My Energy Source

Hello Desember – Terima Kasih 2019

Hello Desember… Pagi itu di Lasem, raga memaksa diri tuk bangun lebih awal. Terherannya ketika bangun dari tidur di waktu sangat pagi aku memutuskan untuk mandi.

Entah apa yang terjadi jujur saja aku cukup kaget mendapati diri jam lima pagi sudah rapi. Walau memang semalamnya ada niat untuk di foto saat pagi hari.

Akan tetapi pagi itu tak seantusias dari rencana, karena rencana untuk membangunkan kang fotopun aku urungkan.

Bersama heningnya pagi di Lasem, aku menikmatinya bersama buku, rasanya dunia sudah menjadi milik.

Sedang asyiknya menikmati buku, para kang foto datang yang ternyata mereka sudah terbangun lebih awal dan sudah berkeliling.

Akhirnya, dengan kebaikan hati mereka sesi foto pagi hari terlaksana dengan baik.

Begitulah aku mengawali Desember, bersama pagi di Lasem.

Hello Desember – Melesatnya Waktu

Dalam hening pagi itu, sebelum membaca buku aku memikirkan apa yang sudah diberikan waktu dalam tahun 2019.

Rasanya waktu tak memberi kesempatan padaku tuk sejenak bersantai, karena tanpa disadari sudah bertemu dengan Desember.

Januari dengan gemerlapnya sebuah ujian, dimana disadarkan kembali tentang rasa walau jika jujur mengakui itu bukanlah yang tepat.

Sempurnanya sebuah moment kurasakan di awal tahun ini dan membawa diri semakin mengerti tentang keagungan karyaNYA.

Berusaha mewujudkan mimpi sahabat dan memperjuangkan angka pendapatan adalah ceritaku di Februari.

Kemenangan diri ketika tetap tulus membantu orang yang sudah merendahkan adalah kisah terbaik di Maret dan dilanjutkan April pulang ke Bali dengan Bis.

Selalu saja ada cara Tuhan mengatur hidupku bila kadang tak mengerti jalanNYA, diberilah kejadian-kejadian yang membuatku harus menerima bahwa itu semua dijalani.

Begitu yang bisa aku ungkapkan tentang Mei dan Juni.

Setengah tahun berlalu

Juli adalah penghiburan Tuhan yang manis disaat banyak kejutan tentang pemurnian diri, dimana bulan ini aku bisa berlibur dengan orang-orang terbaik di 2019.

Memulai menyapa gunung adalah hal baru kulakukan di 2019 dan Agustus adalah pengujian diri yang paling berat saat bertemu Ranu kumbolo.

September sebuah awal didikan yang sesungguhnya aku hampir menyerah, Oktober semakin berat dan November ujungnya berdiam.

Diam dalam November

Bila di ingat sepanjang waktu bersamaku, November 2019 adalah bulan terpuruknya diri.

Aku seorang yang punya antusiasme tinggi, punya cara menyelesaikan perkara-perkara yang tidak sesuai dengan melangkah kali ini di paksa oleh waktu untuk diam.

Karena diam itu salah satu hal tersulit dalam hidupku maka aku memilih bergerak lebih intip berhubungan dengan Tuhan.

Lebih banyak menyediakan waktu berkomunikasi denganNYA caraku mengalihkan diri tentang didikan yang sangat sulit.

Terima Kasih 2019

Dengan begitu banyak kejutan di tahun ini aku melihatnya sebagai cara Tuhan menyempurnakan diri menuju tujuan.

Bila bisa dikata bahwa 2019 adalah pembakaran sebuah emas untuk dimurnikan itulah proses pembentukanku.

Namun disaat pedihnya suatu didikan ada saja hiburan-hiburan dariNYA , memaksa diri tak bisa mengeluh yang ada hanyalah sebuah syukur yang tak ternilai.

Begitulah kira-kira aku menyapa awal Desember dan seperti apa detail kisah Desember 2019ku, tunggu catatanku di penghujung tahun.

Maka sebagai dasar tuk melewati semua hal di tahun 2019 aku mendapatkan satu kalimat,

Jangan pikirkan bagaimana Tuhan mengangkatmu tapi pikirkanlah bagaimana caramu tuk hidup berkenan padaNYA.

Selamat mengisi penghujung tahun.

Tinggalkan Jejakmu... Karena itu Sangat Berarti!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: