Buku

Review Film Bumi Manusia

Ini adalah kali pertama saya menulis di sebuah media publik. Sejujurnya saya tidak pernah merasa cukup percaya diri untuk di bacai orang lain tulisannya.

Tapi yang akan saya kulik review film bumi manusia adalah salah seorang tokoh yang mengajarkan saya keberanian dan kekuatan sebuah tulisan.

Baru-baru ini industri perfilman Indonesia sedang ramai membicarakan dan mempertanyakan film karya hanung bramantyo, bagaimana tidak? Ini adalah karya yang di adaptasi dari mahakarya Pramoedya Ananta Toer, BUMI MANUSIA”.

Siapa Kita

Kita tentu tidak perlu mempertanyakan kisah yang ada di dalamnya. Novel tersebut sudah menciptakan takdirnya sendiri sebagai sebuah karya besar.

Bagi pengagum Pram kita tentu sangat akrab dengan bagaimana perjuangan karyanya hingga dapat kita bacai dan bebas mengisi rak di berbagai toko buku sederhana maupun raksasa di Indonesia.

Dalam film ini, seandainya kamu merasakan getaran itu. Getaran yang juga aku rasakan, getaran tanya tentang siapa kita sebenarnya.

Potret sejarah yang menggambarkan betapa kita Negara yang sangat rendah hati bahkan perasaan itu mengantarkan kita jadi pribadi yang rendah diri.

Iya,

Rendah diri yang tanpa sadar karena digiring untuk mengagungkan bangsa Eropa.

Seperti kata minke, kita seolah di didik untuk mengagumi bangsa eropa. Dan sadarkah sahabatku?

Perasaan itu masih kita bawa hingga kini, kita memang masih begitu mengagungkan pesona bangsa eropa.

Penjajahan itu tidak terlihat, tapi bilakah kita menilik sedikit lebih dalam pada diri, timbulkan tanya pada isi kepala. Kita masih ‘dijajah’ oleh kekaguman itu sendiri.

Contoh sederhana, bagaimana kita lebih bangga dengan segala kemegahan eropa beserta isinya, sedangkan tanpa disadari kita bangsa yang besar dengan segala isinya.

Kita lebih memilih untuk menjelajah negeri orang dari pda jelajahi negeri sendiri. Contoh sederhana lainya.

Silahkan lebih baca link ini untuk mengenal siapa kita , Indonesia

Apresiasi pada perfilman Indonesia

Adalah salah satu bentuk market yang sadar atau tidak seolah seperti terjajah di negerinya sendiri. Terlahir di ibu pertiwi tapi di remehkan oleh para penduduk asli.

Aku tidak memungkiri bahwa banyak hal yang masih harus dipelajari, tapi bisakah kita biarkan karya kandung dari anak bangsa memiliki kepercayaannya ?

Film ini di buka oleh lagu kebangsaan Indonesia Raya, dinyanyikan dengan tegak berdiri oleh para penonton yang hadir tanpa terkecuali. Iya benar!

Semua berdiri ! dan banyak diantaranya adalah generasi muda, bahkan bulu kuduk-ku yang sedari tadi tenang ikut berdiri merinding, entahlah seperti mendadak haru dibuatnya.

Selesai oleh sensasi menyanyikan lagu kebangsaan di bioskop, kita diantarkan memasuki awal cerita.

Disajikan dengan visualisasi abad 19 dan narasi pembuka dari Minke, tokoh utama yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan mengantarkan kita pada dimensi yang berbeda.

Tergores dalam benak

Saya tidak akan berbicara lebih jauh mengenai cerita dalam film tersebut, namun apa yang melekat dalam pikiran saya.

Bahkan hingga beberapa hari setelah menontonnya tidak lain adalah karakter pada tokoh-tokoh yang kuat di perankan dalam setiap detil adegan.

Para pemain secara garis besar memainkannya dengan baik, tidak berlebihan dan tetap mendapat jiwa pada karakter di buku.

Sosok minke yang ramai menjadi perdebatan penggemar bumi manusia memang tidak dapat dikatakan sempurna karna kita masih begitu dekat oleh karakter dilan pada sosok iqbal ramadhan.

Pada beberapa adegan ia seperti tidak dalam bayangan saya. Namun pada adegan yang lain saya seperti merasa “ya, mungkin beginilah sosok tirto itu” kecerdasan dan kebebasan berpikir masih dapat di rasai getarannya

Sebuah keberanian & Tulisan

Minke,

Tokoh utama dalam film dan buku tetralogi buru ini mengajarkan tentang keberanian, terutama dalam menulis.

seperti halnya keberanianku menulis tentang review Film Bumi Manusia ini, ini pertama aku lakukan seperti yang sudah aku ungkapkan di awal.

Sebuah keberanian bagaiman Minke menulis sosok Nyai yang membuatnya terpesona atas dalam lakunya.

Nyai yang pada umumnya di label seorang yang tak bermartabat namun pada kenyataannya berbeda terlihat dari Nyai mama.

Keberanian yang membawanya pada sebuah karya yang diingat oleh banyak orang sampai waktu yang tak terbatas.

Menulis,

Sesuatu yang terlihat sederhana tapi punya kekuatan yang bisa menembus waktu.

Tokoh lainnya

Selanjutnya kita di perkenalkan oleh sosok annelies Mellema, Seorang indo yang bercita-cita menjadi pribumi hingga akhirnya jatuh hati pada minke.

Minke yang bernama asli Tirto Adhi Soerjo adalah pribumi keturunan bangsawan jawa, dan seorang siswa sekolah HBS saat itu.

Pertemuan merekalah yang akhirnya mengantarkan bumi manusia memasuki bab selanjutnya. Romansa yang dibalut isu geopolitik masa kolonial.

Pada tiap-tiap bagian tergambar jelas sosok annelies dan segala kuat yang ia bangun untuk membentengi kerapuhannya yang dalam. Kelemahan akan kenyataan takdirnya.

Belum lagi masa lalu yang menghantui berusaha rapat di pendamnya. Tak heran ia terkadang terlihat kuat, ceria, namun pula lemah dan dan sakit-sakitan.

Adalah Sanikem, adalah nyai ontosoroh, penguat yang biasa dipanggilnya mama, sosok yang menumbuhkan kecintaan dan cita-citanya menjadi seorang pribumi. Inspirasi kuatnya.

Tokoh yang menjadi tameng tangguh pada perjalanan kisah ini. terselamatkanlah adaptasi film ini atas penjiwaan nyai ontosoroh oleh Sha Ine Febriyanti.

Nyata,

Tiap lenggok dan sorot matanya benar-benar melahirkan nyai ontosoroh yang bangkit dari novel bumi manusia.

Kata yang lugas diucapkan oleh mama tidak pernah meleset dari ingatan, perempuan yang melampaui zamannya seolah hadir dengan nyata di hadapan pasang mata penonton.

Terlahir dari kemelaratan dan keserakahan ayahnya, nyai ontosoroh di jual oleh ayah kandungnya sendiri untuk menjadi gundik tuan herman mellema yang meskipun mati sebagai aib.

Namun berkat tuan mellema-lah sanikem yang dahulu menjadi mama yang mengagumkan itu, buah pemikiran dan keberaniannya melawan pengadilan belanda dinilai tidak hanya demi melindungi kebebasan putrinya semata namun pula kehormatan bangsa.

Sebab konflik dan Nyai adalah satu tombak yang siap menghujam penontonnya berkali-kali.

“Kita sudah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” – Nyai Ontosoroh

Bergeser dari sosok tangguh nyai yang membara, kita dipertemukan oleh bunda. Tokoh ibu dari raden mas tirto yang tenang dan tutur yang penuh nasehat.

Meskipun tidak banyak hadir dalam sorotan film, kehadiran bunda membungkus film ini dengan  manis.

Naluri keibuannya begitu kental terlihat dari bagaimana caranya mendukung putra kesayangan itu ketika kenelangsaan bertubi-tubi menimpa.

Tokoh lain yang tidak kalah mempengaruhi pemikiran minke ialah Jean Marais, pria berkebangsaan prancis yang melanjutkan hidupnya sebagai pelukis.

Salah satu tokoh menarik yang menetralkan pandangan kita terhadap eropa,  mengajarkan bahwa menjadi manusia beradab tidak perlu memandang ras dan kebangsaan.

“Belajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” – Jean Marais

Sebuah Harapan

Dengan terlahirnya film bumi manusia ini, semoga terlahir pula semangat-semangat nasionalisme generasi muda. Yang semakin terkikis oleh budaya kotemporer.

Melalui film ini diharapkan nama Pramodya Ananta tidak lagi terdengar asing. Mulai dari menonton, kemudian membaca dan terus bertumbuh mencari tahu referensi sejarah negeri.

Modernisasi boleh hidup tapi kecintaan kultural pada negeri tidak boleh mati !

Kesimpulan

Akhirnya,

Keseluruhan dari review film bumi manusia menjadi catatan pentingku adalah

Pemikir membawa diri dalam suatu pertanyaan dan mengantarkan sebuah pengetahuan, ketika orang berpengetahuan dengan benar menumbuhkan kecintaan dan kecintaan itulah membuat keberaniannya hidup dan bertumbuh.

—————————————————————————————————————–

Guest Post by Desi Rahmawati

Seorang pemudi Indonesia yang tak lama kukenal menjadi anugerah tersendiri buatku ketika mengenalnya.

Tak butuh waktu banyak untuk aku bisa berkata dia adalah jawaban doaku tentang sesuatu hingga memberanikan diri untuk memanggilnya “adik “

Terima kasih sudah berani menjadi Guest post pertama di blogku ini , semoga menjadi langkah baik yang membawamu terbang.

Menjadikan pribadi yang seperti kita impikan bersama.

Selamat Berkarya.

Tinggalkan Jejakmu... Karena itu Sangat Berarti!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: