Ullen Sentalu hadir sebagai kejutan ulang tahun di tengah dunia yang riuh dan berisik. Sebuah tempat tenang yang kutemukan tanpa rencana. Memetakan rasa sukacitaku dalam 48 Tahun.
Walau terlihat begitu ugal-ugalan mengatur alurnya,
Kehidupan belum kehilangan cara mencintai. Ia tetap membuktikan kalau prasangka baik memiliki kenikmatan.
Masih ada sinar di tengah awan kelabu, masih ada air mengalir ditengah keringnya sungai dan masih ada kebaikan ditengah riuhnya suara memperjuangkan diri sendiri yang utama.
Bertemu Ullen Sentalu seperti mimpi dan berulang kali aku memastikan diri pada saat itu, benarkah aku berada di tempat itu. Aku sendiri juga heran, mengapa begitu berulang ke Jogja, tempat ini seperti terabaikan. Ada saja agenda-agenda lain.
Bahkan pada di satu waktu, aku sempat mencari tempat untuk menjauh sejenak dari keramaian Jogja, sedikitpun tak terlintas tempat ini, tetapi sejatinya ketika diluar Jogja, Ullen Sentalu selalu ingin dikunjungi. Sungguh aku heran atas itu.
Karena itu ketika awal Januari lalu aku di ajak kesini, girangku luar biasa.
Baca juga: Kisah Perjalanan 5 Kota dalam Sebulan: Bertumbuh dengan Bergerak di Tengah Ketidakpastian

Awal Kisah Pertemuan Ullen Sentalu
Sebut saja Maria, salah satu team tempat aku bekerja sebagai Leader di satu perusahaan. Tahun belakangan komunikasi kami tidaklah banyak. Ada banyak hal yang membuat terjadi hal itu, antara kesibukan dan hal-hal lainnya.
Maria ini orang Jogja, orang tuanya tinggal di kota ini. Hanya dia kuliah dan setelah lulus kerja di Jakarta. Di Ibu kotalah dalam satu perusahaan itulah kami bertemu dan menjadi satu team.
Selama mengelola perusahaan, gadis cantik ini salah satu orang andalanku, terutama terkait soal keuangan. Karena Dia memang bagian Finance dan Keuangan. Aku sangat terbantu adanya Maria.
Usia kami terpaut puluhan tahun, tetapi tidak membuat jarak diantara kami untuk saling mendukung, tidak hanya soal kerja tapi hal-hal lain diluar itu. Walau saat itu sebagai leader, secara status sosial kami jauh berbeda. Ia pun bekerja di tempat itu seperti hanya mengisi waktu dan ada alasan personal lainnya.
Sejatinya, keluarganya sudah lebih dalam keuangan. Karena itu aku cukup kesulitan membalas semua kebaikannya di saat momen besar. Seperti contohnya, Natal, tahun baru serta ulang tahun, ia selalu memberi hadiah. Aku sendiri hampir belum sempat membalasnya. Niat itu ada, tapi ada saja halangannya.
Begitu sekilas kisah dibalik pertemuan seorang gadis muda yang masih umur dua puluh tahunan. Menjadi satu pribadi yang dipakai hidup, membuat langkahku berbinar dan penuh sukacita. Khususnya di genap usiaku 48 tahun.
Kembali pada bagaimana awal kisah pertemuan Ullen Sentalu.
Sore itu tanpa berharap banyak untuk bisa bertemu, karena sadar komunikasi kami tidak terlalu sering, aku beranikan diri menyampaikan kalau saat itu berada di Jogja dan jika ada waktu, kiranya bisa bertemu.
Jawabannya membuatku senang. Hal yang dia tanya selanjutnya.
“Bu mau makan apa, tempatnya modern apa klasik”
Tentu saja soal tempat aku lebih suka klasik, apalagi di Jogjakarta. Soal makan, apa saja aku mau karena memang boleh dibilang pemakan segala. Tidak terlalu milih.
Esoknya, tepat jam 10 pagi, Maria sudah menjemputku di tempat aku menginap.
Baca Juga: Menikmati Dirty Latte di Hitam Manis Jogjakarta -Rahasia Lapisan Rasa yang Menyatu
Sebelum lanjut bagaimana Maria menjamuku di Ullen Sentalu dan seharian penuh membuatku senang, mari kenali sejenak tentang tempat yang meneduhkan.
Sekilas Tentang Ullen Sentalu
Museum Ullen Sentalu diresmikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Paduka Paku Alam VIII, pada 1 Maret 1997. Mengutip dari situs resminya, nama “Ullen Sentalu” merupakan akronim dari falsafah Bahasa Jawa Ulating Blencong Sejatining Tataraning Lumaku, yang bermakna “terang adalah penuntun jalan kehidupan.”
Jam operasional museum:
Senin : Tutup
Selasa–Minggu : 08.30 – 16.30 WIB
Tur terakhir : 15.15 WIB
Informasi lengkap mengenai kunjungan dan tur dapat dilihat melalui situs resminya: https://www.ullensentalu.com/
Museum ini terletak di kawasan Taman Wisata Kaliurang, sekitar 25 km di utara pusat Kota Yogyakarta. Aku sendiri pertama kali mengetahui tempat ini dari media sosial, dan yang paling membekas ketika seorang penyanyi, Andien, pernah bercerita tentang pengalamannya di sana.
Namun yang membuatku benar-benar ingin datang bukan semata museumnya. Dari kejauhan saja, tempat ini seperti memancarkan energi yang teduh, menenangkan, tanpa banyak suara. Seolah ada sesuatu yang memanggil.
Seperti artinya tempat ini begitu nyata, terang penuntun kehidupan.
Baca juga: Sabtu Pagi di Jogja: Saat Kehidupan Baru Mulai Bernapas—Bisa Ngapain Aja (Series 31)

Ketika Cinta Kehidupan Merangkul 48 Tahun
Mobil Maria meluncur dari kota menuju dataran tinggi Jogjakarta, sedikitpun aku tidak terbersit, kalau di ajak ketempat yang ingin aku kunjungi tetapi terlewat terus. Sepanjang jalan asyik update kehidupan, perjalanan yang cukup jauh tidak terasa.
Tiba-tiba ketika aku turun, mendapati tulisan Ullen Sentalu aku langsung loncat. Lupa dengan umur, lupa orang-orang melihatku. Begitulah, aku memang sangat ekspresif, karena itu kadang hal paling membuatku penuh tantangan, ketika perlu bersikap manis dengan sesuatu tapi sejatinya hati sedikit kesal.
Maria heran dengan polahku, dia tidak menyangka tempat ini membuatku sesenang itu. Aku seperti bertemu dengan air. Binarku begitu jelas. Apa yang aku bayangkan sebelumnya tentang Ullen Sentalu, sama percis aku rasakan ketika ada disana.
Energi tenang, nyaman dan teduh merangkulku. Aku berpikir, orang yang punya dan merawat tempat ini memiliki hati yang murni, utuh dan begitu menyayangi alam semesta.
Setelah berpotret di tulisan Ullen Sentalu, kami melangkah masuk melalui lorong rimbunan pohon, indah sekali. Dan ketika penapaki restonya, rasa sayang itu menyambut. Interior bangunan terlihat klasik tetapi tetap apik. Kayu tua sebagai bahan utama dalam resto itu terlihat sekali memiliki jiwa yang kuat.
Benar saja, ketika kami berusaha menggeser bangku, terasa berat sekali. Membuktikan betapa kayu yang dipakai itu berumur sudah puluhan tahun.

Kami pesan makanan berat, karena memang tujuan utama Maria mengajakku kesana untuk makan siang. Harga yang aku lihat di menu kisaran di atas delapan puluhan dan untuk steak sendiri ratusan ribu.
Soal rasa buatku sesuai dengan harga dan tempat. Enak tetapi bukan yang sangat istimewa seperti resto khusus makanan. Kalau aku lihat orang makan disini, memang ingin menikmati suasana dan secara rasa bukan hal utama tetapi tidak mengecewakan.

Tentu saja setelah makan aku pesan kopi hitam tanpa gula, sebagai penutup makan. Hal yang aku lakukan dalam setahun ini.
Rasa kopinya aku suka dan Maria membiarkanku menikmati suasana resto dan kopi. Tidak terlalu banyak dialog yang kami lakukan. Rasaku sedang berkencan dengan suasana resto Ullen Sentalu.

Sukacitaku penuh dan foto ini bukti bagaimana syukurku atas kehidupan. Tidak menyangka diberi kesempatan datang ke sini dan dijamu oleh seorang anak yang sudah lama tidak berkomunikasi.
Melihat Area Ullen Sentalu
Setelah makan, langkah kami mengarah ke butik, terlihat sepi dan semua product yang di pajang kualitasnya premium. Jika ditanya, apakah productnya layak dibeli, buatku itu sangat layak dan productnya sangat bagus dan harganya pantas. Hanya saja di ekonomi saat ini, membeli sesuatu itu butuh perhitungan.
Ada hal yang menarik di butik tersebut, dalam area tidak boleh di foto, tetapi di luarnya di persilahkan.
Lalu langkah kami mengarah ke tempat yang menjadi ikon dan tentu saja kami berfoto. Hanya saja, Maria tahu kalau aku suka di foto untuk kebutuhan menulis, dia yang lebih banyak menjadi tukang foto dan aku dibiarkankannya berpose sebanyak-banyaknya.

Karena merasa saat itu sedang di jamu oleh Maria, aku tidak berkeinginan lebih jauh, menghabiskan waktu mengenal lebih detail tentang Ullen Sentalu secara langsung. Kelak jika waktu mengizinkan, aku ingin kembali dan lebih detail dan dekat berkencan dengannya.
Suprise Birthday Seharian Penuh
Kaki kami memasuki area parkir dan mobil Maria meluncur keluar ke arah warung Jadah tempe, makanan khas Kaliurang, tetapi ternyata belum rejekiku menikmati, warung yang di tuju tutup. Jadilah mobil balik arah dan kembali ke area kota.
Dalam perjalanan, kembali update kehidupan mewarnai percakapan kami. Satu hal yang membuatku tertawa terbahak, ketika aku dengan santainya berceloteh tentang film Titanic, ia mendengarnya tanpa ada rasa antusias seperti aku yang begitu bersemangat.
Setelah sadar, ternyata generasi kami sangat jauh berbeda. Usia kami selisih dua puluh tahun lebih. Aku langsung ngakak dan berkata, pantas saja tidak mengerti. Lalu, arah percakapan di ganti dengan hal lain. Di tengah itu, Maria bertanya,
“Bu, mau es krim atau kopi”
Tentu saja aku memilih kopi. Jadilah mobilnya meluncur ke satu coffee shop di area pasar beringharjo. Coffee shop dengan terkenal dengan cakenya.
Memasuki areanya aku suka, interiornya terlihat mewah dan saat itu tamu yang ada cukup ramai. Ternyata ada group yang booking tempat. Saat itu kami sempat menunggu cukup lama untuk mendapatkan meja.
Setelah mendapatkan meja, langsung pesan dan sambil menunggu, kami bercakap-cakap. Sedang asyik, seorang pelayan datang membawa kue dengan lilin dan suprise. Aku cukup kaget dan itu lilin pertama yang aku tiup bersama orang di sampingku. Karena sebelumnya, di Jepara aku meniup lilin hanya sendiri, tanpa seorang pun di sekitar yang mengucapkan selamat.
Baca Juga: Tahun ke-10 Menghilang saat Ulang Tahun – Sebuah Catatan Tenang dari Jepara

Setelah menikmati kopi, cake birthday dan sore-pun menjemput. Aku diantar kembali ke tempat menginap dan lagi kejutan hadir, mau turun aku diberikan kado. Aku tidak bisa berbicara apapun lagi, selain terima kasih.
Seharian di jamu dengan makan siang di Ullen Sentalu, suprise birhday di coffee shop dan di kasi kado khusus. Kemudian aku sadar, kehidupan selalu punya cara untuk membuatku terus hidup dengan penuh sukacita. Ada saja kejutan manisnya.
Jika tahun lalu kehidupan merangkulku dengan di beri hadiah traveling Labuan Bajo, tahun ini aku bisa menikmati makan siang di Ullen Sentalu dan di jamu di Jogjakarta seharian.
Baca Juga: 4 Hari 3 Malam di Labuan Bajo – Hadiah Indah Ulang Tahun
Peta Rasa Sukacita ke 34
Kisah Ullen Sentalu aku abadikan sebagai catatan sebagai peta rasa sukacita yang penuh. Di sadarkan hidup, ditengah pemurnian ia masih punya cara membuat langkah tetap bergairah.
Terima kasih banyak Maria, sudah dipakai waktu untuk memperlihatkan, bahwa hidup tetap adil dan kiranya kemudahan selalu menyertaimu. Sehat dan berkat kebaikan selalu bersamamu.
Dan kamu,
Terima kasih juga sudah membaca sudah sampai habis.
Ini kisahku dan bagaimana denganmu, adakah kisah yang menyadarkan bahwa hidup tetap indah. Cerita yuk di kolom komentar.
Bogor – Awal Februari 2026
Ditulis sambil berjuang melawan flu yang seenaknya mau datang, ditengah hujan datang dan pergi.


15 Responses
Sesuai namanya, penuh sukacita Kak Nik menceritakan Ullen Sentalu, yang jadinya menularkan kepada daku sebagai pembaca rasa bahagia itu.
Bukan tentang kopi, tapi kebahagiaan bersama rekan yang asyik seperti Kak Maria, yang mesti sedang berbincang soal film Titanic kurang konek hehe, tapi kalau tentang yang lain nyambungnya apik ya.
Wah senang sekali pasti diajak ke Ullen Sentalu, tempat yang sudah lama pengen dikunjungi. Apalagi setelah itu masih diberi suprise birthday cake dan kado. Benar-benar seharian dirayakan ulang tahunnya.
Btw saya baru tahu kalau Ullen Sentalu ada restonya.
Langsung ngepoin semua tentang Ullen Sentanu. Nampaknya, kalau nanti anakku besar dan daku bisa solo traveling lagi, tempat ini akan jadi destinasi favoritku. Lokasi yang tepat untuk memulihkan energi bapak-bapak berumur tigapuluhan dengan energi sendu, hiyahahaha.
Mbak Maria yang sabar ya.. memang begitu kalau gap umurnya agak jauh, jadi suka nggak klik jokesnya. Pun saya juga merasakan kalau ngejokes depan para genz dan alpha. Kagak ada yang konek wkwkwk
Cerita Mbak Nik kali ini terasa seperti pengingat lembut bahwa kehidupan masih punya cara mencintai kita, bahkan di usia yang matang.
Ullen Sentalu, pertemuan dengan Maria, dan kejutan kecil di hari ulang tahun menunjukkan bahwa kebahagiaan sering hadir lewat perhatian yang tulus dan ruang yang menenangkan.
Membaca tulisan Mbak Nik ini, rasanya aku ikut diingatkan untuk lebih peka pada hadiah-hadiah kecil dari hidup.
Tfs Mbak Nik.
Mbak Nik, lekas pulih dari flu nya ya.
Aku baca ini malam hari dan rasanya ikutan happy banget deh sama cerita mbak dapat surprise dari Maria. Baik banget sih dia yaampun 🤩🤩🤩
Seneng nya bisa ke tempat yang disemogakan di momen berkesan. Ullen sentalu, tempat yang aku dan kak Rere kunjungi juga setelah mbak Nik lanjut ke Coffee shop sepertinya.
Salut sama mbak, selalu bisa berpikir positif dan banyak hal baik berdatangan. Semoga tahun ini banyak hal baik menyertai langkah demi langkah mbak ya. Semangat terus.
Saya suka sekali namanya Mbak Nik. ullen Sentalu. Enak diucapkan dan enak didengar . Seperti suasananya. Dan saya suka cara Maria menjamu Mbak Nik dengan selalu memberi dua alternatif yang bisa dipilih. Jadilah Mbak Nik menikmati sesuai keinginan. Tempat klasik yang menyenangkan dan kopi yang menenangkan
Menurut saya kalau ke Jogja haruslah ke ullen sentalu ini karena ini merupakan salah satu museum terbaik di Indonesia dengan koleksi yang sangat lengkap dan juga gaya bercerita yang sangat menarik. Pastinya jadi pengalaman yang takkan terlupakan kalau berkunjung ke museum yang satu ini
Aku belum kesampaian ke museum ini kalau ke Yogya padahal anak-anak suka banget museum.. katanya di dalamnya unik dan nyeni banget yaa.. selamat ulang tahun mba nik!
Sepertinya embak nik bener2 ingin berkunjunh ke ulen sentanu ini ya , terlihat dari awal turun se excited itu. Kaliurang itu lumyan jauh ya , hampir selalu ke skip kalau ke Jogja
Lihat tempat yang teduh kayak ginj tuh adem bangeut kayaknya
Senangnya ke Yogyakarta dan bertemu orang istimewa serta merayakan kebersamaan di Ullen Sentalu. What a priceless moment.
Konsep Ullen Sentalu ini bagus ya. Museum, tapi tak lupa ada tempat nyaman tersendiri untuk menikmati kuliner di sana. The real 1 kali mendayung, 2, 3 pulau terlampaui
Di usia 40an, emg sudah selayaknya kita berdamai dgn hidup. Nggak usah ngoyo kalo kata org Jawa. Lbh menata hati, bnyk introspeksi dan mendekatkan diri dgn yang Maha Kuasa.
Datang ke museum Ullen Sentanu ini merefleksikan diri kita utk pasrah ke Tuhan. Utk lebih memaknai hidup lebih dalam. Dan lbh menata diri dan ibadah lbh banyak utk menyambut panggilan-Nya.
Smg di usia yang tidak lagi muda namun semangat harus tetap membara, rasanya kita harus tetap bersyukur atas pencapaian kita selama ini. Dan trs berusaha agar kita menjadi manusia yang terus memberi terang kepada sesama.
Ullen Sentalu menarik banget tempatnya ya Kak Niek,,,happy birthday buat kak Niek,,,semoga bahagia dan sukses selalu,,,sehat-sehat terus. Momen yang sangat berkesan dinikmati dengan penuh kesungguhan dan rasa tenang menghadirkan sukacita mendalam.
Mbak Nik selamat bertambah usia. Kiranya berkat Tuhan selalu menyertaimu dan melindungimu ya mbak
Btw jleb banget kalimat din awal artikel
Walau terlihat begitu ugal-ugalan mengatur alurnya,
Kehidupan belum kehilangan cara mencintai. Ia tetap membuktikan kalau prasangka baik memiliki kenikmatan.
Dan kuakui benar adanya mbak
Peluk dari jauh, reminder ini ngena banget
Jujur Aku kagum sama orang yang bisa bergaul dengan mudah dengan orang yang lebih tua darinya. Karena pastinya kan ada gap ataupun perbedaan cara komunikasi antara generasi kayak gitu selamat ulang tahun ya mbak semoga berkah selalu usianya.
Ullen Sentyalu ini salah satu wishlist aku yang belum kesampaian. Padahal sudah beberapa kali ke Jogja, tapi belum pernah sempat mampir ke sini. Terakhir kali ke Jogja sudah niat ke sana, tapi sayangnya cuma berdua bareng teman. Jadi agak susah urusan transportasinya. Nggak ada yang bisa nyetir motor 😀
btw happy belated birthday ya!