Rasa bahagiaku menyapa kota gudeg, ketika bertemu sore kereta api dan Ayom Jogja. Merajut Peta Rasa Sukacita pada Rabu ini .Kejutan hidup kali ini penuh warna; meski duka menyapa, rasa suka tetap menyelinap di sela-selanya.
Hadir di Solo kali ini karena duka seorang sahabat yang ditinggal papanya, dan selang berapa hari sahabat yang di Semarang bertugas di kota Solo dan Jogja. Berkat tersendiri buatku karena mereka hadir di waktu yang tepat. Bersamanya aku bertemu sore kereta api dan Ayom Jogja.
Satu keluarga ini telah menjadi sahabatku sejak lama—aku mengenal mereka bahkan sebelum memiliki anak, yang kini telah berusia dua belas tahun. Karena sang istri tengah menjalankan tugas di Jogja, kami pun memutuskan untuk menunggu sambil mencari tempat yang nyaman: aku, sang suami dan putra mereka.
Putra mereka sangat suka dengan kereta api, setiap menentukan tempat untuk santai, selalu mencari yang bisa melihat kereta api. Ternyata istrinya sudah tahu tempat yang cocok buat kami, aku yang ingin menghabiskan waktu sambil menulis, putranya bisa menikmati kereta api dan suaminya bisa santai dengan tempat yang nyaman.
Jadilah sore kereta api dan Ayom Jogja memberi rasa bahagia ketika menyapa kota gudeg kali ini. Pilihan dari sang Istri.

Wajah Yogyakarta Semakin Berseri
Konon katanya kesederhanaan kota itu membuat segala geriknya melambat. Orang yang hidup disana tidak terburu-buru. Tetapi apa yang tidak berubah dalam era sekarang?
Mungkin memang geraknya tidak terlalu gesit, seperti kota besar lainnya, tetapi aku sendiri melihat kota gudeg sudah semakin lincah lakunya. Jika dulu senyumnya manis, halus dan malu-malu. Saat terakhir bertemu dengannya, wajah kota berseri.
Terlihat dari jantungnya Malioboro tidak pernah berhenti bernafas, jam berapapun dia memberi warna hidup. Berfoto di tiang papan nama itu selalu antri, belasan tahun aku berulang ke tempat itu, selalu hidup.
Bahkan masa ini, wajahnya semakin berser, tawaran berfoto dengan pakain adatnya. Tidak hanya itu kota pelajar yang melahirkan pemangku negeri ini, punya cara untuk berdandan, sehingga penikmatnya ingin selalu kembali.
Seperti aku, Juli kemarin melihat kota itu dengan senyum berserinya dan menemukan tempat seindah, nyaman dan bisa menikmati sore kereta api dan Ayom Jogja.

Kenapa Ayom Jogja Jadi Rekomendasi Tempat Tenang di Jogja yang Tak Biasa?
Menyusuri jalan bertemu sore kereta api dan Ayom Jogja, mengingatkanku pada tempat tanah kelahiran di Bali. Jalan yang ditempuh tidak luas, melewati desa dan ketika turun dari mobil aku paham, tempat ini kenapa jadi salah satu rekomendasi yang tak biasa.
Area parkirnya cukup luas, disambut dengan bangunan yang indah, rapi dan dikelilingi persawahan. Areanya tidak melebar tapi memanjang. Ketika aku menyusuri tempat itu terasa cukup panjang, sebelum ke area yang bisa melihat lintasan kereta api, di tengah area sebelah kiri terdapat toilet dan mushola.
Dua bangunan utama dengan dihubungan jalan dengan toilet, lalu terdapat teras yang begitu nyaman. Aku langsung membayangkan salah satu kafe yang ada di Bali. Teras dengan ornamen kayu, cermin dan hamparan persawahan.

Baca juga: Mokko Suite Villas Bali: 3 Momen Berharga dalam Kebersamaan Keluarga – Tentang Penerimaan
Area teras itu semakin menarik, ketika diantara persawahan ada aliran air yang sanget bening. Aku duduk si sofa percis disamping itu, tenang. Namun menjadi unik sesekali kereta api lewat, suasana tenang itu diwarnai lintasan kereta api.
Menyadarkanku bahwa itu bukan tanah kelahiranku, dan anak sahabatku begitu riang melihat kereta api lewat. Walaupun melintas berulang kali wajahnya begitu berseri, sesenang itu. Begitulah, jika rasa senang walau berulang dan sering tetap saja bahagia memeluknya.
Sore kereta api dan Ayom Jogja tempat yang nyaman dengan pesonanya.
Nikmatnya Rasa Tersaji bersama Sore Kereta Api dan Ayom Jogja
Salah satu terbaik sore kereta api dan Ayom Jogja pada nikmat rasa yang tersaji, menu yang ditawarkan sangat beragam.
Saat itu karena datang setelah waktu makan siang dan hanya ingin bersantai sambil menulis, aku dan bersama sahabat hanya memesan minuman dan makanan ringan.

Aku lupa nama dua minuman yang dipesan oleh sahabatku untuk dia dan anaknya, aku sendiri tentu saja memilih kopi. Makanan ringan yang kami pilih singkong dan pisang goreng.
Percayalah, apa yang terlihat mengiurkan dari foto diatas, itu nyata. Rasanya begitu nikmat dan menyempurnakan tempat itu. Bisa jadi rekomendasi buatmu jika ke Jogja. Harga yang ditawarkan-pun masih tergolong sehat dikantor jika di lihat dari fasilitas tempat, teduh alam dan sore yang mempesona.
Jarak tidak terlalu jauh dari Pusat Kota
Setelah bertemu sore kereta api dan Ayom Jogja, aku sungguh merekomendasikan tempat ini karena selain nyaman tempat dan suasananya, serta enak makanannya, juga jarak dari pusat kota tidak terlalu jauh. Peta ini bisa memberi gambaran dan jika kamu ingin datang kesana telusuri peta juga untuk lebih melihat detailnya.

Ketika Keadilan Waktu Memberi Gula-Gula
Begitu aku menyebutnya ketika bertemu sore kereta api dan Ayom Jogja. Satu hadiah hidup ditengah pelitnya senyuman kehidupan saat ini. Siapa yang tidak merasa berat dalam masa sekarang?
Jika kamu bertemu tulisan ini dan hidupmu begitu ringan dan sangat indah, selamat ya dan bersyukurlah berlipat-lipat atas itu, karena aku sendiri sepanjang tahun ini melihat , banyak insan berjuang untuk bertahan dan melanjutkan hidup.
Tidak hanya soal ekonomi tetapi juga tekanan persoalan secara hubungan, kecemasan dan krisis kepercayaan pada hidup semakin memudar. Berangkat dari sanalah aku membuka tiga ruang dalam seminggu. Salah satunya ruang Rabu sebagai series Peta Rasa Sukacita.
Baca juga: Cerita lain dari Series Rabu
Kisah disampaikan Rabu bahwa kadang hidup memang dingin tapi dia adil, memberi nikmat dan membentuk Peta Rasa Sukacita.
Kemudian Rabu ini, aku berbagi kisah tentang Sore Kereta Api dan Ayom Jogja, sebagai pengingat diri bahwa hidup sampai saat ini tidak pernah berhenti memberi gula-gula, walau rasa pahit itu suka menggoda.
Akhirnya,

Malam-pun menghampiri kami dan melanjutkan perjalanan ke Semarang. Para sahabatku ini bukti bagaimana hidup telah memberi rasa manis, semua biaya dan pelayanan yang aku terima selama di Jogja dan Semarang ditanggung mereka.
Termasuk semua biaya di sore kereta api dan Ayom Jogja itu, padahal aku sudah berusaha untuk membayar sebelum kembali, pura-pura ke toilet dan ternyata kasirnya bilang sudah dilunasi, sedangkan saat itu sejam sebelum keluar dari tempat itu.
Karena itulah harga dan nama-nama minuman tidak diketahui dan pada menunya pun lupa melihatnya. Terima kasih terindah untukmu yang telah dipakai-Nya, melunasi rasa dengan hal manis di Juli 2025.
Bagaimana denganmu? Adakah rasa manis terkecap dalam masa ini? atau senyum hidup lagi pahit? apapun itu mari berbagi di kolom komentar, mungkin saja kisahmu membuat hangat.
Jakarta, Agustus 2025
Ditulis sedang berlomba dengan waktu karena dikejar tanggung jawab.


13 Responses
Yogyakarta dan Semarang termasuk dekat ya? Kalau melancong bisa sehari pulang pergi?
Yogyakarta memang selalu ngangenin apalagi ini udah punya tempat main yang bikin betah
Kala Semarang saya malah baru sekali ke sana. Hehehe
Sore di Ayom Jogja dengan pemandangan kereta dan persawahan pasti jadi kombinasi yang menenangkan. Momen sederhana seperti ini memang bisa jadi pengingat manis di tengah beratnya hidup.
Tentu dibalik perjuangan yang terasa nggak mudah, aku mengakui selalu ada manis dalam part-nya. Entah manis yang terasa remeh-temeh buat sebagian orang atau manis yang tetap patut di syukuri sebagai berkah buat si penerima (aku).
Senang rasanya membaca kisah mba Nik terkait sore, kereta api dan Ayom Jogja. Tergambar detail seakan aku diajak kesana juga. Suasana asri, view super indah memanjakan mata. Jogja memang ngangenin. Sebagian orang kota bisa merasakan melambat sejenak.
Ayom Jogja buat penasaran dan ingin coba menyambanginya. Sederhana sekali ya, anak kecil suka melihat kereta dan merasa senang buka kepalang saat bertemu kereta yang melintas 🤩 turut merasakan energi positifnya. Mudah senang dan pasti ia bersyukur karena mama nya memilihkan tempat yang ia dambakan, bisa lihat kereta melintas.
Asyik sekali di Ayom Jogja, dan minuman warna biru itu sangat menarik. Pemandangannya cakep dan menenangkan.
Liburan sembari menikmati slow loving di kota gudeg benar-benar menyenangkan ya Kak Nik.
Jadi kangen Jogja deh, terakhir ke sana tahun 2009.
Sama, kak. Aku juga suka kereta api. Waktu tinggal di Jogja, aku pernah ajakin istri makan lesehan di pinggir rel kereta api. Ah, jadi pengen menulis ceritanya juga di blog. Ada banyak cerita di Jogja yang belum dibagikan.
Tempatnya asri dan tenang, mbak. Cuma kalau duduk outdoor, mungkin jangan terlalu siang kali ya, terbayang panas teriknya hehe.
Geliat Jogja menurutku bahkan sudah melebihi kota-kota metropolitan yang lebih besar, seperti Bandung. Bandung bagai keluarga besar kolot yang tak ingin banyak berubah. Kereta lokalnya masih menggunakan lokomotif diesel, angkot-angkotnya masih subur menjamur di berbagai titik kota.
Bersama sahabat yang saling memahami, eh sekaligus pula menikmati perjalanan penuh makna ke Jogja. Apalagi ada camilan yang memang tampak nikmat, karena disantapnya dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur
Kemarin waktu ke Jogja pengen ke sini tapi belum kesampaian karena agenda sudah padat dan tidak searah dengan tujuan utama, yaitu Gunungkidul.
Tempat ini banyak direkomendasikan. Saya lihat foto-foto dan video-video yang beredar juga tampak nyaman untuk bersantai. Apalagi setelah membaca tulisan ini. Semoga kalau main ke Jogja lagi bisa mampir ke sini 😊
Btw makan singkong dan pisang goreng di Jogja entah kenapa rasanya lebih enak ya? Hehehehe
Suka suasana Ayom ini pemandangan tepi sawahnya memikat, makanannya pun ndeso tapi ngangenin ya Mba, ternyata dirimu ke Semarang juga yaa ke mana sajaa?
Aih, ini inceran aku sebetulnya kalau ke Jogja lagi nih. Jadi makin pengen ke sana karena baca ini ka Nik. Tempatnya asik banget ya kayanya. Berada di area persawahan gitu, kayak punya rasa ketengangan tersendiri. Kemudian menyatu sama suara kereta api jadi memunculkan keunikan tersendiri.
Baru denger nih mbak aku “Ayom Yogya”. Ternyata ke sana sampai malam nih ya.
Asyek banget bisa lihat kereta api. Oh ya yaa, di Bali gak ada kereta api. Sebenarnya sungguh membagongkan krn transum di sana minim. Coba itu uang buat IKN buat membangun transum di semua propinsi, mungkin makin banyak wisatawan yang suka pelesiran di negeri.
wah sayang lupa nama minumannya apa ya mbak. Kedua minuman dinginnya disajikan menarik pakai gelas yang gak biasa pula 😀
Sayang nggak makan berat waktu ke sana ya mbak, aku penasaran sama menu makanannya hehe. Berarti tandanya kapan2 kudu balik sana tu mbak 😀
Baca judulnya Ayom Jogja aku jadi teringan Ayom Java Village sebuah penginapan di batas kota Solo yang juga menghadirkan nuansa jawa yang kental
Dan Ayom Jogja ini sepertinya memang rekomended ya mba buat menemukan kesunyian sedikit melipir dari hiruk pikuk kota jogja yang tidak pernah tidur sepertinyaa…
Alhamdulillah bertemu dan mempunyai sahabat juga salah satu berkah dalam hidup ya mba,,,saat kita galau mau kemana tiba2 mereka hadir menceriakan hari2 liburan selama di Solo kmrn 😉
Ayom Jogja aku baru tahu dari postingan ini, dan nggak nyangka vibesnya se-slow living ini. Rekomendasi banget buat yang ingin melipir dari lincahnya kota besar, meski desa pun kini dituntut untuk gerak cepat. Punya teman di berbagai kota itu berkah ya, Mbak Nik. Jadi perpanjangan umur karena silaturahmi terus terjaga.
Suasana yang tenang dan bersahabat itu memang selalu datang dari Jogjakarta.
Sebuah kota sederhana yang selalu memanggil untuk kembali.
Dan kalau sudah ada di kota tersebut, rasanyaa.. tak ingin kembali.
Cocok sekali menikmati kehangatan kota tersebut di Ayom Jogja.
Senja-nya bahkan terlihat lebih cantik dengan perpaduan alam yang sempurna ciptaan ilahi.