Rujak Kuah Pindang, kuliner yang menjadi idola para wanita di Bali ini wajib kamu coba. Bila dipadukan dengan tipat cantok akan jadi rasa yang utuh. Menjadi Peta Rasa Sukacita ke 26 untuk series Rabu.
Setiap rasa menghadirkan kisah dan setiap kisah membawa arti
Satu hal yang menjadi warna indah di 2025 pada langkahku adalah, ketika menemukan kesenangan mengulik tentang kuliner. Sebelumnya tidak menjadi perhatianku, bukan karena tidak senang tapi tahu diri, masuk dapur membuatku tidak nyaman dan itu alasanku tidak terlalu perhatian pada makanan.
Tetapi lagi lagi waktu menghadapkan pada pentingnya adaptasi. Akhirnya rasa pada makanan menjadi perhatianku dan belajar berbagi dalam tulisan di rumah digital ini.
Saat membaca tulisan seorang blogger Lala pada tulisan Ternyata Begini Rasanya Buku Antologi “Tradisi Makan Siang Indonesia” Dapat Penghargaan GOURMAND AWARD – Lalakitc menambah rasaku, untuk ingin lebih mengulik kuliner.
Dan bermula dari kangen kuliner masa kecil dan datang ke Pura yang ada di Rawamangun. Aku menemukan makanan yang cukup unik dan membawa kenanganku pada teman-teman di Bali.

Beberapa tulisan sebelumnya ada sentuhan kuliner, tetapi tidak terlalu mendalam. Kali ini aku mencoba merangkainya lebih dalam dan tentu saja tetap membawa nafas makna berkehidupan.
Satu nafas rumah digital yang aku bangun ini, membawa harapan untuk setiap pembaca menemukan kesadaran bagaimana hidup yang membangun, menghasilkan rasa manis pada diri dan sekitar.
Lalu, bagaimana rujak kuah pindang bisa menjadi kuliner yang dicari dan wajib dicoba? Yuk lanjut baca dan kenali lebih jauh.
Baca juga: Merawat Mental Lebih Tenang – Rahasia Kuliner Masa Kecil – Peta Rasa Sukacita #25
Mengenal Rasa Tipat Cantok dan Rujak Kuah Pindang
Setiap tempat menyimpan kuliner khasnya. Rujak kuah pindang, misalnya, lebih akrab di daerah Badung, Timur Bali. Sementara aku, yang lahir di wilayah barat, baru bersua dengan rasa ini saat bersekolah di Sanur.
Awal mengenal kuliner yang satu ini, ada sedikit bingung pada logikaku, bagaimana bisa kuah pindang menjadi satu rasa pada rujak. Terbayang rasa amis ikan dalam segarnya buah, seperti tidak cocok.
Apalagi aku bukan pengemar rujak, karena suka dengan buah tanpa di campur dengan bumbu apapun. Tetapi ternyata untuk rujak kuah pindang menjadi pengecualian. Walau memang butuh suasana khusus dan apalagi kalau sebelumnya makan tipat cantok, akan jadi rasa yang utuh dan lengkap.
Mengapa Tipat Cantok jadi paduan nikmat Rujak Kuah Pindang.
Informasi yang aku dapat untuk bahan tipat cantok di cookpad.com dan melihat paduan dari tipat(ketupat), kangkung, kacang panjang, tauge, tahu cina, kacang tanah yang sudah digoreng, terasi bakar, bawah putih, rawit, gula merah asam jawa. Menghadirkan rasa yang memang tepat jika paling di cari.
Kemudian untuk Rujak Kuah Pindang, campuran dari ragam bahan jambu air, mangga muda, bengkoang, timur, terasi, cabe merah,garam, gula merah/gula putih, asam jawa, blimbing kuah rebusan ikan tuna,serai. Menanamkan rasa yang bikin nagih.
Bagaimana cara membuatnya dua kuliner ini, semuanya ada di situs cookpad.com.
Jika dilihat dari semua bahan, sudah terbayang bagaimana rasanya dan aku sendiri saat menulis, rasa ingin menikmatinya langsung hadir. Paduan gurih dari tipat cantok dan asam nikmat rujak kuah pindang menjadi kuliner yang wajar bila terus dicari.
Menghadirkan rasa khusus dan sering ada yang bertanya, apakah tipat cantok itu seperti kado-kado, aku selalu menjawab, BERBEDA, perpedaan yang aku rasa pada kacang tanahnya, entah kenapa kalau yang tipat cantok dengan gado-gado rasanya tidak sama. Kalau soal Rujak Kuah Pindang, ini kuliner khusus dan istimewa, karena itu kamu wajib coba untuk merasakan nikmatnya.

Sepasang Kuliner Rujak dan Tipat Primadona Para Wanita
Siang itu aku dan seorang sahabat, duduk menikmati kuliner masa kecil di kantin pura Rawamangun. Tiba-tiba sekelompok wanita datang dan langsung menghampiri warung disamping kami duduk, mereka memesan rujak kuah pindang.
Ingatanku langsung melayang pada teman-teman yang ada di Bali. Kala itu saat aku pulang, teman-teman SMEA dan semuanya wanita, datang ke tempatku menginap, membawa tipat cantok dan rujak kuah pindang beserta cemilan khas Bali lainnya.
Di lain waktu, saudara perempuanku pada siang hari juga mencari kuliner ini. Saat teringat itu semua, aku menyadari kalau si rujak kuah pindang ini adalah primadona para wanita.
Amik amikan atau cemilan siang.
Begitu kata temanku tentang kuliner ini dan semalam chat sama dia, mengatakan kalau kuliner ini sebagai cemilan siang, yang dulu disukai para wanita, karena ternyata sekarang para lelaki juga sudah mulai menyukainya. Menambah bukti kalau rujak kuah pindang ini wajib dicoba bila kamu belum pernah menikmatinya.
Kuliner Bali ini ada di Warung Bu Kembar – Kantin Pura Rawamangun
Senangnya, tipat cantok dan rujak kuah pindang, kuliner Bali yang paling dicari sebagai cemilan siang, ada di kantin Pura Rawamangun. Kalau kamu tinggal di Jakarta, jika ingin mencobanya, tidak perlu terbang ke Bali. Cukup datang ke Pura dan nikmati rasanya.
Selain dua kuliner tersebut, ada banyak menu lainnya dan aku sebagai orang Bali, rasa yang disuguhkan sama dengan yang ada di Bali. Bukan hanya karena yang mengolah rasa orang Bali, tetapi suasana di sana juga menghadirkan rasa Bali.
Ada banyak warung di kantin Pura dan satu diantaranya warung Bu Kembar, kulihat cukup lengkap diantara warung lainnya. Banyak menu ditawarkan disana dan aku juga melihat, banyak para pelanggan menghampiri ke warung tersebut.
Coba dan nikmati rasa tipat cantok dan rujak kuah pindang disana. Dan kalau waktu tidak berpihak untuk datang kesana, bisa juga di pesan online dengan menghubungi Bu Kembar di no whatshaap +62 859-2079-7579
Baca juga: Pura Adhitya Jaya Rawamangun: Suasana Bali di Jakarta – Menghadirkan Kenangan Masa Kecil Yang Indah

Peta Rasa Sukacita ke 26
Konon, kebahagiaan paling mudah dipicu lewat makanan. Setiap hidangan menyimpan rasa, dan setiap rasa membawa kisah. Dari sanalah lahir Peta Rasa Sukacita ke dua puluh enam: kuliner Bali yang sering dicari, Tipat Cantok dan Rujak Kuah Pindang, cemilan siang yang pernah menjadi primadona para wanita.
Baca Juga: Peta Rasa Sukacita
Teringat, tahun 2025 membawa peta rasa yang beragam: asam, pahit, bahkan sering kali kurang nyaman. Mari simpan semua itu di lapisan terdalam, sebagai kenangan yang menjelma kekuatan. Namun, biarkan rasa menyenangkan lebih banyak diupayakan hadir, seperti dengan mencicipi kuliner yang tak boleh dilewatkan ini.
Rasa pahit membentuk kekuatan, rasa nikmat menyalakan semangat dan bara langkah. Biarlah semua terpetakan sebagai perlengkapan, agar kita siap menghadapi kehidupan yang semakin sering menghadirkan kejutan.
Bagaimana dengan kamu, cemilan siang apa yang paling dicari daerahmu? Yuk ceritakan dan petakan rasamu di kolom komentar.
Jakarta, Desember 2025
Ditulis sambil nyuci baju dan membayangkan segarnya rujak kuah pindang.


16 Responses
Ya ampun kak Niek,,,,,menunya menggoda selera banget. Itu terbayang seger banget rujak kuah pindangnya. Kepala pusing juga ilaang makan rujak kuah pindang ini sih. Kuliner Bali mantap-mantap yaa
Jadi kepengen rumahnya, kak.
Karena pas momennya siang hari pula daku berkunjung ke sini, eh penasaran sama rujak kuah pindang ini. Keknya seger gitu disantap.
Kalau yang Tipat itu, daku malah mikirnya kayak sedang makan karedok, karena ada sayur kangkung dan kuah kacang plus ketupat hihi
Terima kasih banyak sudah mentautkan tulisan ku terkait buku Tradisi Makan Siang Indonesia, sangat tersanjung sekali.
Betul memang, good food for good mood. Bikin enjoy dan kasih kebahagiaan yang tidak terkira. Makanan yang enak, lezat dan segar. Aduh, aku jadi kebayang tipat cantok dan rujak kuah pindang. Tampilannya menarik isiannya bergizi dan unik juga.
Senang rasanya bisa kenalan sama dua makanan yang menarik. Kalau di Kota Bogor, makanan yang paling di cari buat makan siang itu aneka kuah. Seperti soto mie Bogor, apalagi kalau musim hujan rasanya salah satu makanan yang mesti di santap deh. Atau sesekali gado-gado dengan sayuran yang cukup variatif Sukes bikin lidah bergoyang.
Wah nambah lagi nih pengetahuanku akan kuliner khas Bali yakni rujak buah pindang ini. Pasti rasanya unik banget nih karena buah-buahan dicampur dengan kuah pindang.
Daku masih berusaha membayangkan, kupat dan rujak bersatu ditambah kuah pindang ikan, hmmm sepertinya menggoda banget ya. Kebayang segarnya kuah pindang ikan
Kuliner Bali yang wajib dicoba nih. Tipat cantok dan rujak buah kuah pindang. Enak dimakan sambil melali di Bali. Atau pas lagi di Rawamangun, bs mampir tuh ke kedainya. Yang di Rawamangun ini, aku belum pernah coba sih. Soalnya, takut ga boleh masuk pura kalo org muslim.
Kalau di Surabaya sih kami makan rujaknya emang pakai ketupat atau lontong hehe. Tapi kalau rujak kuah pindang ini ternyata nggak ya? Makannya dipisah gitu sama makanan tipat cantok atau bisa disantap bersama mbak?
Sepertinya rujak pindang isiannya mirip2 ma rujak daerah asalku cuma ini nggak pakai petis ya dan kurang beberapa sayur aja, jadi keknya aku bakal suka juga nih memakannya hehe.
Btw baru denger kalau ada rujak kek gini dan makanan khas Bali, selama ini taunya kuliner lain.
Wah berarti kalau main ke Pura Rawamangun, orang Bali yang tinggal di jabodetabek bisa sekalian nostalgia jajanan asal kampung halamannya ya mbak.
Baru kali ini ka Niik.. aku tau ada Kuliner Rujak dan Tipat yang sungguh lengkap.
Aku jadi tertarik makan rujak kuah pindang.
Pasti segeerrr puooll yaa.. apalagi pas panas panas.
Sungguh rujak ini nikmaatt siiyh.. tapi jadi paham kalau masing-masing daerah memiliki kearifan lokalnya masing-masing.
Jadi inget terakhir kali aku ke Bali tapi gak pakai travel. Jadi memang dijamu langsung sama sahabat yang sudah jadi warga lokal. Barulah tau saat itu ada makanan yang bernama tipat. Tapi bagi saya si perut karet, tipat nih lebih sebentar ya mengisi perut, gak lama lalu aku lapar lagi >.<
Ya ampun penasaran lho dengan rujak kuah pindang kesegaran buah-buahan aneka jenis dengan kuah ikan yang gurih dan lezat duh duh jadi ngiler asliii..
Aku baru ini denger ada kuliner namanya rujak kuah pindah khas Bali ya mbak? memang kalau bahas kuliner ga ada habisnya. Kalau di Surabaya, pindang itu identik sama ikan. Btw nama warungnya kok sama dengan warung yang ada di sentra kuliner RMI bratang di Surabaya, Warung Bu Kembar juga namanya
Terimakasih ya mbak nik sudah mampir ke warung Bu kembar dan juga promosiin rujaknya Bu kembar BTW jangan lupa mampir lagi ke warung Bu kembar ya.
Baca rujak kuah pindang ingatanku langsung melayang waktu tinggal di bali sekiatar 15th yang lalu mbaa hehehe…
Dulu pas denger rujak kuah pindang bayanganku sama persis kayak mba nik..bagaimana rasanya rujak buah dicampur dengan kuah pindang memangnya gak amis?? hehe…awal mencicip juga antara ya dan tidak namun setelah beberapa kali mencoba akhirnya aku bisa menikmatinya apalagi salah saorang temenku penggemar berat si rujak kuah pindang ini jadi mau gak mau aku terkena efeknyahehe…
Kalo tipat cantok lebih mudah diterima di aku karena menggunakan kuah kacang yang lebih familiar yaa
Beberapa kali ke Bali yang dimakan malah bukan makanan khas Bali, tapi nasi pecel, sapo tahu, eh pernah sih sekali makan ikan bakar plus sambal matah. Lihat foto rujak kuah pindang kok jadi pengen yaa. Ini rasanya asam manis pedas, gitu, Kak Nik?
Wah di kantinnya ada sate lilit. Jadi ingat dulu pas hamil ngidam sate lilit lalu eksperimen masak sendiri, sate lilit ikan tenggiri plus sambal matah.
Kuliner indonesia memang beragam ya Mbak. termasuk di Bali. Dan saya baru tahu ada rujak kuah pindang ini. secara logika, kuah ikan yang amis, berpadu dengan rujak dari aneka buah. saya jadi penasaran ingin mencobanya.
Tapi itulah kuliner Indonesia yang kadang unik. Termasuk di Makassar juga ikan, dicampur kelapa goreng dan mangga muda, Mbak, itu enak disantap dengan nasi hangat hehehe.
Selama ini aku cuma tau rujak biasa yang pakai saus manis pedas. tapi rujak kuah pindang campur buah itu terdengar unik banget—apalagi kalau dipadukan sama tipat cantok! Terus lanjut baca artikel ini jadi be lyke kok bisa ya kuah ikan sama rujak buah nyambung? Jadi seru deh bacanya karena kayak diajak ikut ngerasain atmosfer Bali dan kenangan masa kecil serta nostalgia bareng teman-teman penulisnya. Jadi ada tambahan pengetahuan baru tentang kuliner Bali.