Random Thoughts

Kepastian dan Senja – Melukis kisah di Selayar – Takabonerate

Kepastian dan senja lahir ketika aku dan Indah , seorang sahabat dari Semarang ingin melakukan sesuatu di masa pandemi ini tepatnya di akhir Agustus tepat enam bulan pandemi.

Rasanya hampir semua orang dituntut untuk merubah kebiasaan, aku sendiri sejatinya di awal-awal bulan tidak terlalu pengaruh, namun di Agustus kemarin pandemi ini begitu terasa.

Ragam kisah lahir dibulan itu tapi sejatinya enggan untuk mengakui Agustusku di 2020 sendu.

Untuk itu ingin September lebih ceria terlahirlah sebuah ide dengan Indah untuk membuat caption berantai, dimana bulan September kita membuat caption tentang senja.

Aku sendiri tidak direncanakan keluar caption yang berjudul kepastian dan senja , akhirnya berujung menjadi cerita bersambung.

Rumitnya Lyra – Kepastian dan Senja Part 16

Untuk Part sebelumnya monggo cek highlight story IG ku yang berjudul caption berantai dengan #KepastiandanSenja

Tapi,

Sesuatu terbaik itu butuh pengujian dan kesabaran akan selalu membuahkan hal terbaik

..dan aku masih punya waktu untuk lebih mengenal Lyra.

Perjalanan ke Takabonerate dibilang lancar , laut sedang bersahabat dengan mereka. Sampai disana belum terlalu sore dan setelah cek in di penginapan yang sudah diatur mereka di ajak ke spot snorkling.

Betapa Leo semakin bergairah melihat Lyra, menyelam bersama menambah percikan tersendiri di hati Leo.

Sesekali tanpa sadar, Lyra mengambil tangan Leo bergandengan dan menariknya memperlihatkan ada karang atau ikan yang cantik.

Belum juga puas menikmati bawah lautnya, senja sudah memanggil. Mereka kembali dan tidak langsung membersihkan diri, tapi mereka menikmati senja dengan berenang bersama di dekat dermaga.

Waktu berlalu,

Hari ketiga di Takabonerate, saat malam menjelang dan bintang bertaburan, Leo melihat kerumitan diri Lyra, tiba-tiba Lyra minta waktu sendiri dan tak ingin bertemu dengan Leo dulu.

Hati Leo berdebar, adakah sikapnya yang salah ?

Hari ke 4

Pagi hari itu Leo memandang anak-anak hiu bermain dengan girangnya, dia duduk melihat tapi pikirannya melayang memikirkan Lyra, kenapa seharian kemarin dia tak mau bertemu.

Tiba-tiba Lyra sudah duduk disampingnya dan tersenyum manis dan menyapanya.

” Selamat Pagi Leo, hari ini kita ngapain ? “

Leo bengong lihat polah Lyra, seakan tak ada apa-apa, tak tahukah dia seharian hatinya berdebar dan pikirannya tertuju padanya.

” Belum ada rencana seh, kamu mau ngapain ? , aku ikut aja “

” Ya udah , siangnya kita di penginapan aja ya dan sore kita nikmatin senja di dermaga ” Lyra menyahut.

” Siap, kita ngobrol-ngobrol aja yaa biar lebih santai, besok juga kita udah balik ke Selayar ” Leo menjawab.

Siang dan sore itu kesempatan Leo lebih mengerti bagaimana Lyra punya cerita yang cukup rumit dalam hidupnya. Semakin mantapkan diri malam itu dia harus menyatakan hatinya.

Cinta tak pernah terluka – Kepastian dan Senja part 17

Malamnya seperti biasa langit Takabonerate dihiasi penuh bintang , beruntungnya buat Leo cuaca malam itu tidak mendung dan seakan merestui apa yang akan dia bicarakan.

Selesai makan malam, Leo menggandeng tangan Lyra dan melipir ke sudut teras dan memandang malam yang dihiasi penuh bintang dan berkata,

” Lyra, maukah menjadi wanitaku ? “

Lyra menatap wajah Leo dan jantungnya berdebar….

” Leo, bolehkah saat ini tidak membahas hal itu ? “

Ada cubitan dihati Leo yang membuat dia ingin meninggalkan Lyra saat itu, pedih. Tapi,

Cinta tak pernah terluka, dia hanya melahirkan kebaikan

Leo tersenyum manis dengan tulus, ” Tak apa-apa Lyra, ambil waktumu dan tidak perlu buru-buru untuk menjawab ”

Setelah itu 30 menit pertama ada rasa canggung diantara mereka tapi selanjutnya suasana kembali seperti semula.

Mereka bercerita banyak hal, tentang pekerjaan, perjalanan dan kelemahan masing-masing, sampai lupa waktu dan memaksanya untuk kembali keperaduan masing-masing.

Selayar menjadi saksi – Kepastian dan Senja

Esoknya mereka kembali ke Sunari Resort Beach Selayar, setelah makan malam mereka ke kamar masing-masing.

Antara lelah perjalanan dari Takabonerate dengan segala kegiatannya atau ada rasa yang masih harus dibenahi satu sama lainnya.

Hari ke 13, malamnya Lyra mengetuk pintu kamar Leo.

” Boleh aku masuk ? ” Lyra minta ijin.

Leo mempersilahkan dan sambil berdiri menunggu dan belum sempat bertanya ada apa, Lyra memeluknya sambil berbisik,

” Maafkan aku ya, saat ini pilihan menjadi wanitamu aku belum siap”

Leo bingung, wanita dalam pelukannya mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dari sikapnya.

Pelan-pelan Leo melepaskan pelukan itu dan memandang mata Lyra sambil mengajaknya duduk dengan tenang.

Leo tak sanggup melihat mata dan wajah Lyra dalam, hatinya terlalu berkecamuk apa yang sedang dihadapkan saat itu.

” Lyra, aku tidak mengerti kenapa kamu bilang seperti itu tapi kamu memelukku, jujur aku bingung” Leo berkata dengan sangat lembut.

” Leo, seperti yang sudah pernah aku singgung , mungkin buatmu tidak terlalu jelas karena aku cerita sepotong – sepotong saat kita menikmati Takabonerate, bahwa hatiku terlalu rumit untuk sebuah komitmen, aku yakin kamu paham bahwa aku memang suka sama kamu tapi aku takut kehilanganmu bila nanti kau lebih mengetahui kerumitanku ” Lyra terdiam.

” Lyra, aku sangat paham arti kebebasan karena aku selama ini hidup dalamnya, hanya saat ini waktu dan hatiku berkata aku tidak mau melepasmu , aku ingin kita bersama-sama mengikat satu hubungan yang satu sama lainnya saling mendukung untuk lebih baik ” Leo menjawab.

Mungkin bila kau tanya padaku aku tidak perduli sebuah komitmen, bila sama-sama saling suka kita jalanin tapi kali ini berbeda, aku butuh kepastian.

Tiba-tiba Lyra menangis dan Leo semakin tidak mengerti, ditariknya tubuh Lyra dan dia tak mau bicara apapun lagi selain memeluknya. Lyra menangis dalam pelukan dan tak mengerti harus bicara apa.

Malam itu mereka tertidur berpelukan, hanya itu dan tidak lebih.

Esoknya,

Leo lebih dulu bangun yg sejatinya dia tidak bisa tertidur lelap, raganya terjaga dan akalnya berbisik,

Inikah Cinta, rumit tapi rasa hanya ingin melindungi dan tetap ada buatnya, walaupun tak mengerti betapa sikapnya membawa tanya.

Leo memandang wajah Lyra dan dia terbangun , tersipu karena berada diranjang Leo.

” Selamat pagi Lyra, mau sarapan di restoran atau aku bilang makananya dibawa kesini ? “

” Hi Selamat pagi, disini aja ya ? ” Lyra menjawab.

Selesai sarapan mereka segera bergegas merapikan diri dan cek out , karena mereka harus mengejar penerbangan kembali ke Jakarta dan lanjut ke Banyuwangi.

Buah Cinta Leo – Kepastian dan Senja Part 18

Bulan berlalu, Leo sikapnya terhadap Lyra tak berubah, tetap ada dan tidak menuntut jawaban.

Lyra merasakan bagaimana Leo memang sayang padanya , mungkin boleh dibilang dia mencintainya. Karena tak ada tuntutan apapun darinya.

Leo hanya memberi yang menjadi kebutuhan Lyra, Sedangkan dia sering membuat Leo kerepotan dengan polahnya.

2 Bulan berlalu setelah liburan bersama.

Saat itu ketika makan siang bersama di satu resto, Leo berkata,

“Lyra, bulan depan aku harus ke Labuan Bajo , ada kerjaan yang mesti aku cek dan dibereskan, kau mau ikut ? ”

Lyra mikir, baru juga cuti 2 minggu, mendapatkan ijin dari kantornya rasanya sulit, kalau sehari aja mungkin bisa tapi,

” Aku pas dulu ya, rasanya sulit kalau ikut tapi coba aku pikirkan dan diatur mungkin masih bisa nyusul pas jumatnya , kasi tahu aja ya kamu nginap dimana, ” lyra menjawab.

Lagi Leo dengan lembut dan penuh kesabaran serta mengambil tangan Lyra, ” Tak apa-apa, tidak usah dipaksa ya, nanti kalau mau nyusul kabarin aja “

Waktu berjalan dengan manis,

Lyra sedikit kehilangan Leo karena dia sedang sibuk dengan urusan pekerjaan, ada saatnya seminggu Leo tak menghubunginya dan Lyra mulai semakin mengerti tentangnya.

Tak ada hak buatnya untuk menuntut karena dia belum memberi kepastian dan waktu keberangkatan ke Labuan Bajo pun tiba.

Lyra mengantar Leo kebandara.

Sebelumnya Leo sudah memberi informasi detail padanya , dimana dia menginap , dia akan berurusan dengan siapa dan sampai kapan dia di Labuan Bajo.

Leo memegang tangan serta menatap wajah Lyra seperti biasa,

” Jaga diri ya dan aku masih setia menunggu jawabmu “

Lyra tersenyum,

” Berkabar ya dan kalau balasanku agak telat jangan panik , aku pasti jawab kalau sudah bisa ” Leo menambahkan.

Ah, Leo….kamu paham sekali bagaimana aku seringnya uring-uringan bila responmu terlambat.

Bersambung,

… Kepastian dan Senja Leo dan Lyra akan selesai diakhir September , tunggu di feed Instagram ku ya…

4 Comments

  1. Andrew Pradana 30 September 2020
    • Nik 20 Oktober 2020
  2. Yektimahananj 11 Oktober 2020
    • Nik 20 Oktober 2020

Tinggalkan Jejakmu... Karena itu Sangat Berarti!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: