My Energy Source Indonesiaku Langkahku

Sunrise Amed, Sahabat dan Melangkah

Akhir 2015 aku dan dua sahabatku mempunyai resolusi bersama. Salah satunya adalah liburan bersama. Dengan segala pertimbangan, kami menentukan Amed menjadi tujuan utama. Sunrise Amed menjadi salah satu kisah yang terindah.

Selain itu ada banyak kisah dalam liburan kami dan aku ceritakan dikesempatan lain.

Sunrise Amed

B3

Setelah melihat kembali hidupku ternyata ada beberapa sahabat yang kelompoknya berbeda. Dan diantara kelompok tersebut hanya satu kelompok yang mempunyai nama, kami menamai B3 ( aku, Sarah dan Adel ).

Mungkin pembaca setia atau yang sudah lebih mengenal aku tahu kalau aku bersahabat dengan Adel.

Temukan kisah kami di hadiah ulang tahunku ditulisan Adel.

Sedangkan Sarah adalah teman kantor. Aku sendiri sudah mengenalnya selama enam tahun, kami dekat  dalam tiga tahun ini dan 2015 adalah tahun B3 pertama membuat resolusi bersama.

Sunrise Amed

Sunrise Amed

Kebiasaanku untuk membuat resolusi tiap tahun kutularkan di B3. Di Tahun 2016 kami sepakat untuk melakukan tiga resolusi bersama yaitu menabung bersama, menargetkan diri untuk olahraga dan membaca buku. Liburan bersama ke Amed hasil dari tabungan kita bersama dan kisah Sunrise Amed itupun aku dapatkan.

Melangkah bersama Sunrise Amed

Adel adalah seorang morning person dan Sarah kebalikannya. Aku sendiri tergantung kebutuhan, he he he. Artinya jika memungkinkan bangun pagi, maka aku akan bangun tetapi jika tidak, maka aku akan bangun siang. Bukan hal sulit bagiku apalagi untuk bertemu dengan sunrise.

Sunrise Amed punya kisah sendiri. Kali ini kisah itu aku lewati bersama Adel sahabatku, karena tentunya Sarah masih berada di alam mimpi.

Sunrise Amed

Amed adalah sisi Bali timur yang selalu kurindukan. Aku sendiri sudah dua kali menikmatinya. Yang pertama kali ketika aku traveling bersama sahabat IDC.

Kenangan Amed sampai saat ini selalu membuat kami ingin mengulang kisah itu. Jika boleh dikatakan sempurna, trip kami waktu itu adalah trip yang sempurna.

Setelah mengelilingi Lombok dan segala petualangannya, Amed menjadi tempat terakhir kami menghabiskan liburan bersama. Saat itu kami menginap di Double Villa Hotel 

Salah satu kesempurnaannya adalah ketika menikmati pagi dan itu tertuang juga dalam tulisan sahabat IDC di 6 Momen sunrise Favorite karena tulisan itulah Adel aku racuni untuk wajib menikmati suasana pagi Amed.

Pantulan Cahaya

Ketika itu kami berjalan ditepi pantai, masih gelap dan bukan pasir putih yang kami injak, melainkan batu-batu kecil. Kami melangkah dalam remang pagi dan seperti biasa selalu ada cerita yang kami bagi. Mulai dari cerita buku yang telah kami baca, film, keluarga sampai urusan perasaan tentang lelaki (eh).

Semakin jauh melangkah dari hotel kami menginap, terang pagi sudah menghampiri namun sosok mentari itu belum juga kami temuka. Hanya semu merah yang dapat dinikmati, aku sendiri belum puas dengan hanya sebatas senyum merahnya.

Sedangkan Adel sudah mulai sedikit mengeluh karena cukup jauh melangkah di atas kerikil, sedikit kurang nyaman untuk berjalan kaki. Padahal Adel adalah seorang yang senang melakukan aktifitas jalan kaki.

Dengan segala celotehku aku menguatkan Adel untuk sabar, aku bilang padanya sedikit lagi, mentari itu ada di balik teluk di depan kita, begitulah aku berkata waktu itu. Dengan senyum manisnya Adel mau mendengarkanku.

Tertegun

Satu hal yang aku ceritakan waktu itu, ketika kami melangkah mendekati sunrise, mendekati cahaya pagi itu, aku tanpa sengaja ingin berbalik, dan aku terdiam sebentar menikmati sesuatu yang aku sendiri tertegun.

Sunrise Amed

Di belakang kami ada gunung yang begitu indah. Keindahannya sempurna terkena pantulan cahaya pagi, sunrise itu di depan kami tetapi keindahan yang sempurna aku temukan di belakang kami.

Saat itu aku berpikir satu hal,

“Rasanya jika kita tidak mampu menjadi cahaya, paling tidak menjadi pantulan cahaya saja sudah cukup menciptakan keindahan.”

Inilah menjadi bahan perbincangan kami selanjutnya. Aku berkata ke Adel, jika kita tidak mampu melakukan kebaikan paling tidak kita menjadi pantulan kebaikan saja. Seperti jika kita tidak mampu memberi orang lain kebaikan, paling tidak kita bisa menjadi alat untuk menyalurkan kebaikan.

Contohnya ketika Adel membutuhkan tagline di blognya, aku sendiri tidak mampu membuatnya, paling tidak aku bisa mengenalkan Alin yang memberikan waktu dan pemikiran untuk tagline yang dibutuhkan.

Atau hal-hal lain yang bisa dilakukan, terlihat sederhana tetapi dampaknya begitu besar, seperti halnya aku begitu bahagia melihat gunung yang terpantul cahaya, energiku bertambah ketika lelah kaki melangkah dengan tajamnya kerikil pantai Amed.

Sunrise Amed

Asyiknya obrolan itu membuat kami tidak sadar kalau sunrise sudah di depan kami, ketika teluk sudah dilewati dan mentari itu tersenyum menyapa kami,

Sunrise Amed

“Selamat pagi Adel dan Nik, terima kasih untuk kesabaran kalian mencariku.”

Seperti biasa kami sibuk mengabadikan indahnya sunrise Amed saat itu, tidak ada obrolan, hanya memotret dan menikmati cahaya dan senyumannya

Sunrise Amed

Terima kasih Mentari.

Lelah kami berjalan cukup jauh dari hotel terbayar sudah. Terima kasih mentari pagi. Denganmu tenaga kami bertambah dan kami pulang ke hotel mengambil jalur jalan yang berbeda. Kami berjalan di jalan raya yang sebelumnya dan melewati sebuah hotel.

Sunrise Amed

Saat masuk ke hotel itu ada satu tempat di sudut yang indah yang bisa aku abadikan. Ranting beserta bunganya menambah keindahan pagiku saat itu.

Semoga lain waktu aku bisa menikmati sunrise di Amed kembali dengan kisah yang tentunya berbeda.

Jika pembaca ke Bali dan belum ke Amed, sempatkanlah dan temukan indah sunrisenya.

Tinggalkan Jejakmu... Karena itu Sangat Berarti!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: