#Hidup Berkehidupan

Karena Hidup Tak Hanya Tentang Saya

TJ Bandara SH2: Perjalanan Blok M ke Soekarno-Hatta dalam Dialog Ketakutan dan Percaya

Perjalanan TJ Bandara SH2 dari Blok M ke Soekarno-Hatta bukan hanya soal pengalaman baru, tapi diingatkan kembali tentang bagaimana ketakutan dan percaya menjadi nafas di setiap langkah kehidupan.

Ketakutan, Khawatir sebuah cerminan ketidakpercayaan
pada pencipta kehidupan

Kalimat ini sering aku katakan pada siapapun yang memiliki khawatir yang berlebih dan menjadi akar tulisanku kali ini. Pengalaman menikmati TJ baru rute Blok M ke Bandara Soekarno-Hatta, bersama kawan yang ternyata sudah dua tahun tidak bertemu.

Pertemuan yang sungguh dadakan melebihi tahu bulat. Berawal dari komennya dalam tulisan lainnya tentang pengalamanku melakukan TJ dari Sunter Kelapa Gading sampai ke Mall Puri Indah.

Baca Juga: Naik TJ Kelapa Gading ke Puri Kembangan – Menemukan Jakarta dengan Rasa Berbeda

Aku membaca komennya ketika selesai dari RSUD Pasar Minggu dan langsung telepon menyambut keinginannya mencoba TJ rute Blok M Bandara. Dan aku sendiri juga sudah merencanakan akan mencobanya karena teracun dengan konten IG dan tulisan Lala.

Baca juga kisahnya: Menuntaskan Rindu dengan Suasana Bandara dan Mencoba Rute Baru Dari Blok M – Lalakitc

TJ Bandara SH2
Pemberhentian terakhir TJ Bandara SH2

Pengalaman Rute Baru dan Perjalanan Naik TJ Bandara SH2 dari Blok M ke Soekarno-Hatta

Perjalanan naik TJ bandara SH2 seperti takdir, tidak ada rencana sedikitpun bersama kawanku ini. Jangankan punya rencana bertemu ke arah bandara, janjian untuk bertemu di tengah kota Jakarta saja sulitnya luar biasa.

Kawanku sempat ragu saat aku meneleponnya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Namun aku meyakinkannya bahwa masih ada waktu, hingga akhirnya kami sepakat bertemu di halte GBK.

Karena aku berangkat dari arah Pasar Minggu, perjalananku menuju bandara tidak bisa langsung, aku perlu transit di beberapa halte.

TahapRute & KoridorDari – KeTransit/TurunKeterangan
19D (Pasar Minggu – Tanah Abang)Halte Pasar Minggu → arah Tanah AbangTransit di Halte PancoranNaik dari Pasar Minggu, turun di Pancoran untuk lanjut rute berikutnya
29C (Pinang Ranti – Bundaran Senayan)Halte Pancoran → arah Bundaran SenayanTurun di Halte DKI Senayan (GBK)Lanjut perjalanan menuju area Senayan
3SH2 (Blok M – Bandara)Halte pinggir jalan dekat GBKMenuju Bandara Soekarno-HattaKeluar halte TJ, jalan ke halte pinggir jalan, lalu naik bus SH2 ke bandara

Kami berangkat dari halte GBK pukul 13.30, dan perjalanan siang itu terasa cukup lancar. Setelah dua tahun tak bertemu, obrolan kami mengalir begitu saja, hingga tanpa terasa bus sudah melaju di tol menuju bandara. Saat aku melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 15.00.

Waktu tempuh kurang lebih satu setengah jam dan sepanjang jalan begitu banyak kabar dan update kehidupan masing-masing dan tersadar lagi sudah memasuki area bandara. Ada beberapa titik atau halte yang nanti kalau ada kesempatan ingin mencoba turun disana.

Titik terakhir TJ Bandara SH2 di stastiun kereta bandara dan karena kami tidak punya rencana apapun, aku sendiri sempat bingung setelah itu mau kemana. Setelah diskusi cukup lama, akhirnya memutuskan mencari coffee shop yang bisa melihat pesawat lalu lalang.

Kemudian kami naik Kalayang (Kereta Layang) ke terminal 3 (T3). Ini kedua kalinya aku naik kalayang dan kali ini aku lebih menikmati karena tujuannya memang hanya menikmati perjalanan. Tidak seperti sebelumnya, karena lelah dari luar kota sehingga tidak terlalu memperhatikan sekeliling.

Setelah sampai terminal 3, sedikit bingung menemukan coffee shop yang bisa langsung melihat penerbangan. Akhirnya bertanya ke petugas, kemudian menemukan OldTown White Coffee Terminal 3 Lt. 2 area  Ultimate Food Terminal.

Baca juga: Prasangka baik cahaya dalam gelap – Kisah Transportasi umum – Tentang keadilan hidup – 2025

OldTown White Coffee dan TJ Bandara SH2
Naik TJ Bandara SH2 ke OldTown White Coffee

OldTown White Coffee dan Senja: Dialog Ketakutan dan Percaya

4.15 WIB, aku melirik jam tanganku saat duduk dan sambil menunggu pesanan datang, dialog kami berlanjut. Sebut saja Dina, kawan lama yang kukenal di kantor kedua. Sudah puluhan tahun lalu. Seseorang yang membantuku dan saksi bagaimana aku tetap membantu perusahaan tanpa menerima upah.

Baca kisahnya: Semua Akan Kembali Padamu – Rahasia Waktu – 2016

Walau ada perbedaan masa kerja, Dina lebih dulu mengenal dunia kerja sedangkan waktu itu aku baru mulai mengenal dunia pengabdi gajian. Saat itu sebagai junior aku banyak belajar dari Dina.

Bersama coffee dan makanan ringan, kami mengenang dalam dialog mendalam, aku mendapati sebuah kenyataan kalau kawanku ini memiliki ketakutan dalam melangkah. Berbeda denganku yang lebih berani melangkah dan menerima segala resikonya.

Boleh dibilang karakter kami jauh berbeda tetapi kasih kami satu sama lainnya tetap sama.

Sampai tulisan ini dibuat, dalam puluhan tahun di dunia corporate sudah hampir sembilan perusahaan aku jalani dan sedangkan Dina hanya dua perusahaan. Terlihat bagaimana perbedaan keberanian diantara kami.

Kemudian kalimat akar diatas bahwa ketakutan adalah cerminan ketidakpercayaan akan pencipta membuat kawanku terdiam. Namun di sini aku tidak membuatnya menyesal tetapi lebih bagaimana hal itu perlu untuk menguatkan kesadaran.

Yang lalu sudah berlalu dan bagaimana kedepannya itu yang lebih penting.

Semua dialog bertujuan selanjutnya lebih berani untuk melangkah dan percaya hidup punya cara mengatur untuk kebaikan walaupun mungkin langkah itu sendiri tidak tepat.

TJ Bandara SH2
TJ Bandara SH2 dan Bertemu senja

Dialog hangat dan mendalam tak terasa mengalir, bersama lalu lalang pesawat garuda yang tepat berada di hadapan OldTown White Coffee dan mentari sore semakin redup. Dalam dalamnya dialog saat itu, aku menyempatkan melihat senja yang memanggil untuk diabadikan.

Cerita pengalaman menikmati TJ bandara SH2 mengantarkanku pada satu kesadaran, hidup memang seindah itu mengatur tentang hak dan pertemuan dadakan yang sungguh menyegarkan jiwa.

TJ Bandara SH2
TJ Bandara SH2 dan blue momen

Pertemuan yang Menyegarkan Jiwa: Belajar Kembali ke Akar

Setiap perkara kehidupan turut bekerja dalam mendatangkan kebaikan

Kalimat akar menjadi lanjutan tentang ketakutan dan percaya. Hal ini perlu untuk diingat untuk berani melangkah. Percaya bahwa semuanya hal dalam hidup dalam alurnya, hanya perlu melihat kembali bagaimana memiliki ketulusan dalam bertindak.

Mentari sore saat itu berlalu dan blue momen hadir mengingatkan kami untuk segera kembali. Berterima kasih untuk hari yang begitu indah. Pertemuan yang menyegarkan jiwa, dialog mendalam dan berjam-jam mengajak kembali pada akar.

Bersama sang pencipta kehidupan, berjalan bersama-Nya semuanya akan baik-baik saja.

Tepat jam 6.00 sore kami kembali ke stasiun bandara dengan naik kalayang dan menyenangkan sekali bisa melihat perjalanan malam dari belakang petugas.

 TJ Bandara SH2
TJ Bandara SH2 dan naik Kalayang

Akhirnya

Pengalaman perjalanan dengan TJ bandara SH2 mengingatkan akan makna ketakutan dan percaya. Melihat bagaimana kehidupan punya cara untuk mempertemukan dan semua diawali dengan keberanian.

Terima kasih sudah membaca ceritaku dan adakah punya pengalaman yang sama, dalam perjalanan yang tiba-tiba menemukan sesuatu yang sangat berharga? Yuk cerita di kolom komentar.

Jakarta Selatan, April 2026
Ditulis sambil memikirkan tugas selanjutnya dan rangkai untuk series Jumat, Kembali ke Akar

Kasih Semangat

Mungkin tulisanku tidak sempurna tapi jika itu menyegarkan, kamu suka, iklas membuatku lebih rajin menulis dengan berbagi rejekimu, silahkan ya.

BCA Ratmini 8831921978 || GoPay, +6281317616161

artikel lainnya

2 Responses

  1. Perjalanan yg menyenangkan.. Memang semua yg digoreng dadakan lebih nikmat yaa.. Hehe.. Terimakasih untuk tulisanmu, mengingatkan untuk lebih percaya kepada Sang Pemberian Kehidupan, dan tidak khawatir akan apapun juga.. GBU.

  2. Itulah kenapa, aku sering bepergian mendadak kalau memang ada waktu senggang dan luang Mbak. Di perjalanan aku menemukan banyak hal diluar dugaan.

    Bisa memperhatikan banyak hal, bahkan yang terasa remeh-temeh pun bila di lihat dari dekat dengan sudut pandang berbeda, menarik kasih tambahan persepektif.

    Bersyukur dan turut senang, akhirnya mbak Nik dan teman kantor lama bisa kembali berjumpa dan mencoba Tije SH2 Blok M Bandara Soekarno-Hatta. Ternyata waktu yang mbak habiskan jauh lebih lama, macet ya? Soalnya aku sekitar 55 menitan sudah sampe pemberhentian terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Subscribe Newsletter

Daftarkan email kamu, dapatkan update terbaru di email.

Subscription Form

Artikel Terbaru

Tentang Saya

Seedbacklink