Random Thoughts

Membangkitkan Jeda 3 bulan – Tentang yang terhilang

Membangkitkan jeda 3 bulan,

Nyanyian burung pagi ini membangunkanku, sebuah kalimat lahir dalam nalar, tentang kehilangan rasa yang telah di renggut godaan, mungkin bila orang lain melihat apa yang ditawarkan waktu padaku 3 bulan terakhir sesuatu yang bersinar.

Awalnya aku sendiri melihat seperti itu tapi ternyata seiring waktu berjalan, semuanya itu hanya sebuah cara memperlihatkan sesuatu yang dikejar itu sebaiknya dilupakan.

21 Januari 2021
Hari itu goresan yang sangat berarti tahun ini, ketika mengurus kehilangan dana penipuan seorang tuan mengajak bertemu untuk memberikan tawaran membuatku tertegun.

Menerima dan melangkah dengan segala resikonya, walau sejatinya sungguh hati ini tak mengerti apa semuanya itu.

Bagaikan panah melesat tanpa perduli tuannya , waktu berlari melupakan lelah mengintip, boleh dibilang cukup bangga akan diri bila waktu 3 bulan itu ada pencapaian satu karya yang sejatinya aku tak merencanakannya.

Tentangnya nanti aku akan bercerita lebih detail, kali ini mari sejenak menikmati tentang terhilang dalam 3 bulan terakhir.

Tentang yang terhilang

Untuk apa memiliki bumi bila kenikmatan rasa dalam kehidupan hilang tanpa jejak

Kalimat itu lahir berulang kali dalam 2 minggu ini, nalar terus berputar apakah keputusanku sejatinya sudah tepat dengan meninggalkan karya yang sudah dilahirkan.

2 minggu dalam masa pemulihan lelah, setelah air mata terus mengalir saat prosesnya, haus akan tidur lahir kemudian.

Tanpa sadar dalam 2 minggu waktunya banyak tidur rasanya lelah tiba-tiba bangkit dan aku sejatinya kaget akan hal itu, selama ini badan terasa baik-baik saja karena apa yang kulakukan semua senang.

Akan tetapi jiwa dan tubuh berkata tidak, dia memberi tanda apa yang di rasa sejatinya jauh dibawah alam sadar telah terjadi ketidaksamaan rasa antara pikiran, hati, jiwa dan raga.

Tiga Hal

Iya,
Dalam pemulihan nalarku terus berputar apa sebenarnya yang terhilang dan akhirnya aku melihat tiga hal ini.

Mendengar

Sebuah kesenangan diri menyediakan waktu untuk orang lain , mendengar apa yang mereka rasakan dalam hidup, bagaimana mereka butuh didengar dan itu aku merasa kehilangan.

Membaca

Tepatnya membaca buku, entah kenapa ini buatku sesuatu asupan buat jiwa, bukan hanya otak. Terasa sekali itu terhilang dalam masa kemarin.

Menulis

Paling menyedihkan buatku yang ini, menulis tidak hanya asupan buat jiwa tapi dia adalah pegerak hidupku. Tahun ini adalah penentuan bagaimana esokku, sebuah jadwal sudah dibuat kalau tahun ini harus menyelesaikan sebuah karya tentang menulis dan aku telah kehilangan waktu dalam 3 bulan terakhir.

Membangkitkan Jeda 3 bulan

Seperti pagi membangunkanku, aku harus bangkit untuk kembali pada diri, melangkah kembali sesuai ritme yang sudah direncanakan.

Cara membangkitkan jeda 3 bulan aku melihat kembali tulisan-tulisan di Instagram, apa yang sudah di rasa selama yang terlilang.

27 Februari aku menulis satu hal tentang esok, untuk apa ada sekarang , itu menjadikanku kembali bangkit dan memutuskan meninggalkan sebuah karya yang sejatinya sangat berat.

Ada beberapa tulisan yang ingin aku simpan disini juga , cara bagaimana aku membangkitkan jeda 3 bulan. Tulisan yang menjadi gambaran diri dibuat dengan mencuri waktu ditengah melesatkan sebuah tuntutan.

Dialog Cemburu

Pedih,
Begitu relung berbisik
Mudah sekali mereka menggapainya hanya karena memuaskan tuan puan

Sedangkan relung tak bisa
Karena prinsip sudah menjadi akarnya

Terus akal berkata
” Kenapa kamu pedih,
Kau kan sudah dipuaskan di tanah berbeda, bahkan jauh melebihi mereka ? Masihkah kau cemburu apa yg mereka dapatkan sedangkan kau mendapatkan jauh lebih ? “

” Maafkan aku akal, sebagai relung aku punya rasa, cemburu itu tetap ada, kecewa itu tetap ada tapi percayalah, waktuku sekarang sangat menuntut, semuanya akan berlalu bukan ?

Tenang saja bagiku keadilan pencipta itu mutlak “

Akal menyentuh relung dan menatap ,
— kamu kuat dan aku tahu kamu akan melewati semuanya akan baik2 saja

Terima kasih,
Relung tertunduk dan mengusap pedih itu

Benih

Tuan,
Benih ini baru saja kita letakkan
Dan kau menuntut dia menghasilkan buah …

Bagaimana mungkin?

Kau berdalih cara menyiramnya tak maksimal, melihat setitik terlewatkan menjadikan tolak ukur bagaimana itu disebut terbaik …

Tuan,
Kau sungguh egois..
Mengertikah kau bahwa kadang semesta mengijinkan sesuatu lalai untuk menguji bagaimana murninya sebuah jiwa yg kuat tentang penerimaan.

Tuan,
Mengejar kesempurnaan itu sama dengan menyamakan diri setara dengan pencipta

Tuan,
Lupakah kau bahwa ketika sesuatu terjadi tak sesuai akalmu itu cara pencipta menguji bagaimana langkahmu mengatur yg membuat sekelilingmu bertumbuh.

Bila hanya sebuah tuntutan kau berikan , rasanya penghidupan akan memudar.

Tuan,
Satu pupuk yg sangat kuandalkan sudah kau singkirkan, tak ada lagi yg bisa membawaku melangkah dengan bersemangat,

Tapi arena sudah kupacu , ku hanya mampu berharap , sang penghidupanku memberi keajaiban dan kemampuan tuk sampai akhir,

Bilapun tidak,
Setitikpun tak kusesali
Karena dari awal kutak meminta,
Semuanya hanya sebuah kejaiban dan caraNYA mengatur bahwa janjiNYA itu nyata.

Selamat Kamis kamu yg selalu punya jiwa yg manis…
Bila pahit , mari maniskan dengan sebuah harapan bahwa rasa itu terlahir dari penerimaan.

15 April 2021

Nyonya,

Lelahmu mematikan
Nalarmu tak berfungsi ketika ego sedang mencubitmu

Kau telah menyingkirkan benih yg sedang dipupuk, kau mengaku mencintai pemilik hidup..

Tapi bagaimana bisa langkahmu memberi angin si Tuan bersabda ?

Nyonya,
Perlu kau ketahui,
Bilapun benih itu tak tepat berlaku, sebagai pencinta kehidupan kau harus berupaya dia hidup.

Lupakah kau.. DIA ada untuk menghapus segala hal yg ternoda ?

Nyonya,
Esok itu hadir karena hari ini telah berlalu, bila kau paham cobalah cerna

Kau begitu mengumbar kesakitan yg telah menjadi bagian jiwamu
Tahukah kamu, bila saja kau tenang sedikit saja dan lupakan itu, ganti dengan memberi kehidupan buat sekeliling ..

Lihatlah,
Betapa ini hanyalah permainan waktu..

Perkara bagaimana nikmat itu sejauh mana kau mengecapnya saja….

Hari ini, 21 Mei 2021

Memutuskan kembali, membangkitkan jeda 3 bulan yang terhilang, layaknya sebuah pacuan , walau sudah dalam arena pintu sudah ditutup aku berjuang sampai akhir …

Iya,
Sudah dalam sampai akhir buatku sendiri karena akhir itu aku yang memutuskan sendiri.

Karena bila terus berpacu bukan lagi kehidupan yang didapat dan bila itu terjadi apa arti semuanya ?

Lebih baik berhenti dan peluklah arena dengan senyum…
” Sampai jumpa dikesempatan berbeda dengan persiapan yang lebih baik “

Tinggalkan Jejakmu... Karena itu Sangat Berarti!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: