Hingga apa yang menjadi tanya tentang harmoni akan terjawab. Tidak hanya berpikir tentang keberhasilan atau menyelamatkan perahunya sendiri.
Betul bahwa setiap orang sedang berjuang, tetapi bukan hanya untuk bagaimana menyelamatkan perahu sendiri, tetapi dengan persoalan yang ada, bisa jadi cara hidup mengajarkan, bahwa satu sama lainnya saling terhubung.
Mungkin kali ini perlu belajar dari hari raya Nyepi, butuh sejenak bernafas dengan utuh. 24 saja, sekali saja dalam setahun untuk menyadari bahwa hidup tak hanya tentang saya. Satu sama lainnya saling membutuhkan.
Bagaimana menurutmu, perlukah untuk memberi jeda pada diri dan alam sekali saja dalam setahun, atau mungkin ada pemikiran tersendiri tentang waktu ruang utuh ini.
Yuk bagikan pendapatmu dalam kolom komentar.
Pasar Minggu – 13 Maret 2025
Ditulis bersama sore, burung dan di sambut malam untuk series Jumat, Kembali ke Akar kehidupan.

