Self Awareness mengajak melihat, bahwa tidak semua pilihan yang diambil lahir dari kesadaran. Sebagian hanya reaksi yang berulang dari masa lalu yang belum selesai.
Sore itu senja begitu manis menyapa, di tengah kehidupan yang sedang bertarung akan mengakuan. Lirihnya semesta dengan hujan angin berganti terang dan tidak lama kemudian kembali sendu dengan rintik, senja manis itu seperti pelukan hangat.
Hangat rasa terpeluk menghadirkan sebuah tanya,
Siapa Aku?
Pertanyaan memicu ingatan tentang seorang anak laki-laki dan Ibunya datang padaku saat itu. Sebut saja dia Bumi dan Lestari. Anak dan Ibu yang saling mengasihi. Terlihat sekali dalam setiap percakapan, Ibu-nya begitu menaruh harapan tinggi pada anaknya.
Begitu juga Bumi sebagai anak begitu mendukung setiap dialog yang terucap. Sedangkan aku sedikit ada rindu terselip pada Ibu yang jauh disana. Sambil mendengar semua ceritanya, teh hangat menyempurnakan momen sore ke malam di waktu itu.
Tiga jam lebih cerita mengalir dan lebih banyak aku melihat Lestari, Ibunya menumpahkan semua rasa dan di sini aku melihat ia sedang pudar akan kesadaran atau self awareness dalam relasi. Bagaimana kepahitannya semakin kuat karena tidak terlalu sadar akan dirinya lebih utama dari sikap suaminya.
Baca Juga: Cara Berdamai dengan Luka Masa Kecil dan Orang Tua agar Tidak Mengendalikan Hidupmu #38

Self Awareness dalam Keputusan Hidup: Ketika Konflik Mertua Membentuk Luka dalam Relasi
Januari lalu, dalam perjalanan mencari peluang bisnis, aku menyempatkan diri menyediakan ruang konseling. Sebenarnya yang menjadi klien adalah Bumi, pemuda daerah yang kuliah di Jakarta. Tetapi saat bertemu di luar kota saat itu, dia minta izin Ibunya ikut.
Aku dengan senang hati mempersilahkan, buatku itu lebih baik karena mendengar cerita sisi lain dari seorang klien akan memperkaya pengetahuanku atas pribadi tersebut.
Namun setelah waktu berjalan ternyata dalam sesi waktu itu, Ibunya lebih banyak bercerita tentang kepahitannya dan anaknya hampir tidak bercerita sama sekali.
Dengan sabar mendengar cerita Lestari, sesekali menatap Bumi dan sepertinya mereka sepakat kalau sesi kali ini, waktu diberikan penuh pada Ibunya.
“Aku sudah tidak tahan lagi sama suamiku, ia selalu berpihak pada Ibunya dan setiap apa yang aku lakukan selalu salah, padahal semua keperluannya sudah aku lakukan dan dia tidak memberi izin padaku melakukan sesuatu selain menjadi istri dan Ibu”
Garis besar ceritanya Lestari. Walau dalam tiga jam kisahnya panjang dan semua berputar pada dirinya yang tidak didengar, suami yang sangat patuh sama Ibunya tanpa mendengar istrinya dan Bumi-pun sepakat apa yang dikatakan oleh Ibunya.
Aku tersenyum tenang melihat Ibu dan anak sedang menunjukkan kasih satu sama lainnya. Dan tentu saja bingkai ini akan tercermin sama antara suami dan Ibunya.
Sesi saat itu, aku tidak banyak memberi arahan. Hanya memberi satu penguatan bahwa dirinya lebih utama dari semua perlakuan lainnya. Mengajak untuk lebih memberi kesadaran pada diri, kalau keadaan sering membuat pahit, pentingnya self awareness dan mengenal diri dalam relasi.
Siapa diri dalam relasi itu, sadar akan keutuhan diri, tidak perlu mengizinkan kepahitan memetakan atau membentuk rasa pahit yang akhirnya menjadi luka mendalam.
Baca juga: Bosan dalam Hubungan: Di Antara Cheese Cake dan Cerita tentang Integritas – Series 37
Self Awareness dalam Keputusan Hidup: Bertahan atau Keluar dari Pekerjaan
Mari kita tinggalkan sejenak kisah Bumi dan Lestari membingkai cerita tentang self awareness dalam relasi. Kita bergeser ke satu kisah Langit, seorang pemuda yang sedang berjuang mengejar masa depan.
“Bu, aku sudah capek sekali kerja di sana, tidak ada penghargaan sama sekali. Bukan tentang hadiah atau bonus tetapi lebih setiap yang aku lakukan rasanya salah terus. Semua ide di mentahkan dan sepertinya aku tidak bernilai”
Untuk kesekian kali aku menerima cerita-cerita seperti yang Langit utarakan padaku. Siang menjelang sore itu, di sebuah coffee shop. Cerita mengalir dua jam lebih. Kala itu aku mendengarkan dengan sangat teliti sambil mencatat poin penting yang perlu aku sampaikan nanti setelah sesi.
Menyediakan laporan tertulis setiap sesi adalah caraku untuk memperkuat jejak konseling. Dari sana nanti akan terlihat perkembangannya. Biasanya kalau sesi berlanjut dengan mengambil paket, laporan yang ada sebagai peta rasa yang memudahkan klien sendiri untuk melangkah.
Kembali pada Langit, pemuda yang aku kenal sangat tenang dalam setiap lakunya, kala itu terlihat wajahnya begitu gusar. Seperti berat dalam memutuskan langkah selanjutnya sebagai keputusan hidup yang penting.
Saat itu, aku mengarahkan bagaimana pentingnya self awareness, kesadaran diri tentang apakah bertahan atau memutuskan keluar dari pekerjaan memang untuk kebaikan semua pihak.
Tidak hanya soal diri yang perlu disenangkan, tetapi juga bagaimana relasi dengan pemilik perusahaan, di mana saat itu ia bisa bekerja di sana karena dia. Juga tentang keadaan tahun belakangan yang begitu sulit mencari pekerjaan.
Atau tentang kesiapan diri jika keluar dari pekerjaan apakah kebutuhan hidup bisa diatasi. Tidak hanya itu, apakah sudah berkomunikasi dengan orang tua, yang kadang menerima berkat dari dia, hasil gajinya si sirihkan ke orang tua.
Ada banyak hal yang perlu di perhatikan ketika memutuskan. Bukan berpikir tidak memikirkan mental diri sendiri, tetapi ini adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri, lingkungan dan hidup.
Yang pada akhirnya kembali pada kesadaran diri atau self awareness, sebuah cinta yang utuh pada kehidupan.
Baca juga: Kejujuran dalam Hidup, Jejak Keteguhan dan Hak #2

Self Awareness: Siapa Aku di Balik Reaksi yang Muncul
Mari tinggalkan kembali sejenak kisah Langit. Izinkan aku bertanya,
Apa kabarmu saat ini,
masihkah ada tenang dalam hari hari?
tetapkah berprasangka baik pada hidup dan pencipta?
Seperti naif bertanya seperti itu, seakan semu karena di tengah dunia yang sungguh tidak baik-baik saja ini. Mengatakan diri untuk tetap tenang setiap harinya dan tetap prasangka baik pada hidup, sesuatu yang berat.
Dua kisah yang aku ceritakan bagian contoh dari sekian banyak pribadi yang datang karena kehilangan arah. Mereka melihat bahwa pasangan, orang tua dan kantor sebagai tokoh utama yang mengaburkan arah langkah.
Mereka kurang tersadar kalau apa yang terjadi, dampak dari kehidupan yang sedang mengatur perubahan. Mungkin saja tidak hanya perubahan, tetapi bisa jadi mendidik ciptaannya yang terlalu angkuh merasa bisa, atau bisa jadi alam sedang muak dengan tingkah laku kita yang sering mengabaikan tatanan.
Yang sering terlupakan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan terhubung. Dari hal kecil sampai terbesarpun terhubung. Mulai dari keluarga sampai dengan negara. Bahkan ada sebuah kalimat,
Jika mau memperbaiki negara, mulailah perbaiki keluarga.
Banyak yang kurang paham bahwa individu membentuk keluarga dan keluarga menjadi sebuah negara. Kembali pada kesadaran diri atau pentingnya self awareness. Karena aku tidak bicara soal negara, yang aku utarakan seperti diatas bahwa kita semua terhubung maka karena itu perlu sekali untuk lebih sadar.
Sadar akan siapa diri. Di antara riuhnya polemik, carut marut dan tanggung jawab yang mengejar. Penting untuk kembali bertanya pada diri sendiri.
Baca juga: Kepingan Puzzle membentuk Tujuan – Terhubung Menjadi satu Gambar Indah – 2024.
Ada hal yang perlu diperhatikan dengan tenang. Di setiap pemikiran, terdapat pertanyaan penting yang bisa menjadi pemicu sebuah kesadaran. Sebelumnya, izinkan aku memohon maaf jika hal-hal berikut mungkin terasa perih.
Karena di sini aku meniliknya dari sisi gelap ego. Namun sejatinya, perlengkapan hidup yang diberikan pada kita yang bernama ego tidak sepenuhnya demikian.
Seperti yang tertulis dalam artikel Halodoc, ego juga dapat membantu seseorang memiliki arah hidup dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan.
Dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa salah satu cara menjaga keseimbangan ego adalah dengan melatih kesadaran diri (self awareness). Tiga hal berikut adalah bagian dari cara melihat dan melatih kesadaran diri itu.
Mari beri ruang untuk sadar mengapa ada tiga reaksi yang menjadi contoh untuk melatih kesadaran diri atau
merenungkan dengan nurani dan logika yang terbuka. Jika di perlukan sambil teguk minuman kesukaanmu, menemanimu untuk lebih hangat.
Mudah Tersinggung
Hal yang tidak nyaman dan berulang, tanpa sadar membentuk kepahitan. Jika tidak di sadari dan di pulihkan akan menjadi luka yang menanah. Hal ini melahirkan pola jiwa yang retan dan mengakibatkan mudah tersinggung.
Seperti kisah Lestari dan Langit yang merasa terus salah, membuat dirinya merasa tidak berharga. Lupa akan siapa jati dirinya. Mungkin saja terlihat tidak utuh, seperti gambar bunga kuning diatas, ada bagian yang terhilang tetapi tidak menghilangkan jadi dirinya sebagai bunga yang cantik.
Maka di sinilah pentingnya self awareness, mengingatkan siapa diri dengan pertanyaan,
Apa makna yang aku berikan pada situasi ini?
Apakah aku sedang merespon keadaan sekarang, atau luka lama yang tersentuh?
Bagian mana dari diriku yang sebenarnya ingin didengar?
Kemudian dengan pertanyaan tersebut, selaraskan pada kesadaran bahwa kembali pada diri yang sudah tercipta utuh dan mengingat siapa diri yang sebenarnya.
Cepat Memutus Hubungan
Lalu untuk melatih kesadaran diri dalam persoalan relasi yang kadang cepat memutuskan hubungan. Terbentuk karena luka yang diabaikan, fokus pada apa yang terjadi dan melupakan kalau yang utama diri adalah tokoh yang perlu memutuskan.
Kesadaran diri atau self awareness dalam keputusan hidup. Maka untuk hal yang perlu di tilik lebih mendalam, sebelum memutuskan beri ruang pada diri untuk bertanya,
Apa yang sebenarnya aku lindungi ketika aku memilih pergi?
Apakah keputusan ini lahir dari kesadaran atau dari rasa takut?
Jika aku tenang sejenak, apakah maknanya tetap sama?
Kemudian setelah disadari, aku percaya keputusan akan di ambil sudah di sebut sehat. Karena sudah memberi ruang pada waktu untuk memberi kesadaran pada dirimu sendiri.
Bertahan atau melepaskan
Hal terakhir contoh melatih kesadaran diri dalam relasi, atau self awareness dalam keputusan hidup ketika memilih antara bertahan atau melepaskan.
Seperti kisah Lestari yang sudah sangat bosan dengan perlakuan suaminya dan begitu juga Langit sudah tidak tahan dengan perlakukan rekan kerja dan bosnya.
Maka kembali perlu memberi ruang pada diri untuk bertanya,
Apakah aku bertahan karena pilihan sadar atau karena takut kehilangan?
Jika aku benar-benar mengenal diriku, keputusannya sudahkah selaras?
Apakah aku sedang memuaskan ego, atau kebaikan semua pihak?
Setiap keputusan memiliki peran penting dalam pertumbuhan. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan. Hindari mengambil keputusan dengan dasar capek, kesal, marah atau apapun yang bersifat luka.
Karena bagaimanapun kesadaran penuh, setiap tindakan terlebih keputusan akan berdampak jauh lebih baik dan menyelamatkan di kemudian hari.
Baca juga: Krisis Iklim atau Krisis Kesadaran? Ketika Bumi Berkata Cukup – Aku danTokoh (Bumi) #22
Self Awareness: Ketika Kesadaran Diri Menjadi Aset Terpenting
Ketika seseorang mulai melihat dirinya dengan jernih, ia tidak lagi mudah dikendalikan oleh reaksi.
Ia mulai memiliki ruang untuk memilih.
Kejernihan dalam berpikir atau tenang dalam menghadapi setiap peristiwa adalah asset yang sangat penting
Aku selalu mengingatkan pada setiap orang di sekelilingku, bahwa asset utama kehidupan adalah dirimu, tubuh jiwa dan terlebih pikiran. Itu sangat penting untuk di rawat.
Kehidupan boleh berputar dengan segala riuhnya, badai silahkan saja memporak-porandakan keadaan, tetapi dirimu, tubuh jiwa roh dan pikiranmu perlu tenang. Sadar. Eling-eling.
Semuanya akan berlalu, tidak perlu mengambil rasa terlalu serius. Semua hal akan datang dan pergi, termasuk kita pribadi ini akan pergi.
Karena itu ketika persoalan mertua, aku tidak banyak mengarahkan, hanya mendengar karena sejatinya aku ingin berdialog secara khusus dengan anaknya, Bumi. Di lain waktu, tepatnya di Jakarta, aku dan Bumi bertemu lagi melanjutkan sesi yang tertunda.
Dalam sesi tersebut aku mengarahkan, kalau Ibunya begitu terluka dengan sikap ayahnya. Bumi sempat berpihak pada Ibunya karena dia melihat Ayahnya memang terlalu berpihak pada eyangnya.
Maka kesadaran tentang bagaimanapun Ayah dan Ibu adalah orang tuanya, sehebat apapun salah satu terlihat tidak tepat, tidak perlu terlalu berpihak. Yang terpenting tugas sebagai anak adalah mengingatkan Ayahnya terus menerus untuk sadar, bahwa istrinya pun perlu di dengar.
Aku katakan juga, yang terpenting adalah bagaimana Bumi tidak meneruskan sifat Ayahnya. Karena dari cermin yang aku lihat bingkai itu sudah terlihat jelas, bagaimana Bumi begitu mendengarkan Ibunya. Hal itupun aku sampaikan, dan Bumi semakin sadar.
Juga aku picu kesadaran terdalam bahwa, dirinya yang utama nanti sebagai tokoh. Aku mengingatkan kalau nanti punya pasangan, hal yang utama tugasnya bukan hanya mencintai pasangannya tetapi juga penting untuk mendekatkan hubungan pasangannya dengan Ibunya.
Perlu untuk memutus rantai luka dan cukup Ibunya merasakan sebagai mantu, jangan sampai Ibunya nanti berperan sebagai mertua dan menantunya mendapatkan hal yang sama. Karena jika tidak di sembuhkan, hal tersebut pasti berulang.
Kesadaran diri atau self awareness ketika diri menjadi asset utama juga aku sampaikan pada Langit yang capek dengan lingkungan kantor dan atasannya. Aku arahkan untuk melihat dari sisi bos-nya mengapa berlaku seperti yang di terima.
Dunia, ekonomi sangat menekan bisnis dan mengatur perusahaan tidaklah mudah. Aku sampaikan, pekerjaan itu adalah bagian kehidupan, tidak perlu di ambil hati terlalu dalam. Lakukan saja sebaik-baiknya, bersungguh-sungguh dalam tugas dan setelah jam kerja, taruh.
Bekerja itu bukan seluruh hidupmu, perlu untuk menyediakan warna lain kehidupan, seperti menikmati kesukaan, atau sekedar jalan bersama orang tersayang. Sederhana saja, jika butuh kerjakan sebaiknya, jika tidak lepaskan.
Tidak perlu membebani diri terlalu dalam. Karena lagi, dirimu adalah asset, ketenangan, kejernihan dalam berpikir itu hal yang sangat penting. Jadilah tuan atas diri, bukan keadaan yang menjadi tuan atasmu. Tidak mudah. Karena itu di sini lah letak pentingnya self awareness. Tajamkan.
Self Awareness dan Cinta yang Tidak Menuntut
Pada akhirnya, kesadaran diri atau self awareness tidak membawa kita menjadi lebih keras pada hidup. Justru sebaliknya, ia membawa diri kembali pada sesuatu yang lebih tenang dan manis yaitu cinta.
Cinta pada diri yang sedang belajar self awareness, Kesadaran diri yang membentu cinta pada orang lain yang juga sedang berproses. Dan juga cinta pada hidup yang tidak selalu mudah dipahami.
Seperti Lestari setelah bertemu denganku, tersadar bahwa ketika ia terlalu terpaku pada perlakuan suami kepadanya, memudarkan cinta kasih-nya pada pasangannya dari awal mereka bersama sampai mendapatkan empat anak.
Melupakan jati dirinya yang sebenarnya memiliki cinta yang besar pada orang lain dan menjauh dari karakter baiknya bagaimana dia mencintai hidup. Semuanya pudar karena tidak memberi ruang kesadaran pada diri bertanya,
Siapakah saya? Seorang istri yang setia mencintai dengan utuh, sabar dan taat pada suami.
Aku teringat dengan satu buku yang menyatakan satu syair dari Kahlil Gibran,
Kadang kala, orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta padamu
Aku berpikir, bisa jadi suaminya tidak pernah berkata mencintai atau terlihat tidak mendengarkan kebutuhan Lestari, siapa tahu sejatinya sikapnya sekarang untuk menyelamatkan keadaan.
Maka di sinilah kesadaran akan diri perlu di tajamkan, bahwa cinta tidak pernah menuntut, ia akan terus berjuang terus menerus memperbaiki, menghidupkan.
Begitu juga Langit, lupa akan dirinya yang sedang belajar mengerti alur dunia bekerja, karena dia baru lulus kuliah, lupa bahwa dirinya adalah orang yang begitu tenang dan cerdas dalam menghadapi situasi dan menjauh dari cintanya akan hidup yang sedang membentuknya.
Maka di sinilah peranku hadir sebagai pelatih kehidupan, mengarahkan untuk mengerti akan kesadaran diri atau self awareness. Dengan memberi pertanyaan setiap klien selesai bercerita.
Sudah berapa lama hal tersebut terjadi atau di rasakan dan sudahkah memberi waktu untuk mengatur?
Karena penting buatku, memberi ruang pada waktu untuk tidak terburu-buru. Jika mereka berkata sudah maka aku lanjut dengan pertanyaan mengacu tiga hal di atas,
Mengapa mudah tersinggung, cepat memutuskan dan bertahan atau melepaskan.
Atau hal-hal lain sesuai topik persoalan yang di konsultasikan.
Kemudian di setiap sesi aku selalu mengajak kembali pada arah kehidupan: tentang cinta yang tidak menuntut. Karena pada akhirnya, kesadaran diri atau self awareness adalah tentang seberapa besar kita mampu mencintai diri sendiri, orang lain, dan kehidupan.
Jika dari tulisan ini ada bagian perjalananmu, boleh berbagi di kolom komentar. Siapa tahu pengalamanmu juga bisa menjadi ruang belajar bagi yang lain. Dan jika kamu merasa sedang berada di persimpangan hidup dan ingin melihatnya dengan lebih jernih melalui proses self awareness, bisa menghubungiku di sini.
Baca juga: Mencintai dengan Ketenangan Jiwa di Tengah Badai – Kenali Rasamu dan Temukan Rahasia Keutuhan

Pasar Minggu – Jakarta Selatan, Awal Maret 2026
Ditulis setelah melihat bulan yang begitu indah sambil menikmati malam yang teduh.


15 Responses
Entahlah akhir akhir ini rasanya kurang memahami diri
Lebih sering memikirkan kabar pasangan dan anak anak
Lupa kalau saya juga manusia
Namun terkadang kesibukan anak tiga jadi lupa kalau berhak memutuskan sesuatu yang dirasa pantas dan nyaman untuk diri sendiri
Hmm… pelik memang
pernah baca bahwa ibadah terpanjang itu bukan pernikahan/rumah tangga; melainkan selalu berupaya positive thinking atas takdir yg Tuhan tetapkan.
self awareness bisa banget mengajak kita utk always think positive ya kak.
Mbak Niiiik, pegalkah jari-jarimu setelah membuat sepanjang dan seindah ini? hahahaha.
First of all, aku ingin berterima kasih. Makasih ya mbak, sering menjadi pelabuhan curhat dan segala keluh kesahku, *tsah
Beberapa kali bertukar pikiran dengan dirimu, akhirnya membuat saya lebih bisa menjaga self awareness.
Bukan berarti daku jadi gak pernah stress lagi ya, enggak. Rasa stress, pusing, down, itu tetap ada. Karena ya mau gimanapun kita ini manusia.
Yang membedakan adalah, sekarang daku lebih tau gimana cara menghadapinya. Kapan waktunya untuk ngobrol, kapan baiknya diem-dieman dulu demi memberi jeda. Atau bahkan, sesekali perlu jalan menyendiri. Nganu, tapi atas izin tapi ya, bukan kabur.
Masalah terbesarku adalah, kadang aku sering membuat keputusan saat marah. Dan membuat pinky promise saat bahagia. Sekarang, frasa favorit dalam hidupku adalah ‘nothing to lose’. Alias, bertawakkal.
Kala masalah besar menimpa, ku bersedih dan menggalau secukupnya. Sebaliknya, kala ada kabar bahagia menghampiri, ku pun ber-euforia secukupnya saja. Karena seberat apapun masalahnya, dan sebesar apapun pencapaiannya.. Sesungguhnya esok tetaplah hari yang baru.
SEMANGAAATTTT
Tulisan yang dalam banget maknanya, Mbak Nik! Memang benar ya, seringkali kita terlalu sibuk memikirkan pendapat orang lain sampai lupa ‘kenalan’ sama diri sendiri. Saya sangat setuju kalau self-awareness itu pondasi paling dasar. Tanpa itu, keputusan hidup kita seringkali cuma sekadar reaksi dari ekspektasi lingkungan, bukan hasil pilihan sadar kita sendiri.
Suka banget bagian yang bahas soal relasi; kalau kita nggak kenal diri sendiri, bagaimana kita bisa membangun hubungan yang sehat dengan orang lain? Membaca ini jadi pengingat buat saya untuk lebih sering ‘jeda’ dan refleksi diri sebelum ambil langkah besar.
Saya setuju sekali dalam menjalani kehidupan ini, self awareness menjadi kuncinya ya Mbak karena di dalamnya ada pemahaman diri, pengelolaan emosi, kinerja profesional serta pengambilan keputusan. Kesadaran inilah yang membuat seseorang saat di mana posisi dia sekarang, sehingga bisa mengambil tindakan yang tepat untuk mencari jalan keluarnya.
Memang memungkinkan seseorang seperti agak kurang sadar ketika dia memutuskan segala sesuatunya.
Padahal self awareness ini memberikan dampak positif agar kitanya tuh bisa paham dulu apa persoalannya, jadi paham juga secara sadar saat keputusan dijatuhkan, nggak ada sesal di kemudian hari
Self-awareness memang kunci agar kita tidak menjadi tawanan dari emosi yang meledak-ledak. Bagian tentang “aset utama adalah diri sendiri” sungguh menjadi pengingat berharga di tengah riuhnya tuntutan hidup. Terima kasih ya kak….. sudah berbagi perspektif yang humanis ini; sangat membantu untuk lebih tenang dan eling dalam mengambil keputusan. Salam hangat untuk perjalanan “Peta Rasa”-nya!
semangat dan sehat selalu ya kak 😀 keep positive vibes!
Ah ka Nik, bener ya self awareness ini penting sekali. Setiap reaksi yang muncul, beneran jadi pertanyaan. Kenapa reaksi tersebut terjadi? Apa sebetulnya perasaan yang aku miliki? Kenapa perasaan itu muncul? Apakah karena kejadian tersebut atau sebetulnya ada luka lama yang tertrigger dari itu?
Pertanyaan2 kayak gini betul-betul melatih diri agar bisa mengenal diri sendiri terlebih dulu sebelum memutuskan sesuatu.
Kadang kalau aku agak kelepasan di rumah, malamnya aku menuliskan dan menjawab pertanyaan2 yang di atas tadi. Seringkali jawabannya karena aku sedang burn out atau kecapekan dengan semua yang dilakukan. Atau terkadang jawabannya simply karena aku lagi kurang tidur 😌
Jadi aku perlu istirahat sebentar untuk kemudian esok hari bisa kembali menjadi Isti yang lebih baik. Tapi tentu ada yang jawabannya justru jadi mengorek kejadian masa lalu dan perasaan yang tertanam karena kejadian tersebut. Sehingga akunya dulu perlu berdamai dengan itu.
Ah, self awareness ituu mudah sekali untuk diteorikan, tapi tidak semudah itu untuk diaplikasikan yaa.
Ah iya, kadang saat mengambil keputusan dalam hidup, kita cenderung terdesak dan begitu saja memutuskan
Padahal sebelum mengambil keputusan, perlu untuk memikirkan secara mendalam ya
Panjang dan detail sekali tulisan kali ini. Keren banget deh mbak Nik. Bahkan bercerita tiga tokoh, mulai dari Bumi, Lestari dan Langit. Ketiganya punya keresahan yang mirip-mirip ya.
Dimana self awareness, terasa begitu berharga dan berarti bahkan sangat penting sekali. Saat menjadi istri yang merasa sulit berpendapat, karena hanya menerima titah terbatas. Saat anak merasa Ibunya begitu terkukung dan saat profesi atau pekerjaan terasa membuat diri Langit kerdil dan tak berarti karena pendapat sering di patahkan.
Berujung pada pertanyaan, mampu tetap bertahan atau melepaskan. Keduanya punya konsekuensi dan mesti siap menerima. Luar biasa sekali memang ya. Hidup di era sekarang rasanya tidak mudah. Banyak tantangan yang sulit dijelaskan. Tetapi, mari semangat terus.
Self awareness itu sangat penting bagi tiap manusia untuk tetap jujur pada jati dirinya dan bisa memutuskan apa yang terbaik untuk kehidupannya apabila hilang otomatis membuatnya hidup terombang-ambing tanpa tujuan
Iyaa, sering baca curhatan di Threads para perempuan yang sudah disakiti pasangan, oleh ortu tapi tetap bertahan dengan perasaan hancur dan malah bertanya ke netizen apa yang harus dilakukan.. apakah itu karena self awareness kurang ya Mbak, cenderung mengorbankan dirinya untuk orang yang disayanginya..
Aduh duh, persoalan mertua menantu perempuan ini emang klise tapi tetep bikin nyeeesss. Begitu pula persoalan pengen berhenti dari tempat kerja, banyak banget dirasakan orang, tetapi kadang membuat keputusan tu nggak semudah membalik tangan. kedua hubungan itu, baik pernikahan maupun pekerjaa juga nggak mudah diputuskan, tiba2 minggat gitu aja kan nggak mungkin.
Self awareness sangat dibutuhkan dalam membuat keputusan, supaya tidak menyesal di kemudian hari. Hal paling penting menyadari diri sendiri berharga, supaya bisa memikirkan apakah layak mendapatkan perlakuan semacam itu. Trus, mungkin juga bisa lebih percaya diri memahami dirinya punya nilai lebih apa yang membuatnya kek bisa “nego” supaya dipertahankan kali ya?
Namun kyknya itu pun kudu diimbangi dengan komunikasi, disampaikan aja apa yang ada di pikirannya ke orang yang membuat sakit kali ya?
Mbak Nik, barusan saya baca di timeline tentang dukungan suami untuk istri nya. Bersyukur suami saya memberikan dukungan pada saya dan alhamdulillah nya mertua saya pun baik pada saya
Jujurly saya mengutamakan komunikasi dan diskusi mbak karena apapun bisa diselesaikan dengan komunikasi dan saling menghargai sebagai sesama manusia