Sudah Merdeka - kah?

Sudah Merdeka-kah dari Prasangka Buruk? Belajar Membebaskan Pikiran dan Hati

Sudah merdeka-kah tentang bagaimana cinta akan diri sendiri dalam kebebasan yang sudah diberi. Memicu kesadaran akan kebutuhan yang perlu diberi ruang.

Merdeka!!!

Gema lantang kata merdeka terasa semakin pudar. Melihat kondisi saat ini di mana saudara di NTT sedang mengalami bencana alam. Belum lagi tahun ini keadaan semakin pelik dan terasa sesak.

Rasa sesak mempertanyakan dengan tajam benarkah sudah merdeka? Mengapa makin hari waktu memberi penjelasan kemerdekaan yang digaungkan hanya sebuah narasi tanpa arti.

Siang ini mentari begitu penat, panasnya alam seakan menambah panasnya rasa keadaan, seakan menyempurnakan tekanan. Melahirkan tanya merdeka seperti apa?

Baca juga: Apa Arti Kebebasan Jika Hak Tidak Bisa Dipertanggungjawabkan? – Aku dan Byung-Chul Han

Gili Trawangan - Tempat indah di Indonesia - sudah merdeka
Sudah Merdeka – Gili Trawangan – Tempat indah di Indonesia

Kemerdekaan Indonesia dan Tanggung Jawab Menjaga Arti Kebebasan

17 Agustus lagi dan suara kemerdekaan terasa lirih dengan keadaaan yang ada.

Tetapi buatku seperti apapun keadaan merdeka tetaplah merdeka karena bagaimanapun penjajah secara fisik sudah tidak ada lagi, walau mungkin hadir penjajah dalam bentuk lain.

Paling tidak aku sebagai insan yang lahir, hidup, tumbuh dan besar di negeri yang begitu indah ini bisa menikmatinya dengan kebebasan pergi tanpa perlu izin ini itu seperti ke negeri orang.

Aku sengaja menampilkan foto diatas sebagai pengingat bahwa sepelik apapun negeri ini, masih ada ruang untuk bisa menikmati secara bebas negeri sendiri.

Tidak hanya menikmati secara bebas, aku sendiri juga membawa semangat untuk menjaga dan melestarikan negeri ini dengan mengajak orang-orang untuk traveling di negeri sendiri. Dengan segala keterbatasannya dan itu bentuk tanggung jawab atas kemerdekaan yang diberikan oleh para pahlawan.

Menurutku makna kemerdekaan bukan berhenti pada terbebas dari sesuatu, tetapi berlanjut menjadi mampu menggunakan kebebasan dengan bertanggung jawab.

Tetapi kembali pada kemampuan masing-masing. Aku sendiri selain mengajak orang untuk traveling di negeri sendiri, juga punya tekad untuk jelajah Sabang sampai Papua dulu sebelum ke negeri orang, itu bentuk tanggung jawab atas kemerdekaan yang diberikan dan itu semua sudah kulakukan.

Baca juga: Kemerdekaan adalah Pilihan, Kekuatan Tak Tergoyahkan di Tengah Tekanan – Menuju Hidup Sejati #10

Kemerdekaan adalah pilihan - Sudah Merdeka
Sudah Merdeka

Kebebasan Berpikir dengan Bertanggung Jawab untuk Memilih Sikap dalam Kehidupan

Kemudian setelah memaknai kemerdekaan secara umum atas pribadi, aku berpikir hal apa yang paling penting atas kebebasan di era modern ini dan menemukan tentang kebebasan berpikir.

Atas semua hal yang terjadi, kemerdekaan Indonesia sudah ke 81 tahun ini mengajak untuk melihat secara tenang dan mendalam bahwa memilih sikap hidup atas cara berpikir itu yang penting. Sebagai lanjutan atas kemerdekaan bumi pertiwi dari penjajah bangsa lain.

Keadaan memang tidak bisa dirubah, sudah terjadi dan pasti akan terjadi sesuai takdir dan cara berpikirlah yang bisa dikendalikan. Dan inilah memberi kesadaran bahwa kemerdekaan bangsa akhirnya membawa kita kepada kemerdekaan yang jauh lebih dekat: pikiran kita sendiri.

Cara kita berpikir memengaruhi cara kita melihat seseorang. Cara melihat seseorang memengaruhi penilaian dan penilaian yang terburu-buru bisa berubah menjadi prasangka.

Lalu dengan itu timbul sebuah tanya, Indonesia memang sudah merdeka tetapi apakah diri sudah merdeka kalau cara berpikir dan pandang akan sesuatu dibelenggu dengan banyak ketakutan.

Baca juga: Menjadi WNI dengan Utuh: Luka, Kesempatan, dan Tanggung Jawab yang Menguji Cinta | Akar Kehidupan #37

Sudah Merdeka - kah?
Sudah Merdeka – kah?

Sudah Merdeka – kah dari Prasangka, Ego, dan Pikiran yang Menghakimi?

Bicara soal ketakutan dan belenggu memang tidak terlepas dari keadaan dan itu bentuk penjajahan di era modern. Keadaan yang tidak baik-baik saja menjadikan prasangka buruk dan itu tantangan terbesar bagaimana tetap bebas dan merdeka.

Karena bagaimanapun akhirnya perlu sadar bahawa penjajahan yang paling sulit dikenali bukanlah sesuatu yang datang dari luar diri, tetapi dari dalam yaitu melalui ketakutan, prasangka, ego, dan pikiran yang terburu-buru menghakimi.

Pergeseran bentuk penjajahan ini tidak banyak orang memahami dan inilah yang membuatku ingin mengajak untuk lebih paham dan memiliki kesadaran bahwa penting untuk memerdekan diri atas ego, prasangka buruk dan pikiran yang menghakimi.

Perlu merdeka dari ego karena ia mengikat. Aku setuju apa yang ditulis halodoc bahwa ego cenderung bersifat posesif dan ingin menguasai. Sedangkan yang disebut hidup itu tumbuh dan bergerak tanpa menguasai.

Akhirnya,

Sudah merdeka -kah terjawab kembali pada diri sendiri untuk bagaimana bertanggung jawab atas kemerdekaan. Bagaimana merespon keadaan mulai dari prasangka baik dan menjadikan kebebasan membuahkan kebaikan.

Maka menggunakan kemerdekaan ini bukan sekadar untuk merasa bebas, tetapi untuk terus merawat diri, menumbuhkan kesadaran, dan memilih kebaikan. Karena mungkin, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika kebebasan yang kita miliki tidak hanya membebaskan diri, tetapi juga membuat kehidupan di sekitar kita menjadi lebih baik.

Jakarta, 17 Agustus 2026
Ditulis dengan cuaca panas sambil monitoring Bazar.

Baca Juga Tulisan Lainnya :

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses