#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Seni Menikmati Hidup di Tengah Tekanan: Memainkan Harmoni Menerima dan Melepaskan

Seni menikmati hidup cara menghadapi bagaimana harmoni menerima dan melepaskan semakin kencang suaranya. Tentang keberanian menghadapi hubungan semakin retak atau hal-hal tidak nyaman karena terpicu tekanan kehidupan.

Hi, Jumat Kembali dan bertemu dalam series Kembali Ke Akar.
Apa kabar minggu-mu, hal apa yang paling kuat terjadi
membuatmu bersyukur dalam minggu ini?

Selain nafas masih ada, selain satu minggu terlewatkan lagi. Sebuah peristiwa yang membuatmu menyadari betapa hidup masih punya cara membuat kita bersukacita.

Iya memang, tidak mudah tetapi ini penting kutanyakan, untuk sejenak berhenti, melihat kembali hari-hari sebelumnya. Percayalah, selalu ada hal manis bisa dinikmati dan membuat sukacita itu lahir.

Aku sendiri sungguh bergirang melihat senja minggu ini begitu indah, bulat besar merona. Juga melihat bagaimana reaksi insan dalam sebuah peristiwa. Juga di hari ini bisa berkumpul dengan sahabat merayakan ulang tahun salah satu diantara kami.

Tiga kejadian yang membuatku melihat bagaimana hidup masih memberikan ruang sukacita. Dan paling kuat adalah ketika melihat reaksi orang-orang dalam sebuah peristiwa.

Sama seperti riak yang menyebar ketika satu kerikil dijatuhkan ke dalam air, tindakan individu dapat memiliki efek yang jauh jangkauannya.

Kurang lebih begitu sebuah kalimat pernah aku dengar. Dan di sini aku sebagai orang yang melempar batunya, melihat reaksi insan atas sebuah tindakan yang aku lakukan.

Aku bersyukur karena melalui semua itu aku dapat melihat wajah-wajah yang lebih asli. Sebab, respon sering kali menjadi cerminan paling jujur dari karakter seseorang.

Dari sana aku menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang mempertahankan apa yang kita harapkan. Ada saatnya menerima dan ada waktunya melepaskan. Keduanya adalah harmoni yang perlu dimainkan dengan baik, sebab di sanalah seni menikmati hidup menemukan nadanya.

Baca juga: Melangkah dalam Kesetaraan: Tentang Hidup yang Menjadi Lebih Ringan dan Selaras

Amuya Coffee Academy dan seni menikmati hidup
Amuya Coffee Academy ruang bertumbuh dalam karya dan Satu Seni menikmati hidup

Mengapa Melepaskan Menjadi Seni Menikmati Hidup yang Penting

Ranting yang kering lebih baik dipotong
supaya tunas baru tumbuh
dan bisa menghasilkan buah yang lebat.

Aku memandang lukisan saat pameran di Amuya Art Gallery, ada banyak makna tercermin dalam lukisan itu, tentang senyum, keserakahan dan lainnya. Logika dan nuraniku berdialog tentang melepaskan saat memandang lukisan banyak makna tersebut.

Kadang senyuman dengan dibalut luka terlalu banyak suka tidak suka perlu dilepaskan. Tidak perlu memaksa untuk terus tersenyum, terluka ya terluka saja. Kalau itu membuat marah, kecewa dan ingin berteriak, ya udah lakukan.

Lepaskan jika memang perlu dilepaskan. Apapun, selain luka-pun. Di musim yang makin tidak ada kepastian, memegang sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, memberatkan langkah.

Seperti kutipan di atas, kadang jika ranting yang kering terus dibiarkan menempel, tunas baru itu tidak akan bisa hadir dan jika tunas tidak ada, kesempatan berbunga dan berbuahpun tidak akan pernah ada.

Namun tetap diingat konteksnya adalah melepaskan hal yang membuat kita tidak bertumbuh dan sebelumnya sudah diperjuangkan sebaik-baiknya. Tidak hanya memuaskan ego sendiri.

Baca juga: Menikmati Hidup Dengan Cara Melepaskan – 2016

Seni menikmati hidup
Seni menikmati hidup memainkan harmoni penerimaan dan melepaskan

Kekuatan Penerimaan: Saat Kerendahan Hati Memberi Ruang bagi Kehidupan Mengambil Alih Perannya

Dalam sebuah tulisan di Medium tentang kekuatan menerima yang tidak sesuai harapan, disebutkan bahwa Saat penolakan berkurang, energi yang sebelumnya habis untuk melawan bisa dialihkan untuk beradaptasi dan untuk berbuat sesuatu.

Aku setuju dengan hal tersebut. Kadang penolakan itu sebuah reaksi yang menghabiskan energi. Selain itu aku sendiri di tahun ini banyak belajar pada hidup tentang penerimaan.

Satu yang terbaiknya bagaimana ketika menerima suatu pemberian. Aku seorang yang suka memberi tetapi ketika diberi ada rasa tertekan muncul, seperti dikasihini. Namun karena tidak ada pilihan lambat laut hal menerima-pun akhirnya dilakukan dengan iklas.

Hingga aku melihat ternyata menerima dengan tulus sebuah tindakan kerendahan hati. Memberi ruang pada pemberi sebagai wujud cintanya pada hidup. Dan juga lebih luasnya, ketika menerima sesuatu yang tidak kita suka sebuah tindakan kerendahan hati yang dalam.

Memberikan secara utuh pada waktu dan kehidupan mengambil perannya. Kadang karena terlalu menolak hidup tidak bisa berperan. Sama dengan melepaskan, jika tidak lepas maka tidak ada hal baru datang.

Begitu juga menerima, layaknya seperti bibit tanpa diberi ruang pada hidup untuk merawatnya tidak akan bisa tumbuh. Contoh ketika hidup menempatkan pada kesulitan, mungkin itu cara hidup menajamkan diri. Mempercaya hidup mengatur terbaik.

Masa pencipta tega merusak ciptaannya
dengan membiarkan sesuatu terjadi tanpa tujuan baik?

Maka di sinilah sebuah harapan dengan keyakinan tinggi perlu di rawat. Jika tanpa keyakinan dan harapan, apakah hidup masih bisa dinikmati dengan baik? Dan menerima dengan tulus satu nada seni menikmati hidup.

Baca Juga: Hidup Berkehidupan: Kembali ke Akar, Bertumbuh Kuat, dan Berperan Hidup Berbuah Manis

mengenal materi hidup, seni menikmati hidup
Mengenal materi hidup dan seni menikmati hidup

Menerima dan Melepaskan: Harmoni Keberanian dan Ketulusan dalam Seni Menikmati Hidup

Menerima dan melepaskan pada akhirnya bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua nada yang perlu dimainkan dalam seni menikmati hidup. Melepaskan memberi ruang bagi tunas-tunas baru untuk tumbuh dan berbuah.

Sementara menerima memberi kesempatan bagi kehidupan untuk menjalankan perannya dengan cara yang sering kali tidak mampu kita pahami sepenuhnya.

Berani melakukan semuanya dengan ketulusan hati.

Lalu,

Mungkin hidup tidak meminta untuk menggenggam lebih kuat, melainkan untuk mengetahui kapan harus menerima, kapan harus melepaskan, dan kapan cukup mempercayakan sisanya kepada kehidupan.

Bagaimana menurutmu? Yuk bagi pemikiranmu di kolom komentar.

Jakarta Selatan, Juni 2026
Ditulis sambil melihat pohon menari indah bersama langit birunya.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink