Mereka di Sekitar

Pelukan Cinta Seruni – Bukan Mencintai

Pelukan Cinta,
” Bukan itu bukan Cinta ” Biru memandang langit dengan bintang-bintang yang memandang wajah manisnya.

Malam itu Biru dengan Bumi sedang duduk di balcon hotel sederhana sudut kota Malang.

Biru sedang resah dengan apa yang dirasa hidupnya sepanjang tahun belakangan. Hubungannya dengan Seruni bukan menjadikan dia hidup tapi semakin hari dia kehilangan dirinya.

Kalimat Bumi bahwa apa yang dilakukan Seruni adalah sebuah pelukan cinta tanda tidak masuk dalam nalarnya.

Biru memang pribadi yang tenang, tak banyak mau. Buatnya menjalani kehidupan dengan sederhana adalah sesuatu yang indah.

Bumi sebagai sahabat, orang satu-satunya dalam hidupnya paling mengerti hal itu,

Pesona Seruni – Pelukan Cinta

Seruni dikenalnya dalam pertemuan sebuah acara, saat itu Biru dan Bumi sedang membangun suatu bisnis dan dia membutuhkan pengetahuan lebih tentang dunia digital.

Di acara itulah Seruni dengan pesonanya membuat Bumi mencari tahu no whatshapnya Seruni, bukan Biru yang berusaha karena begitulah.

Biru tak perlu banyak bicara akan keinginannya. Bumi paham kalau sahabatnya butuh informasi lebih tentang Seruni.

Jangan pernah berharap Biru akan berusaha lebih untuk mendapatkan tentang gadis, karena sejatinya dia seorang yang sangat pendiam dan boleh dibilang pemalu bila berhadapan dengan seorang gadis.

Bukan pribadi yang tidak mau berjuang tapi memang kelemahannya adalah bilang urusannya dengan wanita dia sungguh dibantu, karena itulah betapa dia beruntung punya sahabat bernama Bumi.

Walau begitu dia seorang yang punya prinsip kuat, buatnya wanita adalah seseorang yang dilindungi, dijaga dan tentu dicintai dengan ketulusan.

Banyak gadis terpesona dengan Biru, bagaimana tidak, dia pribadi yang bersahaja namun punya kecerdasan yang mampu menaklukan segala hal yang berurusan bisnis atau pekerjaan.

Jatuh hati dan tidak terbangun

Dengan pesonanya Seruni mampu menjadikannya Biru sebagai pasangan. Biru jatuh hati dengan kecerdasan Seruni, dalam dirinya ada karakter kuat yang kadang membuatnya terlihat lemah.

Seruni sejak awal memandang Biru, dia sudah bertekad untuk bisa mendapatkannya. Paras manisnya membuat hatinya tak jelas. Selama acara saat itu tak henti dia memandang Biru.

Boleh dibilang memang rejeki, Seruni dan Biru menjadi sepasang kekasih yang begitu manis terlihat orang. Kecantikan dipadu dengan kecerdasan Seruni seakan melengkapi manisnya Biru dengan sederhanaannya.

Tahun berganti,

Biru tersadar, hatinya yang terjatuh dalam pelukan Seruni menjadikan dia sebagai pribadi yang semu. Kebiasaanya yang sederhana tergantikan dengan sama dengan kebiasaan Seruni yang dibilang rumit.

Mulai dari cara berpakain , cara memandang sesuatu dan bahkan cara menganalisa atau menyelesaikan suatu persoalan. Semuanya terasa bukan dirinya.

Pelukan Cinta , foto by Iwan

Bukan Mencintai

Begitulah bila pribadi yang berprinsip, kadang ego suka menyilaukan, mata tanpa sadar memuaskan ego. Saat melihat Seruni , Biru memuaskan egonya tuk ingin bersamanya.

Tapi karena prinsip yang ada dalam dirinya , Biru sadar itu semu dan berpikir untuk menyelesaikannya.

Seruni memang baik, tapi keras kepalanya dibalut pesona kecerdasannya tanpa sadar mengarahkan rasa yang mendalam terhadap Biru melahirkan obsesi.

Pertengkaran – pertengkaran dengan Biru semua akibat dari ulah kerumitannya, dia selalu ingin menjadikan Biru lebih baik.

Tapi,

Baik tanpa menghidupkan bukan itu suatu hal semu ?

Seruni lupa dengan itu, dia terus menerus menjadikan maunya dalam diri Biru, sedangkan Biru seorang yang tidak suka keributan atau lebih tepat hidup pembawa damai.

Dia berpikir dengan mengalah dan mengikuti maunya Seruni bukanlah hal yang tidak baik, karena apa yang diarahkan Seruni nalarnya masih mengatakan itu masuk akal dan bisa diikuti.

Namun kembali perkaranya bukanlah tentang baik saja tapi lebih tentang hubungan yang menghidupkan dan memberi kehidupan.

Akhirnya Biru sadar, Seruni bukan mencintainya, dia mencintai dirinya sendiri, dia terobsesi menjadikan biru seperti dirinya.

Pedih,

Saat itulah sudut kota Malang, dibalcon itu Bumi dan Biru membicarakan banyak hal tentang hubungannya dengan Seruni yang berakhir dengan tekad,

Aku mencintai Seruni, kehidupan yang akan kuberi dan kubangun itu untuk tetap bersamanya.

Mencintaimu dengan membangun

Dengan ditemani Senja,

Biru memandang Seruni dan mengenggam tangannya,

” Sayang, maaf sebelumnya bila apa yang aku katakan membuatmu terluka, tapi semuanya kulakukan demi hubungan kita tetap hidup”

Biru menjelaskan bagaimana selama ini dia merasa tidak dicintai seutuhnya, Seruni hanya mencintai dirinya dan ingin menjadikan itu pada diri Biru.

Karakter keras kepala Seruni berontak dan dia berusaha melawan bahwa apa yang dikatakan Biru salah. Namun biru sudah antisipasi akan reaksi Seruni itu.

Dipeluknya Seruni dan berbisik, ” Kali ini boleh ya kamu dengar dulu semua penjelasanku dan tak perlu merasa disalahkan, kita kan sedang diskusi untuk membangun hubungan yang sehat “

Pelukan Biru meruntuhkan ego Seruni dan air matanya menetes, ” Maafkan aku selama ini aku begitu egois, mengikuti kehendakku sendiri tanpa melihat ketidaknyamananmu “

Biru memandang Seruni, ” Tidak apa2, mari kita bangun cinta yang menghidupkan, kita cari titik temu ya, karena tidak semua yang baik buatmu belum tentu baik buatku, begitu sebaliknya “

Titik Temu Pelukan Cinta Insan

Wajah teduh Seruni yang menjadi alasan Biru berusaha untuk menurunkan egonya, tetap memperjuangkan hubungan yang selama ini dia rasa sudah menghabisakan waktu dengan semu.

Bisa saja dia melepaskan sebagai wujud cintanya karena sejatinya waktunya sudah banyak digerus dengan kepatuhan semu.

Tapi dia ingat , orang tuanya memberi namanya dirinya Biru, lambang harapan yang membawa kehidupan. Seperti lautan yang luas begitulah dirinya diharapkan punya kesabarannya.

Tentukan titik temu yang tidak hanya mengorbankan satu pihak tapi mengorbankan ego kedua belah pihak, tidak ada yang menunggu , sama bergerak ke arah yang ditentukan bersama.

Begitu nilai hidup yang Biru dapatkan tentang hubungan, setiap orang punya keinginan, kelebihan dan kekurangan.

Bukan tentang bagaimana saya ingin tapi bagaimana bersama bisa saling nyaman dan langkah bersama memberi kehidupan satu sama lainnya.

Mungkin saat itu senja terbaik Seruni karena dia diberi kesempatan untuk belajar membangun kehidupan bersama cinta Biru.

Pelukan cinta insan saling mencintai yang sungguh memang semestinya melahirkan kehidupan.

Senjapun dengan lega meninggalkan kedua insan dan tersenyum manis karena menjadi saksi sebuah komunikasi yang baik.

“Selamat membangun cinta sesungguhnya Biru dan Seruni ”

2 Comments

  1. Yekti mahanani 20 September 2020
    • Nik 21 September 2020

Tinggalkan Jejakmu... Karena itu Sangat Berarti!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: