#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

Takabonerate Surga Laut Indonesia Terlupakan dan Kisah Perjalanan Sejam Lagi Katanya

Takabonerate surga laut Indonesia, satu tempat menggores kisah, membawa pelajaran hidup yang sangat mendalam buatku. Sudut Sulawesi selatan yang tidak banyak orang tahu, tetapi memiliki pesona yang sangat indah.

Dalam series Rabu sebelumnya, aku menulis ada lima tempat di Indonesia yang ingin aku kembali. Takabonerate tidak aku sebutkan karena aksesnya butuh perjuangan.Sejujurnya aku ingin kembali, hanya sadar akan keadaan maka aku utamakan ke lima tempat tersebut.

Sebelum maut menjemput, pemilik hidup memanggilku kepangkuanku, harapan itu ada dalam langkahku dan jika hidup berbaik hati memberi kesempatan, tempat selanjutnya yang keenam ya Takabonerate Surga Laut Indonesia.

Baca Juga: 5 Tempat Indah di Indonesia yang Wajib Dikunjungi dan Selalu Ingin Kembali Lagi

Mengingat Takabonerate di minggu ini ketika aku sedang sadar, bagaimana hidup begitu adil memberi hal baik padaku. Di mana aku rasa banyak insan saat ini sedang merasakan, hidup sedang memberi rasa pahit.

Ketidakpastian ekonomi dan regulasi negeri ini, terasa meneguk sesuatu hal tidak ingin dirasa. Tetapi hidup memang tidak bisa diatur semau diri. Hanya diri yang bisa meresponnya seperti apa.

Konon memegang mimpi, harapan adalah bara terbaik untuk melangkah dalam kesukacitaan.

Dan mengingat perjalanan ke Takabonerate surga laut Indonesia, satu bara yang membuatku melihat betapa hidup itu manis.

Takabonerate Surga Laut Indonesia
Takabonerate Surga Laut Indonesia

Sekilas Takabonerate Surga Laut Indonesia

Sebagai orang yang punya prinsip tidak mau traveling ke luar negeri, sebelum bertemu setiap sudut negeri dari Sabang sampai Papua, aku sangat bersyukur dan bangga bisa bertemu dengan Takabonerate.

Banyak orang tahu kalau bawah laut Indonesia itu surga. Tetapi yang sering tersiar Raja Ampat, Wakatobi dan tempat-tempat umumnya, seperti Lombok, Bali. Tetapi kalau ditanya soal Takabonerate banyak yang tidak tahu.

Baca juga: Suka Menyelam di Bawah Laut, Tapi Belum ke Wakatobi? Rugi Banget! – Wajib #5

Karena itu mari mengenalinya sekilas, sebelum aku berkisah mengapa tempat ini membawa kekuatan dalam langkah di masa saat ini.

Taman Nasional Taka Bonerate, terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, adalah rumah bagi gugusan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajalein (Marshall Islands) dan Suvadiva (Maladewa). Luasnya atolnya mencapai 220.000 hektar, dengan hamparan terumbu karang yang membentuk 21 pulau kecil dan bunging serta laguna biru yang memesona.

Aku mengambil informasi itu dari situs resmi Takabonerate, tulisan salah satu teamnya yang pernah aku kenal. Satu hal yang membuatku jatuh cinta tempat itu, Bagaimana orang-orang disana memiliki jiwa sejatinya negeri ini. Ramah dan suka menolong. Termasuk team taman laut disana. Asri salah satunya, selain menulis, setiap fotonya membawa rindu. Indah.

Foto dibawah ini juga diambil dari situs resmi Taka. Apa yang tergambar disini sama dengan apa yang aku alami saat itu. Bermain-main dibawah laut Takabonerate sangat betah, penuh energi.

Betapa bangga dan bahagianya diri sudah menikmati surga laut Indonesia. Satu terbaik bumi pertiwi yang aku cintai ini.

Takabonerate Surga Laut Indonesia

Bagaimana cara kesana?

Menuju Takabonerate surga laut Indonesia memang tidak mudah. Lihat saja gambar dibawah ini, letaknya saja sudah di sudut. Jika Wakatobi terletak di sebelah kanan kaki Sulewasi, sedangkan Takabonerate terletak di kaki kirinya.

Akses Takabonerate Surga Laut Indonesia

Menuju kesana dimulai dari terbang ke Makasar dan lanjut perjalanan menuju kota Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar. Untuk Lebih detail silahkan baca informasinya di situs resminya.

Kisah Perjalanan dengan Sejam Lagi Katanya

Sejam lagi,

Jawaban salah satu awak kapal seperti memberi harapan pada kami. Di mana saat itu perjalanan kami ke pulau Tinabo, membuat jantung mau copot. Bagaimana tidak, perjalanan normal selama 4-5 jam naik kapal, tapi fakta yang terjadi adalah 6 jam di kapal terombang ambing.

Keadaan gelombang saat itu cukup tinggi karena pemandu kami mengatakan, pada saat brief sebelumnya bahwa BMKG kearah sana berwarna merah, yang tandanya gelombang tinggi dan kami akan berasa seolah digoreng dalam lautan, begitu istilah awak kapal gunakan.

Digoreng selama enam jam dalam laut yang sangat tinggi, pertanyaan kapan sampai tidak henti keluar. Dua jam pertama gelombang cukup tinggi tapi masih bisa dihadapi dengan canda tawa. Tetapi ketika di jam selanjutnya, saat gelombang hampir membuat kapal kami tenggelam, saat itulah kapan sampai tanpa sadar terus terlontar.

Sejam lagi, katanya.

Seperti sebentar lagi, bertahanlah. Awak kapal dan kapten tentu saja tenang menghadapi situasi itu. Mereka sudah tahu tujuan, berulang kali kesana. Sedangkan kami, belum pernah sama sekali ke pulau Tinabo, satu bagian dari Takabonerate surga laut Indonesia yang tidak banyak orang tahu.

Tentu saja rasa khawatir merasuk pada diri kami ketika berada badai gelombang laut.

Walaupun sebelum berangkat sudah diberi tahu kalau gelombang akan tinggi, tetap saja saat mengalami seperti tekanan hidup yang tak pernah memberi ruang untuk bernafas.Setengah kawanku yang ikut trip saat itu muntah, sedangkan yang lain memang sudah terbiasa dengan gelombang.

Tetapi rasa khawatir ada. Termasuk aku sendiri. Saat itu aku berpikir, sebagai leader trip apakah aku salah memutuskan tetap pergi ke Tinabo dengan cuaca seperti itu atau memilih tempat lain.

Karena aku terbiasa percaya sama orang setempat, feeling dan intuisiku mengatakan jalan ya sudah kami lanjut.

Hanya doa-doa terbaik kami panjatkan selama di goreng oleh gelombang tinggi saat itu. Setelah pasrah dengan keadaan tibalah kami ke pulau yang begitu mempesona.

Takabonerate Surga Laut Indonesia
Takabonerate Surga Laut Indonesia

Syukurku tak terhingga ketika sampai pulau Tinabo, satu bagian dari Takabonerate surga laut Indonesia yang tidak banyak orang ketahui. Aku sudah berpikir untuk memberi rehat sejenak sebelum lanjut acara sesuai iten ke peserta. Tetapi ternyata kawan-kawan sepertinya lupa akan ketakutan dan penatnya selama berjibaku rasa dengan gelombang selama enam jam.

Mereka langsung bersukacita dan berlarian menikmati indahnya pulau Tinabo.

Sebentar lagi, Bertahanlah.

Kemudian bersama kisah perjalanan Takabonerate surga laut Indonesia, mengingatkan akan keadaan saat ini. Seperti gelombang yang membuat jantung seperti lepas. Khawatir, capek dan segala rasa tidak nyaman hadir.

Tanya kapan berakhir, kapan berubah kelebih baik, mungkin jadi pertanyaan saat ini.

Dengan kisah perjalananku, mungkin yang perlu diingat tujuan dan percaya bahwa hal indah sedang menunggu.

Kalau Takabonerate berkata, sejam lagi, hidup mungkin berkata, sebentar lagi, bertahanlah dalam baikmu.

Tidak ada kata selamanya dalam kehidupan, semuanya akan berganti. Seperti siang akan datang malam. Namun perlu untuk disadari bahwa diantara itu selalu ada keindahan. Seperti senja Takabonerate surga laut Indonesia ini. Sempurna.

Takabonerate surga laut Indonesia

Akhirnya,

Keadaan mungkin tidak bisa diatur, segala hal sudah diupayakan tetapi tetap saja seperti buntu. Mungkin saatnya untuk berserah memberi kehidupan mengaturnya.

Bertahanlah, Sebentar lagi.

Peran diri bagaimana tetap memegang bara harapan itu dan selalu prasangka baik pada hidup. Bahwa sebentar lagi akan diberi hal terbaik sesuai kebutuhan masing-masing.

Kalau Takabonerate surga laut Indonesia, adalah pengingat harapan, bara langkahku. Seperti gelombang yang mengguncang, hidup kadang tak bisa ditebak. Tapi di ujungnya, selalu ada keindahan. Sebagai bagian Peta Rasa Sukacita.

Baca juga: Peta Rasa Sukacita: Merawat Rasa dalam Series Refleksi Rabu Hidup Berkehidupan

Kalau kamu, adakah kisah membawamu pada harapan dan bara mimpimu sebagai peta rasa? yuk ceritakan di kolom komentar, mungkin bisa jadi bara harapan untuk yang lain juga.

Pasar Minggu, September 2025
Ditulis setelah hujan besar, mengingatkan perjalanan enam jam dalam badai.

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

9 Responses

  1. Keren bnaget ya bawah lautnya Takabonerate. Tapi memang namanya belum terkenal. Saya saja baru dengar sekarang ini. Di Sulawesi selama ini yang terkenal kn Bunaken.

    Cerita terombang-ambing di laut itu pakai kapal besar atau kecil mbak? Kebayang kalau kapalnya kecil sengeri apa. Saya dua jam menempuh gelombang besar dari Bali ke Gili Trawangan naik fastboat aja sudah ketakutan. Untung pas pulamg fastboat dilarang operasi karena gelombang besar. Jadi baliknya naik kapal Ferry dari Pelabuhan Lembar.

  2. Waduh, baca ceritanya kok jadi ikut ngerasa deg-degan ya. Perjalanan ke Takabonerate-nya emang bener-bener perjuangan. Salut banget sih aku sama kak nik iniiiiiih! Tapi bener lho, dari pengalaman yang berat kayak gitu, pasti ada pelajaran yang ngena banget. “Sejam lagi, katanya” itu jadi kalimat yang powerful banget. Mirip kayak hidup, kadang kita cuma butuh tahu kalau penderitaan itu enggak akan selamanya. Ada keindahan yang nunggu di ujungnya, kayak indahnya Takabonerate setelah enam jam digoreng ombak. Makasih udah berbagi, ceritanya bikin merinding sekaligus ngasih harapan. Keren!

  3. Indah sekali pemandangan laut dan area bawahnya Takabonerate 🤩🤩🤩 aduhai dibuatnya ku jatuh cinta. Mari langitkan doa semoga aku bisa kesana entah gimana caranya semesta buka jalannya 😇Terpikat ingin menyaksikan segala indah dan ramah nya warga sekitar.

    Benar mba, perjalan ke laut itu menantang sekali. Prediksi BMKG seringnya tepat dan terombang-ambing rasa tergoreng di lautan lepas selama itu pastinya bikin was-was. Tetapi ku salut sama kapten kapal yang bisa tetap tenang dan berusaha mengemudi sebaik mungkin. Akhirnya sampai juga ✨ turut bahagia dan lega.

    Begitulah yaa, sering melaut pasti paham gimana rasanya terombang-ambing. Dalam hidup pun nggak jauh beda, kayak sekarang bisa dibilang masa krisis ku belum kelar. Tapi aku tetap berusaha yakin dan bertahan karena aku percaya ada keindahan dan kebaikan setelah ujian.

    Terima kasih sudah mengajak menjelajah laut Indonesia yang super indah dan bisa dibilang hidden gem karena perjuangan menuju lokasi pun amat sangat wow sekali.

  4. Cakep viewnya, yang jadi penawar tatkala harus berkutat kapan kapal bisa bersandar.
    Mantap kali itu kak, berada selama 6 jam dengan gulungan ombak.
    Daku selama kurang lebih setengah jam kapal belum bersandar di Merak dari Bakauheni aja, mulut udah komat-kamit berdoa huhu. Apalagi pas lihat air laut deket banget sama jendela kapal 😥 kala itu.

  5. Takabonerate Surga Laut Indonesia ini memang sangat cantik ya mbak
    Lautnya memiliki sejuta pesona yang sayang untuk dilewatkan
    Wah, prinsip mbak Nik keren banget. Menghabiskan tiap sudut Indonesia itu menjadi semangat tersendiri untuk terus melangkah ya mbak

  6. Aku juga sering begini, ka Nik..
    Saat merasa kesulitan yang sangaattt.. aku suka mikiirr.. “Ayook.. bisa yook.. bertahan sedikiitt lagii.. uda hampir sampai niih..”
    Meskii.. in reality.. belum kecapai jugaa… Tapi beneraaan… gak ada yang namanya kesulitan tanpa akhir. Selalu ada akhirnya, bagaimanapun yang terjadi.. ya itulaah takdir seseorang.

    Dengan banyak berkisah bersama alam, kita jadi bisa ikut mengambil kebaikan-kebaikan yang tlah diberikan Ilahi dalam bentuk kebajikan dan kebijakan.

  7. Paham banget rasanya terombang-ambing dalam ketidakpastian di tengah laut, mbak. Rasanya seperti sedang naik gunung, tapi lebih parah. Kalau naik gunung kita bisa kontrol perjalanan kita sendiri, kita menapak daratan yang jadi tempat kita hidup, saat naik kapal kita benar-benar tak punya kontrol dan risikonya lebih tinggi.

    Puji Tuhan tiba dan pulang dengan selamat.

    Nama Takabonerate ini sempat digandrungi kalangan travel blogger beberapa tahun lalu. Sekarang namanya memang makin jarang tersiar.

  8. Aku salah satu yang baru denger Taka bonerate ini mbak. Kyknya selain tempat2 yang udah terkenal kek di papua, dll, masih banyak lokasi wisata laut cantik di Indonesia. Tapi ya gitu, masih banyak yang gak terjangkau sama semua orang. Apalagi tiket bepergian ke sana gak murah heuheu. Tapi di satu sisi dengan gak banyak org ke sana, tempatnya masih cukup terjaga kealamiannya ya #imho.
    Btw kadang orang setempat lebih paham soal cuaca ya ketimbang org BMKG haha. Soalnya ilmu pengamatannya keknya diturunkan bertahun2 dari para leluhurnya terdahulu hehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink